Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 60


__ADS_3

Perpisahan sementara pun terjadi lagi. Padahal masih dalam satu pulau dan cuma beratus kilo meter saja jarak yang membentang. Bukan terpisah benua ataupun samudra tapi kangen yang tercipta lebih - lebih dari pasangan LDR yang jauh lebih tersiksa karena jarak, bahkan perlu waktu bertahun - tahun buat ketemu.


Video call setiap hari, chat setiap detik pastinya menghiasi hubungan LDR ala Danendra dan Bilandra. Hubungan mereka semakin terjalin lebih kuat, ikatan batin antara mereka pun semakin terasah tajam.


Meskipun kesibukkan mereka juga luar biasa tetapi tidak memutuskan komunikasi antara mereka. Apalagi Danendra yang tidak hanya sebagai siswa kelas tiga sma yang sibuk menjelang ujian nasional dan juga sebagai owner tiga caffe yang sudah berjalan, satu caffe yang ongoing.


Weekend yang dijadwalkan untuk gantian kunjungan ke kota Semarang akhirnya gagal karena kondisi Bilandra yang sedang tidak baik - baik saja. Bilandra demam dan harus bedrest untuk mengembalikan kesehatannya.


Danendra yang dibuat gagal fokus tetap tidak bisa menjenguk Bilandra karena salah satu caffe nya ada sedikit troubel dan perlu penanganan khusus sang owner.


Begitupun bunda Ara dan ayah Ais mendadak keluar kota, lebih tepatnya ke Surabaya karena ayah Ais dadakan dimintai tolong temannya yang menjadi salah satu dosen di universitas besar di Surabaya untuk menjadi pembicara dalam seminar kewirausahaan.


Dan alhasil video call adalah jalan ninja terbaik untuk tetap care satu sama lain. Danendra tetap pantau kesehatan Bilandra begitupun Bilandra tetap tahu apapun kegiatan Danendra yang seabrek - abrek tentunya.


Dari peristiwa ini juga membuat Danendra dan Bilandra semakin tahu pentingnya komunikasi yang sehat. Mereka semakin menekan ego masing - masing untuk tidak menjadi dominan. Iya memang kangen adalah momok yang indah, jika tidak terkendali bisa jadi monster yang menerkam hubungan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah masuk dua minggu mereka tidak bisa saling berjumpa, rasa kengen pakai banget tentu mereka rasakan. Kesehatan Bilandra sudah kembali lagi fit, begitu juga trouble di caffe sudahh terselesaikan dengan baik.


Mereka akhirnya bisa konsen dengan new project mereka. Caffe baru dan juga home stay yang sedang ongoing.


Akhirnya ayah Ais dan Danendra mengambil dua lahan yang mereka survei. Dan sesuai rencana satu lahan untuk caffe dan satu lagi mencoba peruntungan di home stay. Seperti yang sudah disepakati secara profesional proses jual beli, desain arsitektur, desain interior sampai proses pembangunan ayah Ais dan juga Danendra bekerja sama dengan papa Iyo.


Dan seperti titah Danendra waktu survei lahan untuk caffe, dia pasrahkan semua desain ke Bilandra.


Sampai obrolan di tengah sarapan pun masih berbau desain dan project.


"Mbak gimana desain caffe nya udah sampai mana?" tanya papa Iyo ditengah sarapan pagi keluarga Herlambang.


"Masih didalam angan pap, mbak belum sempet pap, besok ya pap, nanti mbak ada waktu senggang" jawab Bilandra sembari menguyah roti bakar coklat ala mama Udi.

__ADS_1


"Oke kalau begitu, ayah Ais sudah nanyain juga, desain home stay nya udah tinggal finishing nih" lanjut papa Iyo memberi informasi sekaligus perintah.


"Oke pap, siap boss" jawab Bilandra semangat.


"Udah meetingnya nanti lagi, udah siang ini nanti mbak terlambat lagi, buruan sana berangkat, papa juga nanti telat lagi" sahut mama Udi sang big boss.


"Siap boss" papa Iyo dan Bilandra kompak menjawab perintah mama Udi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari terus berlalu berganti minggu dan selanjutnya berganti bulan. Sudah satu bulan pasangan bucin, Danendra dan Bilandra tidak berjumpa. Jangan ditanya lagi bagaimana uring - uringannya Bilandra dan bagaimana puyengnya Danendra menghadapinya. Tapi syukurnya pasangan bucin ini didukung dengan support system yang luar biasa dari ayah, bunda, mama dan juga papa, tidak ketinggalan para pasangan bucin yang lain. Ya setidaknya sangat meminimalisir perang dunia antara pasangan bucin yang terkadang sangat labil.


