Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 74


__ADS_3

Hanya air mata yang keluar dari mata Bilandra. Tidak ada suara lagi baik dari mulut Danendra ataupun Bilandra. Suara isakan air mata pun sangat lirih hampir tidak terdengar. Danendra pun hanya mampu membenamkan wajah ayu Bilandra dalam dekapannya.


Angan Danendra menerawang jauh, ada sesal memang setelah semua terjadi. Ditambah tidak ada ocehan lucu lagi dari Bilandra. Yang ada hanya dadanya basah oleh lelehan air mata Bilandra.


Satu jam berlalu setelah adegan panas Danendra dan Bilandra, tidak ada yang mengeluarkan suara sepatah katapun. Posisi mereka pun sama dari satu jam yang lalu. Bedanya air mata Bilandra sudah tidak menetes lagi membasahi dada Danendra.


"I love Bi, please jangan pernah tinggalin aku ya" tiba - tiba terdengar suara lirih Bilandra membuyarkan lamunan Danendra yang terus dihantui rasa bersalah.


"Kamu ngga salah, kalau mau dicari salah benar ya kita sama - sama salah, tapi ini keputusan kita, kita sudah memilih dan melakukan. Ini akan menjadi rahasia kita" lanjut ucap Bilandra sembari menengadahkan wajah ayu nya ke atas untuk menatap wajah kekasih hatinya. Kekasih yang sudah dia berikan mahkotanya yang selama ini sangat dia jaga.


"I love you too Ji, iya ini rahasia kita, ini kisah kita" jawab Danendra penuh ketakjuban. Dan sekarang air mata Danendra yang menetes tanpa diperintah.


"Lhoh kok nangisnya gantian" spontan Bilandra omong dengan mimik muka imutnya dan itu berhasil membuat Danendra tersenyum


"Siapa juga yang nangis, ini itu keringat Ji yang keluar dari mata" jawab Danendra dengan tawa yg menggelegar sembari memeluk erat tubuh mungil Bilandra dalam dekapannya.


"Isshhhhh .. sakit Bi, sakit semua badan aku" keluh Bilandra lirih dengan suara yang memang lemas dari pertama.


"I know Ji, kamu tidur aja dulu, nanti aku bangunin satu jam lagi buat mandi terus siap - siap buat acara grand opening home stay" jawab Danendra sembari mengelus pucuk kepala Bilandra lalu mengecupnya dengan sangat lembut.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, Bilandra benar - benar terlelap dalam tidur paginya pasca perang bareng Danendra. Melihat Bilandra sudah lelap, Danendra pelan - pelan memindahkan kepala Bilandra ke bantal dan dia beranjak dari kasur untuk mandi dan bersiap dengan check kesiapan gran opening Joglo Home Stay nya.


Cukup tiga puluh menit Danendra sudah siap dengan penampilan yang super cool seperti biasanya seorang Danendra Wicaksana. Sembari berjalan ke kamar mandi tadi dia juga membereskan bajunya sendiri dan Bilandra tentunya yang berserakan. Dan yang pasti dia membungkus tubuh mungil Bilandra dengan selimut tebal. Sepintas terlihat bercak merah di sprei putih kasur king size home stay yang ditiduri Bilandra.


"Maafkan aku Ji, aku sudah ambil sesuatu yang sangat berharga dari kamu, yang kamu sangat jaga dan kamu sudah memberikannya untuk aku. Aku pasti akan jaga kamu selalu, kamu milikku utuh mulai saat ini" batin Danendra sembari membungkus tubuh mungil Bilandra yang terlelap dan terlihat sangat lelah, selanjutnya dia membersihkan badannya yang sudah sangat lengket karena keringat pertempuran.


Sambil berdiri dibawah kucuran shower yang mengeluarkan air hangat, Danendra menatap lekat tubuh nya. Ada rasa bahagia, tapi juga sedikit penyesalan dan merasa berdosa.


"Ayah bunda ... anakmu sudah berani mengambil kesucian gadis yang memang adalah kekasih ku, yang aku sayangi sepenuh hati ku, yang membuat aku menjadi laki - laki dewasa. Maafkan aku karena apa yang kita lakukan akan membuat kalian sangat kecewa jika kalian mengetahuinya" gumam Danendra sembari memejamkan mata dibawah guyuran air hangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dikamar yang lain, dua pasangan bucin, Kavi Lingga dan Ita Aer melanjutkan tidurnya dengan posisi semestinya, yaitu tidur diatas kasur. Setelah dibangunkan Bilandra subuh tadi, mereka berbondong - bondong pindah ke kamar masing - masing yang sudah disediakan sang owner.


