Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 21


__ADS_3

Ayah, bunda dan Raka berjalan bertiga menikmati GWK. Salah satu patung tertinggi di dunia itu menjulang tinggi berdiri menjadi maskot Pulau Bali. Patung raksasa dari Dewa Wisnu dan tunggangannya burung garuda.


 


Danendra dan Bilandra berjalan tidak jauh dari ayah, bunda serta adiknya Raka. Selalu tangan mereka bertaut mesra menjadi pusat perhatian pengunjung lain.




Langit biru cerah, cenderung panas karena matahari bersinar begitu sempurna menambah semangat mereka menikmati liburan mereka. Tidak mengeluh, justru semakin menikmati semesta.


 


“Panas ya Ji” tanya Danendra yang melihat Bilandra menutup mukanya dengan satu tangannya. Sementara satu tangan lainnya nyaman di dalam genggamannya.


 


“ Iya Bi, tapi ngga apa-apa, panasnya asyik” jawab Bilandra dengan senyumnya. Meski wajahnya auto memerah karena kepanasan.


 


“Pakai topi aku nihhh biar ngga begitu panas” tawar Danendra sembari melepas topinya dan memakaikan di kepala Bilandra.


 


 “Terimakasih sayang” jawab Bilandra lembut.


 


Terus berjalan menyusuri GWK. Raka begitu excited karena memang sangat luas. Dia bebas berlari kesana kemari. Panas terik tidak berasa buat dia.


 


“Kita lihat tari dulu yukk mumpung pas sama jamnya” ajak bunda Ara sembari melihat paket tiket masuk tadi.


 


Tanpa ada jawaban tetapi mereka berjalan menuju tempat dimana ada pertunjukkan tarian khas Pulau Dewata.


 


Memilih duduk ditengah tribun , mereka berlima menikmati pertunjukkan yang baru pertama mereka saksikan.



Menikmati tarian yang dipertunjukkan, keluarga Ais dan Bilandra terlarut dalam cerita setiap tarian yang dibawakan luwes para penari.


 


Setelah menyaksikan tarian khas Pulau Dewata, mereka melanjutkan berjalan menyusuri GWK sampai pada patung wisnu, lanjut patung garuda dan Raka berhenti ditempat menyewakan segway. Dan mereka setuju dengan ide Raka mengelilingi GWK dengan segway.



“Seruuuuu ayah” teriak Raka diikuti gelak tawa bahagianya.


 


“Hati-hati ya nak” jawab ayah Ais yang mengikuti Raka menaiki segway juga.


 


Sementara bunda Ara juga perlahan mengikuti kemana ayah Ais dan Raka berputar-putar menaiki segwaynya.


 


“Hati-hati ya Ji” Danendra yang tidak pernah bisa jauh dari Bilandra mengingatkan untuk berhati-hati menaiki segway nya.


 


“Iya Bi, kamu jangan jauh-jauh dari aku yaa” jawab manja Bilandra yang masih kaku menaiki segway. Kalah sama bunda Ara yang memang punya dirumah.


 

__ADS_1


“Iya sayang, aku disini” tukas Danendra meyakinkan Bilandra kalau dia selalu ada untuknya.


 


Berpisah dengan ayah, bunda dan Raka. Dua sejoli Danendra dan Bilandra berkeliling sendiri menyusuri GWK. Toh ada hp nanti tinggal telfon aja kalau sama-sama sudah capek.


 


“Bi lihat dech langitnya bagus banget ya, cerah sekali, ini nihhh yang selalu dirindukan dari Bali, semesta yang indah” seru Bilandra dengan menegadah kepalanya ke atas.


 


“Iya Ji, Bali memang WOW, next time kita berdua kembali lagi ya, dan saat itu mungkin kamu beda status Ji” jawab Danendra sambol sama-sama menengadahkan kepalanya ke atas menikmati langit yang cerah.


 


“Beda status?” tanya Bilandra bingung. Auto menurunkan kepalanya dan mengalihkan pandangan ke arah Danendra yang masih menengadahkan kepalanya.


 


“Hmmm .. status kamu sudah sah jadi istriku” Danendra menjawab tanpa melihat wajah Bilandra.


 


“Amin” spontan Bilandra mengaminkan khayalan Danendra.


 


Mereka saling menatap. Tersenyum bahagia. Terselip doa di batin mereka masing-masing. Mengaminkan semua yang menjadi doa mereka berdua.


