Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 19


__ADS_3

“Keindahan semesta pulau dewata semakin sempurna karena cerita cinta kita bertumbuh disini,  i love you Bi” bisik Bilandra mesra selepas berpose cantik arahan bunda Ara.


 


“Terimakasih, sudah merasakan apa yang aku rasakan, yang mungkin orang lain menganggap rasa ini bull ****, i love you too Ji” balas Danendra berbisik mesra dan mengecup lama puncak kepala Bilandra.


 


Jika ada kata yang sanggup lukiskan apa yang mereka rasakan selain bahagia pasti sudah diucapkan lantang oleh mereka.


 


Melihat putra sulungnya bahagia bersama sang kekasih hati pilihan dia sendiri, bunda Ara terharu. Air mata bahagia menetes tanpa permisi.


“Semoga tidak selesai cerita cinta kalian, bersatu disaat yang tepat suatu hari nanti” doa bunda Ara dalam hati sembari menghapus jejak air matanya.


 


“Bunda kenapa nangis?” Bilandra yang melihat bunda Ara menghapus air mata langsung berjalan ke arah bunda Ara tanpa menghiraukan Danendra yang kemudian menyusul di belakang nya.


 


“Bunda nangis bahagia sayang, bunda ikut merasakan bahagia kalian, bunda terharu anak bunda sudah besar, sudah mengerti dan merasakan cinta” bunda Ara menjawab pertanyaan Bilandra, sembari menyambut uluran tangan Bilandra.


 


“Ahhhh bunda so sweet sekaliiiii, aku jadi ikut terharu, terimakasih bunda sudah ijinkan putra kebanggaan bunda, kesayangan bunda mencintai aku yang seperti ini, jauh dari sempurna” Bilandra memeluk erat bunda Ara sembari mengucapkan rasa terimakasihnya. Dia merasa sangat beruntung.


 


“Bunda tidak berharap terlalu muluk akan hubungan kalian, pesan bunda berproseslah, jalani dengan ikhlas, pasrahkan semua pada Tuhan, kalian cukup melakukan yang terbaik” pesan bunda Ara sembari memeluk putra kesayangannya dan juga Bilandra sekaligus.


 


“Jika suatu hari nanti, takdir membawa kalian pada kisah yang berbeda, ingatlah Danendra tetap putra bunda dan kamu Bilandra adalah putri bunda, jangan putuskan tali persaudaraan ini” lanjut pesan bunda Ara.


 


“Iya bun, mas bakal ingat pesan bunda, terimakasih ya bun sudah membebaskan mas pada pilihan mas, percaya pada mas untuk memilih dan menjalankan pilihan itu” ucap Danendra tulus dari dalam hati. Diraihnya jemari bundanya dan menciumnya penuh hormat dan syukur.


 


“Yaelahhhhhh ternyata bunda disini” tiba-tiba suara fals dari si bungsu merusak acara syahdu bunda dan kedua putra putrinya.


 


“Ya emang bunda dari tadi disini nak” jawab bunda Ara dengan ekspresi yang masih sendu. Bukan karena sedih tapi terharu.


 


“Idihhhh malah nangis bundanya, aku tuh ngga marah sama bunda jangan nangis dong” Raka yang langsung fokus ke mata sendu bundanya.


 


“Yeeee bisa gitu bunda nangis karena itu” jawab bunda Ara dengan nada yang sudah renyah sumringah.

__ADS_1


 


“Bunda ngga nangis, bunda kelilipan angin tadi” lanjut bunda Ara memberi alibi seadanya untuk Raka si bungsu yang kekeppoannya diatas rata-rata.


 


“Hmmmm gitu” jawab Raka yang sepertinya percaya dengan alibi bunda Ara. Karena memang angin yang berhembus cukup kencang menginggat memang sudah menjelang malam.


 


“Udahan yuk, udah mau gelap ini, kita lanjut prepare makan malam dan setelah istirahat karena besok kita check out pagi biar enak dijalan” giliran ayah Ais memberi perintah.


 


Perlahan ayah Ais, bunda Ara, Danendra, Raka, Bilandra dan para guide meninggalkan spot terakhir mereka menuju ke stable.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di kamar, mereka bergegas untuk mandi dan bersiap untuk dinner terakhir di The Menjangan Resor. Karena besok pagi mereka sudah check out untuk melanjutkan liburan di Denpasar.


 


Makan malam bersama seperti biasa meraka belum bosan dengan seafood yang selalu menggugah selera. Dan selalu tidak ada percakapan ditengah mereka menyantap hidangan makan malamnya.


