Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 48


__ADS_3

Lingga yang sudah begitu sakit hanya bisa memeluk kakinya sendiri dan terisak begitu dalam. Tangisan nya begitu menyayat hati, terlebih untuk Kavi yang tulus menyayangi Lingga dan tidak ada keinginannya menyakiti hati Lingga sedikitpun.


"Sudah .. kamu sudah lega menceritakan semua" rengkuh Kavi sambil menenangkan Lingga yang terisak. Tubuh mungil Lingga tenggelam dalam pelukan Kavi yang badannya sebelas dua belas dengan Danendra.


"Aku sakit melihat kamu menangis, aku tidak terima melihat kamu terluka, tapi akupun tidak bisa menyalahkan Danendra, karena memang dia tidak salah. Akupun tidak bisa menyalahkan rasa yang kamu punya untuk Danendra. Semua wajar." Kavi begitu lembut menenangkan Lingga yang masih terus terisak karena rasa yang tidak salah.


"Harusnya aku bisa kontrol semua Kav, harusnya aku tidak bodoh seperti ini" rintih Lingga dalam dekapan pelukan Kavi.


"Ssstttt .. Rasa kamu tidak salah, tidak ada salah atau benar dalam sebuah rasa yang tulus dari hati. Yang seharusnya adalah kita mampu meletakkan rasa pada tempat semestinya. Jangan terlalu larut kak" hibur Kavi sekaligus memberi sedikit nasehat untuk Lingga.


"Seperti rasa aku ke kamu" sambung lirih Kavi yang tanpa sadar mengucapkan kalimat itu.


Lingga yang masih mode menangis pun terjeda tangisannya karena kalimat itu terdengar pelan, lembut dan mengagetkan tentunya.


"Maksud kamu Kav" tanya Lingga sembari menengadahkan wajahnya yang penuh lelehan airmata beserta air hidung alias ingus.


"Maksud aku, i love you" jawab Kavi dengan tangannya menghapus jejak air mata beserta air hidung yang tiba-tiba berhenti alirannya dikarenakan kaget pastinya.


Tidak ada suara lagi, yang ada Lingga ternganga mendengar kalimat lanjutan dari seorang Kavi. Yang walau tidak ada hubungan darah tetapi Lingga sudah melupakannya, dianggapannya Kavi adalah adik sepupunya, anak satu-satunya dari om dan tantenya. Yang bahkan Kavi sudah ada didunia beberapa bulan lebih awal dibandingkan dirinya menjejakkan tangisnya didunia fana.


Lebih dari lima belas menit dua anak manusia beda gender yang ada dalam satu mobil hanya diam dan saling menatap. Shok terapi untuk kedua kalinya untuk Lingga sampai-sampai dia tidak tahu lagi harus merespon seperti apa. Hatinya masih hancur ditambah terkejut dengan ungkapan hati seorang laki-laki yang selama ini diyakini sebagai adik sepupunya. Walau pada kenyataannya memang Kavi hanyalah saudara sepupu angkat.


"Maaf kalau ucapanku membuat kamu shok untuk kedua kalinya, kalimat itu keluar begitu saja Lingga" ucap Kavi memecah keheningan sekaligus kali pertama dia memanggil Lingga hanya dengan namanya tanpa embel-embel kakak.


"Aku ngga ngerti maksud kamu Kav, kamu cinta sama aku, ya kan memang seharusnya kamu cinta sama aku, kita kan sepupu" jawab Lingga yang masih belum mau mengakui bahwasanya dia mengerti cinta Kavi berbeda.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kamu ngga ngerti, pulang yuk udah malam, tar orang rumah bingung lagi" pungkas Kavi sembari mengelus puncak kepala Lingga yang masih mode avalaible di pelukan Kavi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di gudeg pedes, dua keluarga yang semoga bisa menjadi besan, ada keluarga Wicaksana dan Herlambang sedang menikmati huhhah nya gudeg pedes yang super nampol. Kecuali Raka dan Abhinaya tentunya, dua bocah gendut itu hanya makam dengan paha plus telur yang ada di gudeg yang tidak pedas.