Semilir - semilir angin kekisruhan pun mulai berhembus. Tentunya menambah sejuk hubungan Danendra dan Bilandra dengan cekcok atau debat dari yang ringan sampai yang berat sampai debat kusir yang tidak ada ujungpun mulai terhembus.


So far sampai detik ini pikiran sehat mereka masih jadi pemenangnya. Mereka sama - sama masih sadar kalau perdebatan adalah bagian penting dari kisah cinta mereka yang memang ditakdirkan LDR.


Dan sama - sama belajar dari setiap perdebatan sampai mereka mampu menemukan deal antara mereka yang tidak meninggalkan luka dihati masing - masing. Justru semua membuat mereka semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bahagia dong, kan mas pacar ngapel ntar" jawab sumringah Bilandra ditengah keramaian kantin sekolah.


"Cieee .. Cieeee akhirnya pecah juga itu bisul, bakal indah juga dehh hari - hari aku karena apa? Karena sirna juga muka ditekuk kayak soal ujian matematika" jawab Ita dengan tanpa dosa dan disertai tawa ejekan khas nya.


"Hehehe, emang sebutek itu ya muka aku Ta" tanya Bilandra dengan lugu nya.


"Hmmm, ngga cuma butek tapi juga memprihatinkan, aku pikir kamu bakal layu lalu lama - lama mati terus kering keronta dehhh" jawab absurd Ita tanpa basa - basi lagi. Karena memang begitulah adanya.


"Ihhh .. Amit - amit kok jadi nyumpahin aku mati sihhh!" Bilandra yang terkejut dengan jawaban absurd Ita.


"Itu perempumaan sayang, masak iya aku nyumpahin sahabat aku metong sihhh" cerocos Ita menjelaskan perumpamaan yang dia sampaikan tadi.

__ADS_1


"Udah ahhh, makan buruan keburu masuk" lanjut Ita memberi perintah sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan jam sekolah akhirnya berakhir juga di weekend ceria ini. Tapi sayangnya keceriaan Bilandra sirna berganti mendung bergelayut. Sungguh seperti perkiraan cuaca yang tidak bisa ditebak.


"Yaelahhhh kenapa itu muka, begitu cepat berlalu kecerian kamu sahabat" Ita yang melihat Bilandra sudah terduduk lesu di kursi nya. Tanpa ingin segera meninggalkan kelasnya, Bilandra justru tengah sibuk membendung air mata kecewanya.


"Ita .... " suara parau Bilandra yang terakhir terdengar karena setelahnya hanyalah isak tangis yang terdengar.


"Lho ... Lhooo kenapa malah mewek gini sihhh, ada apa sayang aku?" Ita yang masih tenang menyikapi tangis Bilandra yang sudah tidak terkontrol lagi.


POV : Ita di kelasnya


Drrtttt ... Drrrtttt .. Drttttt


"Hai bro .. " sapa Ita mengangkat video call Danendra dengan sigap.


"Hai Ta, gimana sudah jam pulang kan?" jawab Danendra di layar iphone nya.


"Yups, ini aku masih dikelas aku, kamu sudah hubungi Bilandra belum? Ngga tega dehhh lihat mukanya nanti pasti mendung banget dahhh" Ita menjawab dengan mimik muka yang auto sedih.


"Udah, aku udah chat dia kalau aku batal ke Jogja karena ada urusan yang mendesak banget, ngga bisa aku tinggalin, terus aku ngga bales lagi chat dia, iya kasihan sihhh tapi ngga apa - apa dehhh udah tanggung ini, buat latihan mental juga hehehe" Danendra yang sangat optimis ngerjain pacarnya, buat shok terapi, biar mentalnya kuat.


"Oke dehhh kalau gitu, kamu sudah didepan sekolah kan?" jawab Ita yang akhirnya semangat menjadi bagian dari proses penguatan mental Bilandra.


"Iya udah, nihhh udah sama pujaan hati kamu juga" jawab Danendra sambil mengarahkan iphone nya ke muka Aer.


"Haiii cayang akuhhh, baiklah kalau begitu aku jalankan misi dulu ya, kalian silent biar ngga ketahuan" jawab Ita diakhir percakapan mereka. Untuk selanjutnya video call akan tetap berlanjut saat Ita akan menemui Bilandra yang sudah banjir air mata.


Dan lebih syahdu lagi, kekurang kerjaan ini disponsori sepenuhnya oleh dua sahabat bucin mereka, pasangan yang sudah tidak fake lagi, yahhh Lingga dan Kavi ada di video call bersama mereka.

__ADS_1


Karena rencananya mereka mau langsung meet up di caffe dekat sekolah Bilandra. Dan Kavi beserta Lingga diberi tugas untuk reservasi caffe nya dan menyiapkan life musik yang diajukan jamnya hanya demi pasangan bucin yang ngga ketemu satu bulan lamanya.


__ADS_2