Hubungan yang masih bau kencur itu diharapkan akan langgeng dan berakhir bahagia. Walau nanti jalannya tidak mudah tetapi baik Danendra ataupun Bilandra berharap bisa menyelesaikannya tanpa harus mengakhirinya.


 


Cinta pada pandangan pertama memang manis di awal bahkan sangat manis. Tidak heran bisa dibilang cinta seperti itu hanyalah semu karena yang ada hanyalah nafsu.


 


Tidak dengan kisah Danendra dan Bilandra, cinta pada pandangan pertama yang mereka rasakan dari hati dan disponsori restu dari orang tua masing-masing. Walau mereka masih sangat muda tapi tidak ada salahnya menjalin komitmen diusia mereka.


 


 


“Yuukkk marii, aku juga sudah lapar nihh” Danendra menerima ajakan Bilandra mencari ayah bundanya.


 


Setelah berputar-putar akhirnya mereka mememukan ayah, bunda dan Raka yang sedang beristirahat.


 


“Itu dia Bi” tunjuk Bilandra saat menemukan ayah bunda.


 


“Oh iyaaa itu, yuukk samperin Ji” jawab Danendra setelah tahu dimana ayah bundanya berhenti beristirahat.


 


“Bunnnnnnnn” teriak Bilandra menarik perhatian pengunjung lain.


 


“Busetttt dah mbak, keras amat” sahut Raka yang menjawab teriakan Bilandra.


 


“Hihihihi maaf kelepasan” jawab Bilandra setelah sampai disamping bunda Ara.


 


“Kalian dari mana saja hmmmm” tanya bunda Ara dengan nada menggodanya.

__ADS_1


 


“Ihhh keppo dehhhh, bun makan yuukkk, lapar aku” sahut Danendra menjawab pertanyaan keppo bunda dengan ajakan makan.


 


“Aku juga lapar” desis Raka yang memang selalu lapar.


 


“ Ya sudah kita ke Jendela Bali saja” ajak ayah Ais.


 


“Tadi ayah baca ada resto disini” lanjut ayah Ais.


 


Tanpa jawaban mereka kompak menaiki segway masing-masing menuju Jendela Bali resto.



Sampai di resto mereka sudah disambut dengan pelayan dengan membawa welcome drink.


 


Duduk manis di kursi masing-masing dan disuguhi view indah alam GWK  mereka asyik sendiri dengan gadget masing-masing. Mengabadikan setiap spot wajib hukumnya apalagi lanjut diunggah disosmed.


 


Tidak lama makanan yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja. Dan pasti sangat-sangat menggugah selera.


 


“Sebentar ... sebentar ... bunda take a picture dulu ya guys” cegah bunda Ara ke anggota rombongan lain sebelum mereka memporak porandakannya.


 


“Hmmmm biasaaaaa bunda, cepetan bun, makanan itu dimakan bukan difoto” celoteh Raka yang sudah tidak sabar meludeskan makanan di atas meja.


 


“Iyaaaa .. bentar doang nak” jawab ketus bunda Ara.




Setelah perdebatan yang unfaedah mereka diam seribu bahasa karena sangat khidmat menyantap makanan yang sudah mereka pesan.


 


Seperti biasa tidak membutuhkan waktu lama makanan yang tadi apik dipandang mata sudah lenyap. Tidak bersisa mereka santap makanannya. Kalau kata Raka kalau sisa itu mubazir.


“Done, habis ini kita ke patung garuda wisnu kencana itu ya, kita naik ke atas” ajak ayah Ais sembari meminum es lemon tea nya.


 


“Oke” jawab bunda Ara singkat diikuti anggukan Danendra, Bilandra dan juga Raka.


 


“Kita pakai shuttle aja, segwaynya kita kembalikan” lanjut ayah Ais.


 


Hanya anggukan mewakili kata setuju dari mereka.


Sampai ke spot penyewaan shuttle. Ayah Ais menuju loket untuk membeli tiket nya. Lima tiket sudah ditangan tinggal tunggu antrian saja, kebetulan cukup ramai pengunjung.


Setengah jam mereka mengantri untuk mendapat jatah shuttle yang akan mereka tumpangi menuju patung garuda wisnu kencana yang menjulang tinggi.


Jalan yang menanjak cukup jauh kalau harus jalan kaki. Tapi kalau memang mau jalan kaki juga asyik karena pemandangan di sekitarnya sangat indah. Tidak terasa saat berjalan paling malam harinya baru cenutttt cenutttt dehh itu kaki.

__ADS_1



__ADS_2