Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 40


__ADS_3

Masih dalam kekaguman sekaligus ketakutan dalam hati, Bilandra terus mengusap kepala Danendra yang masih anteng tiduran di paha Bilandra.


 


“Ji ... kok malah bengong, masih mau denger cerita lagi ngga atau udah ngantuk mau bobok ciang” goda Danendra yang sangat tahu Bilandra cukup terkejut dengan pengakuannya yang memang mengejutkan.


 


“Ehhhh iya iya Bi lanjut” jawab Bilandra kembali ke mode seriusnya.


 


“Dan sekarang ayah sama papa lagi cek lokasi untuk cabang caffe yang ke empat sayang” jelas Danendra lagi untuk topik terakhir yang akan dia jelaskan untuk saat ini.


 


“Hahhhhh buka cabang” sentak Bilandra auto Danendra menutup telinganya.


 


“Ya ngga usah pakai teriak Ji, kaget tahu” Danendra yang kaget sambil mengelus dadanya.


 


“Maaf .. maaf sayang, aku terkejut, berarti kalian cukup banyak menyembunyikan banyak hal dari aku” jawab Bilandra sendu karena dia merasa terabaikan.


 


“Kok jadi mellow gitu” Danendra langsung mendudukkan diri saat matanya menangkap kesedihan di wajah Bilandra.


 


“Bukan kami menyembunyikan tapi kami memang mau cerita sama kamu sekarang ini karena setelah ini pelan-pelan kamu akan selalu aku libatkan dalam semua kegiatan aku sayang” jelas Danendra yang sudah memeluk Bilandra  sembari mengusap punggung dengan lembut.


 


“Oh iya sebelum kamu tanya kenapa ayah yang cek lokasi bukannya aku padahal ini caffe aku ya karena aku percaya sama masternya dong dan aku memilih jemput pacar aku saja” lanjut penjelasan Danendra cukup jelas sejelas jelasnya.


 


“Terus kamu sama ayah bunda sampai Jogja sebenarnya kapan?” Bilandra masih terus menanyakan yang memang harus dia tanyakan.


 


“Semalam Ji, cuma sudah tengah malam kita sampai Jogja dan langsung ke hotel kita” jawab Danendra apa adanya.


 


“Nginep dimana?” tanya Bilandra lagi super detail.


 


“Hotel Tentrem sayang” jawab Danendra lagi yang sabar menjawab satu per satu.


 


“Udah belum tanya jawabnya ini, panjang amat Ji” lanjut Danendra sambil menoel hidung Bilandra.


 


“Satu lagi, rencana caffe nya di daerah mana?” tanya Bilandra untuk terkakhir di episode ini.

__ADS_1


 


“Hmmm sepertinya daerah jalan kaliurang atas atau mungkin di kalasan sayang, daerah tebing breksi” jawab Danendra sambil ngecek ipadnya karena ada notice email masuk dari salah satu caffe nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Bilandra selanjutnya diam membisu tetapi pikirannya melayang jauh ke sana kemari. Banyak yang buat dia terkejut. Ternyata cinta pertamanya dan yang merupakan cinta pada pandangan pertama terpaut pada sosok Danendra Wicaksana, seorang laki-laki smart cenderung genius karena diusianya yang belum genap tujuh belas tahun tapi sudah sukses dengan usahanya. Dari segi akademis pun dia sangat mengagumkan. Dan ternyata keluarga Ais Wicaksana adalah keluarga kaya raya yang low profile.


“Bersyukur aku jadi wanita istimewamu Bi, meski aku harus terus membuang rasa takutku, takut hanya pelampiasan kamu” batin Bilandra dengan mata yang menghunus sang pacar yang sibuk dengan ipadnya.


“Bi aku mau lihat caffe kamu seperti apa dong” tanya Bilandra memecah keheningan sesaat.


“Wait Ji” jawab Danendra singkat dengan mata yang masih sibuk dengan ipadnya.


“Lima menit ya Ji, aku balas email sebentar soalnya urgent” lanjut Danendra dengan tetap fokus.


Sambil meminum es tehnya Bilandra sabar menunggu Danendra untuk menyelesaikan pekerjaannya.


 


Dan sepertinya hal-hal urgent seperti ini menjadi menu wajib di hubungannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Dan benar, tepat lima menit Danendra menyelesaikan pekerjaan urgentnya.


 


“Ini caffe pertama aku sayang” suara Danendra memecah lamunan Bilandra.



“Hmmmm keren sayang, instagramable dehhh” jawab Bilandra antusias.


“Yes, seperti itulah mereka menyebutnya, instagramable katanya” jawab Danendra tanpa rasa congkak sedikitpun.


“Aku punya sekitar lima belas karyawan di caffe aku ini, DW Caffe” jelas Danendra lebih detail.