"Setelah ini langsung ke hotel saja ya ayah" tanya bunda Ara sembari menuntaskan suapan terakhirnya.


"Iya bun, kasihan Raka sama Abhinaya udah ngantuk mereka" jawab ayah Ais yang sudah menyelesaikan makannya lebih dulu.


"Sekalian aku mau ngobrol sama ayah dan papa ya, belum capek kan?" sela Danendra ditengah obrolan ayah bundanya.


"Oke mas, memang ayah sama papa mau ajak kamu obrol nanti dihotel, besok malam kan kita udah balik Semarang lagi" jawab ayah Ais.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gimana tadi yah, pap" tanya Danendra memulai obrolan yang nanti akan berbobot tentunya. Karena obrolan ini adalah obrolan penghasil cuan.


"Tadi ayah sama papa udah survei dua lahan mas, di daerah jakal dan kalasan, dan ayah tertarik sama dua-duanya" jelas ayah Ais memulai menjelaskan hasil perburuan dengan papa Iyo.


"Menurut papa juga dua lahan itu bagus mas buat usaha kamu nantinya" papa Iyo menambahi penjelasan ayah Ais. Sekaligus sebagai orang yang proper akan lahan dan property lainnya.


"Wah kalau dua-duanya mas belum mampu dong pap, yah" jawab Danendra dengan antusias.


"Ya kamu salah satunya mas, rencana satu nya ayah mau bangun semacam home stay gitu" jelas ayah Ais lagi.

__ADS_1


"Dan menurut kaca mata papa, caffe mas nanti yang di jakal saja dan yang dikalasan untuk new project, home stay" jelas papa Iyo.


Ayah Ais dan papa Iyo tentunya berkolaborasi memberi penjelasan kepada Danendra. Walau statusnya anak tapi kalau berbicara tentang bisnis mereka auto rekanan kerja. Ya memang seprofesional itu mereka.


"Hmm begitu ya, baiklah pap, yah besok pagi biar aku cek lokasinya sama Bilandra sekalian jalan-jalan, nanti papa atau ayah shareloc ya" jawab Danendra menuntaslan obrolan singkat mereka tentang pekerjaan.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang kita istirahat saja dulu" putus papa Iyo mengingat waktu sudah larut.


"Setuju" jawab singkat ayah Ais.


"Ayah sama papa istirahat dulu gih, mas ngecek caffe dulu, sudah jam tutup mereka, nanti kalau sudah beres mas langsung istirahat juga kok" Danendra yang selalu profesional dengan bisnis yang dirintisnya. Dan terbukti dengan ketelatenan dan serius nya dia bisa punya tiga caffe dalam waktu tiga tahun.



Dan disinilah sekarang Danendra berada. Di tepi kolam renang dan sibuk dengan ipadnya. Sembari tangan nya memegang iphone nya yang tersambung ke manager caffenya.


"Bi, kok belum tidur" tiba-tiba suara lembut yang menjadi candunya terdengar ditelinganya.


"Belum Ji, kok kamu kesini, belum tidur juga" jawab Danendra disela telfonnannya dengan manager caffe.


Tidak menjawab, Bilandra langsung duduk dipangkuan sang pacar. Tubuhnya yang mungil seperti tak berasa buat Danendra saat dia memangkunya. Bilandra yang tahu pacarnya sedang sibuk tidak bersuara lagi, dia hanya duduk anteng di pangkuan Danendra dengan tangan yang melingkar dileher.


Seperti biasa, cukup lama Danendra menyelesaikan pekerjaannya. Setelah semua laporan selesai dia kerjakan baru tersadar kalau si pacar yang manjanya ngga ada duanya sudah tertidur pulas dalam pangkuannya. Kepala Bilandra yang tersangkut di pundak Danendra dengan tangannya yang membelit leher Danendra membuat dia terbuai ke alam mimpi. Tarikan nafas yang teratur terasa di leher Danendra. Saat menyadari Bilandra sudah pulas tertidur dan ******* nafas menyapu lehernya tanpa diduga-duga ada anggota tubuhnya yang justru terpancing dan meronta-ronta.


Hmmm bagian manakah itu?????

__ADS_1


__ADS_2