
Berjalan beriringan menuju kamar yang sudah dibooking. Selama berjalan disuguhi dengan pemandangan yang indah. Tidak henti-hentinya mereka kagum. Maha karya Sang Maha Pencipta sungguh tidak bisa dipungkiri lagi. Ucapan syukur tidak hentinya juga bergema di relung hati mereka.
“Bunda .. bundaaaa lihat itu” teriak Raka sambil menunjuk ke arah menjangan yang sedang asyik bermain air.
“Iya nak, kamu takut ngga?” bunda Ara menanggapi ketakjuban sang anak kesayangannya.
“Ngga takut dong, Raka gitu lho” bangga Raka.
Bilandra yang mendengar percakapan itu tersenyum simpul karena dia ingat celotehan sang adik yang hobby membanggakan diri sendiri.
“Ihhhhh senyum-senyum, awas kesambet mbak” ejek Danendra yang sedari tadi memperhatikan cewek cantik disebelahnya.
“Apaan sih, aku keinget adik aku tahu, dia juga suka banget tuch membanggakan diri sendiri, maklum masih lima tahun jadi lucu aja dengernya” Bilandra membela diri.
“Oh ... kamu punya adik juga, cewek apa cowok?” tanya Danendra penuh selidik karena kekeppoan dia.
“Adik aku cewek, Abhinaya namanya, selisih jauh dari aku, sebelas tahunan gitu lah” jawab Bilandra dengan sukarela menjelaskan silsilah keluarganya.
“Hm aku sama si reseh itu selisih delapan tahun, masih jauhan selisihan kalian ya” Danendra memberitahu informasi dirinya dan adiknya tanpa Bilandra bertanya terlebih dahulu.
“Kalau adik kamu tujuh tahun berarti kamu lima belas tahun dong, ahhhh ternyata kamu masih anak-anak, cuma bongsor aja dong” ejek Bilandra menutupi kekagetannya karena ternyata lebih tua dia dibanding Danendra.
“Ngga anak-anak juga dong, aku sekarang lima belas tahun dan aku bisa menyayangi kamu seperti laki-laki dewasa yang angka umurnya lebih dari aku” Danendra penuh percaya diri dan ucapan yang penuh penekanan dengan tatapan mata yang tajam tertuju ke manik mata hitam Bilandra.
“Ahhh masak?” elak Bilandra yang tidak tahu harus bagaimana lagi. Yang pasti pipinya pasti sudah seperti kepiting rebus karena malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai mereka didepan kamar yang mereka booking. Lebih tepatnya revisi booking untuk Bilandra. Kamar yang nyaman, laut lepas langsung menjadi pemandangannya. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, hanya itu yang mampu lukiskan keindahan semesta. Benar- benar tenang, membuat pikiran dan hati refresh seketika.
“Matur suksma bli” ayah Ais berterimakasih kepada pegawai resor yang sudah mengantar mereka.
“Suksma mewali bapak, ibu, mas, mbak, adik” balas pegawai resor dengan sedikit membungkukkan badannya.
“Jika memerlukan bantuan kami silahkan hubungi by phone” lanjut bli pegawai resor dengan sopan.
“Oke bli” jawab ayah Ais singkat.
Mereka masuk ke dalam kamar yang mereka booking. Kamar sebelah juga sudah di booking untuk Bilandra biar tidak jauh-jauh dari keluarga Ais Wicaksana.
Setelah menata semua koper dan rangsel yang mereka bawa kedalam lemari yang sudah disediakan, mereka sibuk dengan diri masing-masing.
“Oke semua sudah beres” gumam Bilandra make sure jika semua sudah tertata rapi.
“Aku telfon mama dulu dech, pasti sudah kangen sama aku, kangen apa keppo yaa” desis Bilandra membayangkan wajah mama Udi.
Bilandra berjalan diteras kamar yang langsung menghadap laut lepas. Tenang sekali, nyaman itulah suasana yang tercipta. Terkesan private tapi humble.
Drrrttttttt ... drrttttttt .. drtttttttt.
"Belum juga ditelfon sudah nelfon aja nih si mama” senyum Bilandra mengembang melihat layar HPnya sudah ada mama emesh calling.
__ADS_1
“Hallo mam, panjang umur ihh, baru saja mbak mau telfon mama, ehh mama sudah telfon duluan” angkat Bilandra sambil terus berjalan ke bibir pantai.
