
Berjalan menyusuri lekuk pasar ubud yang terik tidak menyurutkan semangat membara mama Udi dan bunda Ara. Hal itu tentu berbeda dengan papa Iyo , ayah Ais, Abhinaya dan Raka. Keringat mengucur deras membasahi seluruh badan mereka. Tetapi dengan sabar mereka mengikuti langkah para ibu-ibu yang tanpa aba-aba belok kanan belok kiri dari satu lapak ke lapak lain.
“Bun aku capek, gerah dan sangat lapar” Raka yang nampak sudah sangat lelah menghentikan langkah kakinya dan mulai mengeluh.
“Sudah lapar lagi, ini jam berapa” bunda Ara menghentikan langkahnya dan menatap jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sebelas siang lebih sedikit.
“Ternyata sudah siang , maafkan bunda sayang sampai ngga ngerti jam, habisnya seru sih” lanjut bunda Ara sembari mengelus puncak kepala Raka.
“Baiklah sepertinya cukup, nanti kita lanjut lagi di keranjang atau krisna kan searah sama jalan kita ke bandara” sahut mama Udi dengan senyum puas berbelanja.
“Apa mam, masih mau lanjut” papa Iyo terkejut dengan ide mama Udi.
“Biarin pap, biar bahagia ibu-ibu ini, sekali-sekalilah” bela ayah Ais dengan santai.
“Ya sudah kita balik ke parkiran saja dulu, ayah juga sambil wa Danendra biar langsung ke parkiran lanjut kita makan bebek, gimana setujukah guys” lanjut ayah Ais memberi instruksi.
“Setujuuuuuuuu .. lets go” jawab kompak Raka dan Abhinaya yang langsung berjalan bergandengan semangat menuju parkiran.
Sembari berjalan ke arah parkiran ayah Ais chat ke Danendra untuk langsung ke parkiran.
Lima belas menit mereka sudah berkumpul di parkiran. Tentunya dengan tentengan yang wow ditangan kedua orang tuanya.
“Ya ampun, pada kulakan apa ini” komentar Danendra sembari menata barang belanjaan di bagasi yang sudah penuh dengan koper juga.
__ADS_1
“Udah mas, ditata aja yang rapi ngga usah banyak protes deh” jawab bunda Ara yang sudah duduk manis diposisinya.
Tanpa niat membalas bundanya lagi Danendra menata rapi semua barang bawaan dua keluarga itu.
Sudah di posisinya masing-masing Danendra perlahan meninggalkan parkir pasar ubud untuk menuju tujuan selanjutnya.
“Ini langsung makan siang yah” tanya Danendra ke ayah Ais.
“Iya mas, ngga jauh dari sini ada bebek bengil sepertinya, kita makan siang disana saja” jawab ayah Ais sambil memainkan HP nya karena ada notice email pekerjaan masuk.
“Oke boss, siap meluncur” Danendra mengarahkan kemudinya menuju tujuan selanjutnya.
Tidak sampai lima menit mereka sudah sampai di restoran yang ayah Ais instruksikan tadi. Iya disini mereka sekarang, Bebek Bengil.
“Hmmmm yummy” pastinya Rakalah yang langsung berkomentar jika sejauh mata memandang adalah makanan.
“Selamat makan semua” lanjut papa Iyo mewakili semua sebelum menyantap hidangan makan siangnya
Seperti biasa tidak ada lagi suara ditengah-tengah mereka menikmati makan siang bersamanya. Entah kapan lagi akan seperti ini, semoga saja dalam waktu dekat meski tidak ditempat yang sama tapi pastinya dengan personil yang sama itulah harap dan doa mereka tulus dalam hati.
Satu jam mereka sudah melahap ludes makan siangnya. Tidak lanjut melanjutkan perjalanannya mereka masih meneruskan obrolan ringan antara dua keluarga. Sementara Raka dan Abhinaya sudah berlarian kesana kemari karena memang restoran nya menyajikan pemandangan sawah yang membentang. Sangat indah warna biru langit berpadu warna putih awan dan warna hijau dari padi disawah yang membentang mengapit jalan setapak. Tidak tertinggal pohon kelapa yang menjulang tinggi.
“Sudah semakin siang ini, yuk kita lanjut lagi, tadi Raka minta es krim, bagaimana kalau setelah dari sini kita mampir Guesto Gellato dulu lanjut belanja lagi di Keranjang sebelum kita tunggu di bandara” ajak papa Iyo kali ini yang menyusun scedulle vacation mereka.
