
"Pohon beringin kembar itu ya pap" tanya Raka sembari menunjuk pohon beringin kembar yang menjadi ikonik alun-alun selatan jogja juga.
"Iya betul mas, tapi mata mas Raka ditutup pakai kain, mitosnya kalau hati kita tulus, tidak punya niat jelek, tidak jahat baru bisa melewati dua beringin kembar itu lancar tanpa nyasar" jelas papa Iyo sesimple mungkin supaya bisa dipahami anak umur tujuh tahun seperti Raka.
"Oke, siapa takut, lagian aku kan baik hati, rajin menabung, tidak sombong, nurut ayah bunda " jawab Raka dengan kecongkakan yang hakiki.
"Dan doyan makan makanya gendut" sambung bunda Ara dengan menggeleng-gelengkan kepala mendengar kenarsisan anak bungsunya yang ganteng tapi gendut.
"Udah .. Udah ngga usah teori mulu, sini ayah tutup mata Raka sama sapu tangan ayah dan buktikan bisa ngga ngelewatin dua beringin itu" pungkas ayah Ais mengakhiri diskusi dan memulai prakteknya.
Sebelum berjalan sesuai hati dan fikiran yang fokus, Raka setelah ditutup matanya lalu diputar-putar dulu biar agak kliyengan dikit. Dengan supporter yang cuma lima orang yang terdiri dari ayah, bunda, mama, papa dan Abhinaya serasa supporter seperti satu stadion penuh.
Dengan sorak sorai gegap gempita akhirnya Raka behasil melewati dua beringin kembar dengan perlahan tetapi pasti.
"Cieeee berhasil dong lewatin dua beringin kembar" sorak papa Iyo sembari membuka penutup mata Raka.
"Raka gitu loh pap, kan tadi Raka bilang kalau Raka anak baik hati, rajin menabung, tidak sombong, nurut ayah bunda makanya Raka sukses melewati tanpa halangan dan rintangan" celoteh Raka dengan bangganya dan bertos ria dengan papa Iyo.
"Udah.. Udah malah pidato ini anak, ayah jadi lapar dengarnya" sahut ayah Ais sengaja buat Raka manyun.
"Ya sudah kita ke gudeg pedes aja yuk, sekalian chat Danendra atau Bilandra buat nyusul kita" ajak mama Udi sembari berjalan ke arah mobil mereka parkir tadi. Tentunya dengan diikuti pasukannya lima orang yang heboh.
Sampai didalam mobil yang dikemudikan papa Iyo, mama Udi mulai chat Bilandra dulu.
"Mbak, kita mau ke gudeg pedes nih, kalian mau ikut makan apa masih mau pacaran" tulis mama Udi di chat wa nya.
__ADS_1
"Kelamaan mam kalau di chat, sini biar aku telfon Danendra saja" bunda Ara memastikan jika di chat bakalan lama dibalasnya.
Drrtttt drrttttt drtttttt ddrrrttttt
"Hallo bun" suara bass Danendra terdengar bahagia.
"Mas masih dicaffe?" tanya bunda Ara.
"Iya mam masih, gimana, ada apakah?" jawab Danendra sembari terus menggenggam tangan Bilandra dan memainkannya dengan lembut.
"Bunda sama yang lain mau makan gudeg pedes nih, yang didekat tugu, kalian mau ikut makan atau ngga"? tanya bunda Ara lagi.
"Wah mau bun, ya udah kita ketemu disana ya bun, ini bunda dari hotel atau darimana?" jawab Danendra semangat karena membayangkan deliciousnya gudeg pedes dengan sate ayam yang maknyus.
"Ya sudah kalau begitu, ketemu disana ya, ini mama dari akun-alun selatan mas, oke mas see you" jawab bunda Ara sekaligus menutup percakapannya.
"Oke bun, see you" tutup Danendra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bunda telfon ya Bi, ada apakah?" tanya Bilandra yang terlalu nyaman bersandar dilengan kekar pacarnya dan sibuk menikmati tautan jari jemari nya yang kekar.
