Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 53


__ADS_3

"Semakin estetik ya Bi tempat ini, pantesan saja mulai banyak resor, home stay, hotel dan temen-temennya dibangun apik didaerah sini" takjub Bilandra setelah sampai di objek wisata Tebing Breksi.


Bongkahan batu putih yang diukir dengan sangat teliti dan apik sehingga menjadikan tempat baru untuk para wisatawan baik dalam maaupun luar negri. Ditambah dengan banyak objek wisata lain yang lebih dulu ada seperti Candi Ratu Boko yang sangat apik saat menikmati sunset, Candi Prambanan dengan cerita Roro Jonggrangnya dan juga Sendra Tari Ramayana nya, dan masih ada yang lagi.


"Emang dulu belum kayak gini Ji, aku baru sekali ke sini" balik tanya Danendra yang memang baru pertama kali masuk ke objek wisata Tebing Breksi. Sudah sering dengar tapi apalah daya jiwa sang bisnis man ini yang tidak sempat sekedar healing walau dekat, kecuali sudah diplan jauh-jauh hari dan biasanya ke luar pulau atau luar negri sekalian.


"Hmm .. Dulu masih proses jadi belum se apik ini, belum ada wisata jeep atau food court seperti ini" jawab Bilandra singkat padat jelas.


"Mau wisata jeep nya sayang" tawar Danendra yang tertarik sedari tadi saat dia memarkir range rovernya diparkiran luas Tebing Breksi.


"Mauuuu banget dong, tujuan aku ngajak kamu kesini kan salah satunya itu, naik jeep tapi enaknya agak nanti Bi biar dapat sunset" Bilandra dengan antusiasnya menanggapi tawaran Danendra.


"Oke, kita jalan-jalan dulu yukk kalau gitu, kita naik ke atas" ajak Danendra sembari menggandeng tangan imut sang pacar.


Seperti biasa dua anak manusia yang berbeda gender dan berstatus pacar ini selalu menjadi pusat perhatian para hadirin sekalian. Yahh siapa lagi kalau bukan Danendra dan Bilandra. Dari style mereka yang keren terlihat sedap dipandang mata tentunya, postur tubuh yang sesuai baik Danendra ataupun Bilandra membuat yang menatap iri hati. Ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna begitulah kata hati para orang-orang yang melihatnya.



Berjalan dengan saling menautkan jari jemari adalah ritual wajib yang sudah auto jika Danendra dan Bilandra berjalan dimanapun. Begitu pula saat perlahan mereka menaiki satu persatu anak tangga menuju atas Tebing Breksi.


"Wowww keren ya Bi dari atas sini, itu semua kelihatan kecil-kecil" tunjuk Bilandra ke orang-orang yang ada dibawah.


"Hmmm" Danendra hanya berdehem saja. Ya begitulah Danendra Wicaksana jika didepan khalayak ramai auto cool bener, coolnya kayak freezer ice cream.


Teriknya sinar matahari yang cukuo menyengat sudah mereka antisipasi dengan topi, hoodie beserta kaca mata yang mereka pakai tidak ada yang tertinggal. Sehingga cukup nyaman untuk mereka sedikit berlama-lama diatas walau cukup terik. Tidak begitu terik memang karena matahari sudah condong untuk kembali ke peraduannya.


"Kalau malam pasti keren ya Bi" Bilandra memecahkan keheningan setelah mereka menikmati sendiri-sendiri keindahan semesta.


"Maybe Ji" jawab simple Danendra. Ya ngga salah juga sihh, kan Danendra juga belum pernah ke tebing breksi malam hari. Jangankan malam menginjakkan kaki di sini pun baru kali ini juga.

__ADS_1


"Hmmm" gantian Bilandra yang berdehem. Tapi deheman Bilandra kali ini adalah tanda kekesalan karena Danendra.


"Turun yuuk, mau jajan ngga?" ajak Danendra yang sudah bisa membaca arti deheman Bilandra. Dengan cara ampuh mengajak jajan adalah obat mujarab deheman itu tidak berkelanjutan menjadi ngambek yang bakal bikin Danendra kalang kabut pastinya.


"Mau ... Aku haus" jawab sumringah Bilandra yang benar saja deheman bete tadi sirna sudah.


Kembali berjalan dengan bergandengan menuju food court dan masih menjadi objek kekaguman orang-orang, Danendra dan Bilandra berjalan santai karena masing-masing dari mereka sudah biasa menjadi objek kekaguman.


