Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 29


__ADS_3

Sudah siap diatas motornya, Danendra dengan style casual yang selalu menyegarkan mata dan pastinya Bilandra tidak kalah menyejukkan.


 


“Ready Ji” Danendra yang bertanya ke Bilandra yang sudah memeluk nya dari belakang.


 


“Siap Bi, gooooo” bisik Bilandra yang meletakkan kepalanya di ceruk leher Danendra.


 


Perlahan mereka meninggalkan hotel mereka. Sebenarnya Danendra pun belum tahu kemana mereka akan pergi. Alam Bali yang indah tidak membuat bosan menikmati setiap liku jalannya. Bilandra semakin mengeratkan pelukannya. Meski bahagia tetapi Danendra bisa menangkap kegundahan disana, dimata indahnya. Danendra sengaja membiarkan Bilandra berselancar dengan pikirannya, nanti ada waktu Danendra akan menenangkan dengan caranya.


 


Benar saja meski bahagia bahkan sangat bahagia tapi dihatinya ada kegelisahan tentang bayangan LDR yang sudah didepan mata. Seperti biasa wanitalah yang selalu drama dengan over thinhkingnya. Tapi kalau lagi over thingking seperti itu langsung disanggah yang ada bukan menenangkan tapi membubarkan. Bakalan efeknya puanjangggg.


 


Menyusuri jalan panjang dengan alam Bali adalah kebahagiaan. Yang tadinya tanpa tujuan mau kemana, Danendra akhirnya memutuskan untuk mengademkan hati dan pikiran sekalian makan siang di Montana Caffe. Setelah kurang lebih dua setengah jam dijalan dan selama itu tidak ada percakapan antara Danendra dan Bilandra akhirnya mereka sampai di caffe yang sangat indah.


 


“Hmmm udah sampai sini aja Bi” Bilandra yang tersadar setelah sampai di parkiran Montana Caffe.


 


“Dari mana aja buukk, makanya jangan bengong mulu dijalan takut kesambet kan” jawab Danendra dengan santainya.


 


Bukannya turun dari motor justru cubitan maut Bilandra mendarat sempurna di perut Danendra yang auto membuat Danendra nyengir karena sakit.


 


“Iyaaa iyaaa sayang, maaf, ayo turun” ajak Danendra.


 


Setelah memilih spot yang nyaman mereka duduk dan memesan makanan sesuai selera masing-masing.


 

__ADS_1


Danendra masih belum mau membahas apa yang dipikirkan kekasihnya sepanjang jalan tadi. Danendra menatap lekat Bilandra yang seolah melupakan sejenak kegelisahannya setelah sampai di Montana Caffe. Dia sibuk mencari spot foto terindah untuk stok unggahan di sosmednya.



“Sayang, makan dulu sini, pesenannya sudah datang nih” Danendra memanggil Bilandra yang sedikit jauh dari posisi dia duduk.


 


“Iya Bi” jawab Bilandra cerah ceria seceria gunung Montana di depan matanya.


 


Sambil bercanda-canda receh mereka memakan ludes pesanannya.


 


“Ada yang mau dipesan lagi Ji” Danendra bertanya ke Bilandra.


 


“Cukup Bi, kenyang aku” jawab Bilandra.


 


 


“Hmm kok tau aku lagi sedih tapi aku sangat happy juga” jawab Bilandra sembari menatap tajam Danendra yang sudah menggengam erat tangannya.


 


“Taulah Ji, mata kamu berbicara” jawab singkat Danendra penuh penekanan.


 


“Aku ngga mau waktu berjalan Bi, berhenti sebentar saja, aku masih mau deket sama kamu, masih mau bareng-bareng sama bunda ayah Raka, aku belum rela kalau besok sudah harus kembali pada rutinitas” Bilandra panjang menjelaskan isi hatinya tanpa ragu.


 


“Terus” tanya Danendra yang tau masih banyak unek-unek di hati Bilandra. Perlahan dia memancingnya untuk dikeluarkan, dengan harapan setelahnya Bilandra yakin kalau LDR bukanlah momok yang menakutkan.


 


“Walau belum lama kita barengan tapi aku ngga tahu berat banget Bi kalau harus jauh. Aku tahu jarak tidak seberapa nantinya hanya saja aku takut kita sama-sama jenuh nantinya dan dimasuki orang-orang lain yang akhirnya buat kita pisah” jelas Bilandra lagi dengan menundukkan matanya. Tidak lama dia terisak.

