
Malam panjang yang indah, sangat indah untuk semua, khususnya Bilandra. Bersyukur lahir dikeluarga yang open minded tanpa mengesampingkan moral dan tata krama jawa.
Setelah video call terputus, masih ditempat yang sama, ayah Ais, bunda Ara, Danendra dan Bilandra masih melanjutkan obrolannya. Lebih tepatnya plan liburan selanjutnya.
“Jadi besok kita check out atau mau tambah satu malam lagi guys” bunda Ara bertanya ke pasukannya.
“Ayah sih ngikut kalian saja, mau lanjut ya ayo mau tambah sehari ya ayo” jawab ayah Ais santai.
“Bagaimana kalau tambah sehari yah, bun” pinta Bilandra yang tidak canggung lagi dengan orang tua pacarnya.
“Kan kita belum punya kenangan berlima yang seru, kita bisa snorkeling, piknik lunch, berkuda dan hmmmm apa lagi ya” lanjut Bilandra menyebutkan liburan seru apa saja yang bisa mereka nikmati bersama.
“Ternyata kamu udah search dulu ya Ji” Danendra melongo mendengar plan pacarnya.
“Iya dong, wajib itu hukumnya Bi” jawab bangga Bilandra setelah menyampaikan plan brilliantnya.
“Oke kalau begitu kita extend satu hari ya” ayah Ais memutuskan.
“Yeeeee ... asiikkkkk bakal seru dech” Bilandra bersorak bahagia bak Raka yang dapat jajan lebih dari ayah bunda.
“Dasar bocah” Danendra bergumam melihat tingkah pacarnya.
“Ya sudah kalau begitu sudah malam, mari istirahat karena besok kita bakal full scedulle” bunda Ara memberi instruksi yang sifatnya adalah wajib.
Tanpa ada kata bantahan dari siapapun mereka menurut menuju kamar masing-masing.
“Selamat malam dan istrihat ayah, Bi” pamit Bilandra sopan dan berjalan mengikuti bunda Ara menuju kamar.
“Selamat malam dan istirahat juga anak cantik ayah, nice dream” balas ayah Ais.
“Malam Ji, love you” sahut Danendra setelah ayah terdiam.
Dalam kamar bunda Ara dan Bilandra tidak langsung tidur. Bergantian mereka membersihkan badan. Dan ritual wanita pada umumnya.
__ADS_1
“Bun, terimakasih untuk semua ya, Bilandra ngga nyangka liburan ala backpacker Bilandra jadi liburan mewah, banyak cinta juga buat Bilandra” tulus ucap Bilanda sembari memeluk bunda dari belakang.
Bunda Ara yang sedang duduk di meja rias dan sedang menjalani ritual malamnya terlihat tersenyum dari pantulan cermin meja rias.
“Sama- sama anak cantik, cah ayu, akhirnya bunda ngerasain punya pasukan cewek, jadi se frekuensi dehhh” jawab Bunda Ara dengan mengelus tangan Bilandra yang semakin erat memeluknya.
“Hari ini hubungan spesial diantara kalian baru terjalin, jagalah, ikuti alurnya, jangan jadikan beban tapi energi positif untuk kalian. Bunda, ayah, mama, papa pasti mendoakan yang terbaik untuk kalian putra dan putri kami, masih panjang jalan kalian. Jika suatu hari nanti kalian memutuskan untuk memilih jalan kalian masing-masing jangan putus tali silaturahmi keluarga kita karena bagi kami, kamu dan keluarga kamu adalah keluarga. Jika Tuhan ijinkan akan menjodohkan kamu dan Danendra tapi kalaupun tidak jadikan Danendra mas mu dan kami ayah bunda dan raka keluarga kamu. Itupun akan bunda pesankan untuk Danendra” bunda Ara memberi petuahnya penuh kasih sayang. Tulus seorang ibu yang berpesan pada anaknya.
Tidak bisa menjawab apapun, Bilandra meneteskan air matanya dan masih memeluk bunda Ara yang juga sudah berurai air mata.
“Sudah ahh jangan nangis mulu, yuk bobok biar besok kita fresh” ajak bunda Ara sembari melepas pelukan Bilandra dan menuntunnya ke kasur.
Dalam hening malam Bilandra tidak hentinya bersyukur. Perlahan mata belonya terlelap ke alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alarm HP Bilandra yang sudah diaktifkan kembali, lebih pagi dibandingkan dengan alarm saat dia berada di rumah.
