Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 14


__ADS_3

Sampai dikamar yang mereka booking, bersebelahan tanpa jeda kamar lagi. Terlihat ayah dan bunda sedang santai sambil menonton televisi dikamar yang dipakai ayah dan dua jagoannya, benar-benar quality time berdua saja tanpa gangguan siapapun.


 


“Kalian mandi dulu saja ya, biar tidak lengket baru nanti kita nikmati sunset di balkon kamar, bagaimana dua cowok ganteng, setujukah?" ide brilliant Bilandra yang diiyakan saja oleh dua cowok yang mengapitnya mesra.


 


“Oke kalau gitu cusss masuk kamar mandi” sambung Bilandra setelah melihat anggukan dari kakak beradik yang mempunyai nilai lebih dimata Bilandra.


 


Tanpa drama Bilandra langsung masuk kamar mandi dikamarnya dan segera mandi membersihkan badannya yang lengket karena air laut.


 


Berbeda di kamar yang ada ayah dan bunda, drama klasik kakak adik yang sudah menjadi lagu wajib. Danendra dan Raka yang berebut kamar mandi karena sama-sama ingin buang air dan mandi.


 


“Bunnnnnnnnnn, mas Danendra ini lho, selalu saja ngga mau ngalah, aku juga kebelet pengen pipis” adu Raka dengan teriakannya yang tidak ada duanya.


 


“Huhhhh dasar tukang ngadu, mas juga kebelet ini” sanggah Danendra yang masih tarik menarik pintu kamar mandi.


 


“ Udah barengan aja ngapa sihhh, sama juga kan bentuknya” jawab bunda Ara dengan santainya tanpa memindahkan pandangan matanya dari layar televisi.


 


“Ngga dirumah ngga disini ngga dimana-mana kok masih ada drama, kalah dech tuch drakor yang suka ditonton bunda” tambah ayah Ais bukan melerai tapi menambah suara saja.


 


“Dasar reseh nihh anak, sana buruan lima menit, selesai ngga selesai mas dobrak pintunya” Danendra mengalah seperti biasanya dan tetap dengan amarah.


 


Ayah dan bunda cuma menggelengkan kepala, karena tahu ujungnya pasti anak sulungnya akan mengalah dengan adik semata wayangnya. Tapi ya gitu harus perang mulut dulu, mending cuma perang mulut ngga sampai lempar tangkap garpu seperti dirumah.


 


Dengan kesal yang membara dan masih kebelet Danendra mondar mandir di balkon kamarnya.


 


Selesai mandi Bilandra langsung keluar ke balkon untuk duduk sambil mengeringkan rambutnya. Dia melihat Danendra yang masih mondar mandir dengan terus menggerutu.


 


“Sayang” panggil Bilandra tanpa sadar untuk pertama kali.


 


Menengok ke arah sang empunya suara, amarah yang membuncah seketika hilang lenyap entah kemana, itu yang dirasakan Danendra saat ini.


 


“Kamu panggil aku apa?” tanya Danendra dengan senyum sumringahnya dan otomatis berjalan ke balkon kamar Bilandra.


 


“Upssss .. keceplosan aku” jawab Bilandra setelah sadar kata sapaan apa yang dia pakai untuk memanggil Danendra.


 


Pipi merah merona ala Bilandra terlihat lagi saat ini, apalagi Danendra sudah tepat berdiri di depan Bilandra.


 


Tanpa aba-aba, cuppp, Danendra mengecup bibir ranum merah muda itu, bibir Bilandra.

__ADS_1


 


Hanya sekilas karena detik berikutnya Bilandra memundurkan badannya yang sudah terasa terbang ke langit.


 


Hampir terjatuh karena kaki Bilandra membentur kursi dengan sigap tangan kekar Danendra menarik tubuh mungil Bilandra.


 


“Upss hampir aja kan, kalau sampai jatuh kepalanya kebentur terus amnesia kan aku sedih” Danendra memanfaatkan situasasi agar tidak canggung setelah tadi dia mengecup bibir manis Bilandra.


 


“Kamu sihhh suka bikin surprise” jawab Bilandra dengan bibir yang mengerucut sempurna.


 


“Siapa hayo yang bikin surprise duluan, panggil sekali yank” pinta Danendra dengan wajah memelas.


 


“Hmmm sayang” ucap Bilandra pelan nyaris tidak terdengar tapi sangat jelas diindera pendengaran Danendra.


 


“Panggil aku seperti itu terus ya” Danendra meminta dengan suara sungguh-sungguh dan sinaran mata yang tidak bercanda sama sekali.


 


“Aku pengen panggilan kita beda deh,kalau sayang kayaknya udah dipakai siapa aja” Bilandra menjawab sembari berfikir panggilan apa yang tepat untuk kekasihnya yang baru beberapa jam lalu.


