
POV Bilandra
Oke Bi it time to start 😊 terimakasih sudah memilih aku untuk menjadi yang pertama dan berjuang bersama untuk kisah yang pertama.
Aku ngga boleh terus-terusan mellow. Kasihan Danendra yang harus selalu kokoh dan baik-baik saja. Dia juga manusia biasa juga, bukan thor 😁😅
Kita pasti akan bisa Bi, apapun yang terjadi nanti, yakinlah yang terbaik untuk kita. Kita akan sama-sama meniti. Aku akan ada di kisah sukses kamu dan aku harap begitu juga kamu ada di kisah suksesku.
Tapi aku juga akan menyiapkan hati untuk menerima jika ternyata Tuhan tidak satukan kita. Karena aku pastikan saat itu kita sudah berusaha, berjuang dan akhirnya kita sama-sama memutuskan melanjutkan hidup kita.
Bilandra pun terbuai dalam angannya. Dia pun bermonolog dengan dirinya sendiri. Menguatkan diri untuk apapun yang akan terjadi nanti.
Tokkkk ... tokkkkkk
“Mbak” panggil mama Udi dibalik pintu kamar Bilandra. Karena sedang asyik bermonolog jadi mana denger Bilandra dengan suara mama Udi, padahal suara mama Udi sudah naik satu oktaf.
Tidak ada pergerakkan ada yang mau membukakan pintu, mama Udi dengan sigap membuka pintu kamar Bilandra yang tidak terkunci. Dilihatnya anak gadisnya sedang melamun dan merebahkan tubuh nya di kasur empuk. Tanpa ijin dari sang empunya kamar mama Udi masuk dan duduk di samping kaki Bilandra yang menjulur ke lantai.
__ADS_1
“Mbak, ngelamun aja ih” mama Udi kembali memanggil Bilandra dan kali ini plus memegang kakinya yag terjulur di lantai.
“Ehhhh mama, bikin kaget aja deh, tiba-tiba udah nongol aja” Bilandra yang kaget kakinya dipegang akhirnya sadar kalau mamanya sudah ada duduk manis di kasurnya.
“Gimana mau denger kalau jiwa dan raga terpisah” mama Udi mulai nyolot karena Bilandra tanpa dosa bilang mamanya main nyelonong masuk kamar katanya.
“Dari tadi diketuk-ketuk dari suara lembut ala ibu peri sampai naik oktaf paling tinggi suara mama ngga ada sautan, ehh ternyata yang didalam kamar masih gagal move on” lanjut mama Udi.
“Maaf mam, beneran ngga denger tadi aku nya, udah move on ini mam, udah semangat merajut asa dan cinta” jawab Bilandra sembari mendudukkan tubuhnya di samping mama Udi.
“Ahhh yang betullll, coba sini lihat mana mukanya yang semangat LDR” mama Udi yang mengangkat wajah Bilandra yang sudah tersenyum semangat walau masih sembab parah tuh mata.
“Hmmmm gitu dong, mama kan jadi ikut seneng mbak. Lihat mbak galau, mellow ikut sedih mama, sampai mama pikir mau nikahin mbak aja apa ya biar happy” ledek mama Udi yang masih berlanjut.
“Idihhhh apaan mama ini, main kawinin aja, ehhh nikah maksudnya, tapi tau gitu mbak sedihnya berlanjut aja ya biar dinikahin hehehe” jawab Bilandra yang sudah riang gembira dan siap adu mulut dengan mamanya yang terkadang sama-sama absurd.
“Mamaaaaaaaaa ... maamaaaaaaaaaaaa” teriak Abhinaya melengking bak penyanyi rock mengganggu mama Udi yang masih bercengkrama dengan mbaknya Abhinaya.
“Ya udah mbak buruan mandi, lanjut makan malam, terus istirahat besok udah harus kembali ke kenyataan kan” lanjut mama Udi yang beranjak meninggalkan Bilandra yang tertawa bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam kemudian papa Iyo, mama Udi, Bilandra dan Abhinaya sudah duduk manis di kursi meja makan. Karena sudah cukup lelah mama Udi pesan makanan online untuk makan malam suami, anak-anak dan dia sendiri. Makanan sederhana tapi nikmat karena makannya bersama dengan orang-orang tercinta. Seperti biasa tidak ada yang berbicara saat makan malam itu berlangsung. Semua sibuk sama piring masing-masing.
