Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Kedatangan Langit di Keluarga Misnah


__ADS_3

"Apa, Langit?" gumam dalam hati Ara yang semakin penasaran.


"Ibu, Baron mau temui Langit sebentar ya!" seru Baron dengan semangat.


"Iya, coba nanti kamu kenalkan adik kamu sama Langit. Biar Anin punya teman!" seru Bu Misnah sembari mengulas senyumnya.


"Boleh saja, tapi katanya ibu mau buru-buru ke kios. Mau buka lebih awal dan mengajari Anin jualan." ucap Baron yang mengingatkan ibunya.


"Oiya, ibu lupa! Ayo Anin kita berangkat sekarang, sebelum macet jalannya!" seru ibu Misnah yang kemudian mengambil tas dan juga kunci mobilnya.


"I..iya Bu!" jawab Ara yang kemudian mengikuti langkah kaki Ibu Misnah yang menuju ke garasi.


Baron melangkahkan kaki menemui Langit yang sedang duduk di teras depan rumah. Keduanya sedang mengobrol tentang usaha yang akan dijalankan oleh Baron.


Sementara itu Ibu Misnah sudah masuk ke mobil, dan dia duduk di belakang kemudi. Sedangkan Ara duduk disamping ibu Misnah.


Ibu Misnah menjalankan mobilnya pelan-pelan keluar dari garasi.


"Anin, coba lihat pemuda yang bersama kakakmu Baron!" seru ibu Misnah seraya menoleh ke arah dimana dua orang pemuda yang sedang berdiskusi itu.


Ara menoleh dan melihat pemuda yang bersama Baron itu adalah pemuda yang sangat dia kenal.


"Benar, dia kak Langit! Aku tak mau kak Langit melihatku disini!" gumam dalam hati Ara yang menyembunyikan wajahnya di balik bahu ibu Misnah.


"Pim....!" Ibu Misnah mengklakson dan membuat kedua pemuda yang sedang berdiskusi itu menoleh dan melambaikan tangannya ke arah mobil yang dimana Ibu Misnah dan juga Ara ada di dalamnya.


"Ibu berangkat ya!" seru ibu Misnah yang membalas lambaian tangan putra dan teman putranya itu.


"Iya Bu, hati-hati!" balas Baron yang masih melambaikan tangannya.


Ibu Misnah kemudian meladjukan mobilnya melewati pintu pagar rumahnya, sedangkan Baron dan Langit sudah menurunkan tangannya dan kembali ke topik diskusi mereka.


Sementara itu Ara yang masih terdiam di samping Bu Misnah, sebenarnya dalam hatinya mengalami gejolak yang hebat.


Dimana ada kerinduan yang dalam pada kekasihnya Langit, tapi dirinya belum berani muncul di hadapan Langit jika tidak di bulan purnama.


"Aku masih dalam misiku, membasmi semua yang sudah membantai rakyatku! ma'afkan aku kak Langit, sebetulnya aku sangat merindukan kamu!" gumam dalam hati Ara yang pandangannya jauh menerawang ke depan dan jalan raya yang dilaluinya.


"Anin, bagaimana menurut kamu?" tanya Bu Misnah yang ingin tahu perasaan Ara dengan masih tetap menatap ke depan.

__ADS_1


"Eh, bagaimana yang bagaimana maksud ibu?" tanya Ara yang belum paham dengan maksud ibu Misnah.


"Itu temannya kak Baron! bagaimana menurut kamu?" tanya Bu Misnah yang penasaran dengan sesekali menoleh ke arah Ara.


"Oh, ganteng sih!" jawab Ara yang pura-pura cuek.


"Ganteng banget malah! rasanya aku ingin memeluknya, menumpahkan rasa rinduku!" kata dalam hati Ara yang tak terasa kedua matanya berkaca-kaca.


Ara pun mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil yang ada di sampingnya. Dan kemudian dia menyeka air matanya yang sudah menetes di pipi halusnya.


"Nah berarti selera ibu kan nggak salah, dia memang ganteng! he...he...!" ucap ibu Misnah sembari mengulas senyumnya.


"Apa bukan karena dia putra dari teman ibu ya?" tebak Ara yang secara tak langsung menyindir ini Misnah.