"Iya Ji, bunda sama yang lain lagi on the way ke gudeg pedesdan kita ditunggu disana" jawab Danendra sembari mengusap pucuk kepala Bilandra.
"Berarti sekarang aja kita jalan kesana Bi, aku juga kangen banget sama sensasi terbakarnya tenggorakan" Bilandra yang auto ngiler akan kepedesan gudeg khas jogja yang tidak ada duanya.
"Kalian masih mau disini atau mau ikut kita aja makan gudeg pedes" lanjut tawar Bilandra ke pasangan bucin lama, Ita dan Aer.
__ADS_1
"Kita balik aja dech saii, aku udah ngantuk juga ini" tolak Ita karena memang sudah sangat mengantuk dan capek.
Begitu juga Aer yang sudah menguap entah berapa puluh kali selama nongkrong di caffe. Padahal sudah bergelas-gelas kopi dia minum tapi sepertinya hanya empuknya kasur, bantal dan guling yang bisa menyembuhkan dia dari kantuk.
"Ya sudah kalau begitu, see you next week ya guys" pamit Danendra sembari menggandeng mesra Bilandra keluar dari caffe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sangat tepat mereka sampai dilokasi yang menjadi meeting point bersamaan. Bilandra yang lebih dulu turun dari mobil sementara Danendra masih sibuk dengan pretelan-pretelan bawaanya yang amburadul di kursi belakang, langsung nyamperin rombongan mama, papa, ayah, bunda dan adik-adiknya.
"Bisa barengan gini ya" sambut Bilandra sembari berpeluk mesra dengan sang mama yang tersenyum menyambut anak perempuannya.
"Iya dong kan sudah diperkirakan sedemikian rupa sehingga tepat akurat" sahut jawab bunda Ara yang selalu akurat.
Sementara para bapak-bapak sudah berdiri tegak diantrian yang memang sudah mengular. Begitupun Danendra yang sudah ikut berdiri bersama ayah dan papa untuk antri sembari ngobrol-ngobrol ringan seputaran hasil buruan lahan tadi. Kalau itu mah sebenarnya bukan obrolan ringan juga, berat bestie.
Di ujung sudut lesehan tempat makan yang disediakan, dua anak manusia yang berstatus saudara sepupu sedang menikmati sepiring gudeg pedes yang bergelimang cabai dimana-mana. Iya betul, disana ada Lingga dan Kavi yang awalnya menikmati gudeg dengan sepenuh hati, terlebih Lingga yang sudah berusaha keras baik-baik saja didepan adik sepupunya dan berhasil tetapi seketika tersedak karena dari sudut mata dan ketajaman telinga, melihat wujud laki-laki pujaan hatinya bersama keluarganya dan sekaligus mendengar suara lembut mendayu dari sesosok cewek cantik yang merupakan pacar dari laki-laki yang dia harapkan menjadi pacarnya.
"Kenapa bertemu lagi Tuhan" gumam Lingga lirih tapi masih terdengar jelas ditelinga Kavi yang duduk bersebelahan.
"Siapa kak?" tanya Kavi sembari celingak-celinguk melihat sekitar, memastikan siapa yang dimaksudkan bertemu lagi oleh Lingga.
Tidak menjawab tetapi Lingga justru terpaku menatap rombongan keluarhlga yang terlihat harmonis.
Kavi yang mengerti arah pandangan kakak sepupunya langsung mengusap tangan kakaknya yang seketika terpaku. Yang tadinya sangat lahap menikmati makanannya, sekarang pandangannya justru kosong. Ada sakit yag terlukis di mimik wajahnya.
"It's okai kak, everything can be okai, udah jangan dilihatin kasihan tuhh gudeg dicuexin, yuk buruan dihabisin dan pulang kita" hibur Kavi dengan senyum manis disertai lesung pipi kanan kiri yang semakin membuat manis sekali senyuman laki-laki ini.
__ADS_1
Lingga sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Yang sedang diusahakannya adalah menghabiskan makanan kesukaannya ini sembari tidak meneteskan air mata. Berulang kali Lingga mengambil nafas panjang untuk menetralisir segala rasa dihatinya.