Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 10


__ADS_3

Ditengah menikmati hidangan makan malam yang syahdu, HP Bilandra bergetar tanda chat wa masuk. Diceknya HP yang ada didalam tas kecil Bilandra yang berbentuk bulat dengan daun pandan sebagai bahan bakunya.


 


“Mbak, lagi sibukkah?” chat mama Udi yang terkirim ke wa Bilandra.


 


“Bukan sibuk sih mam, cuma lagi makan malam saja, ada apa mam” balas Bilandra.


 


“Oh ya wes kalau gitu, nanti kalau sudah selesai chat mama ya nak, mama mau video call, papa kamu mau kenalan sama keluarga Ais” mama Udi membalas chat Bilandra dengan menjelaskan maksudnya.


 


“Iya mam, nanti kalau sudah selesai Bilandra chat mama ya” jawab Bilandra mengakhiri chat sementaranya dengan mamanya.


 


Sambil menyimpan HP di tasnya lagi Bilandra memberitahukan isi chat mamanya ke ayah dan bunda.


 


“Bun, yah nanti kalau sudah selesai mama papa mau video call katanya, papa pengen kenalan sama ayah bunda, ngga apa-apa kan bun, yah?” tanya Bilandra sopan.


 


“Sama calon mantunya ngga mau kenalan” celetuk Danendra tanpa diminta untuk bersuara.


 


“Apaan sih kamu” Bilandra yang selalu merona merah dipipi karena malu dengan komentar-komentar spontan Danendra.


 


Danendra tidak menjawab lagi tapi hanya diam dan matanya tajam membidik manik hitam wanita ayu di sebelahnya.


 


“Boleh banget dong sayang, nanti kalau semua sudah beres kita video call orang tua kamu ya” jawab bunda Ara menengahi adu tatap antara Bilandra dan Danendra.


 


Rombongan ayah Ais sudah kembali dikamar mereka. Sambil duduk bareng di balkon kamar dengan lampu yang temaram menambah kesan romantis, mereka bercengkrama sebentar sebelum video call ke mama dan papa Bilandra.



“Nak telfon mama papa kamu, pasti mereka sudah menunggu” bunda Ara menyuruh Bilandra untuk segera menghubungi orang tuanya. Bunda sendiri juga sebenarnya ingin sekali kenal dengan papa Bilandra. Tadi sore kan sudah kenalan sama mama Bilandra.


 


“Iya bun, Bilandra video call mama papa ya” Bilandra mengeluarkan HPnya dari dalam tas dan memencet nomor mamanya untuk dihubungi.


 


Tidak sampai nada dering kedua mama Udi sudah terlihat jelas di layar HP Bilandra dan di belakangnya terlihat papa Iyo.


 

__ADS_1


“Hallo cah ayu, sudah makan malamnya” sambut mama Udi dengan senyum dan nada lembutnya.


 


“Sudah mama, ini Bilandra lagi sama ayah, bunda, Danendra dan Raka” jelas Bilandra sambil memutar HPnya memperlihatkan masing-masing orang yang Bilandra sebutkan tadi.


 


“Oh ya, papa mau kenalan dong” sahut papa to the point.


 


“Hallo papa Bilandra” sapa ayah Ais terlebih dahulu mewakili tim nya.


 


“Perkenalkan saya Ais Wicaksana, saya asli Semarang tulen dan kebetulan sedang liburan dengan tim hore saya” sambung ayah Ais memperkenalkan nama dan asal muasalnya.


 


“Hallo ayah Danendra, betul kan ya nama putranya Danendra karena saya belum kenalan nih sama si ganteng, saya Iyo Herlambang, asli Yogyakarta tulen juga. Dan sangat beruntung sekali putri saya bertemu tim hore ayah Danendra jadi saya bisa titip” papa Iyo dengan wibawanya memberi salam perkenalan balik ke ayah Ais.


“Dengan senang hati papa Iyo” sambut ayah Ais dengan senyum wibawanya yang tidak kalah berkharisma.


 


“Oh iya perkenalkan ini istri saya sekaligus bunda dari dua jagoan saya, Ara” sambung ayah Ais memperkenalkan bunda Ara kepada papa Iyo.


 


“Hallo bunda Ara, wah saya panggil juga bunda saja ya biar lebih akrab, walaupun belum pernah bertatap muka langsung “ sambut papa Iyo membalas ayah Ais.


 


 


“Hallo mama Udi, senang bisa berkenalan dengan kalian, benar-benar tidak menyangka liburan kami membawa berkah” ayah Ais melanjutkan obrolan mereka, antara para tetua.


