Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 41


__ADS_3

Satu jam berlalu, sekarang sudah jam empat sore. Danendra masih lelap di alam mimpi begitu juga Bilandra yang juga terlelap.


 


“Masih belum bangun mereka bun” tanaya mama Udi yang melihat bunda Ara mengintip dari ruang keluarga.


 


“Belum mam, malahan tambah nyenyak gitu kelihatannya” jawab bunda Ara yang masih asyik mengintip.


 


“Biarin lah bun nanti juga bangun sendiri, apalagi Bilandra kalau udah kebas juga bangun itu” jawab mama Udi yang sibuk menyiapkan camilan sore.


 


“Ini bapak-bapak kok juga belum sampai rumah juga ya” lanjut tanya mama Udi.


 


“Tempat yang disurvai tidak hanya satu dan sepertinya agak jauh dari satu tempat  ke tempat satunya” bunda Ara menjelaskan kemungkinan menurut versi bunda Ara.


 


“Ohhh begitu, ya udah kita nge teh sore aja berdua bun” mama Udi menerima penjelasan bunda Ara yang logis sembari membawa dua cangkir teh dan aneka gorengan dalam satu nampan.


 


Abhinaya dan Raka juga masih terlelap dalam tidur siangnya yang sudah dari dua jam yang lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Drrttttttt drrrttttttt drrtttttttt


 


Satu pesan Wa masuk di HP Danendra.


 


Terasa ada yang bergetar di saku celananya Danendra terusik dari bobok siang yang kesorean.


 


Masih dalam mode linglung efek bangun tidur, Danendra menoleh ke kanan ke kiri. Mengembalikan kesadaran dengan melemaskan otot - ototnya karena posisi dia tidur hanya separuh badan di kursi dan kaki menjuntai ke lantai.


 


“Hmmm aku ketiduran ternyata” gumam Danendra sembari mendudukkan diri.

__ADS_1


 


Ditengok kanannya terlihat Bilandra masih terlelap dalam posisi duduk.


 


“Kamu sampai tidur duduk Ji, kenapa ngga bangunin aku tadi, pasti kebas tuh kaki belum lagi leher pegel-pegel itu pasti” Danendra mengusap lembut kepala Bilandra sembari pelan mengangkatnya untuk direbahkan di pahanya tanpa berniat membangunkannya.


 


Bilandra yang sudah diposisi lebih nyaman semakin terlelap dalam tidur sorenya.


 


Danendra mengusap lembut kepala Bilandra sama seperti tadi yang Bilandra lakukan ke dirinya. Sementara satu tangannya mengambil HP yang ada di saku celananya.


 


“Hai bro dimana kamu?” tulis sahabat Danendra di pesan Wa nya.


 


“Aku di Jogja, kenapa?” balas Danendra to the point.


 


“Oh udah di Jogja aja, aku mau hang out di caffe kamu” balas Andre sahabat Danendra.


 


 


“Ngga .. aku amnesia Ndra, puas!” balasan Danendra sudah berhasil menyulut emosi Andre.


 


“Hahahahah idihh marah, kayak anak perawan PMS aja kamu” Danendra masih terus membalas Wa sahabatnya.


Bilandra yang terusik dengan getaran tubuh Danendra karena auto tertawa saat membalas chat wa Andre, sahabatnya.


“Hmmmmm kok aku udah gantian tidur dipangkuan kamu Bi” suara khas bangun tidur Bilandra membuat Danenra yang fokus sama HP melihat kepangkuannya.


“Ehhh udah bangun Ji?” bukan menjawab pertanyaan Bilandra justru Danendra balik bertanya.


Bilandra tidak langsung menjawab, dia masih mengumpulkan serpihan-serpihan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna setelah dari alam mimpi.


Melihat Bilandra yang imut saat bangun tidur membuat Danendra gemas. Dia menundukkan kepalanya, menempelkan hidungnya dengan hidung Bilandra dan menggesekkannya perlahan. Bilandra yang otomatis merangkulkan tangannya di leher Danendra. Perlahan gesekkan hidung turun ke bibir. Bibir mereka saling mengecup. Semakin terbawa suasana Danendra ******* pelan bibir peach Bilandra yang sudah menjadi candunya. Bilandra pun terbawa suasana, pautan Danendra diimbanginya dengan lembut. Ciuman bibir yang awalnya lembut lama-lama terasa saling menuntut. Tangan Danendra sudah explore ke area yang sensitif untuk Bilandra.


“Hmmm sudah Bi nanti kebablasan” bisik Bilandra yang melepas pautan bibirnya dan menggenggam tangan Danendra yang sudah travelling.