“Hallo cah ayu, hmm mama gituloh, gimana mbak sudah sampai resor nya?” jawab mama Udi diujung telfonnya.
“Sudah mama, sudah agak tadi kalau sampainya, cuma tadi mbak urus reservasi dulu mam, by the way mama switch ke video call ya mam, tempatnya elok mam” sambung Bilandra menjawab pertanyaan mama tadi.
“Wooowwww elok sekali” komentar mama Udi setelah switch ke video call dan sengaja Bilandra memutar-mutar HPnya.
“Iya mam, sangat-sangat indah dan nyaman mam” jawab Bilandra.
“Oh iya mam, akhirnya mbak tadi bareng sama keluarga nya om Ais mam karena kebetulan tujuan kita sama dan tante Ara juga switch kamar mbak jadi bersebelahan dengan kamar mereka mam” Bilandra menjelaskan singkat perkembangan keadaannya saat ini.
“Oh .. iya ngga apa-apa mbak, kalau mama yang penting kamu nya nyaman saja, sepertinya mereka juga orang baik nak” jawab mama Udi.
“Hmm bagaimana kalau mama bicara sama mereka, tante siapa tadi mama lupa” mama Udi meminta Bilandra menyambungkan telfon ke tante Ara.
“Boleh juga mam, biar mama juga kenal juga, namanya tante Ara mam, mama bilang terimakasih juga ya" pinta Bilandra.
“Iya cah ayu, ngga usah kamu minta juga mama mau terimakasih sama beliau, kan sudah jagain anak mama juga, jadi nambah tenang mama disini” sambung mama Udi mengiyakan permintaan Bilandra.
“Oke mam, wait, ngga usah ditutup ya telfonnya dan video call saja ya ngga usah di switch biar mama sama tante Ara lebih akrab nanti” instruksi Bilandra sambil berjalan menuju kamar tante Ara.
“Hm iya bawel” jawab mama Udi singkat padat jelas dengan senyumnya.
Sampai didepan kamar tante Ara dan pastinya kamar pasukannya yang lain. Bilandra mengetuk kamar, tokkk tokkkk tokkkkkkk.
“Tante” panggil Bilandra di belakang pintu yang belum terbuka.
Pintu dibuka dari dalam tapi Danendra yang membuka pintunya.
“Bunda lagi di kamar mandi, masuk dulu” jawab Danendra tenang. Dia tidak tau jika Bilandra masih terhubung dengan mamanya.
“Ohh oke, maaf mengganggu” jawab Bilandra sambil berjalan masuk kedalam.
“Belum lebaran, minta maaf muluuu dari tadi, kalau tidak ya terimakasih, bagus sihhh namanya juga orang hidup ya mesti punya sifat itu tuhhh” kelakar Danendra sambil berjalan dibelakang Bilandra setelah membukakan pintu tadi.
“Kamu itu ada-ada aja yaa, hmm omong-omong tante masih lama ngga ya, mama aku pengen kenalan” Bilandra menjelaskan maksud kedatangannya.
“Ohhh calon mama mertua aku telfon, mau juga dong kenalan” Danendra penuh percaya diri seperti biasa sambil meraih HP ditangan Bilandra yang masih tersambung sempurna dengan mamanya.
Mama Udi yang dari tadi mendengar celotehan Danendra tersenyum geli.
“Hallo tante” sapa Danendra di layar HP Bilandra yang terpampang jelas wajah mama Udi.
“Hallo juga anak ganteng, siapa namanya nih” jawab mama Udi sekaligus berkenalan.
“Tante suka bener dech, tahu banget sama anak ganteng maximal ini, nama aku Danendra tante, salam kenal ya tante” narsis Danendra sembari memperkenalkan diri.
“Hihihihi kamu narsisnya TOP lho nak, tante namanya Udi, tante Udi” sambung mama Udi memperkenalkan diri juga.
“Terimakasih lho ya sudah baik sama Bilandra, sudah kasih tumpangan, nge switch kamar juga, lebih gede lagi, kan rencana dia backpackeran ya jadinya reservasi kamar yang cocok sama kantong dia “ jelas mama Udi.
__ADS_1
“Sama-sama tante, itu juga ayah bunda tante, mungkin ngga tega sama calon mantu, upssss bercanda tante” Danendra menjawab mama Udi dengan slengekan tapi tetap sopan.