“DW Caffe?” tanya Bilandra.


“Iya nama caffe aku DW Caffe Ji, DW aku ambil dari nama aku Danendra Wicaksana” jawab Danendra sambil mengelus pucuk kepala Bilandra dengan lembut.


“Bagus Bi namanya, gampang diinget” Bilandra menganggukan kepalanya tanda mengerti semua penjelasan Danendra.


“Dan ini DW Caffe yang kedua” Danendra menunjukkan foto yang kedua ke Bilandra.



“Untuk DW caffe yang kedua konsepnya alam semesta Ji. Buat yang butuh healing bisa banget hang out disini” jelas Danendra ke Bilandra untuk konsep caffe yang kedua.


“Dan aku punya lima belas karyawan juga di DW Caffe kedua ini” imbuh Danendra.


“And then ini yang ketiga, DW Caffe” lanjut Danendra menunjukkan caffenya yang ketiga.



“Untuk yang ketiga aku bikin simple caffe saja Ji, tempatnya juga tidak begitu luas seperti yang pertama dan kedua, tapi yang pasti DW Caffe menyuguhkan kenyamanan” Danendra menjelaskan seperti dengan kliennya.

__ADS_1


 


“Dan di DW Caffe ketiga ini aku punya tujuh karyawan saja” imbuh Danendra.


 


“Oke sepertinya cukup untuk season hari ini” lanjut Danendra dengan gerak cepatnya memeluk Bilandra. Disandarkannya kepalnya di ceruk leher Bilandra dan memejamkan matanya.


 


“Kamu hebat” hanya itu yang keluar dari bibir mungil Bilandra sembari mengusap lembut punggung Danendra.


 


“Apa kamu lelah sayang, mau istirahat dulu” bisik Bilandra lembut.


 


“Sini tidur disini” lanjut Bilandra sembari menepuk pahanya lembut.


 


Tanpa kata Danendra merebahkan badannya dengan paha Bilandra sebagai bantalnya.


 


Dengan lembut Bilandra mengusap kepala Danendra dan itu membuat Danendra perlahan berlayar ke alam mimpi. Karena kebetulan sekali dia sangat lelah.


Bilandra menatap tajam wajah Danendra yang sudah pulas tertidur dipangkuannya.


“Tuhan terima kasih telah mempertemukan aku dengan dia, laki-laki yang menyimpan hampir kesempurnaan. Otak yang cerdas, tingkah laku yang sopan, wajah yang tampan, dan yang pasti semua tidak membuat dia sombong. Justru dia menutupi, bukan menutupi mungkin maksud dia tetapi akan menceritakan disaat yang tepat. Dan sekarang perlahan aku tahu sejatinya dia, Danendra Wicaksana. Sekarang ijinkan aku mampu mendampinginya dengan apa adanya aku. Karena aku tahu sebagai pendamping dia paling tidak bisa sehebat dia, " batin Bilandra sembari terus mengelus kepala Danendra.


Drrrtttttttttt drrrtttttttttt drrtttttttttt


Lamunan Bilandra kembali terusik dengan pesan Wa yang masuk.


“Haiiii mantan jomblo sahabat aku, nanti jadi meet up dimana dan jam berapakah” ternyata pesan Wa dari sahabat kepompongnya.


“Bagaimana kalau di caffe yang lagi ngehits, yang ada live musik itu tuhhhh” balas Bilandra ke Ita.


“Baiklah kalau begitu kakak, see you yaaa” balas Ita.


“Oke kakak” balas Bilandra lagi.


“Eitss lupa nanti jam tujuh malaman ya kakak, kita langsung ketemu di sana saja atau aku jemput” tulis Bilandra menyusul pesan terakhir tadi.


“Fix deal jam tujuh ya, hmmm nanti aku sama Aer saja dan kita ketemu disana ya” balas Ita.


“Oke fix” balas Bilandra lagi sebagai penutup.


Sembari menutup aplikasi Wa nya, Bilandra melihat jam dilayar HPnya yang masih jam tiga.


“Hmm masih jam tiga kalau aku tidur sebentar sepertinya bisa” gumam Bilandra sembari merebahkan kepalanya di kursi yang dia duduki.


Danendra juga semakin terlelap tidur di pangkuan Bilandra. Dan tidak lama Bilandrapun ikut terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara dari dalam sedari tadi bunda dan mama mengamati anak-anaknya dari saling berdialog sampai akhirnya sama-sama terlelap.


“Semoga mereka terus bersama-sama sampai nanti kita mengantar mereka ke pintu pernikahan ya mam” bunda Ara berdoa dan diamini oleh mama Udi.

__ADS_1


Dan bunda dan mama tentunya sudah saling berpelukan dengan mata yang mengembun.


 


__ADS_2