
"Harusnya aku tidak biarkan sayang ini menjadi cinta yang terus berbunga indah dihati. Membayangkan yang awalnya aku lakukan dan lama-lama semua rasa ini selalu aku semogakan dalam doaku. Salahkah aku mencintai kamu Ndra? Tentu hak ku mencintai siapapun laki-laki dimuka bumi ini dan sebaliknya hak kamu untuk tidak menerima cinta ini, dan hak mu untuk mencintai wanita lain di muka bumi ini. Tapi kenapa rasanya sakit, bahkan jauh lebih sakit dari waktu dulu kamu tidak merespon ungkapan sayang aku ke kamu. Tuhan aku tidak mau rasakan rasa ini, cinta yang besar begitu juga benci yang muncul sama besar." Lingga yang bermonolog dengan hatinya yang sedang sakit.
"Ngelamun mulu, buruan dihabisin makanannya biar cepetan pulang" gertak Kavi yang melihat Lingga hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa menyuapkan satu sendokpun ke mulutnya.
"Ah iya ... Kamu Kav bikin kaget saja" Lingga yang kaget dengan gertakan Kavi yang tidak keras sama sekali suaranya. Hanya saja jiwa dan raga Lingga lagi ngga kompak jadi kaget aja diajak omong.
Tidak sampai sepuluh menit Lingga sudah memghabiskan makanannya begitupun dengan Kavi yang sudah selesai lebih dulu. Tanpa menyapa Danendra dan keluarga besarnya, Lingga langsung menuju mobilnya diikuti Kavi yang berjalan disamping seolah menutup badan Lingga supaya tidak terlihat oleh siapapun, khususnya Danendra.
Yah itu yang Lingga mau tanpa berucap Kavi sudah menangkap maksudnya. Mungkin sudah cukup shok terapi untuk Lingga untuk hari ini. Semua terlalu menohok dan sakit sekali terasa.
__ADS_1
"Langsung pulang kita kak" tanya Kavi yang sudah duduk dibelakang kemudi.
"Iya Kav kita arah pulang tapi kalau bisa putar-putar dulu ya, aku pengen curhat sama kamu" jawab Lingga yang kembali tidak bisa menahan air matanya. Mengalir begitu saja tetesan air matanya.
"Akhirnya kamu yang membuka sendiri kak, ceritalah sepuas kamu, sampai sakit itu setidaknya tidak begitu menyayat hati kamu. Sungguh aku tidak rela kamu seperti ini, menangis karena cinta tang bertepuk sebelah tangan. Sedang aku disini tulus mencintai kamu" batin Kavi yang tetap fokus dengan kemudinya.
Kavi adalah anak angkat dari tante dan om nya Lingga yang memang tidak mempunyai keturunan dikarenakan kecelakaan yang pernah tantenya alami. Kecelakaan yang mengakibatkan rahim tantenya Lingga diangkat. Tantenya ini adalah adik satu-satunya papi nya Lingga. Dan karena kecelakaan itu, tante dan om nya Lingga mengambil Kavi untuk diadopsi sejak Kavi berumur dua minggu. Perihal adopsi ini sudah diketahui Kavi sejak satu tahun yang lalu lebih tepatnya saat Kavi masuk SMA. Usia Kavi dan Lingga sama, hanya beda bulan saja dan kebetulan lebih tua Kavi.
Tetapi Kavi harus pendam semua saat Lingga justru menyimpan sayang untuk teman sekolahnya, Danendra Wicaksana. Dia hanya sebagai pendengar setia pengorbanan Lingga dan sayangnya yang semakin hari semakin besar menjadi cinta yang luar biasa. Tanpa Lingga tahu semua itu juga membuat Kavi sakit hati. Kavi hanya bisa memendam semua rasa, dia cukup bahagia saat tawa tercipta disudut bibir Lingga. Saat matanya terpancar rasa sayang yang sebenarnya Kavi harap itu semua untuk dirinya. Jikalau itu adalah rasa untuknya tentunya akan dia buat Lingga bahagia lahir batin tanpa rasa sakit yang Lingga rasakan sekarang ini.