__ADS_1


 


“Kok malah nangis, sini, tar dikira aku KDRT Ji” Danendra menarik Bilandra dalam pelukkannya. Akhirnya inti dari kekhawatiran Bilandra terungkap sudah. Bukan Danendra tidak tahu tapi dia sengaja untuk membiarkan Bilandra mengungkapkan over thingkingnya. Meski usia Danendra dua tahun dibawah Bilandra bukan lantas dia tidak dewasa. Justru dia jauh lebih dewasa.


 


“Dengerin aku ya Ji, aku omong cuma sekali, kamu terlalu over thingking sayang. Toh kita juga belum menjalaninya. Aku tahu pasti akan berat, tapi seberat apa aku dan kamu pun belum tahu seperti apa bukan? Bahkan kita sama-sama baru merasakan apa itu yang namanya cinta untuk kekasih, kamu yang pertama dan akupun yang pertama buat kamu. Kamu masih inget kan semalam aku bilang apa, kepercayaan, untuk awal kita harus sama-sama pegang itu dulu Ji, selanjutnya biarlah takdir menuntun kisah kita. Yang pasti restu orang tua sudah kita genggam, selanjutnya tinggal bagaimana kita menjalani nantinya “ jelas Danendra pelan dan sangat menenangkan. Sembari tangannya mengelus punggung Bilandra yang nyaman di pelukannya.


“Kamu tidak usah over thingking Ji karena itu akan membuat kamu buang energi yang ngga penting. Dan biasanya apa yang kamu over thingking nanti bisa jadi kenyataan karena apa, karena itu seperti doa yang setiap saat kamu semogakan kan? Makanya kita buat simple aja sayang. Setelah nanti dijalani ngga akan sesulit yang kamu bayangkan, pasti itu. Apalagi setiap saat kita bisa video call atau kalau perlu ada aplikasi find me juga bisa kamu cek kemana aja aku pergi. Dan nanti aku akan bawa kamu ke circkle aku biar kamu tahu seperti apa, karena aku mau semua orang tahu aku pacar kamu” tambah Danendra dengan nada lebih serius.


 


“So sekarang kita nikmati saja waktu kita bersama, tidak hanya di Bali aku mau banyak kota lain akan kita jelajahi bersama, tentunya selama belum sah rombongan kita akan kita bawa” seketika Danendra sudah dengan nada slengeannya.


 


“I love you Bi” bisik Bilandra sembari mendongakan kepalanya menatap tajam mata Danendra.


 


Tidak ada jawaban dari Danendra hanya ada pangutan lembut di bibir mungil Bilandra. Bukan menolak tetapi Bilandra menyeimbangkan pangutannya yang semakin dalam dan semakin panas. Tangan Danendra sudah menelusup di dalam tingtop Bilandra dan sudah jalan-jalan menggerayangi yang ada didalam sana. Bilandra semakin terbawa nafsu dengan pangutan dan sentuhan lembut Danendra sampai mereka kehabisan oksigen setelah bergulat dengan nafsu.


 


“I love you too” baru bisikan lembut ditelinga Bilandra keluar dari mulut Danendra.


 


“Aduhhh Ji, tegang Ji ini mah, gimana ini” lanjut Danendra dengan muka yang ngga lega. Ada sesuatu yang mengganjal dan harus dituntaskan.


 


“Salah kamu sih” Bilandra malah tertawa melihat muka Danendra yang ngga enak banget deh dilihatnya.


 


Mereka sudah tahu arah kemana omongan absurd Danendra. Mereka sudah dewasa bahkan apapun yang mereka lakukan adalah yang pertama bagi mereka. First kiss dan first-first yang lain adalah yang pertama bagi mereka berdua. Makanya bucin lah mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov keluarga Danendra dan keluarga Bilandra.


Rombongan Ayah Ais dan Papap Iyo sedang asyik menikmati Bali Zoo menuruti anak-anak ragil mereka. Sekalian semakin dalam mereka mengenal satu sama lain. Karena benar-bemar dalam waktu singkat dan tanpa rencana mereka bertemu dan serasa keluarga dekat sekarang.

__ADS_1


__ADS_2