Setelah masuk kamar Kavi dan Lingga rencananya mau rebahan saja dikasur sambil ngobrol sekaligus menunggu terbitnya sang mentari pagi alias sunrise.


"Sayang .. kamu masih ngantuk?" tanya Kavi sembari membuka pintu kamar dan mempersilahkan Lingga untuk masuk duluan kedalam kamar.


"Udah ngga sayang .. tapi rebahan sepertinya oke juga, secara semalaman kita tidur dengan posisi yang tidak semestinya, apalagi kamu yang harus terbebani dengan berat badan aku" jawab Lingga sembari berjalan menuju kasur.

__ADS_1


"Kalau gitu kita rebahan dulu aja ya, tar kalau udah matahari sudah nongol dengan sempurna kita baru siap - siap buat bantu check persiapan grand openingnya" ajak Kavi yang sudah terlentang diatas kasur sembari meluruskan tubuhnya yang cukup kram ternyata tidur dengan ditindih manusia segedhe Lingga.


"Sayang geseran dikit dong " Lingga mulai reseh seolah tidak rela sang pacar merebahkan tubuhnya.


"Masih luas kali, kamu mau rebahan apa guling - guling sih" jawab sewot Kavi tapi sambil geser juga sih. Memberikan tempat lebih luas dan leluasa untuk Lingga.


Dengan cengiran bahagia terpancar di wajah Lingga merasa puas karena Kavi sewot karena ulahnya. Dalam hitungan detik bukan merebahkan tubuhnya di atas kasur tapi Lingga justru menjatuhkan tubuhnya tepat diatas tubuh Kavi yang sedang telentang sempurna.


"Ahhh .. empuknya kasur home stay ini, ngga salah memang ayah Ais memilih kasur ini untuk kamar VVIPnya" celoteh Lingga tanpa dosa sembari memeluk tubuh kekar pacarnya.


"Hmmm .. ini badan saya kak bukan kasur, kakak cantik - cantik katarak ya" jawab Kavi dengan suara yang tercekat karena badannya benar - benar belum siap menerima beban seberat Lingga.


"Iya memang mas, memang saya katarak makanya saya mau jadi pacar kamu mas" jawab Lingga lebih nyleneh lagi. Tidak lupa dengan senyum jahilnya yang terus mengembang di wajah cantiknya.


Tidak menjawab ocehan Lingga tapi dengan sigap Kavi mendekap dan membalikkan tubuhnya tepat diatas tubuh Lingga. Suara tawa kemenangan Lingga yang tadi bergema berganti jeritan kaget karena tanpa aba - aba Kavi membalikkan posisi dengan mudah dan tanpa persetujuan.


"Arghhh .. berat sayang, aku bisa gepeng ini, badan kamu gedhe banget tau" teriak Lingga sambil memukul - mukul dada Kavi. Jelas dong itu tidak berefek apapun, tidak merubah posisi sedikitpun.


Bukan jawaban ataupun bergeser dari posisinya, Kavi dengan cekatan membungkam mu lut mungil Lingga. Awalnya hanya berniat membungkam teriakan Lingga tapi si kecil mungil yang sudah menjadi candu buat Kavi itu menariknya untuk menyesap perlahan.

__ADS_1


Kavi memejamkan matanya, menikmati apa yang dia se sap. Perlahan tapi pasti dia berhasil memporak - porandakan isi dari si kecil mungil milik Lingaa itu. Lidah mereka sudaj saling bertaut, saling memberi kenikmatan.


Dalam sekejap saja dua anak manusia yang berstatus kekasih itu terbuai dengan ci uman bi bir mereka. Hanya sebatas itu, iya hanya ci uman bi bir saja yang selalu Kavi dan Lingga lakukan. Karena sesuai cita - cita mereka untuk menjadi Abdi Negara jadilah merekaa seperti punya rem alami yang bisa mengkontrol semua yang mereka lakukan jika sedang berduaan. Yang pasti mereka tidak ingin cita - cita nya sedari kecil musnah begiti saja. Tidak seperti pasangan bucin yang kebablasan, Danendra dan Bilandra.


__ADS_2