
“Hm enak banget, badan udah pegal semua gini di pijetin bikin ngantuk” bunda Ara mulai terbuai dengan tangan terapis yang memanjakan tubuhnya.
“Iya bun, berasa putri raja” jawab Bilandra yang sama hal nya dengan bunda Ara, terbuai oleh tangan terapis yang ahli.
“Terimakasih ya bun, sudah traktir Bilandra banyak bangettttt, Lemah teles gusti allah sing bales (parikan jawa)” sambung Bilandra dengan senyum manis tersungging di bibir tipisnya.
“Sama-sama cah ayu, pinter parikan juga anak jaman now ini” puji bunda Ara dengan senyum yang sama-sama tersungging.
“Oh iya bun, rencana nya besok pas di Denpasar kita mau vacation kemana saja bun” Bilandra bertanya ke bunda Ara rencana liburannya kalau sudah sampai Denpasar. Dan sebelum bertemu dengan keluarga bunda Ara yang langsung merescedulle plan nya. Bukan ngebetein tapi justru bikin happy.
“Nanti kita bicarakan sama ayah ya nak, sekarang kita nikmati spa kita dulu” jawab bunda Ara yang setengah melayang menuju alam mimpi. Terapisnya memang handal.
Tanpa terasa dua jam berlalu. Bunda Ara dan Bilandra terlihat lebih segar. Wangi yang menguar membuat bunda dan Bilandra semakin percaya diri.
“Seger banget ya nak” bunda Ara mengibas-ibaskan tangan sembari berjalan keluar dari spa room.
“Iya bun, enak banget dibadan mana wangi lagi dan kulit aku lembab kenyal gitu” Bilandra menjawab penuh excited.
“Dan kamu tambah ayu” goda bunda Ara.
“Aiihhhhh bisa aja bunda ini, bunda itu yang glowing” balas Bilandra dengan gelak tawa yang tidak tertahan lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di kamar, benar adanya ayah Ais masih terlelap di atas kasur dengan remot tv yang masih digenggam erat, seerat saat tangannya menggenggam tangan bunda.
Dua jagoannya terlihat asyik bermain air. Lebih tepatnya Danendra sedang mengerjai si Raka yang basah kuyub tapi tertawa bahagia.
Kulit yang mulai menghitam sudah tidak Danendra ataupun Raka perdulikan. Bahkan Danendra sudah bertelanjang dada dan brankas diperutnya tercetak nyata menambah aura kelakiannya. Dengan celana pantai yang mereka kenakan menambah kesan bad boynya.
Cukup lama Bilandra berdiri mematung melihat interaksi dua kakak beradik yang belum sadar jika sudah menjadi pusat perhatiannya.
Berjalan mendekat ke arah mereka, Bilandra menyipratkan air laut ke punggung Danendra. Dengan cekatan Raka pun menyerang masnya, berasa mendapat bala bantuan, dua lawan satu.
Melihat dirinya diserang Danendra semakin brutal membalas kedua arah, arah Bilandra dan arah Raka. Gelak tawa mereka bertiga menggelegar memecah keheningan.
__ADS_1
“Wahhh curang ya kalian, masak dua lawan satu” Danendra terengah-engah setelah selesai berperang melawan adik dan cewek yang dia sayang.
“Hahahahaha rasain, mas jadi basah kuyub juga kan” jawab Raka sambil tertawa.
“Sudah sudah neduh disitu bentar yukk, minum kelapa muda enak kayaknya” ajak Bilandra sekaligus melerai pertikaian dua kaka beradik itu.
Mereka bertiga berteduh sembari memesan kelapa muda. Sambil menunggu pesanan datang Danendra tidak berkedip menatap Bilandra yang semakin ayu, menurut dia.
“Aku ambil snack sebentar ya mas, mbak” pamit Raka yang mau ambil snacknya dikamar.
“Oke” jawab Bilandra dengan melingkarkan tangannya memberi kode.
“Kamu ngga ada berhenti nguyah ya” ejek Danendra berteriak karena Raka sudah berlari mengarah ke kamar nya.
“Kamu ini teriak-teriak mulu ihhh” Bilandra menutup kedua telinganya sambil menegur Danendra.