 


“Baiklah, kamu cari ide, aku mandi dulu ya kayaknya si reseh sudah selesai tuh” Danendra menyetujui ide Bilandra yang menginginkan panggilan diantara mereka berbeda dari yang lain.


 


 


Sementara Danendra mandi, Bilandra masih duduk anteng di balkon. Bukannya mencari panggilan yang anti mainstrem tapi bayangan ciuman barusan dengan Danendra membuat dia tersenyum dan tangannya memegang bibir mungilnya yang basah.


 


“Rasanya ternyata seperti ini, dia mengecup bibir aku” batin Bilandra yang masih melayang diawang-awang.


 


“Danendra, kamu sudah mengambil ciuman pertamaku” gumam Bilandra yang masih belum rela kembali ke dunia nyata.


Masih dalam angannya Bilndra tidak menyadari jika Danendra sudah ada didepannya lagi. Dilihatnya gadis yang suda sah menjadi kekasihnya, tersenyum sendiri sembari memegangi bibir mungilnya. Bibir yang tadi dia kecup singkat.


 


“Hmmm kenapa malah senyum-senyum sendiri” suara Danendra mengagetkan Bilandra dan membuyarkan lamunannya.


 


“Ngggg ngga kok, ngga ngelamun kan katanya tadi nyuruh aku cari ide panggilan apa yang unik untuk kita” elak Bilandra yang tetap bisa ketebak kalau itu hanya pembelaan diri karena sudah tertangkap basah melamun.


 


“Terus sudah dapatkah idenya” tanya Danendra sembari duduk di samping Bilandra persis dengan tangan yang merangkul mesra.


 


“Hmmm bagaimana kalau aku panggil kamu black kamu panggil aku green” ide Bilandra yang sekonyong-konyong timbul di otaknya.


 


“Kenapa mesti black dan green?” tanya Danendra dengan heran.


 

__ADS_1


“Karena kamu kan hitam nih tapi ganteng dan aku suka, makanya aku panggil kamu black dan green itu dari warna kesukaan aku” jelas Bilandra singkat, padat dan jelas. Dan sepertinya benar- benar anti mainstrem.


 


“Ohhhh begitu alasannya, boleh juga, atau kita pakai inisial saja, Bi dan Ji (abjad dalam bahasa inggris)” ide Danendra semakin menambah keunikan nama panggilan mereka.


 


“Iyaaaa iyaaa aku setuju Bi” jawab Bilandra antusias dengan senyum yang merekah.


 


“Oke, deal, Ji” Danendra mengulurkan kelingkingnya untuk dikaitkan dengan kelingking Bilandra.


 


Senyum bahagia membuat dua anak manusia yang sedang kasmaran semakin membuat wajah mereka merona.


 


“Sebentar lagi sunset bi, aku kembaliin handuk dulu ya, biar lebih syahdu nikmati senja” pamit Bilandra sembari berjalan ke arah kamar mandi.


 


Danendra hanya menganggukan kepalanya saja tanda setuju dengan Bilandra.


 


Tidak ada dua menit Bilandra sudah kembali ke balkon, duduk disamping Danendra yang sedang memetik gitarnya.


 


Tanpa mengganggu Danendra yang tengah menyanyikan lagu cantik by kahitna, Bilandra tenang  duduk disamping Danendra yang bernyanyi dengan merdu dengan mata yang terpejam. Sampai pada bait :


 


Ada hati yang termanis dan penuh cinta


Tentu saja kan kubalas seisi jiwa


Tiada lagi


Tiada lagi yang ganggu kita


Ini kesungguhan


Sungguh aku sayang kamu


 


Matanya nanar menatap tajam manik mata hitam kekasih hatinya, Ji nya yang mampu memporak porandakan jiwa kejombloannya.


 


Seperti terhipnotis, mata Bilandra membalas tatapan sang Bi nya dengan senyum yang terus mengembang.


 


Dibisikkan nya “I love You” ditelinga Danendra yang masih memainkan gitarnya. Matanya terpejam setelah mendengar kalimat yang dibisikkan Bilandra.


 


Setelah menyelesaikan satu lagi dan berhasil membuat Bilandra tersanjung, Danendra gantian berbisik di telinga Bilandra, “I Love You Too, My Ji” dan tanpa aba-aba Danendra mencium lagi bibir Bilandra, yang kali ini lebih lama dan lebih membangunkan jiwa nakal Danendra ataupun Bilandra.


 


Karena sama-sama kehabisan oksigen, mereka melepas tautan bibir mereka dan menyatukan dahi mereka dengan mata yang sama-sama terpejam.


 


Ciuman yang didasari sayang dan semakin mendayu-dayu saat bersamaan dengan cahaya sunset yang indah.


__ADS_1


__ADS_2