Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 5


__ADS_3

Alarm andalan Bilandra mulai bergema di kamar penginapan yang dibooking dia hanya satu malam saja. Karena pagi menjelang siang nanti Bilandra sudah harus menyeberang ke pulau seberang, Pulau Bali.


Salah satu kekayaan alam Indonesia dan daya tarik dalam dunia pariwisata, baik dari domestik maupun manca negara.


Pulau Bali adalah aset yang banyak menyumbang devisa negara dari beberapa faktor, terkhusus dari pariwisata.


 


Mata belo Bilandra masih mengerjap menyesuaikan dengan cahaya matahari yang mulai menyusup dibalik gorden kamar penginapan. Matahari di ujung timur pulau jawa ini memang lebih dulu menyinsing dibanding dengan kota kelahiran Bilandra, Yogyakarta.


 


Beberapa menit Bilandra masih berusaha menyadarkan dirinya. Tubuh mungil nya menggeliat kekanan dan kekiri, merenggangkan otot-otot yang sedikit kaku karena lebih dari dua belas jam duduk di atas kereta yang ditumpanginya kemarin dari Stasiun Tugu sampai Stasiun Banyuwangi Ketapang. Dirasa sudah lemas semua otot-otot tubuhnya, Bilandra duduk di tepi tempat tidur sambil mengambil HPnya diatas nakas.


 


“Oahhhhhh” Bilandra menguap berulang-ulang.


 


“Jam berapa ini?” Bilandra menggumam sambil melihat jam di layar HPnya.


 


“Hmmm baru jam enam lebih lima menit, bentar lagi dech aku mandinya dan lanjut sarapan nanti dibawah sekalian check out” rencana matang Bilandra.


 


Drrtttttt drrttttttt drttttttttt


 


Diangkatnya video call dari sang mama.


 


“Hallo mama emesh aku” sapa Bilandra memenuhi layar HP mamanya.


 


“Hallo juga cah ayu, sudah bangun rupanya anak cantik mama” balas mama di layar amdroid Bilandra.


 


“Sudah dong mam, kan aku anak rajin” jawab Bilandra dengan cengiran khas nya yang menambah ayu paras jawanya.


 


“Iya dech rajin, gimana ngga rajin coba bentar lagi kan bakalan susah ditelfon nihh kalau sudah ketemu laut dan teman-temannya” sindir mama Udi ke Bilandra. Sudah dapat dipastikan Bilandra akan sibuk dengan kamera daripada HP nya. Kecuali saat dia absen di sosial medianya.


 


“Ahhh mama suka bener dech, kan aku jadi malu” jawab Bilandra tanpa rasa berdosa sama sekali.


 


“Ya tau lah, mama gitu loh, kalau ngga mama yang ngeluarin kamu terus siapa lagi” mama Udi mulai sewot sama anak sulungnya.


 


“Iyaaa iyaa mama sayang, im sorry” Bilandra dengan mimik muka memelas dan binar mata sendunya, sukses membuat mamanya langsung tersenyum hangat.


 


“Ya sudah, buruan mandi lanjut sarapan ya mbak” mama Udi memberi intruksinya ke Bilandra seperti biasa.


 


“Siap mam, ini mbak memang mau mandi, beberes barang yang mbak keluarin semalam lanjut sarapan dibawah sekalian check out” Bilandra mengiyakan instruksi mamanya dan menambahkan lebih detail rencanya.


 


“Oke mbak, Have Fun ya cah ayu dan jangan cuekin mama lho ya kalau mama telfon atau vc mbak, okee okeee “ tangan mama Udi membentuk lingkaran kecil tanda okenya tadi.


 


“Oke mam, bye” Bilandra menjawab singkat sambil mematikan vc nya dengan mama Udi.


Satu jam berlalu, Bilandra sudah siap untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.


 


“Hmmm oke semua sudah beres, cas sudah, alat mandi sudah, power bank sudah, hmmm semua sudah masuk” gumam Bilandra mengecek barang-barangnya yang sempat dia keluarkan dari dalam rangselnya semalam.


 


Bilandra turun dari lantai dua menggunakan lift. Sambil bersenandung bahagia dia melangkah menuju resto penginapan tempat dia akan sarapan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Tepat jam delapan pagi Bilandra sudah berada di dek atas kapal feri yang akan menyebrang dari pelabuhan ketapang menuju pelabuhan gilimanuk.


Pemandangan indah terpampang nyata didepan mata belo Bilandra, membuat bibir mungilnya tidak hentinya berdecak kagum menikmati keindahan alam semesta.

__ADS_1


 


“Wawww beautiful” kagum Bilandra sembari membuang jauh tatapan matanya ke laut lepas.