 


Obrolan via video call antara mama papa dengan ayah bunda berlangsung cukup seru dengan banyak cerita dari yang penting sampai sekedar bercandaan.


 


“Mau lihat bulan ngga” tarik Danendra saat orang tua mereka asyik bercengkrama.


 


“Ehhh pelan-pelan dong, jatuh nanti” Bilandra yang kaget dengan sentakan tangan Danendra.


 


“Sorry” jawab Danendra singkat sembari menggandeng tangan Bilandra untuk ikut dengannya menjauh dari para orang tua.


 


Berjalan berdua menikmati malam di The Menjangan adalah pengalaman pertama bagi dua anak manusia yang semakin terpesona satu sama lain. Hanya hening saat mereka melangkahkan kaki di tempat duduk yang disediakan pihak resor. Angan mereka jauh melangkah menjelajahi hati mereka yang mulai tidak berirama.


 

__ADS_1


“Kenapa aku deg-deg an gini seh” batin Bilandra dan juga Danendra tanpa mereka katakan langsung.


 


“Duduk sini yuk” ajak Danendra.


 


Tanpa menjawab Bilandra pun mengikuti kemana Danendra membawanya untuk duduk menikmati malam itu.


 


“Kamu sudah punya cowok” tanya Danendra ke Bilandra dengan mata yang menatap lautan lepas. Meski tidak begitu jelas.


 


“Hmm belum” jawab Bilandra dengan menggelengkan kepalanya.


 


“Kamu percaya cinta pada pandangan pertama” tanya Danendra lagi dan kali ini dia menatap lekat mata Bilandra. Mencari kejujuran di tengah remang cahaya.


Sekian menit tidak ada jawaban ataupun pertanyaan ulang lagi. Mata mereka saja yang saling bicara, diiringi debaran jantung yang sudah tidak biasa lagi.


 


“Hmmm entahlah, apa dengan tidak pernah merasakan berarti percaya atau sebenarnya aku pernah merasakan tapi aku belum menyadarinya” Bilandra mencoba menjawab logis.


 


“Aku sekarang sedang merasakannya, tanpa aku minta aku bertemu dengan dia, wanita yang belum aku kenal sepenuhnya tetapi bisa menggetarkan hatiku, aku semakin tertarik karena wajahnya ayu, aku tidak munafik akan hal itu. Dan sekarang aku ingin mengenalnya lebih jauh, kalau dia mau aku ingin menjadikan dia pacarku” Danendra berusaha jujur dengan apa yang dia rasakan.


 


“Kamu mau tau siapa dia? Dia itu kamu” tegas Danendra dengan mata yang terus menatap tanpa batas.


 


Bilandra hanya bisa diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Yang pasti ada rasa bahagia yang membuncah didadanya.


 


“Tidak perlu kamu jawab sekarang, aku tahu kamu pasti terkejut, maafkan aku yang memang tidak suka bertele-tele” ucap Danendra lagi.


 


“Kamu cukup rasakan saja, dan nikmati waktu bersama kita besok, setidaknya satu minggu kedepan, jika kamu tidak mempunyai rasa yang sama tidak apa-apa, aku tidak akan marah” jelas Danendra lagi.


 


“Sudah malam, yuuk balik ke kamar, besok kita mulai petualangan kita, kamu harus ikut dengan plan kami bukan?" tanya Danendra memastikan kalau Bilandra akan tetap bersamanya selama liburan ini.


 


“Iyaaaa” jawab Bilandra yang masih memikirkan ungkapan hati Danendra tadi. Seperti mimpi.


Kembali berjalan berdua menyusuri gelapnya malam. Masih sama hening tanpa suara. Tangan mereka saling bertaut. Bilandra membiarkan saja tangannya tidak lepas dari genggaman tangan Danendra. Ada kehangatan disana, ada kebahagiaan. Dia sudah bisa mengontrol rasa deg-deg an didadanya karena perlahan dia membuka hati dan fikirannya untuk mencerna apa yang diungkapkan Danendra tadi.


 

__ADS_1


Sementara Danendra terlihat cool, dia yakin apa yang dia rasakan adalah rasa yang sama. Hanya saja Bilandra masih kaget untuk menerimanya. Atau dia memang lemot dengan rasa yang dia rasakan. Entahlah. Yang pasti mulai saat ini akan aku buktikan kalau kamu memang merasakan cinta pada pandangan pertama seperti apa yang aku rasakan, batin Danendra. Dia semakin mempererat tautan tangan mereka.


 


__ADS_2