Tubuh mungilnya mulai menggeliat, mata belo nya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.
“Bunda pasti sudah bangun duluan” gumam Bilandra yang perlahan mendudukkan badannya diatas tempat tidur.
Setelah dirasa nyawa kembali ke raga Bilandra berjalan membuka gorden kamar yg langsung memperlihatkan sunrise yang sangat indah.
“Selamat pagi semesta” Bilandra menyunggingkan senyum terindahnya menyambut pagi yang indah.
Berdiri mematung dengan piyama mininya, rambut tergerai meski berantakan tapi tetap terlihat cantik. Bilandra sangat mengagumi lukisan Tuhan yang tiada duanya.
“Selamat pagi anak cantik” sapa bunda Ara yang sudah selesai ritual paginya, biasa mandi dipagi hari.
“Selamat pagi bunda sayang” balas Bilandra membalikkan tubuhnya menghadap si empunya suara lembut yang sudah dua malam ini menemani tidurnya.
“Mau mandi nak?” tanya bunda Ara.
“Iya bunda, habis ini mau menikmati sunrise lagi” jawab Bilandra yang berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
“Sendiri atau sama mas Danendra?” bunda Ara masih dengan mode keppo nya.
Belum sempat dijawab Bilandra, bunda Ara sudah melanjutkan komentarnya, “ sama mas saja ya, sebentar bunda bangunin dia “.
Dan tanpa persetujuan bunda Ara sudah berlalu meninggalkan Bilandra yang masih terbengong di depan kamar mandi.
“Ngga mama ngga bunda suka ajaib dech, tanya belum dijawab sudah dijawab sendiri” Bilandra menggelengkan kepalanya sambil bergumam heran.
Dan benar saja, Bilandra keluar dari kamar mandi sudah terlihat bunda Ara dan pacarnya, Danendra, duduk di balkon sambil ngobrol.
“Aku siap-siap sekalian saja kalau begitu, lagian Danendra juga sudah ganteng” gumam Bilandra yang menyiapkan bajunya dan balik lagi ke kamar mandi untuk memakainya.
Tidak sampai lima belas menit, Bilandra sudah keluar dari kamar dan berdiri di balkon ditengah -tengah bunda Ara dan Danendra.
Seperti biasa Bilandra tampil sexy dengan hotpan jeansnya dan tanktop polos warna biru. Kali ini Bilandra memakai sandal jepit santai warna putih.
“Sudah siap Ji” Danendra menyambut sang pacar yang sudah sangat cantik.
“Sudah dong Bi, yukk keburu habis sunrisenya” ajak Bilandra ke laki-laki yang pagi itu terlihat segar. Style nya yang selalu tidak ribet, celana joger pendek dan kaos oblong polos. Kali ini warna hitam dia pakai, sampai sandal jepitnya pun hitam.
Tidak banyak tanya lagi, tangan Danendra mengulur dan disambut mesra tangan Bilandra.
“Bun kita jalan-jalan dulu ya, nanti langsung ketemu di resto saja ya bun” pamit Danendra dan diangguki sang bunda tanpa ada komentar lagi.
“Ini sunrise terakhir kita Bi disini dalam liburan perdana kita” Bilandra memecah keheningan pagi disepanjang jalan yang mereka tapaki.
“Iya, akan ada sunrise di tempat lain lagi yang akan kita nikmati Ji dan akan ada sunrise disini lagi next time” Danendra menjawab Bilandra dengan suara tegas tapi lembut terdengar.
Semakin erat genggaman tangan mereka, perlahan Danendra menarik Bilandra semakin dekat dan mengecup puncak kepalanya berulang-ulang.
“Bi, aku bener-bener ngga nyangka sama apa yang sudah kamu lakukan, kamu gentle minta ijin ke mama papa, aku speechelss Bi waktu tahu semua” Bilandra yang masih sangat kagum dan ngga habis pikir dengan Danendra.
“Aku percaya apa yang aku mulai dengan ijin dan doa orang tua pasti mempermudah kita, walau jalan kita masih panjang Ji, kita ngga ngerti apa Tuhan merestui atau tidak kisah cinta kita” Danendra menjawab semua dengan bijaksana diusianya yang lebih muda dari Bilandra.
"Cinta pada pandangan pertama itu ada, walau bukan hati sebagai tolak ukurnya tapi dari mata yang mengagumi fisiknya. Tidak apa karena itu nyata."
__ADS_1