Cinta Tidak Selesai

Cinta Tidak Selesai
Chapter 15


__ADS_3

Duduk dikursi pantai yang panjang, tangan saling bertaut, mata sama-sama menatap lembayung senja yang memberi keindahan.


 


“Senja itu sangat indah, senja tidak pernah ingkar janji, senja memberi ketenangan, kedamaian dan rasa syukur. Aku ingin kamu seperti senja, hanya satu yang jangan kamu tiru, senja hanya sementara, meski setiap hari hadir” Bilandra mengutarakan isi hatinya dan harapannya akan hubungan asmaranya dengan Danendra.


 


“Semampuku akan melengkapi mu agar kita utuh” Danendra pun mengutarakan niatannya untuk hubungan yang baru dijalin.


 


Semakin mengeratkan genggaman setelah sama-sama mengutarakan isi hati masing-masing.


 


Cinta pada pandangan pertama ala Danendra dan Bilandra. Masih terasa sangat manis, walau terbuai dalam hati masing-masing tetap harus realistis. Bukan cinta buta tapi cinta yang nyata dengan rasa saling yang mencoba mereka bangun.


 


Senja sudah pulang, malam pun datang.


 


“Mas, udah berdua-duaanya, sayang-sayangnya” goda bunda Ara yang sudah berdiri dibelakang Danendra dan Bilandra duduk.


 


“Yahhh bunda lagi bunda lagi, lagi lagi kok bunda” jawab Danendra yang selalu merasa tertangkap basah berduaan dengan sang pacar.


 


“Lhahh terus siapa lagi kalau bukan bunda, emang kamu kenal sama penduduk sini selain ayah, bunda, Raka” kali ini bunda yang berseloroh.


 


“Sudah..sudah, pasti bunda mau ngajak kita makan malam kan bun” lerai Bilandra biar tidak semakin memanas perbincangan bunda dan anak laki-lakinya.


 


“Betul sekaliiii, kalian pasti sudah lapar bukan” tanya bunda meyakinkan.


 


“Iya bunda, lapar banget Bilandra, ayok kita makan” jawab Bilandra sekalian mengajak sang pacar dan sang calon bunda mertua.


 


Dengan menggandeng tangan bunda dan Danendra, Bilandra mengajak mereka menuju resto. Dan sudah dipastikan disana sudah menunggu ayah Ais dan Raka. Apalagi Raka sudah mengeluh lapar dari sore tadi selesai mainan kano.



“Hmmm so yummy” komentar Bilandra melihat menu yang sudah tersaji di atas meja. Sungguh menggugah selera. Perut nya sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Meronta-ronta minta diisi.


 


“Ayok duduk kita makan bersama” ajak ayah Ais melihat istri, anak lelakinya dan calon anak mantu yang ayu sudah sampai di meja resto.


 


Tanpa basa basi lagi, mereka makan malam bersama. Ritual yang selalu sama, tidak ada suara, yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring mereka masing-masing.


 


Tidak butuh waktu lama, hidangan yang tersaji ludes tidak bersisa. Bahkan Raka sudah menghabiskan dua porsi lobster ukuran besar seorang diri.


 


“Sudah kenyang” suara ayah Ais memecah keheningan sesaat mereka.


 


“Raka juga yah” sambung Raka dengan mengelus perut buncitnya dan menyenderkan badan di kursi.


 


“Dasar gendut, iya kenyang lah dua porsi sendiri di embat, kalau masih belum kenyang itu perut apa karung” Danendra mulai menggoda sang adik dengan mulut jahilnya.


 


“Hmmm biarinnnnn” sewot Raka yang selalu terpancing dengan selorohan masnya.


 


“Udah ... udahhh baru aja akur udah mulai lagi, pusing bunda dengarnya” lerai bunda ke dua jagoannya yang akur hanya sesaat.


 


“Iya ihh bi, masih aja kayak bayi godain Raka mulu” tambah Bilandra mendukung komentar bunda Ara.