__ADS_1
Dan malam ini untuk pertama kali Kavi melihat Danendra langsung walau belum sempat berkenalan. Dan malam ini pula untuk pertama kali Kavi melihat Lingga hancur sehancurnya. Lingga yang ceria musnah sudah.
"Mau cerita apa sih kak" jawab Kavi secuex mungkin agar tidak terbawa suasana hatinya juga.
"Itu tadi Danendra, Danendra Wicaksana laki-laki yang membuat aku tergila-gila. Cinta pertama sekaligus cinta ku yang bertepuk sebelah tangan. Dan tadi cewek cantik yang beruntung adalah Bilandra. Pacar Danendra yang aku juga baru tahu kalau ternyata Danendra si cuex itu bisa juga mendamba begitunya untuk cewek." cerita Lingga begitu saja dengan tatapan kosongnya.
"Sebenarnya sore tadi aku ketemu mereka di supermarket dekat komplek nya eyang. Kaget sih ketemu Danendra ada dikota ini, secara kan tidak pernah namanya Danendra keluar kota kalau hanya untuk main. Dia terlalu sibuk dengan coffe shop nya. Tapi tadi aku dibuat terkejut karena dengan bahagianya dia menunggu seorang cewek yang sibuk belanja yang pastinya itu hal yang bosenin buat Danendra yang waktu adalah emas menurut dia.Kalau ngga sekolah ya pastinya dia akan fokus sama bisnis yang dia rintis." sambung cerita Lingga dengan sesekali dia menarik nafas panjang untuk menghalau airmata yang akan turun bebas tanpa kontrol.
Kavi yang sudah memeberhentikan mobilnya dan serius mendengar cerita Lingga hanya bisa menarik nafas panjang. Dia belum mau mengeluarkan suaranya untuk menenangkan. Kavi biarkan Lingga mengeluarkan semua unek-unek dihatinya supaya Lingga jauh lebih baik.
__ADS_1
"Sakit ya Kav, cinta bertepuk sebelah tangan itu ternyata sesakit ini. Aku kira Danendra tidak sempat memberikan hatinya untuk cewek manapun. Aku kira waktu dia sudah habis untuk study dan bisnis dia, tidak tertarik untuk membina hubungan ya walau hanya sahabat dekat mungkin. Ternyata aku salah Kav, bukannya dia tidak sempat atau tidak mau tapi dia belum menemukan seperti Bilandra, pacarnya yang sekarang." Lingga terus mengeluarkan semua unek-unek dihatinya sampai tidak sadar jika mobil yang mereka naiki hanya diam berhenti di bahu jalan. Dan tentunya ada Kavi yang diam mendengar semua ceritanya tanpa mampu menatap karena airmata yang keluar dari mata indah Lingga adalah kesakitan menurut dia.
"Seharusnya aku tidak boleh seperti ini, apa hak aku buat marah?Aku bukan siapa-siapa nya Danendra. Aku hanya salah satu temannya. Atau aku adalah satu dari sekian banyak cewek yang punya rasa yang sama denganku untuk Danendra. Dan serunya, sama-sama tidak dianggap. Tapi kenapa dia masih baik, ahh mungkin aku saja yang terlalu berharap dengan kebaikan dia, padahal itu sama saja untuk teman-teman yang lain. Senyum itu aku kira spesial untukku, keramahan itu akau kira perhatian dia untukku tapi aku salah. Ternyata aku lihat betapa mendambanya dia akan Bilandra. Tidak hanya senyum biasa, tapi matanya pun terpancar sayang dan cinta yang luar biasa. Semua tindak tanduknya adalah bukti cintanya untuk Bilandra yang tidak pernah Danendra lakukan untuk kita teman ceweknya." masih terus Lingga bercerita apapun yang dia rasakan.