
“Aku bangunin mas ya bun” ucap Raka saat melihat masnya masih terlelap dalam tidurnya yang baru sebentar.
“Oke .. pelan-pelan ya dek” jawab Bunda Ara mengiyakan.
Perlahan Raka membangunkan mas nya dari alam mimpi. Dengan halus Raka mengoyak lengan kekar Danendra. Si empunya badan perlahan terusik dengan gesekan tangan di lengannya.
“Hmmmmm” Danendra mengeluarkan suaranya walau matanya masih tertutup rapat dan enggan untuk membukanya.
“Mas bangun dong udah siang nih, semua udah siap lho tinggal tunggu mas Danendra aja yang belum siap sama sekali” oceh Raka yang berusaha keras membangunkaan Danendra yang belum mau membuka matanya.
“Kalau mas ngga bangun aku tindih nih .. satuuuuu duaaaaa tiiiiiiiiiii ..... “ Raka mulai menghitung untuk selanjutnya akan melompat di perut sixpack masnya.
Tapi belum sampai hitungan terakhir tangan Danendra dengan sigap menarik tubuh Raka yang montok dan selanjutnya menindihnya.
“Sebelum kamu tindih mas tindih kamu dulu ndut” ejek Danendra sambil memiting badan Raka yang sebenarnya ngga kecil lagi.
“Aduhhhh sakiittttttt mas tangan aku” rengek Raka.
“Suruh siapa ngga bangun-bangun, yang lain udah mau selesai sarapan malah mas masih tidur muluuuuu, keburu siang tauuuuuu tar kita ngga puas jalan-jalannya” lanjut rengekan Raka panjang lebar.
“Iyaaa iyaaaa, ngomel mulu kayak emak-emak komplek” jawab Danendra sembari melepas pitingannya dan berjalan menuju meja makan yang sudah ramai dengan orang-orang tersayangnya.
“Udah pada siap aja, emang mau kemana sihh masih pagi juga, kan kita masih seminggu lagi disini” halu Danendra di pagi hari yang indah di Pulau Dewata.
“Hmmmm buruan siap-siap deh mas, malah ngigau mulu... bangunnnn woiiiiii” jawab bunda Ara sembari memukul pucuk kepala Danendra lembut.
Sementara ayah Ais, papa Iyo, mama Udi, Bilandra dan Abhinaya cuma senyum saja menatap Danendra yang masih aja nyomot roti sebelum akhirnya berlalu masuk ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap tentunya.
__ADS_1
“Pesawat kita sama-sama sore kan pap” ayah Ais melanjutkan obrolan di meja makan pagi itu.
“Iya yah jadi bisalah kita jalan belanja-belanja dulu biar ibu-ibu ini bahagia” jawab papa Iyo.
“Lhoh .. kok pesawat, bukannya ayah lewat jalur darat ya kok pesawat sore” tanya Bilandra bingung setelah mendengar percakapan ayah dan papanya.
“Emang mbak ngga tau ya, kan nanti sopir yang bawa mobil ayah pulang ke Semarang” jawab ayah Ais sembari menyeruput kopinya.
“Mbak ngga tau yah, ngga ada yang cerita juga” Bilandra menjawab dengan lugunya.
“Ya udah sih yang penting habis ini kita have fun bareng-bareng sebelum ada yang nangis bombay nanti di bandara” sahut mama Udi yang di sambut dengan suara tawa ayah, bunda dan pala tentunya.
“Jangan gitu dong mam, kalau udah nangis susah bener diemnya mam, malah dibikin mewek lagi nihh pacar aku” Danendra yang sudah rapi langsung nyamber godaan mama Udi ke Bilandra sembari barjalan ke arah meja makan.
“Ups ada yang mewek emangnya mas, coba mas sedia balon deh siapa tahu cepet diemnya kalau udah dikasih balon” tambah bunda Ara yang senang sekali bikin huru hara.
Kompak banget deh para ibu-ibu ini membuat anak gadisnya otomatis memanyunkan bibir mungilnya.