 


Selesai dengan makan malam terakhir di The Menjangan Resor masing-masing dari rombongan ayah Ais mempacking ulang untuk prepare ke perjalanan selanjutnya. Bahkan Raka sudah bertanggung jawab dengan barangnya sendiri. Walaupun akan ada second checking dari sang bunda.


 


 


“Sudah selesai Ji” suara Danendra mengejutkan Bilandra yang sedang duduk dilantai membelakangi pintu slide kamarnya.


 


“Kaget akuuuu ...” Bilandra terlonjak sambil memegang dadanya yang berdegup kaget.


 


“Hihihihi segitu kagetnya sampek geter neh lantai” goda Danendra yang sudah mengusap pucuk kepala Bilandra yang terkaget-kaget.


 


“Habisnya ngga pakek permisi udah nongol aja, mana suaranya gedhe pula” gerutu Bilandra yang memprotes kebiasaan Danendra yang suka tiba-tiba muncul.


 


“Iyaa .. iyaaa maaf sayang, gimana sudah selesai packingnya” jawab Danendra sekaligus meminta maaf ke pacarnya.


 


“Sudah Bi, kan barangnya juga ngga banyak” jawab Bilandra yang sudah bisa mengatur ritme jantungnya.


“Good job honey” Danendra memberi komentar dan dua jempolnya untuk Bilandra.

__ADS_1


 


“Oh iya Ji, kata ayah besok kita langsung ke Karma Kandara, langsung check in disana saja sampai mama papa datang” jelas Danendra ke Bilandra yang melongo mendengar kalimat Karma Kandara.


 


“Ji.... hallooooo, malah bengong sihhh” Danendra menggerakkan tangannya kekiri dan kekanan melihat pacarnya tanpa ekspresi malah bengong.


 


“Hmmmmm iyaaa Bi, beneran kita langsung ke karma kandara, asyiikkkkkkkk, keren itu Bi” sontak Bilandra bahagia lahir batin. Benar-benar diluar ekspektasi.


 


“Yaaa dianya girang, tadi bengong sekarang renyah gitu, sadar kan kamu Ji” goda Danendra dengan senyum jahilnya.


 


“Hehehe aku terkejut Bi, terkaget-kaget, mimpi apa coba bisa nginep di Karma Kandara, gratis pula, dan satu lagi bonus cowok ganteng yang sayang aku lahir batin” celoteh Bilandra dibumbui ke narsisan yang hakiki. Kenarsisan yang akan muncul sewaktu-waktu.


“Kamu bahagia sayang?” tanya Danendra dengan lembut. Tangannya sudah bertaut di genggaman tangan Bilandra.


 


“Bangettttt bangettttt bangetttt sayang, aku mau telfon mama ahhh mau bilang aku bakal ke karma kandara” jawab Bilandra sembari mencari HPnya.


 


“Telat kamu Ji, bunda udah laporan duluan, malahan merencanakan lebih tepatnya” Danendra menjawab sekaligus memberi informasi akurat terkait kerja sama orang tua mereka.


 


“Pantesan mama ngga pernah telfon aku, chat juga jarang, kirain mama ngga care lagi, ngga tahu nya malah penuh planning” Bilandra menjawab sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


 


“Kamu lucu kalau lagi gini Ji, jadi pengen.....” Danendra menggantungkan kalimatnya dengan mata nya mulai genit memberi kode.


 


“Ihhhh kamu, pengen apa hayooooo?” tanya Bilandra memicingkan mata sembari tersenyum penuh arti.


 


“Pengen inihhhh....” jawab Danendra yang sudah menarik pelan tubuh Bilandra dan perlahan ******* habis bibir kenyal sang kekasih.


Berdua saling memejamkan mata terhanyut dalam suasana romantis yang tiba-tiba tercipta.


Semakin dalam Danendra membawa Bilandra ke nirwana. Tidak saling menatap tapi saling merasakan debaran hebat mengguncang jantung mereka.


 


“Aku harap aku bisa memilikimu seutuhnya Ji” batin Danendra dengan terus ******* habis bibir Bilandra.


Menjelajahi setiap ruang rongga mulut sang pacar tanpa terkecuali. Sampai pada oksigen sudah habis untuk mereka hirup. Sebentar saja Danendra melepas lumatannya, tanpa jeda panjang dia serang lagi Bilandra yang masih belum banyak menghirup oksigen.

__ADS_1


__ADS_2