
Suara Bilandra sukses membius para tamu undangan dan yang pasti Danendra speechels dengan hadiah rahasia Bilandra. Termasuk para orang tua yang berkaca-kaca dengan persembahan dari Bilandra dan pastinya dua pasangan bucin yang hanya bisa memandang dengan tatapan kagumnya.
Danendra yang tidak mampu berkata-kata hanya mampu berjalan ke stage mungil tapi estetik yang disitu ada Bilandra berdiri dengan merentangkan kedua tangannya menyambut laki-laki spesial yang memberi banyak perubahan dalam dirinya, termasuk seperti sekarang, tampil di depan khalayak ramai. "Kamu itu mampu so kenapa mesti ragu, lakukan dan kalahkan takutmu". Kalimat sakti yang selalu Danendra ucapkan untuk meyakinkan Bilandra melakukan apapun asal itu positif.
Dan di stage mungil dan dalam pelukan hangat kekasih hatinya, seorang Danendra Wicaksana yang sangat cool menangis haru tanpa bisa tertahan. Bukan sedih, bukan itu yang dirasakan Danendra tapi justru sebaliknya, rasa bahagia yang sangat.
"Thank you Bi, for everything" bisik lembut Bilandra tepat ditelinga Danendra yang semakin larut dalam rasa haru, rasa bangga, rasa bahagia.
Tidak ada balasan dalam kata, hanya pelukkan yang semakin mengerat yang enggan untuk dilepaskan. Bilandra juga hanya bisa mengelus punggung lebar Danendra dengan lembut seolah berkata "it's okai Bi, satu waktu boleh kok kamu tidak mampu berkata dan hanya bisa ungkapkan rasa dengan diam".
Acara pun berlanjut semakin hangat. Penuh semua kursi baik dari indoor sampai outdoor. Dan sangat bersyukur malam ini tidak turun hujan, justru bintang dilangit sangat gemerlap seolah ikut bersuka ria dengan lahirnya caffe senja sebagai tanda cinta ini.
Malam ini lain dari biasanya, Danendra yang biasanya sudah duduk di stage dengan gitar di pangkuannya dan menghipnotis orang dengan suara merdu beserta petikan gitarnya khusus acara ini dia absen. Karena sudah banyak air mata yang keluar dari matanya dan suara parau khas orang menangis membuat dia tidak cukup percaya diri untuk tampil di depan umum.
Semua membaur menjadi satu. Kritik dan saran dari para tamu undangan dengan senang hati Danendra dan juga Bilandra terima dengan senyum dan rasa terima kasih atas semua masukan, ini semua adalah perhatian yang sangat penting untuk mereka berdua. Sanjungan dan pujian juga tidak membuat pasangan yang semakin bucin ini besar kepala. Semua mereka olah sedemikian rupa untuk dijadikan output yang lebih baik lagi demi kemajuan Caffe Senja nya.
Tepat pukul sebelas malam acara sudah selesai. Para tamu juga sudah membubarkan diri satu per satu. Sudah dari jam sembilan malam sebenarnya para tamu satu per satu undur diri. Begitu juga para orang tua yang sudah pamit dari pukul sembilan, sudah larut tentunya bagi para tetua. Apalagi papa Iyo yang terlihat lelah. Yang pasti harus save tenaga untuk acara besok siang, Grand Opening Joglo Homestay.
__ADS_1
Kali ini keluarga Wicaksana bermalam di rumah keluarga Herlambang. Dan tiga pasangan bucin sesuai rencana setelah selesai acara grand opening caffe mereka langsung menuju ke homestay dan bermalam disana. Banyak yang harus dipersiapkan untuk Grand Opening Joglo Homestay esok hari makanya mereka harus extra energi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam dua belas malam tiga pasangan bucin sampai di homestay. Mereka tidak lanjut bekerja juga, mereka istirahat sebentar di lobby, setidaknya meluruskan punggung dan kaki yang cukup pegal.
"Sini Ji duduk dipangkuanku" panggil lembut Danendra yang terlebih dulu duduk di sofa lobby homestay nya.