"Eh, apaan sih kamu!" seru ibu Misnah yang kini wajahnya memerah karena tersipu malu dengan tebakan Ara.


"He..he...! tapi benar kan Bu?" tanya Ara yang memastikannya.


"Hem, iya sih!" jawab ibu Misnah yang kemudian membuat keduanya saling tertawa kecil.


"He... he... he...!"


"Kita sudah sampai, ayo kita turun!" ajak Bu Misnah pada saat mobil sudah berhenti.


"Ah iya Bu!" jawab Ara yang kemudian melepaskan sabuk pengamannya demikian pula dengan ibu Misnah yang juga melepaskan sabuk pengamannya.


Setelah itu mereka turun dari mobil, dan melangkahkan kaki menuju ke supermarket dan terus melangkah menuju ke kios pakaian yang berada di lantai dua.


Keduanya naik eskalator agar cepat sampai di lantai dua. Pada awalnya Ara tidak bisa naik eskalator, namun dengan sabar Bu Misnah mengajari Ara cara naik eskalator. Dan akhirnya Ara sudah bisa naik eskalator sendiri.


"Susah juga ya naik tangga berjalan!" gumam Ara yang sudah berada dilantai dua dan masih memandang ke arah eskalator itu.


"Ha...ha...! tangga berjalan!" seru ibu Misnahbseraya tertawa mendengar gumaman Ara.


"Eh, kan benar tangganya bisa berjalan?" ucap Ara yang menatap ke wajah Ibu Misnah dengan wajah kebingungannya.


"Iya, benar juga. Cuma lucu aja jika kamu yang bicara! ha... ha...!'' jawab Ibu Misnah yang masih tertawa dengan terpingkal-pingkal.


"Ah, ibu!" seru Ara yang wajahnya memerah karena tersipu malu.

__ADS_1


"Ha...ha...! Aduh sampai sakit perut ibu!" seru ibu Misnah seraya memegang perutnya.


"Ibu...!" seru Ara yang masih tersipu malu.


"Sudah-sudah, ayo kita jalan lagi!" seru Ibu Misnah yang mengajak Ara untuk melanjutkan langkah mereka menuju ke kios pakaian milik ibu Misnah.


Ara mensejajarkan langkahnya pada ibu Misnah. Dan tak berapa lama mereka sudah sampai di depan kios pakaian milik ibu Misnah.


"Nah kita sudah sampai, Ibu ambil kuncinya dulu ya!" seru ibu Misnah yang kemudian mengambil kunci kios pakaiannya.


"Iya Bu!" ucap Ara seraya melihat ke sekelilingnya yang banyak kios pakaian, tapi masih tutup.


"Akhirnya ketemu juga!" seru ibu Misnah pada saat menemukan kunci kiosnya. Kemudian Ibu Musnah membuka gembok pada pintu kios dan setelah itu dia membuka lebar-lebar kios tersebut.


"Anin inilah sumber pencaharian ibu, kita kelola tempat ini dengan baik. Agar bisa menghidupi kita semua ya." ucap Bu Misnah seraya mengulas senyumnya.


"Ibu ajari Anin untuk mengelolanya ya, Anin kan belum tahu cara berdagang!" ucap Ara seraya menebarkan pandangannya ke setiap sudut kios dan menyempatkan melihat pakaian-pakaian yang ada dihadapannya.


"Iya putriku!" balas ibu Misnah yang kemudian dia memberitahu harga dan model-model pakaian yang ada di kiosnya pada Ara.


Dan putri siluman ular itu memperhatikan dengan seksama dan mencoba menghafalkan harga setiap pakaian.


Ketika Ara sedang sibuk di kios pakaian bersama ibu Misnah, Baron dan Langit yang tadinya berdiskusi di teras rumah saat ini melangkahkan kaki ke gudang.


Kemudian keduanya di bantu dua orang laki-laki yang masih bekerja di rumah keluarga Misnah, mereka membongkar semua isi gudang.


Mereka mulai dari mengeluarkan barang-barang hingga mengecat gudang tersebut sesuai ciri khas bengkel. Dan setelah itu mengatur ulang letak-letak benda-benda di gudang yang sesuai untuk keperluan bengkel.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2