 


“Sebentar.. sebentar tadi kamu panggil apa?” tanya bunda Ara yang mulai gagal fokus karena mendengar panggilan Bilandra ke Danendra.


 


“Bunda ihhh keppo” sahut Danendra sambil mengambil minumannya.


 


“Ya keppo dong, kayak adem gitu dengar Bilandra memanggil kamu pakai panggilan tadi, apa tadi? Bi?” bunda Ara semakin keppo, padahal sudah tahu jawabannya apa. Tapi bukan bunda kalau tidak menanyakan sesuatu yang bunda sudah tahu jawabannya.


 


“Bunda itu adalah ratu keppo, kayak kalian ngga tahu aja” ledek ayah Ais yang membenarkan komentar anak lelakinya, kalau istrinya memang rasa ngin tahu nya tinggi sekali, diatas rata-rata.


 


“Bunnnn aku ngantuk” akhirnya suara Raka mengakhiri pertikaian perkeppoan bunda. Terus menguap membuat bunda tidak tega dengan anak bungsunya.


 


“Kamu kalau udah kenyang ya auto ngantuk nak” bunda Ara mengelus kepala Raka yang sudah disandarkan di pundak bunda Ara.


 

__ADS_1


“Ayokk balik ke balkon kamar aja sambil ngobrol, biar bunda juga bisa nemenin Raka tidur” ajak ayah Ais ke pasukannya. Dan langsung diikuti tanpa ada bantahan.


“Aku sudah tidak kuat jalan ayah, gendong” rengek Raka yang enggan berjalan sendiri menuju kamar. Perut yang super kenyang dan mata yang sudah seperti lampu lima watt, remang-remang membuat dia tidak kuasa melangkahkan kakinya.


 


“Yaelah si gendut pakek ogah jalan lagi” seru Danendra menimpali.


 


“Sini sinii, ayah gendong belakang ya” ayah Ais menjongkokkan tubuhnya untuk selanjutnya dinaiki tubuh gempal si anak bungsu.


 


“Untung ayah masih kuat, belum osteoporosis nak” komen bunda Ara sambil menahan tawa. Dan tangannya mengelus punggung anak bungsunya yang sudah menempel dipunggung ayah Ais.


 


Bilandra dan Danendra hanya bisa menggeleng kepala melihat sang adik yang tidak mampu melangkah lagi.


 


Seperti biasa dan sudah menjadi kebiasaan tangan Danendra dan Bilandra saling bertaut, erat dengan ibu jari Danendra mengusap lembut punggung tangan Bilandra.


 


Mereka berjalan di belakang ayah dan bunda, tentunya Raka yang udah nangkring di punggung ayah dengan mata terpejam.


 


“Ayah, bunda aku sama Bilandra jalan-jalam sebentar ya, sambil buang lemak” ijin Danendra kepada ayah dan bundanya.


 


“ Iya sayang, tapi jangan lama-lama ya, kita ngobrol sebentar nanti buat nentuin rencana selanjutnya” jawab ayah Ais.


 


Memilih jalan lain untuk berduaan dengan si pacar, Danendra semakin mengeratkan genggamannya.


 


“Ji, terimakasih ya sudah tiba-tiba datang dan menghujani aku dengan sayang” Danendra membuka suara memecah keheningan.


 


“Terimakasih sama Tuhan Bi, karenaNyalah kita dipertemukan dan sama-sama merasakan cinta, cinta pada pandangan pertama” Bilandra menjawab dengan  lembut dan senyum yang tidak pernah surut.


 


“Sekarang kita jalani saja ya Bi, kita nikmati liburan ini, kita rajut setelah ini karena nanti LDR bakal kita rasain” tatap nanar Bilandra menembus manik mata hitam laki-laki yang dia sayangi, sangat.


 


“Hmmmm akan banyak liku nanti, but i trust you” bisik Danendra dan memanggut bibir mungil, ranum berwarna peach itu, apalagi kalau bukan bibir Bilandra.


