Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 9


__ADS_3

Bilandra mengakhiri video call dengan mamanya setelah tadi mamanya ngobrol bergilir sama bunda Ara dan juga Danendra. Mama belum kenalan dan ngobrol sama ayah Ais dan Raka. Kalau saja obrolan berlanjut bisa sampai tengah malam mereka ngobrol. Apalagi ditambah papa Iyo ikut nimbrung nantinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah yang hangat mama Udi mematikan sambungan video call nya dengan sang putri. Tampak lega terlihat mimik muka mama Udi.


“Ya setidaknya anakku ngga sendiri” gumam mama Udi sembari menyimpan iphone nya dinakas.


 


“Mamaaaaaaaaaa maaaaaaaam” teriak Abhinaya dengan airmata yang berderai. Seperti korban kekerasan saja menangisnya, hanya karena dia minta es krim yang lewat depan rumah. Dan karena mamanya sedang asyik video call dengan mbaknya si tukang es krim itu berlalu tanpa ada rasa ibanya melihat Abhinaya yang meraung-raung.


 


“Iya sayang, aduhhhh duhhhhh anak mama kenapa sujud didepan pintu nak” mama Udi menghampiri Abhinaya yang sudah lusuh penuh airmata.


 


“Hiksss hikssss hiksssss, bukannya tenang tapi si ragil ini semakin mengeraskan suara tangisnya”.


 


“Cup cup cup sayang, adik minta apa sih?” tanya mama Udi yang sudah menggendong anak gemoynya.


 


“Adik mau es krim, mama dipanggil-panggil ngga keluar-keluar, jadi dehh tukang es krimnya jalan terus ngga berhenti” adu Abhinaya dengan nada penuh kesal karena kemauannya batal diwujudkan kembali.


Dan semakin kesal lagi karena dari jaman dahulu kala mbaknya menjanjikan beli es krim dua yang rasa strawberry dan coklat sampai detik ini tidak direalisasi. Makin jadi dehhh jengkel si adik.


 


“Oh maaf sayangnya mama, tadi mama lagi video call sama mbak Bilandra jadi mama ngga dengar kalau adik panggil” mama Udi berusaha menenangkan si ragil sambil mengusap airmata yang menganak sungai dipipi chubbynya.


 


Tinn tinnn nnnnn


Bunyi kelakson mobil papa Iyo mengagetkan dua orang wanita beda generasi yang sangat mirip itu.


 


“Ehhh papa sudah pulang, cup cup cup jangan nangis lagi, minta beliin papa yuukk di minimarket depan komplek” rayu mama Udi dan mujarab membuat tangis Abhinaya berhenti seketika.


 


Setelah memarkirkan mobil digarasi samping rumah, papa Iyo berjalan ke arah istri dan anaknya menanti di depan pintu.


 


“Hallo sayang-sayangnya papa” sapa papa dengan senyum merekah meski terlihat lelah juga di matanya.


 


“Hallo papa sayang” jawab mama sambil meraih tangan papa lalu salim cium tangan papa, diikuti Abhinaya selanjutnya.


 


“Kenapa ini anak papa, kok nangis hmm?” tanya papa sambil mengangkat Abhinaya dari gendongan mama.


 


“Adik mau es krim tapi mama ngga denger” adu Abhinaya sambil masih mengucek matanya yang sudah merah karena tangis.


 


“Alahhh alahhhh cuma gara-gara es krim jadi nangis begini” peluk papa ke tubuh montok si ragil.


 


“Heem” jawab singkat Abhinaya.


 


“Ya sudah yuuukk beli sama papa ke depan” ajak papa tanpa bohong-bohong lagi.


 

__ADS_1


“Sekarang pap, ngga bohong” Abhinaya bahagia menerima ajakan sang papa.


 


“Ngga bohong dong, yuk sekarang, pamit mama dulu gih, nanti habis beli es krim adik mandi ya” jawab papa sambil mencium pipi si ragil gemas.


 


“Mam, adek beli es krim dulu ya sama papa, dadah mama” pamit Abhinaya girang sekali.


 


“Mam pinjam kunci motornya ya, cuma ke depan ini naik motor saja” papa Iyo meminta kunci motor matic mama Udi.


 


“Oke pap, tunggu sebentar” jawab mama Udi terus berjalan mengambil kunci motor maticnya yang dia gantung di dekat lemari es.


 


Papa dan Abhinaya pergi ke mini market depan komplek. Mama lanjut menyiapkan minuman dan camilan untuk papa, sudah menjadi kebiasaan. Dan biasanya saat seperti itu mama papa sembari ngobrol ringan bagaimana kegiatannya hari ini.


Sepulang dari mini market dan sudah mendapat apa yang dimau, Abhinaya dengan senang hati menurut perintah papa dan mama untuk mandi, tanpa ada drama seperti biasa.


 


Sementara papa Iyo menikmati camilan sore dan teh hangat buatan mama Udi. Sembari mama Udi memandikan si ragil, Abhinaya.


 


Beberapa menit mama Udi selesai memandikan Abhinaya kemudian ke dapur untuk membuatkan Abhinaya susu dalam botolnya. Selepas mandi sore sudah menjadi biasa Abhinaya langsung menikmati sebotol susu sembari menonton kartun kesayangannya.


 


“Tadi mama sudah video call Bilandra pap” mama Udi memberitahukan ke papa Iyo.