"Itu kayak Lingga Ji" tunjuk Danendra ke salah satu kursi yang diduduki seorang cewek cantik dan sedang melamun sepertinya.


"Yang itu ya Bi, yang pakai baju putih itukah" jawab Bilandra sembari mengikuti arah telunjuk Danendra.


"Iya sayang, ayo kita samperin Ji" ajak Danendra tanpa rasa bersalah atau rasa apapun. Yang ada hanyalah rasa ingin menyapa karena memang Lingga adalah temannya.


"Hai cewek boleh gabung disinikah" sapa Danendra yang sudah berdiri didepan Lingga yang sedang asyik mengutak atik iphone nya.


Mendengar suara yang tidak asing ditelinganya, atau lebih tepatnya suara yang selalu dia nanti setiap malamnya. Suara yang sangat dia inginkan memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Eh kalian juga disini" jawab Lingga yang terkejut dengan pemandangan didepan matanya. Ada laki-laki yang membuatnya merasakan cinta sebelah tangan tetapi dengan mesranya menggandeng perempuan lain.


"Yupss, seperti yang kamu lihat, boleh kita gabung? jawab Danendra dengan senyumnya. Begitupun Bilandra yang terus tersenyum ramah.


"Boleh dong, silahkan duduk" Lingga mempersilahkan dengan seramah mungkin dan secepat mungkin membuang terkejutannya.


"Kamu sendiri saja" Bilandra memulai berbasa basi dengan Lingga.


"Hmmm ngga dong, masak iya aku berani sendiri ditempat seperti ini, aku sama cowok aku" jawab Lingga dengan suara sedikit bergetar.


"Cinta ... " sapa seorang lelaki yang gagahnya sebelas dua belas dengan Danendra. Iya .. Kavi lelaki yang memanggil cinta untuk Lingga.

__ADS_1


"Ehh iya cinta, sudah jadi minumnya" jawab Lingga menoleh ke arah suara yang memanggilnya cinta.


"Oh iya cinta, kenalin ini Danendra dan Bilandra, Danendra ini temen aku satu kelas dan yang cantik ini adalah penakluk si dingin ini" lanjut Lingga dibuat sebiasa saja dengan senyum yang mengembang.


"Halo, aku Kavi pacar Lingga" Kavi menyodorkan tangannya didepan Danendra dan bergantian didepan Bilandra.


"Hallo, aku Danendra dan ini bilandra" Danendra mewakili Bilandra untuk menyebutkan namanya saat berkenalan dengan Kavi.


Kontak mata Kavi dan Lingga yang hanya mereka berdua yang bisa mengartikan dan tidak ditangkap oleh Danendra ataupun Bilandra. Kavi menatap lekat seolaha berkata, tenang ada aku disini. Begitupun Lingga yang menangkap dan ingin berkata, terimakasih untuk kesekian kalinya menyelamatkan hatiku yang sudah hancur sebetulnya.


"Kalian sudah lama" tanya Bilandra memecah kecanggungan diantara mereka.


"Kami belum lama kok, malahan datang langsung duduk sini, pengen naik jeep aku cuma kata abangnya bagusan menjelang sunset makanya kita tunggu sambil minum disini" jawab Lingga mewakili Kavi yang sama-sama cool seperti Danendra.


"Sayang, kamu jadi mau minum apa?" Danendra menawarkan minuman untuk Bilandra.


"Apa aja Bi, yang penting dingin ya" jawab manja Bilandra yang memang seperti itu jika didepan Danendra.


"Oke, kamu tunggu sini ya" jawab Danendra sembari mengusap pucuk kepala Bilandra seperti biasa.


Lingga yang mendengar itu semua seketika badannya bergetar bahkan matanya auto memgembun tanpa dia minta. Melihat itu semua Kavi dengan sigap menautkan jemarinya dengan jemari Lingga memberi support dan berharap dengan itu Lingga bisa kontrol semua.


"Cinta, minum dulu katanya tadi haus" Kavi dengan mesra bahkan lebih manis dibandingkan Danendra membuat Lingga semakin tenang.


"Terimakasih cinta" jawab Lingga dengan manjanya, menandakan dia berhasil mengatasi rasa yang bergejolak dihatinya.


"Bilandra aku minum duluan yaa" lanjut Lingga meminta ijin ke Bilandra.


"Silahkan Lingga" jawab Bilandra lembut dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Selama kamu bersama aku tidak aku biarkan siapapun membuat kamu terluka Lingga" batin Kavi yang tidak lepas menatap Lingga penuh cinta kasih sayang.


__ADS_2