 


Saling memanggut, saling *******. Danendra sudah merangsuk masuk ke rongga mulut Bilandra, sama-sama terbuai. Danendra melepas sesaat saat dirasa oksigen sudah habis, tidak lama kembali di rengkuh tengkuk sang pacar, kembali ******* si kenyal-kenyal yang sudah menjadi candu baginya.


 


“Kita kembali lagi tulis cerita, disini ada kebahagiaan kita, ada sayang dan ketulusan. Harapku akan banyak cerita kita tulis, dan harapku akan banyak canda tawa, janji selalu bahagia ya Ji” ucap tulus Danendra setelah melepaskan ciuman yang memabukkan.


 


“Semoga Tuhan mengijinkan” sambung Bilandra dan memeluk erat tubuh tinggi tegap laki-laki yang disebutnya pacar.


 


“I Love You” bisik Danendra.


 


“I Love You Too” balas bisik Bilandra.


 


Saling memeluk, menyalurkan energi positif yang menguar. Kebahagiaan pasangan yang baru saja berkomitmen menulis cerita di lembar hidupnya.


 


Mereka sadar akan banyak cerita nanti, akan ada cerita sedih, akan ada cerita amarah, akan ada cerita tawa pastinya, tapi mereka bertekad akan tetap menulis bersama.


 


Terhanyut dalam lamunan masing-masing. Mulut yang terdiam tapi mata saling tatap dan saling berbicara.


 


“Hmm ayah pasti sudah nungguin, ayok kita balik ke kamar” ajak Danendra memecah lamunan indah mereka.


 


Tidak menjawab, Bilandra berdiri dan berjalan bergandengan dengan Danendra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Sampai di balkon kamar sudah ada ayah dan bunda yang terlihat sedang video call dengan hebohnya.


 


“Nahhh itu mereka mam dua sejoli yang lagi dimabuk asmara” bunda Ara berbicara dengan lawan video callnya dan mengarahkan kamera ke Danendra dan Bilandra yang berjalan perlahan dengan senyum mengembang.


 


“Haduhhhh haduhhhh ada yang lagi kasmran ternyata ya bun, lihatlah pap anak gadismu sudah gandengan sama cowok ganteng” balas mama Udi nun jauh disana, disertai gelak tawa para tetua yang geli melihat muka tanpa dosa anak-anak mereka.


 


“Uhhhhhhh bunda lagi video call mama yaa” Bilandra yang sadar dari tadi sudah jadi objek ke ghibahan orang tua mereka berlari kearah bunda yang memegang iphonenya. Melepas begitu saja genggaman tangan Danendra.


 

__ADS_1


“Awas ahh jangan lari-lari nak, iya ini mama sama papa, ada yang lupa ngga berkabar lho karena lagi mabuk kepayang” canda bunda Ara yang kembali diikuti gelak tawa para orang tua.


 


Tidak mengindahkan ejekan bunda Ara, Bilandra langsung duduk di dekat bunda Ara dan tersenyum bahagia melihat mama papanya di layar iphone bunda Ara. Mama papanya tersenyum lebar melihat sang putri ayunya yang sehat dan kelihatan happy sekali.


 


“Untung bunda udah save nomor mama, jadi ngga perlu nunggu si cantik ini berkabar dengan mamanya, jadi tetap update ya mam, kayak berita bahagia ada yang udah jadian juga” goda bunda Ara lagi.


Auto blushing Bilandra menahan malu di depan semua.


 


“Ihhhh bunda, aku kan malu” jawab Bilandra sambil menunduk.


 


“Ngapain malu kan emang bener kita jadian” suara Danendra menggelegar. Danendra yang sudah membungkukkan tubuhnya supaya bisa masuk frame video call itu.


 


“Hallo mam pap, apakabar?” sapa Danendra lagi.


 


“Oh iya maafkan aku ya mam pap, aku belum memberi tahu kalau cinta aku diterima dong sama putri ayu mama papa” sambung Danendra lagi setelah sapaan tadi.


 


“It’s okay boy” kali ini papa Iyo memgeluarkan suara yang berwibawanya.