Cekrekkkkkk
Terdengar bunyi pintu terbuka dari ujung dalam ruangan kamar itu. Fokus Bilandra dan Danendra buyar dan menoleh bersamaan ke arah suara pintu yang terbuka. Tampak bunda Ara keluar dari dalam dan handuk masih melilit rambutnya.
“Ehhh ada Bilandra, sudah dari tadi nak” sapa bunda Ara yang melihat Bilandra duduk di depan meja rias dan disampingnya berdiri Danendra.
“Lama bener bun, ngga berubah juga keluar dari kamar mandi” sahut Danendra yang bahagia melihat bundanya kesel.
“Emang power rangers pakek berubah” jawab bunda Ara sewot.
“Sssttttt Bilandra lagi video call sama mamanya dan mamanya pengen ngobrol sama bunda” potong Danendra sebelum bundanya ceramah panjang macam pidato kenegaraan.
“Oh iyaaaa” bunda Ara menyambut bahagia dan seketika melupakan celotehan anak gantengnya tadi.
“Ini mama mau kenalan sama tante” sambung Bilandra sembari menyerahkan HPnya ke tangan bunda Ara.
“Hallo mama Bilandra, maaf nunggu lama ya, habis gerah banget jadi tadi sampai kamar langsung mandi dech” sapa bunda Ara renyah bak snack kentang kesukaan si Raka.
“Hallo bunda Danendra, its okay bun saya ngerti kok pasti lelah letih lesu kan yaaa itu badan” sambut mama Udi tidak kalah meriah, lomba tujuh belasan aja kalah meriah deh.
“Oh iya bun terima kasih sekali ya sudah ngopeni nak wedhokku (sudah merawat anak perempuanku), malah jadi ngeriwehin ya tuhh anak, dia mah sudah biasa backpackeran sebenernya, maklum nurun hobby emak bapaknya” sambung mama Udi panjang menerangkan kenapa anak gadisnya bisa terdampar di Pulau Dewata.
“Halah ngeriwehin apaan, malahan aku seneng banget akhirnya aku punya kru cewek karena selama ini kru aku cowok semua” bunda Ara tertawa membalas mama Udi.
“Minggu depan juga kami nyusul ke Bali tapi pakai perjalanan yang simple, pesawat, soalnya si ragil masih lima tahun kasihan kalau harus diajak bolang” sambung mama Udi memberitahu bunda Ara rencananya.
“Oh iya kalau begitu, biar Bilandra barengan kita aja terus ya mam, sampai nanti ketemu sama kalian, kan kita jadi bisa double team, gimana? ajak Bunda Ara antusias sekali. Terdengar dan terlihat dari mimik mukanya yang sumringah.
“Cantik seperti Bilandra, ehh kebalik masak anak yang sama kayak ibunya” batin bunda Ara saat vc dengan mama Udi.
“Coba saja tawarkan ke Bilandra bun kalau mamanya setuju banget kan jadi ngga was-was dan irit” kelakar mama Udi tanpa basa basi, serasa mereka sudah saling mengenal berpuluh-puluh tahun yang lalu.
“Baiklah kalau begitu, nanti biar aku rayu anaknya” balas bunda Ara sembil mengedipkan sebelah matanya.
“Mau ngomong sama Bilandra lagi mam” tawar bunda Ara.
“Iya bun, ehh sebentar sepertinya ada yang kelupaan, nama saya Udi, nama bunda siapakah” tanya mama Udi sebelum mengakhiri obrolan dengan bunda Ara.
“Astaga .. iya lho mau kenalan kok malah ngga nyebutin nama ki pie (bagaimana), nama saya Ara mam, senang berkenalan dengan mama cantik yang kecantikannya diturunkan ke putrinya dan sampai ketemu minggu depan di Depansar, mmuuaacchhh “ balas bunda Ara.
HP sudah ada ditangan Bilandra lagi.
“Sudah mam, sepertinya cocok nih ibu-ibu” lanjut Bilandra sambil menutup mulutnya.
“Hehehe tahu aja nih anak, oh iya mbak nanti bunda Ara mau nawarin mbak sesuatu” jawab mama Udi.
“Ada apa mam” Bilandra penasaran.
“Ya ntar juga dijelasin, ya sudah itu si adik udah teriak-teriak minta jajan, mbak hati-hati ya, salam buat semua, have fun girls” tutup video call mama dan Bilandra yang sudah lebih satu jam.
__ADS_1