Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 23


__ADS_3

Sunset pantai melasti tidak kalah menakjubkan dengan sunset The Menjangan kemarin. Raka yang belum beranjak dari bathub lautnya. Danendra dan Bilandra semakin memperat pelukannya sambil menatap sunset yang sangat indah.



Sunset yang datangnya sesaat tapi memberi keindahan yang bermakna. Sunset hanyalah peralihan tapi selalu dinanti pemujanya. Termasuk Bilandra si pemuja senja. Di waktu senjalah saatnya merenung sesaat, berterimakasih pada diri untuk kerja kerasnya selama pagi dan siang, bersiap untuk rehat untuk melewati malam.


 


“Selalu indah dan memanjakan mata jika senja itu tiba” desis Bilandra pelan tapi masih sangat bisa didengar oleh Danendra yang tidak merespon dengan kata-kata tetapi dia semakin mengeratkan pelukannya.


 


“Bi .. i love you” bisik lanjut Bilandra dengan sedikit menengok dan dapat menatap wajah ganteng Danendra dengan ujung mata.


 


Dengan gerakan gesit Danendra justru menarik tengkuk Bilandra dan menyesap benda kenyal milik Bilandra yang sudah diklaim saat ini dan seterusnya adalah miliknya. Dengan lembut Danendra ******* habis benda kenyal yang sudah menjadi candu untuk dirinya. Tidak ada perlawanan justru Bilandra meladeni Danendra dengan irama yang sama. Dengan cahaya sunset yang indah, dua anak manusia yang dibanjiri nafsu tidak mempedulikan sekitar. Mereka sibuk merengkuh kenikmatannya sendiri. Terus terbawa arus hawa nafsu tangan Danendra sudah perlahan menjelajahi tonjolan dada Bilandra. Mereka sama-sama terbuai akan nikmat bercinta dipancari cahaya senja. Tersadar dari nirwana ada tangan kecil yang basah menepuk pundak Danendra dan suara anak laki-laki kecil.


 


“Mas, aku lapar” seru Raka tepat di belakang Danendra yang terkejut dengan suara adiknya. Tanpa aba-aba dia lepas ciuman panasnya dan tangannya yang sedang travelling.


 


“Hmm ngagetin aja kamu Raka” jawab Danendra yang salah tingkah sebenarnya dengan adiknya. Khawatir si adik menjadi saksi tidak bisu kenakalannya.


 


“Aku ngga lihat kok, udah tenang aja, sekarang aku lapar dan sudah basah kuyub, ayooo balik ke villa mas” Raka sok menenangkan masnya yang memang kelihatan salah tingkah didepan adiknya.


 


“Ayoooo kita balik villa, keburu Raka berkerut kan bahaya tuhh” sahut Bilandra berusaha menetralisir suasana canggung yang dia dan Danendra ciptakan.


“Hmmm ini mah akibat tidak bisa mengendalikan diri” batin Bilandra yang terus tersenyum bahagia sembari tangannya sibuk mengeringkan tubuh Raka dan berjalan menggandeng tangan calon adik iparnya menuju parkiran motor. Dibelakang diikuti oleh Danendra yang sudah cool kembali.


Sampai di Villa ayah Ais dan Bunda Ara sedang santai di ruang tv.


 


“Malam ayah bunda, aku lapar” sapa Raka tanpa basa basi lagi karena memang cacing-cacing di perutnya sudah demo besar-besaran. Secara sesore tadi dia berendam manja di hamparan air laut.


 


“Malam anak-anak ganteng dan cantik bunda, ya ampunnnn yang kelaparan, memang ngga dibeliin apa gitu sama mas dik” jawab bunda Ara dengan panjang lebar khas emak-emak yang tidak berjeda.


 


“Beliin sihhh tapi aku mau nasi bunda” Raka menjawab dengan bibirnya yang auto manyun bercenti-centi.


 

__ADS_1


“Ya udah mandi dulu gih, bunda juga udah masak tuhhh” jawab bunda Ara sembari menuntun si anak bungsu ke kamar untuk dimandikan. “Kalian juga mandi dulu mas mbak terus makan malam” teriak bunda dari dalam kamar.


 


“Iya bun” jawab Bilandra dan Danendra kompak tanpa aba-aba.


 


Setengah jam selanjutnya pasukan sudah lengkap dan duduk manis dikursi meja makan. Seperti biasa hening yang tercipta saat mereka menyantap makan malam masakan bunda Ara.


 


“Hmmm enak sekali bun, bunda ternyata pinter masak yaa” puji Bilandra yang memang sangat cocok dengan masakan bunda Ara.


“Iyaaa dong bunda gitu lho” jawab bunda congkak.