Di propinsi yang berbeda keluarga Ais juga duduk manis di kursi meja makan. Bedanya dirumah mewahnya sudah tersaji makanan dari koki handal yang dipekerjakan oleh keluarga Ais.
“Selamat makan malam” suara merdu bunda Ara terdengar lembut sebelum suami dan anak-anaknya memulai makan malamnya.
Tidak ada jawaban karena seperti biasa saat makan mereka tidak diperbolehkan berbicara. Mereka sibuk menikmati hidangan makan malamnya saja. Nanti setelahnya baru mereka akan ngobrol ringan di ruang keluarga. Dan ini hukumnya wajib di keluarga Ais. Karena saat malam ini saatnya mereka bisa berkumpul setelah seharian dengan kegiatan masing-masingnya.
Setelah selesai makan malam benar saja ayah Ais, Danendra lebih dulu sampai ke ruang keluarga dan sudah asyik mengobrol tentang usaha yang dirintis Danendra. Danendra sudah dididik untuk menjadi pengusaha sejak dini karena bagi ayah Ais lebih baik membuka lapangan pekerjaan bagi sebagian besar masyarakat indonesia. Coffe Shop adalah usaha yang dipilih Danendra berhubung dia seneng nongkrong sama teman-temannya.
__ADS_1
“Gimana mas Caffe kamu” tanya ayah Ais yang duduk santai di sofa ruang keluarga.
“So far so good yah” jawab Danendra yang matanya sibuk menatap ipadnya membaca email dari manager caffe nya.
“Hmmm oke, kalau ada yang mau mas diskusikan dengan senang hati ayah membantu mas” lanjut ayah Ais yang menawarkan bimbingannya untuk anak sulungnya.
“Siap boss” jawab Danendra dengan sekilas menatap sang ayah yang jadi panutannya.
“Tuhhh tuhhh pacar kamu nak, lagi main game muluuuuu” tiba -tiba suara bunda Ara membuyarkan obrolan berfaedah antara ayah dan anak.
Danendra yang mendengar bundanya seperti sedang video call dengan seseorang langsung menatap bundanya.
“Hai sayang, ngga video call aku ihhh malah ke bunda, jahat” sapa Danendra setelah tahu dengan siapa bundanya bervideo callan ria.
“Idihhh masak aku jahat sihhh, ngga jahat kok sayang” jawab Bilandra yang sudah terlihat dan terdengar riang gembira.
Sepertinya kamu sudah baik-baik saja Ji. Terus seperri ini ya, aku jadi lebih tenang, batin Danendra saat melihat senyum manis Bilandra di layar Hp bundanya.
“Bi ... hallo kok malah bengong gitu, ya udah kalau masih mau bengong aku video call sama bunda aja” suara Bilandra di nun jauh disana membangunkan Danendra dari lamunannya yang tidak jauh dari melamunkan Bilandra juga.
Belum sempat Danendra menjawab bunda Ara sudah mengambil alih HP nya dan lanjut ngobrol bareng Bilandra dan mama Udi.
“Sepertinya belum puas mereka mas, harus dijadwalkan setiap minggunya untuk mereka hang out” ayah Ais dengan suaranya yang dipelankan memberi ide ke Danendra.
“Sepertinya juga begitu yah” jawab Danendra yang heran.
“Atau buka saja Caffe di Jogja mas, sepertinya wort it mas” ide cemerlang ayah Ais.
“Hmmm bisa dipertimbangkan yah” jawab Danendra yang kembali sibuk dengan ipadnya.
Ayah Ais kembali fokus pada film yang ayah tonton. Bunda Ara masih asyik bervideo call ria, kali ini hanya dengan mama Udi, Bilandra sudah mengundurkan diri dari obrolan absurd para ibu-ibu yang lama-lama bikin dia pusing. Papa Iyo jangan ditanya pasti dia sudah di sita oleh Abhinaya untuk membaca dongeng sebelum tidur.
__ADS_1