 


Bilandra yang semakin bingung dengan arah pembicaraan orang-orang disekelilingnya dan juga mama papanya yang nun jauh disana.


 


“Kok kayaknya ada sesuatu yang aku belum tahu ya, bolehkah aku tahu sekarang” tanya Bilandra spontan dengan muka bingungnya.


 


“Ya ampun muka kamu kenapa jadi bingung gitu sih” komentar mama Udi yang menatap putrinya.


 


“Ehemmm” ayah Ais mengambil peran sekarang.


 


“Kasihan anak cantik kita ini, ayah saja yang jelaskan ya” tawar ayah Ais yang ditanggapi anggukan oleh lainnya.


 


“Kemarin sebelum Danendra mengutarakan isi hatinya ke kamu, dia sudah diskusikan dengan ayah, bunda, papa dan mama. Danendra sudah jujur dengan apa yang dia rasakan, dan intinya dia meminta ijin untuk mengutarakan ke kamu.” Jelas ayah Ais singkat padat jelas dan sepertinya dimengerti juga oleh Bilandra.


 


“Jadi kamu ijin semua dulu Bi” tanya Bilandra ke Danendra yang sudah duduk dilantai dibawah dia, ayah dan bunda.


 


“Iya” jawab Danendra mantab dengan anggukan kepalanya.


“Ihhh so sweet deh kamu Bi” ucap manja Bilandra yang reflek mengelus rambut kekasihnya dan terus tersenyum menatap mata lelaki yang telah memporak porandakan hatinya.


 


“Full surprise” ucap Bilandra lagi. Dan masih dalam mode terkejutnya.


 


“Berarti kalian tahu semuanya tanpa ada sisa” lanjut Bilandra yang masih belum puas bertanya akan keterkejutannya.


 


“Iya cah ayu” kali ini mama Udi yang mengiyakan.


 


“Mama papa juga awalnya kaget sekali, kalian baru saja bertemu, berkenalan dan langsung jatuh cinta” jelas mama Udi lagi dan diikuti anggukan papa Iyo.


 


“Tapi papa salut sama gentlenya masmu itu, dewasa itu bukan angka cah ayu, dewasa adalah pilihan dan cara. Danendra telah membuktikannya” sahut papa Iyo yang salut dengan sikap Danendra.


 


“Papa mama, mungkin sama juga dengan ayah bunda titipkan kepercayaan kepada kalian, kalian sudah saatnya merasakan apa itu cinta dan beruntungnya kalian merasakan cinta pada pandangan pertama. Jaga yang harus kalian jaga ya mas mbak. Khususnya papa, papa berusaha percayakan anak gadis papa ke kamu mas Danendra” petuah papa Iyo dengan lembut, tegas dan berwibawa. Dan itu diamini oleh mama, bunda dan juga ayah.


 


“Ayah bunda sepertinya sedikit berhasil membentuk kamu mas, kenapa sedikit karena masih banyak PR yang menanti, tidak hanya pembuktian ini tapi masa depan” imbuh ayah Ais melengkapi papa Iyo.


 


Bunda Ara dan mama Udi yang sudah tidak bisa berkata- kata lagi. Air mata bahagia dan bangga mengalir di kedua mata ibu itu.


 


Begitupun Bilandra yang sudah sesenggukan dipelukan bunda Ara.


 


“Udah ahhh jangan nangis, malah sedih-sedih gitu, aku kan akan memberi kamu tawa bahagia Ji” celoteh Danendra yang tidak ingin wanita-wanita yang berarti dalam hidupnya mengeluarkan airmatanya.


 


“Kita ngga nangis sedih kok, kita kan nangis seneng ya bun,mam” jawab Bilandra dengan nada manjanya, bikin gemes Danendra yang mendengar.


Malam kedua di The Menjangan menjadi saksi air mata bahagia Bilandra lagi.


 


“Terimakasih Bi, masih awal tapi kamu memulainya dengan indah, semoga Tuhan mengijinkan cerita kita berakhir bahagia” batin Bilandra dalam doanya.

__ADS_1



__ADS_2