 


“Nahhhh nahhh kambuh kan tuhhh alay nya” sahut ayah Ais mendengar jawaban pongahnya bunda Ara.


 


Seketika ruang makan dalam villa yang dibooking ayah Ais ramai dengan gelak tawa karena celetukan ayah Ais.


 


Selesai makan malam, bunda Ara dan Bilandra membereskan bekas makanan mereka. Sedangkan para lelaki sudah bersantai di ruang tv. Dan sudah bisa ditebak Raka sudah tidak bisa berkutik lagi karena perutnya sudah mentok akibat kekenyangan. Perlahan matanya pun terpejam karena diserang kantuk.


 


 


“Sssttttttt, jangan berisik mas, kasihan adik capek biar tidur” bela ayah Ais sembari tangannya terus mengusap puncak kepala Raka yang sudah sampai alam mimpi.


 


“Yaelahhhhh ini anak, emaknya baru aja selesai bebenah dianya udah molor aja” bunda Ara tidak kalah lantang komentar saat melihat Raka sudah bobok manis di pangkuan sang ayah.


 


“Ya ampunnn ini juga emak kenapa keras amat sihhh suaranya, anaknya tidur juga, kan capek dia” sahut ayah Ais geram dengan suara menggelegar bunda Ara.


 


“Ya habisnya cepet banget sihhh tidur kalau udah kenyang dia” jawab bunda Ara membela diri sembari duduk disamping ayah Ais.


 


“Ji .. ke kolam renang aja yuukkk, bagus langitnya” ajak Danendra yang melihat Bilandra tadi berjalan bersama bundanya dari dapur.


 

__ADS_1


“Yukkkk” jawab Bilandra singkat sambil berjalan ke arah kolam renang dan diikuti Danendra.


 


“Kita kesana dulu ya bun yah” pamit Danendra.


 


Ayah dan bunda hanya mengangguk tanda mengiyakan.


 


“Ji ... “ panggil Danendra pelan


 


“Hmmmm” jawab Bilandra dengan kepala yang menengadah keatas menatap langit malam yang cantik dengan taburan bintang.


Bukan menjawab Danendra malah menatap kagum makhluk indah ciptaan Tuhan yang tepat ada disampingnya. Yang sekarang sudah menjadi kekasih hatinya. Yang mampu membuat dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Yang memporak porandakan keteguhan hati untuk tidak terbawa hawa nafsu. Yang selalu bisa membuat nyaman. Yang bisa mengartikan tanpa menjelaskan. Terima kasih Tuhan memberi aku kesempatan, ijinkan aku menjaga sampai nanti dia, salah satu makhluk Mu menjadi milikku. Batin Danendra dengan pandangan mata berkaca-kaca.


 


Sadar tidak ada suara lagi setelah tadi panggilan sayangnya dia dengar Bilandra menengok ke sampingnya dan terkejut karena mata laki-laki yang mampu memporakporandakan hidupnya dengan bahagia berkaca-kaca dengan tatapan yang penuh damba ke arahnya.


 


“Kamu kenapa Bi, aku salahkah?” Bilandra khawatir sembari mengusap genangan air mata yang belum sempat meluncur bebas di pipi Danendra.


 


“Aku bahagia Ji, terimakasih sayang” jawab Danendra terbata dengan terus menggenggam tangan mungil Bilandra yang mengusap air matanya.


 


Tidak ada suara lagi, hanya pelukan erat antara Danendra dan Bilandra. Mereka sama-sama meneteskan air mata bahagia mereka. Entah rasa apa ini Tuhan, yang pasti aku bahagia, batin mereka berdua.


 


“Terimakasih juga ya Bi, terimakasih sudah memberi aku kasih sayang tulus, jangan berubah ya Bi” bisik Bilandra di telinga Danendra lembut.


 


Tanpa menjawab Danendra kembali menarik tengkuk Bilandra. Perlahan ******* benda kenyal yang sudah menjadi candu buatnya. Semakin dalam semakin terbawa hawa nafsu. Kembali tangan Danendra sudah travelling. Tidak ada penolakan dari Bilandra, entah dia pun sangat menikmati. Belum saatnya itu pasti tapi mereka tak sanggup mengelak.


 


Cinta ku bukan hanya nafsu ini Ji, maaf aku jika tidak mampu menahan, kamu sungguh candu buat ku Ji, batin Danendra yang terus mengeksplore Bilandra.


 


Aku tidak tahu kenapa aku mau melakukan ini Bi, yang aku tahu aku yakin meladeni kamu, semoga ini pertama dan terakhir untuk kita Bi, batin Bilandra yang menikmati sentuhan demi sentuhan Danendra.

__ADS_1


__ADS_2