Tanpa menjawab Bilandra mendudukkan dirinya dipangkuan pacar nya. Sebenarnya rasa rindunya belum tertebus dengan sepenuhnya. Masih sangat membuncah hasrat rindunya.
Setelah duduk dipangkuannya, Bilandra dengan sangat fasih mengalungkan tangan di leher Danendra dan kepalanya yang sudah stay tune di ceruk leher Danendra. Tidak terlihat keberatan saat Bilandra duduk manis dalam pangkuan dan merebahkan tubuhnya dalam dekapan Danendra. Justru terlihat sangat menikmati, tubuh Danendra pun dia sandarkan pada sofa.
"Lhohhh .. Lhohhhh udah pada posisi masing- masing begini yaaa" Lingga yang shok melihat dua pasangan bucin lain yang sudah dengan posisi uenakkk versi masing-masing.
Ita dan Aer juga sudah dengan posisi nyaman mereka. Aer tidur di atas paha Ita dan tangan Ita yang sudah membelai lembut rambutnya. Dan satu tangannya yang didada Aer sudah digenggam begitu erat dengan tangan kekar Aer.
Seperti halnya Danendra dan Kavi, Aer pun mempunyai badan yang atletis. Benar- benar couple goals lah mereka bertiga.
__ADS_1
"Sini cinta" suara Kavi kembali terdengar memanggil Lingga yang masih bengong melihat empat sahabatnya.
"Kamu ngga mau aku peluk" lanjut Kavi yang melihat Lingga masih berdiri tegak dan belum ingin beranjak sepertinya.
Tanpa banyak kata lagi, Lingga sudah seperti Bilandra, nemplok didada bidang Kavi yang serasa spring bed.
Selanjutnya tiga pasangan bucin ini sudah tidak terdengar suaranya lagi. Bukannya menyelesaikan pekerjaan yang kurang sedikit tapi mereka berenam terlelap dalam mimpi indah.
Yang tadinya mau istirahat sebentar tapi kenyataannya baru adzan subuh yang membangunkan mereka. Ya apa mau dikata ternyata badan mereka cukup lelah untuk dipaksakam ngecek ini dan itu.
"Hmmmmm .. Jam berapa ini?" gumam Bilandra yang pertama kali terbangun dari tidur malamnya di pangkuan Danendra.
"Sepertinya sudah pagi, arghhhh bagaimana sihhh malah ketiduran berjamaah gini" lanjut gumam Bilandra sembari merenggangkan tubuh mungilnya yang cukup pegal karena tidur ditempat yang tidak semestinya.
"Ck .. Ck .. Ck .. Kalian juga sama-sama ketiduran ternyata" masih gumam Bilandra dengan melihat kedepan dan kekanan nya sudah ada dua pasangan bucin yang terlelap dengan posisi absurd.
Bukan langsung bangun dari pangkuan Danendra, justru Bilandra kembali menatap lekat Danendra yang masih enggan untuk meninggalkan dunia mimpinya. Matanya masih terpejam dan deru nafasnya masih sangat teratur menandakan dia masih sangat nyenyak dalam tidurnya. Yaa meskipun dia tertidur dalam posisi duduk dan memangku Bilandra.
__ADS_1
Pelan Bilandra mengusap lembut wajah ganteng Danendra. Hampir sempurna memang, semua indah dan pas posisinya. Perlahan Bilandra mendekatkan bi birnya didepan bi bir Danendra. Dengan lembut Bilandra mengecup bi bir Danendra, maksudnya hanya untuk kecupan selamat pagi. Tapi apalah daya Bilandra justru tidak bisa menahan has ratnya untuk melu mat habis bi bir Danendra.
Awalnya kecu pan itu lama-lama semakin dalam. Dihi sapnya perlahan bi bir yang sudah menjadi can du tentunya. Bilandra mainkan pelan, tapi lama-lama semakin menuntut. Masih belum ada perlawanan dari Danendra, Bilandrapun masih asyik menikmatinya. Sampai tiba- tiba ada tangan kekar yang menahan tengkuk Bilandra dan dengan panasnya melum at habis bi bir mungil Bilandra.