Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 45


__ADS_3

Lingga adalah cewek yang jatuh cinta pada Danendra dari dulu, tepatnya semenjak mereka duduk di kelas dua SMP. Waktu itu Lingga adalah murid baru yang masuk di sekolah favorit di Kota Semarang. Lingga pindah dari Jogja ke Semarang karena mengikuti papi nya yang dipindah tugaskan. Papi Lingga adalah anggota kepolisian.


Saat itu Lingga satu kelas dengan Danendra. Danendra yang memang menonjol dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Bukan karena kesombongannya tapi karena prestasinya. Tidak hanya akademik tapi Danendra juga pemain basket yang digandrungi hampir semua warga negara sekolahnya khusunya kaum hawa, bahkan warga negara sekolah lain.


Dan bukan rahasia umum jika banyak kaum hawa yang tergila-gila hanya karena aura seorang Danendra Wicaksana. Tetapi seperti yang sudah bisa ditebak, Danendra adalah salah satu cowok cuex dengan semua penggemarnya. Tidak ada yang mendapat respon lebih selain senyum Danendra.


Salah satu kaum hawa itu adalah Lingga. Pernah satu waktu saat mereka duduk di kelas satu SMA, Lingga memberanikan diri mengungkapan perasaannya ke Danendra dan sudah dapat ditebak, Danendra tidak merespon sedikitpun. Tapi bukan lantas Danendra menjauh atau memusuhi Lingga, dia tetap menjadi Danendra teman Lingga.


Awalnya memang sakit hati yang Lingga rasakan. Tapi karena sifat Danendra yang tetap baik ke dirinya perlahan luka itu sembuh dan justru itu membuat Lingga semakin mencintai Danendra. Cinta yang semakin tumbuh subur itu sangat dinikmati oleh Lingga, dengan harapan suatu saat nanti cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan.


Karena sampai malam ini, malam dimana Lingga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwasanya Danendra sangat mendamba seorang cewek yang memang sangat cantik, Danendra tidak pernah merespon cewek dalam bentuk rupa apapun. Semua mendapat perlakuan sama dari Danendra. Dan hal itu membuat Lingga yakin jikalau suatu hari nanti Danendra akan luluh dengan pesona seorang Lingga Putri.


Lingga yang terus berusaha semaksimal mungkin menyamai pesona Danendra. Dari akademis, Lingga juga mendapat akselerasi seperti halnya Danendra yang dari kelas satu SMA lompat menjadi kelas tiga SMA. Apapun yang Danendra mampu begitupun dengan Lingga. Karena kebetulan Lingga termasuk anak yang pintar jadi tidak sulit juga untuk Lingga menyamai Danendra.


Tapi malam ini semua hancur disaat dengan merdu dan gagahnya Danendra bernyanyi untuk pacarnya. Air mata itu luruh lantah disertai amarah dan cemburu. Pastinya Lingga sangat terluka dengan semua kenyataan yang baru saja dia terima. Semua sia-sia, itu yang terus berdengung di fikiran Lingga. Pengorbanan dan perjuangannya terhempas begitu saja, seperti debu yang tertiup angin.


"Are you okai kak" tanya Kavi, adik sepupu Lingga yang ikut nongkrong di caffe.


"Hmmm iya ngga apa-apa Kav, mata kakak kena asap rokok aja nih jadi berair" elak Lingga sembari mengusap airmata yang keluar tanpa dia perintah.

__ADS_1


"By the way kita pindah tempat yuk Kav, kakak pengen makan gudeg pedas deh, yang di dekat Tugu itu" lanjut ajak Lingga berusaha baik-baik saja dan berusaha bisa keluar dari caffe itu sebelum keberadaannya di ketahui Danendra pastinya.


"Setujuuu, Kavi juga pengen kak, mana lapar lagi" jawab Kavi dengan semangat seolah dia percaya kalau kakak sepupunya itu baik-baik saja.