 


Perlahan kapal feri yang ditumpangi Bilandra meninggalkan dermaga Pelabuhan Ketapang menuju ke Pelabuhan Gilimanuk.


 


Angin laut yang sepoi-sepoi meniup lembut rambut Bilandra yang dibiarkan tergerai indah. Hidung mancungnya sempurna menyangga kaca mata hitam yang dia pakai untuk meredupkan sinar matahari yang cerah ceria.


 


Bilandra mulai asyik dengan kameranya. Tidak ada spot yang terlewatkan dari bidikan lensanya. Sampai pada tanpa sengaja kamera Bilandra menangkap sosok yang membuat Bilandra diam beberapa saat. Sosok yang mampu membuat Bilandra terpana dengan melihatnya.


 


Danendra, iya dialah sosok yang membuat Bilandra terpana pada pada pandangan pertama. Danendra mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain yang melihat tapi tidak dengan Bilandra.


 


Danendra remaja yang hampir dewasa juga seperti Bilandra. Mungkin usianya tidak berbeda jauh dengan Bilandra. Entah lebih muda atau lebih tua dari Bilandra.


 


Danendra berdiri di dek atas yang sama seperti Bilandra. Laki-laki dengan postur tinggi tegap, kulit sawo matang, rambut lurus hitam pekat yang dipangkas semi mohak. Sepintas tatap dia adalah laki-laki kriteria Bilandra. Yang pasti karena dia memiliki kulit sawo matang. Bagi Bilandra cowok dengan kulit itu menambah kesan cool dan macho.


 


Danendra juga sibuk dengan kamera yang ada ditangannya. Terlihat dia juga sangat menikmati pemandangan yang tersaji di depan matanya. Banyak spot juga yang sudah dia bidik dengan lensa kameranya.


 


Tanpa sengaja dua kamera yang ada ditangan masing-masing dua insan manusia itu saling mengarah. Sekian detik mereka terhipnotis dengan bidikan mereka masing-masing.


 


Kamera Bilandra mengarah ke Danendra begitu sebaliknya. Sampai akhirnya Danendra tersadar terlebih dahulu dan menurunkan kameranya.


 


“Cantik” batin Danendra spontan saat melihat Bilandra di dalam lensa kameranya.


 


Dengan percaya diri Danendra berjalan menghampiri Bilandra yang pura-pura sok sibuk dengan kameranya. Padahal dalam hati Bilandra sudah tidak karuan rasanya. Serasa terkena serangan jantung, batin Bilandra.


 


Bukannya menyambut uluran tangan Danendra, Bilandra terdiam mematung menatap mata Danendra yang juga menatapnya tanpa berkedip.


 


Sampai terdengar suara anak kecil memanggil “mas” kearah Danendra.


 


Danendra menengok kebelakang ke arah suara itu berasal dengan tangan yang masih menjulur ke arah Bilandra. Bilandra pun sedikit memiringkan tubuh mungilnya untuk melihat suara siapa tadi yang berteriak memanggil mas nya.


 


Mengetahui yang memanggil adalah adik laki-laki satu-satunya Danendra dengan cueknya membiarkan sang adik berlari ke arahnya dengan membawa snack kesukaannya. Danendra kembali berbalik menghadap Bilandra.


 


“Hai” sapa kedua kali Danendra dengan tetap mengulurkan tangannya tanda dia ingin berkenalan dengan Bilandra.


 


“Hai juga” balas Bilandra dengan menyambut tangan laki-laki yang mampu membuat dia terpesona pada pandangan pertama. Pandangan  melalui lensa kamera lagi, bukan dari mata telanjang Bilandra.


 


“Aku Danendra, nama kamu siapa?” tanya Danendra tanpa basa basi lagi dengan suara bass coolnya.


 


“Hm aku Bilandra” jawab singkat Bilandra dengan gugup dan menunduk.


Bersamaan dengan Raka sampai di mana Danendra dan Bilandra berdiri saling berkenalan. Raka adalah adik laki-laki Danendra.


“Mas dipanggil diem aja, ngga denger ya?” protes Raka dengan nafas terengah-engah karena berlari menghampiri masnya.


 


“Mas denger tapi males aja nyautin kamu” Danedra nyeletuk sambil mengacak rambut Raka yang memang sudah berantakan karena angin laut.


 


“Huhhh malesin” gerutu Raka. Tanpa dia sadari ada cewek cantik yang sedang diajak berkenalan oleh masnya.


 


Danendra tidak memperdulikan adiknya yang berdiri disampingnya dan Bilandra.

__ADS_1


Setelah perkenalan singkat tadi Bilandra dan Danendra tidak berpindah tempat. Obrolan singkat karena masih sama-sama canggung terjalin dalam perjalanannya menuju Pelabuhan Gilimanuk pagi menjelang siang hari itu.


