
Pasokan oksigen yang sudah menipis membuat Bilandra melepas pang gutan lembut Danendra yang dibalut hawa naf su panas membara. Sama - sama terbawa dalam arus deras naf su membuat Danendra dan Bilandra tidak sabar menunggu nanti untuk menyalurkan emosi hasrat rindu. Kata - kata sudah tidak bisa lagi menggambarkan rindu yang menggebu, yang ada akhirnya adalah action.
"Hmmmm .. oksigen mana oksigen" ucap Bilandra setelah berhasil melepas lu matan ganas Danendra.
"Relax Ji, tarik nafas panjang, oksigen ada dimana - mana ngga usah kamu cari juga masuk sendiri lewat hidung kamu" jawab Danendra sembari mengusap bi bir Bilandra yang sedikit jontor karena hi sapan nya.
"Hahhhhh ... legaaaa" gumam Bilandra yang masih stay tune dengan posisi memeluk leher Danendra.
"Aku yang ngga lega Ji" sahut parau suara Danendra yang sudah menciumi leher jenjang Bilandra yang tersaji didepan mata.
"Ini juga malah bikin sesek celana Ji" lanjut Danendra yang membawa satu tangan mungil Bilandra ke area rawan bencana nya. Si otong sudah siap berdiri dengan senjata yang tegak.
"Auuu .. kok keras!?" jawab sontak Bilandra yang kaget tapi reflek menekannya dengan tangan.
"Arghhhhh .. jangan diteken sayang, otong bisa muntah nanti, masak iya muntah disini sihhh kan ngga lucu" suara Danendra masih mendayu parau diliputi gai rah yang semakin memuncak. Andai ini didalam kamar atau di kolam renang seperti waktu di Bali, entahlah apa jadinya goa nya Bilandra di serbu senjata otong.
"Ngga aku teken Bi, cuma pegang, jadi gemes pengen gigit" dengan lugunya Bilandra ingin menggigit harta berharga Danendra yang merupakan aset masa depannya, tentunya berharga juga buat Bilandra.
"Hmmmm .. jangan digigit dong, aset inihhhh, masa depan kita" jawab Danendra absurd karena sedang menikmati sentuhan jemari sang pujaan hati, Bilandra Herlambang.
__ADS_1
"Udah ahhh buruan masuk ntar diintip lagi kita, terus ketangkep basah kan ngga oke" lanjut Bilandra dengan melepas tangan yang ada dileher dan otong Danendra.
Pasangan bucin yang sudah tidak bisa lagi menahan desakan rasa rindu yang berujung has rat menggebu itu dengan belum puas menghentikan kegiatan enak - enaknya sebelum ketahuan, repot kalau diomelin tapi ngga dikawinin.
Mereka berjalan masuk kedalam rumah dan langsung menuju ruang santai dengan saling menautkan jari jemari tentunya. Danendra yang masih belum melepas kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya, aura kemachoan tidak bisa terelakkan lagi tentunya. Sangat memberi kesejukkan mata siapapun yang melihatnya. Dilengkapi dengan style ala Danendra yang simple, celana jeans belel, kaos hitam polos tanpa gambar atau tulisan apapun, sepatu sneakers putih polos juga sungguh sangat memanjakan mata para wanita dimanapun yang menatap meronta dan mendamba.
"Hallo mam, tambah cantik dehhhh" sapa Danendra yang langsung tertuju ke calon mama mertua dengan begitu beraninya. Ya beranilah karena sudah sangat dekat hubungan mereka, seperti halnya Bilandra ke ayah dan bunda.
"Hallo anak ganteng mama, aduhhh aduhhhh tambah keren dehhh, ganteng juga, hitam juga iya, hmmm wangi juga selalu" jawab mama Udi yang tidak segan - segan memuji pacar sang anak sulungnya, meski terselip bullying akan warna kulit yang justru jadi point penting anak sulungnya jatuh cinta pada Danendra.
