
Sementara itu Ara melangkahkan kaki menuruni tangga dan menuju ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, benar seperti yang dikatakan oleh pelayan tadi. Kalau sekarang ini keluarga Misnah sudah berada di ruang makan dan mereka sengaja menunggu Ara turun dari kamarnya untuk makan bersama.
"Kalian sudah berada di sini rupanya?" tanya Ara yang tak enak hati karena dirinya data terlambat dan membuat yang lainnya menunggu kedatangannya.
"Anin putriku, ayo kita makan sama-sama! para pelayan sudah menyiapkan makanan untuk kita semuanya!" ajak ibu Misnah.
"Baik Bu!" jawab Ara yang kemudian gadis siluman ular itu melangkahkan kaki dan kemudian menuju ke meja makan.
Ibu Misnah mengambilkan makanan untuk suaminya dan juga dirinya, sementara Ara mengambilkan makanan untu Baron yang memang tak bisa mengambil makanan karena dirinya yang dalam keadaan lumpuh.
Setelah mengambilkan makanan untuk Baron, kemudian Ara mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Acara makan mereka diselingi cerita serta tanya jawab diantara mereka.
"Ibu, lauk ini enak sekali. Apa nama lauk ini ya?" tanya Ara yang penasaran karena merasakan sensasi lain selama memakan makanan yang membuatnya penasaran itu.
"Oh, itu daging yang sangat mahal. dan perlu perjuangan untuk mendapatkannya. Tak semua orang bisa memasak apa lagi memakannya." jawab ibu Misnah sembari mengulas senyumnya
"Ah, ibu jangan buat Anin penasaran! memangnya daging apa ini?" tanya Anin yang masih mengunyah lauk yang berupa daging tanpa tulang itu.
"Itu daging ular!" jawab Baron yang dengan lahapnya memakan lauk yang sama dengan Ara dan yang lainnya.
"Apa! U...ular!" seru Ara yang sangat terkejut.
"Hueeek....!" gadis siluman ular itu dengan seketika memuntahkan makanan yang ada di mulutnya.
"Hei, kenapa kamu Anin?" tanya ibu Misnah yang penasaran.
"Mungkin dia punya alergi dengan daging ular Bu!" seru Baron yang menatap Ara dengan perasaan khawatir.
"Atau mungkin dia sedang membayangkan watu masih hidupnya daging ular yang dimakannya itu!" ucap Pak Misnah yang memberi pendapat.
Ara berlari menuju ke wastafel dapur, dan dia memuntahkan semua makanannya.
"Hueek...!"
Semua pelayan yang ada di dapur, menatap Ara dengan penasaran.
Seorang pelayan yang sebelumnya melayani Ara, melangkahkan kakinya menghampiri Ara.
__ADS_1
Pelayan itu menggosok tengkuk leher belakang Ara.
"Nona, apa nona tak terbiasa makan makanan tuan dan nyonya?" tanya pelayn itu dengan penasaran.
"Eh, i...iya!" jawab Ara yang berbohong. Karena dia tak mungkin akan memakan daging dari tubuh rakyatnya sendiri.
"Saya ada sayur, apa nona mau? ya lumayan untuk mengganjal perut di pagi hari." ucap pelayan itu yang menawarkan dirinya yang mempunyai makanan selain menu yang disajikan di ruang makan tadi.
"Oh, tentu saja aku mau." ucap Ara seraya menganggukkan kepalanya.
Pelayan itu mengulas senyumnya dan kemudian mengambil makanan yang dia maksud untuk di berikan pada Ara.
"Eno, itukan makanan jatah kamu? kenapa kamu berikan pada dia, kamu nanti makan apa?" bisik salah satu pelayan yang ada di dapur, pada pelayan yang melayani Ara.
"Tidak apa-apa, aku bisa kok makan nasi hanya dengan garam saja. Kasihan nona itu yang tidak bisa makan menu yang kita hidangkan pada tuan dan nyonya." jawab pelayan yang bernama Eno itu dengan mengulas senyumnya.
Sementara itu Ara mendengarkan apa yang dikatakan pelayan yang bernama Eno itu dengan seksama.