Hanya suara tawa yang memeriahkan pagi mereka dua keluarga tanpa hubungan darah tetapi sangat kompak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menyelesaikan sarapan pagi nya dan bersiap-siap dengan semua koper dan rangsel keluarga Ais dan Iyo check out dari resor. Lebih tepatnya ayah Ais yang mengurus semua karena beliaulah yang mengeluarkan semua biaya untuk resornya. Tidak berarti karena baginya hanya liburan singkat yang biasa mengingat keluarga lebih dari kata mampu.
Seperti biasa Danendra sudah siap dibalik kemudi setelah menata semua koper di bagasi mobilnya. Kali ini Bilandra yang duduk manis di samping kursi kemudi. Ayah dan papa duduk manis di tengah. Bunda dan mama beserta Raka dan Abhinaya di kursi belakang.
“Oke semua sudah siap” Danendra mengecek penumpangnya sembari memasang kaca mata hitamnya.
“Siappppp ... let’s go” kompak jawaban Raka dan Abhinaya mewakili yang lain yang hanya diam saja.
Cakep banget kamu Bi, ihhh ngga rela deh nanti banyak cewek yang ngeliatin kamu, bisa ngga kalau biasa aja. Cakepnya kalau sama aku aja, batin Bilandra malah sibuk sendiri sama pemandangan disampingnya. Ngga rela banget sang pacar jadi konsumsi publik.
__ADS_1
“Haiii .. iya tau aku cakep Ji ngga usah diliatin mulu dong kan udah punya kamu juga” Danendra yang sadar dari tadi Bilandra melamun menatap tajam dirinya yang fokus ke depan.
“Ihhh apaan sihhh Bi ngga usah GR gitu dong” cibir Bilandra menutupi kebenaran yang ada kalau memang dari tadi dia menatap sang pacar tanpa berkedip.
“Lhah memang bener kok” Danendra terus menggoda Bilandra sampai akhirnya Bilandra memalingkan wajahnya melihat samping.
Danendra yang melihat Bilandra salah tingkah tersenyum sembari satu tangannya mengusap pucuk kepala Bilandra mesra.
Setelah beberapa menit berkendara sampailah pada tujuan ibu-ibu yaitu pasar ubud. Ya begitulah ibu-ibu walau mereka termasuk ibu-ibu sosialita tapi jiwa mereka tidak lantas congkak.
“Sudah sampai tuan nyonya, silahkan borong semua yang tuan nyonya inginkan” Danendra yang sudah memarkirkan mobilnya berceletuk menggoda para orang tua.
“Terimakasih pak sopir, tunggu kami dulu ya” jawab bunda Ara menimpali celetukkan anak lelakinya.
Setelah mereka semua turun dari mobil dan bersiap untuk hunting apapun yang membuat mereka tertarik. Danendra yang berjalan dibelakang yang tentunya berjalan beriringan dengan Bilandra dan pastinya tangan mereka saling bertaut.
“Ji daripada ngikutin mereka kita ngopi aja yukk, tuhh ada Starbucks” ajak Danendra karena sudah lelah mengikuti ibu-ibu dan bapak-bapak yang asyik belanja.
“Ayo Bi, aku juga haus” Bilandra mengiyakan.
“Permisi tuan dan nyonya sepertinya saya tidak sanggup kalau harus muter-muter lagi, saya tunggu di starbucks depan ya” Danendra meminta ijin dengan bahasanya yang absurd.
“Dasar bocah gemblung, ya udah sana, bilang aja mau pacaran “ jawab bunda Ara yang tau maksud terselubung putranya.
“Bunda memang cerdas, oke baiklah kita tunggu disana ya kalau sudah lelah wa mas ya” Danendra mengiyakan jawaban bundanya.
Berpisahlah kelompok orang tua dan anak. Dan disinilah sekarang Danendra dan Bilandra berada. Starbucks Coffe duduk dipojokan dan ngadem.
Dua cup es kopi dan camilan sudah tersaji didepan mata. Sambil bercerita Danendra dan Bilandra menunggu orang tua mereka yang juga asyik borong-borong semua kerajinan dan apapun iti yang menarik mata mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak terasa waktu sudah menginjak siang hari. Tenaga sih masih sisa banyak tapi alarm perut Raka tidak bisa di tunda lagi.
__ADS_1