Cinta Terlarang Putri Siluman Ular

Cinta Terlarang Putri Siluman Ular
Baron dan Ara di Taman


__ADS_3

"A....apa itu kak?" tanya Ara yang semakin penasaran.


"Em...!" keluh Baron yang sedikit ragu.


"Apa kak?" tanya Ara yang semakin penasaran.


"Ada sisik ular di kamar kamu!" jawab Baron dengan nada berbisik.


"A...apa?" ucap Ara yang terkejut, dia terkejut bukan karena takut akan keberadaan sisik ular, namun yang dia takuti jika Baron mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


"Kak Baron takut kalau masih ada ular yang bersembunyi di sekitar rumah ini. Karena dulu kan bapak suka menangkap ular dan ular-ular itu dia jual. Entah dijual langsung atau dijual hanya dagingnya saja. Dan mungkin saja ada yang terlepas dan ular itu masuk ke kamar kamu!" jelas Baron yang terlihat masih mengkhawatirkan Ara.


"Astaga! jadi bapak Misnah itu punya mata pencaharian sebagai pencari dan penjual ular?'' tanya Ara yang prua-pura tak tahu.


"Iya, dan karena itulah imbasnya bapak meninggal secara tak wajar!" ucap Baron yang menyesal.


"Kak, yang terjadi biarlah sudah terjadi. Sekarang, kak Baron dan ibu usaha yang tidak ada sangkut pautnya dengan ular. Anin tak mau jika kak Baron seperti kemarin." ucap Ara yang mengingatkan Baron saat dia masih dalam keadaan dikutuk oleh penyihir ular, Vipera.


"Tidak-tidak-tidak! aku tidak mau seperti kemarin. Terkungkung diatas kursi roda dan di setiap bulan purnama aku berubah menjadi ular! Hiiii.....!" seru Baron yang bergidik mengingat apa yang terjadi padanya kemarin.


"Anin juga tak mau kak Baron seperti itu!" seru Ara yang pura-pura ikut bergidik.


"Sekarang ini yang kak Baron lebih khawatirkan kamu, bagaimana jika ada ular yang masuk ke kamar kamu?" tanya Baron dengan wajah yang terlihat cemas.


"Pastinya aku akan menjerit kak! he...he...!" jawab Ara yang dengan tawa yang dipaksakan.


"Ha...ha...! semoga saja pas kamu menjerit, ada orang yang mendengarkan jeritan kamu!" seru Baron yang terpingkal-pingkal.


"Eh iya, semoga saja kak!" sahut Ara sembari mengulas senyumnya.


"Ingat ya kalau ada apa-apa, panggil kak Baron!" pesan Baron yang memandang ke arah Ara.


"Iya-iya kak! sudah belum nih diskusi kita?" ucap Ara dengan bercanda, untuk mencairkan suasana yang tadinya serius.


"Iya, sudah. Ayo sekarang kita balik lagi ke dalam rumah, anginnya semakin dingin!" ajak Baron yang kemudian bangkit dari duduknya.


"Huahaheem....!" Ara menguap seraya menutup mulutnya.


"Siap, lagi pula Anin juga sudah mengantuk kak." ucap Ara yang bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Kemudian keduanya melangkahkan kakinya menyusuri jalan buatan yang menuju ke teras rumah keluarga Baron.


Setelah masuk ke rumah, keduanya pun saling berpamitan dengan mengucapkan salam.


"Selamat malam kak Baron dan selamat tidur!" ucap salam Ara yang melambaikan tangannya.


"Selamat malam dan selamat tidur adikku tersayang!" balas Baron yang juga melambaikan tangannya.


Kemudian Ara mempercepat langkahnya menaiki tangga, demikian pula Baron yang juga melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai bawah.


Tak berapa lama keduanya telah sampai di depan pintu kamar masing-masing, dan keduanya masuk ke kamar mereka.


Setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya, Ara melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai membersihkan dirinya, Ara keluar dari kamar mandi dak kemudian melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidurnya.


Gadis putri siluman ular itu merebahkan dirinya di tempat tidur yang empuk itu.