Tidak ada jawaban dari Danendra. Dia mengeluarkan tangannya yng bergerilya dan mengecup sekilas bibir mungil Bilandra yang sudah jontor karena dengan rakusnya Danendra ******* tanpa ampun.

__ADS_1


“I love you” Danendra malah membisikkan kata cinta yang selalu dia ucapkan jika setelah pergumulan setengah panas dengan Bilandra.


“I love you too” balas Bilandra dengan membisikkan di telinga Danendra.


“Aku kebangun gara-gara ngerasa getaran gitu di kepala aku” lanjut adu Bilandra yang kebangun gara-gara tawa tertahan Danendra.


“Iya maaf ya, tadi aku nahan ketawa gara-gara wa an sama Andre, makanya mungkin perut aku bergetar” jawab Danendra meminta maaf atas ketidak nyamanan Bilandra waktu numpang tidur di paha nya.


“Ohh kamu lagi wa an sama Andre ya”Bilandra yang sudah dengan mode lugunya. Masih anteng juga tidur berbantalkan paha Danendra.


“Iya tadi dia wa, makanya tadi aku kebangun juga gara-gara HP aku getar waktu wa dia masuk, makanya aku pindahin kamu sekalian, tadi kamu tidurnya sambil duduk sayang” jelas Danendra sambil menoel pipi Bilandra.


“Hmmm pantesan kok bisa gantian, tadi kamu yang pules tidur di paha aku” jawab Bilandra sambil mendudukkan dirinya.


“Sudah bangun anak-anak bunda” bunda Ara berjalan ke arah Bilandra dan Danendra.


“Ehhh bunda sayang, sini siniiii bunda peluk aku” Bilandra bukan menjawab pertanyaan bunda Ara tapi malah keluar manjanya.


“Aduhhhh aduhhhh aduhhhh anak cantik bunda, bangun tidur tetep aja ayu” bunda Ara menanggapi Bilandra yang terkadang memang keluar kolokannya.


“Minggir dong mas, bunda kan mau meluk anak bunda” lanjut bunda Ara yang mengusir Danendra yang duduk manis disamping Bilandra.


“Ya ampun aku diusir, bun aku yang darah daging bunda sama ayah bun, inget bun” Danendra mendramatisir keadaan sembari berdiri dan pindah duduk di kursi single depannya.


Selanjutnya yang terdengar adalah tawa bunda Ara, Bilandra dan Danendra yang geli sendiri sama drama sore yang mereka buat.


“Seru bener ketawa sampai ngga ajak-ajak” sahut mama Udi yang berjalan membawa nampan berisi teh hangat dan camilan.


“Sini mam duduk samping aku, jadi aku diapit duo ibu-ibu yang aku sayangi sepenuh jiwa raga” sambut Bilandra yang masih dengan mode kolokannya.


Danendra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah absurd pacarnya. Yang bisa jadi dewasa, bisa galak kayak macan lapar, bisa juga kolokannya melebihi Abhinaya dan Raka.


Benar saja Bilanda diapit bunda Ara dan mama Udi yang memeluknya penuh kasih sayang.


Danendra menatap tajam pemandangan didepan matanya. Ada keteduhan dan kenyamanan.


“Mereka adalah bidadari-bidadariku” batin Danendra.


“Bi kok malah ngelamun, sirik yaa mau dipeluk juga ya” goda Bilandra yang melihat Danendra sekian menit tertegun menatap kearahnya juga bunda dan mama.


“Ehemmm .. siapa yang ngelamun, aku tuh lagi bersyukur” jawab Danendra dengan coolnya sembari mengambil satu cangkir teh hangat di meja yang disediakan mama Udi.


“Aku mau mandi ahh, gerah lagian udah sore” lanjut Danendra setelah meminum tandas teh hangat.


Bilandra, bunda Ara dan mama Udi tersenyum melihat Danendra yang melenggang santai masuk kedalam rumah dan dilanjutkan rencana mandinya.


“Ahhhhhh mas itu mesti ganggu, bisa ngga sih ngga reseh” tetiba teriakan Raka melengking menandakan Danendra sukses membuat dia BT.


“Iya lho mas Danendra nakal” suara melengking kecil selanjutnya terdengar, siapa lagi kalau bukan Abhinaya.


Abhinaya dan Raka memang lagi serius nonton kartun setelah mandi sore. Sambil ngemil santai mereka berdua memang akur.

__ADS_1


Sementara di teras belakang ketiga bidadari Danendra hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Selalu seperti itu” komentar bunda Ara.


__ADS_2