"Nanti kalau timingnya sudah tepat pasti kamu bakalan cerita juga sama aku kak, ngga mungkin seorang Lingga yang selalu bisa mengontrol dirinya bisa seketika luluh airmatanya setelah melihat pasangan bucin tadi" batin Kavi sembari berjalan dibelakang kakaknya menuju parkiran mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara iti rombongan keluarga Wicaksana dan Herlambang sudah duduk manis di restoran hotel untuk makan malam bersama.


Tidak lama setelah Danendra dan Bilandra berangkat pacaran tadi ayah Ais dan papa Iyo juga sampai dirumah setelah berkelana mencari lahan baru untuk membuka lapangan kerja dan pastinya akan menghasilkan pundi-pundi cuan untuk keberlangsungan keluarga besar. Begitupun mama Udi tidak berselang lama juga sudah selesai urusan perarisan kompleknya. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi dua keluarga berbondong-bondong menuju restoran karena selain keburu malam merka juga keburu lapar pastinya.


"Dengan senang hati bun" jawab mama Udi mewakili rombongannya.


Setelah hampir dua jam akhirnya makan malam itu ditutup dengan obrolan dari penting sampai ngga penting.


"Danendra masih nongkrong bun" tanya ayah Ais disela obrolan mereka.


"Sepertinya masih yah, tapi tadi bunda sudah pesan ke Danendra kalau langsung ke hotel saja pulangnya karena kita stayvacation disini" jawab bunda Ara.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan malam saja, mumpung ayah sama bunda ke jogja kan, kita nikmati suasana jogja dan jangan kalah sama Danandra Bilandra dong" ajak papa Iyo memberi ide brilliantnya.


"Ide bagus pap, habis jalan-jalan pasti kan lapar nanti kita makan gudeg pedes ya" mama Udi mengiyakan sekaligus menambah ide explore jogja nya.


Dan tidak pakai diskusi lagi keluarga Wicaksana dan Herlambang langsung menuju alun-alun selatan jogja yang sangat ramai jika akhir pekan.



Sepeda hias yang menjadi salah satu identik alun-alun selatan jogja. Disini selain bisa stok foto untuk memenuhi sosial media juga bonus sehat karena gowes sepeda hias yang tidak ringan tentunya. Apalagi disini penumpangnya cuma duduk manis sambil ceprat cepret uploud, siapa lagi kalau bukan bunda Ara, mama Udi beserta duo gembul yang masih eksis dengan snack ditangan masing-masing. Dan bisa dipastikan nanti di gudeg pedes akan habis dua porsi adalah ayah Ais dan papa Iyo tentunya yang dengan keringat mengalir deras di pelipis sampai di punggung menggowes sepeda hias berbentuk mobil vw combi.


"Ngga usah ngegym udah berotot ini yah" papa Iyo berceletuk ditengah-tengah nafas yang berderu sembari menggowes.


"Bener banget pap, mana penumpang cuma foto sama ngemil bisanya" balas ayah Ais yang tidak kalah terengah-engahnya.


"Tapi ngga apa-apa pap, bahagia mereka kan tujuan hidup kita pap" lanjut ayah Ais yang sok sweet lebih tepatnya.


"Ya .. Iya yah, tar malam bisa minta pijit juga kan" jawab papa Iyo yang lebih dikeraskan supaya terdengar jelas ditelinga para ibu-ibu yang asik selfie.


Sudah selesai tiga putaran dan dirasa sangat cukup khususnya untuk ayah Ais dan papa Iyo tentunya. Betis mereka sudah semacam kram karena tiba-tiba dipaksa gowes dengan membawa beban kehidupan.

__ADS_1


"Sepertinya gowesnya cukup ya, ganti yang lain, coba mas Raka ditutup matanya terus jalan diantara dua pohon beringin bisa ngga hayo" tawar papa Iyo mengisi sesi selanjutnya jalan-jalan malam di alun-alun selatan.


__ADS_2