Dan tanpa aba - aba Dananedra sudah salim dan memeluk penuh sayang mama pacarnya, semoga beneran jadi mama mertuanya. Dengan tidak melepas gandengan tangannya, Danendra tetap memeluk penuh kehangatan. Mama Udi yang tidak punya anak kandung laki - laki tentunya sangat bahagia diperlakukan istimewa dengan anak laki - laki keluarga Herlambang yang sampai detik ini belum membuat dia dan keluarga tentunya kecewa.
"Ya ampun dilepas dulu tangannya itu, mana ada sihhh salim, meluk orang tua kok ya masih aja gandengan gitu, mau nyebrang kalian" celetuk bunda Ara yang keluar dari dapur dengan membawa minuman dingin dan snack kesukaan keluarga besarnya.
"Aduhhh mbak kenapa jadi bucin gitu" sahut mama Udi yang melepas pelukan Danendra sembari mengusap lengan Danendra yang tidak dikuasai Bilandra.
"Udah .. Udah jangan jealous gitu dech bunda dan mama aku yang tercinta, kayak ngga pernah muda aja dehhh" potong Danendra sebelum perbincangan semakin dalam dan absurd.
"Baru sampai mas, kena macet ya" lanjut ayah Ais mengubah topik pembahasan.
__ADS_1
"Iya yah, keluar dari pom langsung deh kena macet, ayah udah ngga kelihatan juga" jawab Danendra sembari duduk disamping sofa yang diduduki ayah Ais. Gandengan udah dilepas cuma ganti dengan rangkulan hangat di leher Danendra dari belakang sofa, tentu saja rangkulan Bilandra yang belum ingin jauh - jauh dari Danendra.
"Papa sudah sibuk di caffe ya ini?" lanjut tanya Danendra yang tidak jelas ditujukan kepada siapa. Siapa saja yang menjawab berarti dia yang lagi fokus, kalau yang ngga njawab berarti lagi sibuk.
"Iya mas, papa sudah dari pagi di caffe, kamu jadi nyusul papa?" jawab ayah Ais. Yahhh ternyata ayah Ais yang menanggapi dikarenakan bunda dan mama sibuk menyiapkan makan siang, Bilandra sibuk mainan rambut pacarnya alias Danendra, Raka dan Abhinaya tentunya sibuk nguyah sambil nonton film kesukaan mereka.
"Iya yah, kasian papa, bentar lagi mas ke caffe. Kamu sekalian atau mau sama yang lain aja Ji" Danendra menjawab pertanyaan ayah Ais dan dilanjut bertanya ke Bilandra.
"Aku sama kamu dong Bi, kan pasangan bucin lain juga dari siang udah di caffe, ngga tau buat bantuin apa ngerecohin hehehe" jawab Bilandra sekaligus memastikan jika para sahabat sudah akan stay di caffe buat prepare grand opening.
"Okelah kalau begitu, sehabis makan siang kita on the way ke caffe ya sayang akuuuu" jawab Danendra dengan sangat gemas ke Bilandra.
"Ayah nanti sama yang lain sore ya, ayah habis ini ada zoom meeting sebentar" imbuh ayah Ais memberi penjelasan.
"Iya yah, lagian biar tuhh duo kurcil bobok ciang dulu, biar ngga rewel nanti di acara" sahut bunda Ara dari dapur.
"Ya sudah yukkk sekarang makan siang dulu, sat set sat set ngga pakek lama biar semua sesuai rencana" lanjut mama Udi memberi perintah dengan cara sat set sat set nya.
Tanpa bantahan lagi, ayah Ais, Danendra, Bilandra, Raka dan Abhinaya berbondong - bondong ke ruang makan untuk sat set sat set makan siang, hehehe.
__ADS_1
Seperti yang sudah menjadi adat, mereka makan tanpa ada perbincangan dalam topik apapun. Yang ada hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Mereka sangat menikmati makan siang bersama tapi sayangnya tanpa papa Iyo yang sedang sibuk dengan grand opening caffe.
Setelah makan siang, sesuai plan, ayah Ais zoom meeting dengan para relasi nya. Bilandra lanjut bersiap - siap untuk berangkat ke caffe. Danendra sambil menunggu Bilandra santai dulu di ruang santai sambil nonton televisi. Mama Udi dan bunda Ara sudah menidurkan duo kurcil.