 


“Kamu sendirian?” Danendra bertanya ke Bilandra tanpa menatap mata gadis ayu itu lagi.


 


“Iya, aku sendirian, aku senang backpackeran sendiri menikmati alam semesta yang seru abis” jawab Bilandra dengan sedikit masih canggung.


 


“Woww keren dong, besok bisa nih backpackeran berdua sama aku” ajak Danendra tanpa basa basi. Mungkin memang sifat Danendra yang apa adanya jadi dia tidak berbelit mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.


 


“Boleh banget tuh, next kita backpackeran berjamaah ya” jawab Bilandra dengan entengnya tanpa gugup-gugup lagi. Karena suasana yang Danendra ciptakan tidak kaku jadi nyaman untuk Bilandra menjawab tanpa canggung lagi.


 


“By the way kamu liburan bareng keluarga kamu atau sama adikmu saja” tanya balik Bilandra. Karena dia hanya melihat anak laki-laki yang memanggilnya mas tadi saja. Dan anak itu masih stay berdiri di tengah-tengah antara dia dan Danendra.


 


“Iya aku sama keluarga aku, ada nihhh si anak reseh, Raka namanya dan ayah bunda aku ada dibawah” Danendra menjelaskan detail.


 


Mendengar namanya disebut dengan percaya diri yang luar biasa Raka langsung memperkenalkan dirinya ke Bilandra.


 


“Hallo kakak cantik, perkenalkan nama aku Raka, aku adik satu-satunya mas Danendra dan aku lebih ganteng dari mas Danendra, betul apa betul banget” celoteh Raka memperkenalkan diri ke Bilandra.


 


Bilandra menundukkan kepalanya untuk meraih tangan kecil laki-laki yang mengakui dirinya ganteng maximal.


 


“Hallo Raka ganteng, nama kakak Bilandra, senang sekali bisa kenalan sama cowok ganteng ini” jawab Bilandra sembari menoel hidung mancung Raka.


 


Danendra yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah si reseh Raka.


 


Tanpa terasa kapal sudah hampir berlabuh di Pelabuhan Gilimanuk. Suara petugas kapal sudah berkumandang diseluruh penjuru kapal, mengingatkan penumpang untuk bersiap-siap dan mengingatkan untuk mengecek barang bawaannya agar tidak ada yang tertinggal.


 


Danendra, Raka dan Bilandra turun dari dek teratas kapal feri yang mereka tumpangi. Dibawah sudah ada Ayah dan Bunda dua cowok ganteng versi Bilandra.


 


“Siapa ini ada cewek cantik” sapa lembut bunda Ara. Bunda Ara adalah nama dari bunda Danendra dan juga Raka.


 


“Kenalin bun ini Bilandra, tadi mas nemu di dek atas lagi nangis dipojokkan, karena kasihan mas kasih permen deh, ehhh langsung diem, malahan langsung terpesona sama mas” jawab absurd Danendra yang membuat muka Bilandra merah menyala karena malu.


 


“Halah kamu mas, suka halu tingkat dewa gitu” bantah bunda Ara sekaligus membela si cewek cantik Bilandra.


“Hallo tante om, perkenalkan nama aku Bilandra” sapa Bilandra memperkenalkan diri sambil salim mencium tangan bunda Ara dan ayah Ais sekaligus.


 


“Cantik” jawab ayah Ais spontan. Dan itu otomatis membuat semua mata tertuju pada sang ayah yang menurunkan sifat spontan ke anak laki-lakinya.


 


“Isa ae iki aki-aki” spontan bunda Ara mengomentari ayah Ais. Dan kompak mereka semua tertawa tertahan karena banyak penumpang lain yang menatap mereka.


 


Kapal sudah berlabuh sempurna, penumpang mulai berduyun-duyun keluar dadi kapal.


 


“Om, tante, Danendra, Raka, Bilandra pamit ya, terimakasih sudah mau berkenalan dengan Bilandra” pamit Bilandra sopan didepan ayah Ais dan Bunda Ara. Tidak ketinggalan Danendra dan Raka juga.


 


“Lhoh kamu ngga bareng kita saja Bilandra, paling ngga keluar dari kapal ini, nanti sambil makan siang kita bahas kamu mau kemana dan bagaimananya” ajak bunda Ara.


 


“Bilandra tidak mengganggu kan om, tante kalau Bilandra ikut bergabung” tanya Bilandra ragu karena takut mengganggu acara liburan keluarga mereka.


 


“Ngga ganggu, malahan kita seneng banget” sahut Danendra cepat dan dengan cepat juga menarik tangan Bilandra untuk turun ke parkiran kapal paling bawah, tempat dimana dia memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2