“Iya iya maaf, enak ya habis spa, wangi lagi” goda Danendra.
“Hmm jangan mancing dech” Danendra terpancing merenggut tangan itu untuk direngkuhnya.
“Lah siapa yang mau mancing, aku kan cuma ngasih bukti” jawab Bilandra tanpa dosa.
“Kamu sudah tahu mau jawab apa” tanya Danendra tiba-tiba tanpa ada kata pembuka dan berhasil membuat Bilandra mengerutkan dahi.
Bilandra sebenarnya tahu maksud pertanyaan Danendra yang tiba-tiba tadi. Dia pun sudah memutuskan jawaban apa yang akan dia berikan.
“Emang pertanyaannya apa, mana lembar jawabnya” goda Bilandra dengan senyum yang dibuat secentil mungkin.
“Hmm gitu ya, ya sudah ngga usah dibahas lagi, sepertinya memang ngga akan ada jawaban” Danendra beranjak meninggalkan Bilandra yang masih tersenyum sengaja membuat Danendra jengkel.
Semakin jauh Danendra berjalan meninggalkan Bilandra yang belum beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Mbak, mas Danendra kemana, kok mbak sendiri?” tanya Raka membuyarkan pandangan Bilandra yang tertuju ke Danendra
“Ituuu, sebentar ya mbak samperin dulu ya, kamu tunggu dulu disini, es kelapa mudanya bentar lagi juga sampai, oke anak ganteng” Bilandra memberi titahnya ke Raka untuk tidak kemana-mana, tetap duduk manis sambil makan snack dan menunggu es kelapa mudanya.
Sedikit berlari Bilandra menuju dimana Danendra berdiri. Dengan dada telanjangnya, kaca mata hitam bertengger di hidungnya, tanpa alas kaki.
“Aku mau jadi kekasihmu” peluk Bilandra dari belakang punggung Danendra.
Tidak ada jawaban, Danendra hanya menggenggam tangan Bilandra yang memeluk tubuhnya dan Bilandra pun semakin hanyut dalam perasaannya. Bilandra semakin memperat pelukannya, menempelkan pipinya di punggung lebar Danendra.
“I love you from the first sight” bisik Danendra pelan, hampir tidak terdengar.
“I love you too” jawab Bilandra yang telah memutar tubuhnya. Sekarang Bilandra ada tepat di depan Danendra. Dipeluknya mesra cewek cantik yang ada didepannya, erat bahkan sangat erat.
Mereka berdiri mematung berpelukan dengan tatapan nanar menembus cakrawala. Cuaca yang panas tidak terasa karena yang mereka rasakan adalah bahagia.
“Sudah yuk pelukannya, aku haus” pinta Bilandra lirih dengan kepala menengadah ke atas supaya bisa bertatapan langsung dengan mata sang kekasih hati.
“Sebentar lagi, aku masih mau memeluk kekasihku” jawab Danendra menundukkan kepalanya untuk ditempelkan di kepala Bilandra.
Dari kejauhan, tempat dimana Raka menunggu pesanannya sudah ada juga ayah Ais dan bunda Ara yang juga sudah duduk manis. Kedua netra ayah dan bunda Danendra melihat kebahagiaan putranya yang akhirnya berhasil meluluh lantahkan hati wanita pujaannya.
“Lihat yah, anakmu luar biasa” puji bunda Ara dengan senyum yang merekah menatap kelakuan putranya yang memang gentle.
“Anak siapa dulu dong, Ais Wicaksana” bangga ayah Ais membusungkan dadanya.
“Sudah dewasa ya yah putra kita, sudah bisa cinta-cintaan” mata indah bunda Ara mulai berembun menatap si putra sulungnya.
“Iya bun, tugas kita semakin berat tapi bukan beban” lanjut ayah Ais sembari mengusap pundak bunda Ara. Bunda Ara pun segera menghapus jejak air matanya.
“Bunda nangis” dengan lugunya Raka bertanya kepada Bunda.
“Iya bunda nangis, tapi tangis bunda adalah tangis bahagia” jelas bunda Ara sembari mengusap kepala si ragil nya.
__ADS_1
“Hmmm aneh, tangis kok bahagia” gumam Raka yang masih belum bisa menerima maksud jawaban bunda.