"Pelayan itu berhati baik, tak salah aku menduganya pada saat melihat kedua matanya." ucap dalam hati Ara yang kemudian meneruskan acara makannya di dapur.
Ara tidak mau makan di meja makan, mengingat dia pasti akan melihat menu ular di atas meja makan. Karena itulah dia tak tega jika rakyatnya jadi santapan makanan manusia.
"Pelayan, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Ara secara lirih sembari melihat kesamping kiri dan kanannya.
"Tanya apa ya, Nona?" tanya pelayan itu yang penasaran.
"Kenapa mereka membuat menu ular? dan apa sering mereka lakukan itu semuanya?" tanya Ara secara berbisik.
"Mereka akan makan menu ular jika ada tamu dan mereka sering menyuruh kita untuk makan menu ular." jawab pelayang yang bernama Eno itu, dengan berbisik pula.
"Kenapa mereka mendapatkan bahan masakan terutama ular yang begitu banyaknya?" tanya Ara yang penasaran.
"Mata pencaharian orang-orang di sini adalah pencari ular. Dan rata-rata mereka menurunkannya pada anak-anak mereka. Sedangkan tuan Misnah dan Darjo adalah pengepul dan menyuplai ular ke kota-kota sampai ke luar negeri." jelas Eno si pelayan itu yang masih dengan berbisik.
"Pencari dan pengepul ular? pantas saja aku didatangi roh rakyatku yang telah teraniaya." ucap dalam hati Ara yang sangat geram.
"Nona sudah selesai makannya?" tanya Eno si pelayan itu.
"Sudah." jawab Ara sembari memberikan piring yang sudah tidak ada makan makanannya lagi.
"Anda sebaiknya kembali ke meja makan nona. Karena nyonya, tuan dan tuan muda pasti akan mengkhawatirkan nona." ucap si Eno itu lirih.
__ADS_1
"Benar juga, aku harus tetap mencari tahu kebenarannya. Jika benar keluarga ini adalah pengepul ular dan orang-orang di sini mempunyai mata pencaharian sebagai pencari ular." gumam dalam hati Ara yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku akan menghampiri mereka." ucap Ara seraya menepuk pundak Eno dan Eno mengulas senyumnya.
Ara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara pelan-pelan. Dan dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan, dimana semuanya sudah selesai makan dan mereka menunggu Ara sambil meminum minuman mereka.
"Anin, dari mana saja?" tanya ibu Misnah yang nampak khawatir. Dan semuanya menatap ke arah Ara
"Dari dapur Bu, ma'af Anin tidak terbiasa makan makanan itu." ucap Ara dengan sopan.
"Ya sudah, kalau begitu nanti siang kita ganti menu makan kita." ucap ibu Misnah dengan mengulas senyumnya.
"Nak Anin, sebaiknya kamu ajak Baron jalan-jalan di taman kita. Ya hitung-hitung sebagai pendekatan kalian berdua. Kalian kan akan menikah, jadi kalian bisa saling bicara satu sama lainnya untuk menyatukan hati kalian." ucap pak Misnah.
"Apakah kamu bersedia jalan sama aku yang cacat ini?" tanya Baron yang menatap ke arah Ara.
"Tentu saja bersedia. Ayo kita jalan sekarang, mumpung matahari belum berada diatas kepala kita." ucap Ara yang kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Baron yang duduk diatas kursi rodanya.
"Semoga kalian bisa bersama selamanya!" ucap lirih Bu Misnah saat Ara mencoba memegang pegangan kursi roda Baron.
"Bapak dan ibu, kami pergi dulu ya!" ucap pamit Baron pada kedua orang tuanya sembari mengulas senyumnya.
Dan demikian pula dengan Ara yang berpamitan dengan kedua orang tua Baron.
''Pak Misnah dan ibu Misnah, kami permisi mau jalan-jalan dulu." ucap pamit Ara.
"Iya hati-hati, Anin tolong jaga Baron ya!" balas ibu Misnah yang juga mengulas senyumnya.
"Baik Bu Misnah." balasan dari Ara dan kemudian Ara mendorong Baron keluar dari ruang makan dan menuju ke ruang tamu secara perlahan-lahan.
...~¥~...
...Terima kasih untuk readers uang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1