"Aku harus berhati-hati, jangan sampai mereka tahu tentang aku." gumam Ara dalam hati yang menatap langit-langit kamarnya.


"Kenapa aku tak menyimpan sisikku! ah, lagi pula aku tak mengira jika kak Baron dan kak langit akan datang!'' Ara yang masih menggumam.


Malam semakin mencekam karena larut dalam keheningan, tanpa adanya aktifitas manusia. Hanya suara binatang malam yang saling bersautan.


Beberapa jam kemudian, malam pun berganti dengan pagi hari. Dan manusia satu persatu terbangun dari tidur mereka masing-masing.


Demikian pula dengan keluarga Bu Misnah, para pelayan sibuk menyiapkan sarapan. Sementara Ara, Bu Misnah dan juga Baron, sibuk membersihkan diri mereka masing-masing.


Rutinitas harian itu berlangsung beberapa menit dan setelah selesai, mereka mengganti pakaian dan juga merias diri mereka masing-masing.


Beberapa menit kemudian mereka telah menyelesaikan aktifitas harian itu, dan keduanya melangkahkan kaki meninggalkan kamar masing-masing dan menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi Bu!" sapa Ara pada saat melihat ibu Misnah keluar dari kamarnya dan Ara melewatinya.


"Pagi juga Anin, kamu sudah rapi rupanya!" jawab Bu Misnah sembari mengulas senyumnya.


"Iya, semangat untuk sarapan! he..he..!" ucap Ara sembari mengulas senyumnya.


"Ha...ha...! sama perut ibu juga sudah berkonser ria!" balas Bu Misnah dan keduanya melangkahkan kaki menuruni tangga sambil tertawa dan bercanda ria.

__ADS_1


"Ada apa sih! pagi-pagi dah saling tebar tawa?" tanya Baron seraya menatap kedua wanita beda usia yang melangkahkan kaki, menuruni tangga.


"Ah kamu ini ya, mau tahu saja!" balas Bu Misnah dengan nada genit dan mencubit pipi kanan Baron seraya terus melangkahmenuju ke ruang makan.


Sementara Ara tersenyum melihat pipi merah Baron yang bekas cubitan dari ibundanya.


"Idih laki-laki kok pakai blush on!" goda Ara yang melewati Baron yang kemudian mengusap pipinya yang masih terasa cubitan ibunya.


"Apa? apa seberah itukah bekas cubitan ibu?" gumam dalam hati Baron yang kemudian melankahkan kakinya mencari cermin atau kaca untuk melihat pipinya yang memerah itu


Ara yang melihat tingkah Baron itu mengulas senyumnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara itu Baron yang sudah menemukan cermin di wastafel kamar mandi dibawah, dia mulai melihat dirinya dalam cermin


"Oh, pantas saja Ara mengataiku pakai blush on, ternyata Semerah ini!" gumam dalam hati Baron.


Setelah mencuci wajahnya, Baron kembali menghampiri ibu dan adik angkatnya yang sudah duduk dikursi meja makan.


"Ayo Baron kita sarapan, dari mana saja sih?" tanya Bu Misnah setelah mengambil makanan untuk dirinya.


"Gara-gara ibu mencubit Baron nih! masak Baron dikatai pakai Blush on sama Anin!" jawab Baron yang menatap ibunya dan Ara secara bergantian.


"Masak sih semerah itu?" tanya Bu Misnah yang penasaran dan melihat ke arah Anin yang masih tertawa.


"Ha...ha...! iya Bu, dan karena tak percaya dengan apa yang Ara katakan, kak Baron sampai cari cermin!" ucap Ara yang masih tertawa.


"Nah betulkan Bu!" seru Baron seraya mengambil makanannya.


"oh, kalau begitu biar adil sekali lagi cubitannya buat pipi yang kiri!" ucap Bu misnah seraya mencubit pipi kiri Baron.


...~¥~...


...Terima kasih untuk readers yang bersedia memberikan like/komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CINTA TERLARANG PUTRI SILUMAN ULAR....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2