“Bagaimana pak sopir, oke ya, kalau penumpang mah tinggal duduk manis, perut kenyang tinggal bobok siang kan habis ini” lanjut mama Udi mengiyakan rencana papa Iyo.
“Baiklah .. Gooooo” jawab Danendra singkat sembari mengikat tali sepatunya dan memasang kaca mata hitamnya.
__ADS_1
“Aku siapin dulu mobilnya, kalian tunggu didepan resto saja ya” lanjut Danendra yang di approve rombongan lain.
“Aku temenin Bi” Bilandra berlari kecil meraih tangan Danendra yang sudah berjalan ke arah parkiran mobil.
“Hmmm bilang aja ngga mauu jauh dari aku Ji, kamu terlalu tidak rela aku jalan sendiri dan mengundang tatapan para cewek-cewek dari dalam maupun luar negri ya” goda Danendra saat Bilandra sudah berjalan di sampingnya. Walau menggoda tapi tentunya bahagia sekali pacarnya ngga bisa jauh dari dia.
“Iya bangettttt dong, masak ngga sihhhh” jawab Bilandra dengan suara khas nya yang manja-manja bikin gregetan.
Tidak menjawab tetapi Danendra menarik tubuh mungil Bilandra dan mengecup sekilas bibir mungilnya. Semakin gemas dia sama pacarnya kalau sudah manja begini, pengennya di kantongin aja biar bisa dibawa kemana-mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan dari Bebek Bengil Ubud sampai ke Guesto Gellato kurang lebih satu jam. Danendra memilih via jalan tol biar lebih cepat. Lebih cepat sampai ke tujuan selanjutnya berarti akan lebih cepat juga dia berpisah dengan sang pujaan hati yang saat ini duduk manis disamping kursi pak sopir yang dia duduki. Penumpang lain sudah satu per satu terbang ke alam mimpi, mungkin sudah sampai di Guesto Gellato lebih dulu. Sudah menikmati dinginnya es krim berbagai rasa.
Disaat semua terlelap tinggallah dua anak manusia yang terikat hati dan bertaut tangan. Lama mereka larut dalam angan masing- masing. Bilandra yang diam seolah menikmati musik kesukaannya tetapi hatiya mencelas entah kemana mengingat semakin dekat waktu berjauhan itu tiba. Danendra pun diam dan fokus dengan kemudinya tetapi sama, angannya sudah entah seperti apa kalau digambarkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ji ...” panggil Danendra.
“Hmmm” balas Bilandra yang terusik lamunannya.
“Sebentar lagi kamu ujian nasional, kamu harus fokus ya sayang, aku bakal support kamu lahir batin” lanjut Danendra setelah memanggil lembut nama kesayangannya.
“Iya Ji, terimasih ya Ji, kamu datang diwaktu yang pas, pas aku butuh support, cuma ...” Bilandra menggantung ucapannya. Tangan kirinya mengusap cepat air mata yang hampir lolos dari mata indahnya.
Danendra yang menangkap itu dari ujung matanya hanya bisa menarik nafas panjang.
“Cuma kenapa kita jauh” lanjut Danendra yang mengeratkan genggaman tangannya.
“Mungkin ini cara Tuhan memperindah hubungan kita Ji, biar kita kokoh kayak semen tiga roda” Danendra selalu punya cara menyelipkan canda di balik sedihnya.
“Kamu ihhhh ... masih aja bercanda, tapi aku suka sangat” balas Bilandra yang berusaha keras tidak sedih, tidak menangis lagi karena dia tau Danendra pun sedang berusaha tegar.
“Nah gitu dong, jangan mewek mulu ahhh, aku jadi ngerasa jadi orang jahat yang cuma bikin kamu nangis. Aku kan maunya kamu happy dan selalu senyum karena itu energi aku” Danendra semangat menanggapi Bilandra yang sudah mulai manja dengannya.
“Yuk bisa yukkkk” canda Bilandra lagi sambil tertawa memperlihatkan deretan gigi putih nya.
“Pasti bisa yukk” jawab Danendra tidak kalah ceria dengan Bilandra.
__ADS_1
Senyum kamu itu candu, seperti hal nya lembutnya bibir kamu Ji. Dan itu pertama untukku dan aku harap terakhir pula untukku. Begitu juga ini yang pertama untukmu dan aku harap terakhor untukmu, batin Danendra yang sekilas mencuri pandang karena dia harus tetap fokus mengemudi.