 


“Oh iya mam, sehat kan Bilandra, sudah sampai The Menjangan dong dia” tanya balik papa Iyo kepada mama Udi.


 


 


“Syukurlah kalau begitu mam, nanti kita vieeo call lagi deh biar papa juga bisa kenalan sama mereka, sekarang papa mandi dulu ya mam” papa Iyo beranjak dari meja makan ke dalam kamar untuk selanjutnya mandi.


 


“Oke pap, mama juga mau masak buat makan malam, selesai mandi langsung temenin Abhinaya ya pap tar dia keburu teriak-teriak kalau ngga ada yang nemenin” sambung mama Udi.


 


“Siap boss” teriak papa Iyo.


 


Papa Iyo sudah tahu semua cerita Bilandra yang bertemu dengan keluarga Ais saat menyebrang dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk. Dan semua perkembangnya dengan detail tanpa kurang atau lebih. Tentunya mama Udi yang melapor semua ke papa Iyo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Berbeda satu jam lebih awal dari Yogyakarta, Bilandra dan keluarga Ais Wicaksana sudah bersiap untuk makan malam bersama dan untuk pertama kalinya.


 


Bilandra yang akhirnya satu kamar dengan bunda Ara karena keinginan bunda Ara, “biar seru katanya”, tengah bersiap-siap dengan merias sedikit wajahnya. Hanya memakai krim malam dan lipbam saja. Tidak lupa body lotion dan terakhir semprotan parfum kesayangan Bilandra. Parfum dengan aroma burberry, manis seger gitu deh. Dengan balutan dress simple nya menambah kecantikan Bilandra.


 


“Wow ada bidadari” puji bunda Ara yang terpesona melihat Bilandra yang tampil Ayu.


 


“Ahh bunda mah bisa aja, jadi malu aku, bunda juga cantik sekali” puji Bilandra juga untuk bunda Ara.


 

__ADS_1


“Bunda Ara”, yahh mulai sore tadi tepatnya Bilandra diharuskan memanggil tante Ara dengan sebutan Bunda. Tentunya atas permintaan bunda Ara sendiri dan disetujui dengan seluruh timnya, ada ayah Ais, Danendra dan juga Raka.


 


Bunda Ara sendiri juga tampil anggun dengan dress panjang dengan lengan  pendek aksen bunga. Hampir sama dengan dress yang dipakai Bilandra, hanya saja dress Bilandra di atas lutut sedikit dan tanpa lengan.


 


“Sudah siapkah” tiba-tiba suara Danendra sudah bergema di ruangan bunda Ara dan Bilandra.


 


Karena sama-sama terkejut, bunda Ara dan Bilandra terlonjak karena suara Danendra.


 


“Kaget bunda mas” tegur bunda ke Danendra yang tanpa permisi sudah bersuara saja.


 


“Heheehe maaf ya bunda cantik” rayu Danendra dengan memeluk mesra bundanya.


 


“Iya ih, kalau jantung ini buatan manusia pasti udah copot deh” omel Bilandra yang memang sangat kaget.


 


“Iya maaf maaf, jangan manyun dong tar cantiknya menguap lho” Danendra cengar cengir meminta maaf ke Bilandra.


“Hmmm cantik” lanjut Danendra tanpa jeda.


 


“Terima kasih mas” jawab bunda Ara percaya diri.


 


“Bukan bunda tapi dia” tunjuk Danendra ke arah Bilandra.


 


“Hmmmm ya iyalah cantik masak ganteng” sahut bunda Ara sewot tapi sambil tersenyum manis melihat tingkah Bilandra yang absurd.


 


“Ayo bun, Danendra berangkat, ayah sama Raka pasti udah manyun deh nungguin kita” ajak Bilandra untuk menghilangkan kegugupannya.


Dan benar saja, ayah Ais dan Raka sudah menunggu didepan kamar dengan memasukkan kedua tangan di saku celana pendeknya. Ayah Ais dan Raka juga tampil santai dengan setelan celana pendek dan kaos polo shirt nya dengan warna cerah ceria. Berbeda sedikit dengan Danendra, karena laki-laki remaja yang terihat lebih dewasa karena tubuhnya yang tinggi tegap memakai setelan celana joger pendek dan kaos hitam polos, dipadukam dengan sepatu sneakers nya berwarna putih.


Mereka jalan bersama menuju resto resor untuk makan malam pertama mereka. Ayah Ais, bunda Ara dan Raka jalan lebih dulu didepan Bilandra dan Danendra.


 


“Cantik kamu” puji pelan Danendra sambil berjalan disamping Bilandra. Kedua tangan dia masukkan kedalam saku dan pandangan mata tetap lurus kedepan.


 


Bilandra yang langsung merona merah menyala pipinya hanya bisa menatap Danendra yang cuek tapi perhatian.



Sampailah mereka di resto resor yang sudah cukup ramai. Hanya reservasi atas nama ayah Ais saja yang terlihat masih kosong.


 


Mereka menempatkan diri dikursi masing-masing. Tentunya si reseh Raka berada ditengah-tengah ayah dan bundanya. Danendra dan Bilandra pun duduk bersebelahan.


 


Tanpa menunggu lagi mereka langsung memesan makan malam mereka karena memang perut mereka sudah meronta meminta diisi.


 


Menunggu tidak sampai satu jam pesanan mereka sampai dan setelah berdoa mereka menikmati makan malam keluarga.


__ADS_1


__ADS_2