
Dalam diam dimalam yang semakin larut membawa mereka dalam tidur dengan tangan yang masih menggenggam. Mungkin lelah membayangkan bagaimana nanti jarak akan memisahkan, kegiatan masing-masing yang pasti padat akan semakin membuat jauh diantara mereka. Entahlah bagaimana nanti, yang pasti akan sama-sama berjuang.
Pagi yang selalu indah di Pulau Dewata membuat rasa syukur tidak pernah henti. Seperti biasa sang bunda dan sekarang sudah dengan duet mautnya menyaksikan pemandangan pagi yang bikin uwuuu selain indahnya semesta adalah dua anak manusia yang saling mencinta tertidur pulas dengan tangan yang saling menggenggam erat seolah tak ingin dipisahkan.
“Beberapa hari ini pemandangan indah ini selalu memukau mam” bunda Ara yang berdiri tak jauh dari anak lelakinya dan calon menantunya sambil menyedekapkan tangan didepan dada.
“So sweet bun” mama Udi tidak kalah takjub. Walau dalam tidur mereka tidak mau jauh. Semoga semesta pun merestui sehingga nanti mereka memang menjadi satu tanpa terpisahkan kecuali maut, otomatis doa itu terucap dalam batin seorang mamam Bilandra.
Dua ibu yang hanya terdiam larut dalam lamunan masing-masing dengan tatapan mata sama tertuju pada anak lelaki dan anak perempuannya. Satu hal yang sama terbelit dalam benak mereka, anak lelaki dan anak perempuannya sudah tumbuh dewasa. Sudah sampai fase menemukan lawan jenis yang membuat mereka nyaman. Tugas orang tua mengarahkan.
“Ahh aku kok malah mellow ya bun” lanjut mama Udi sembari mengusap airmata yang sudah menetes sedari tadi.
“Hmm sudah besar mereka, sudah menemukan siapa yang pantas diperjuangkan dan aku sebagai ibu merestui pilihan putraku. Mama sendiri bagaimana?” bunda Ara menanyakan pendapat mama Udi.
“Walau masih sangat awal kami mengenal Danendra dan keluarga bunda, aku pribadi respect dengan kalian. Semua terlihat tulus dari pancaran mata kalian. Apapun yang terjadi nanti aku harap tidak memutus tali silaturahmi kita ya bun” harapan mama Udi tulus dari dalam hati.
“Pastinya mam, kami sekeluarga bahagia sekali bisa dipertemukan dengan keluarga mama Udi” bunda Ara menjawab dengan saling berpelukan dengan mama Udi.
“Ehemmm” dehemam khas suara bariton bapak-bapak mengganggu pelukan dua ibu-ibu yang mellow dipagi hari.
Kompak bunda Ara dan mama Udi menengok ke sumber suara ternyata sudah ada dua bapak-bapak yang kompak berdehem melihat istri-istri mereka pagi-pagi sudah drama pelukan, pakai nangis lagi.
“Ada apa ini pagi-pagi sudah mellow ibu-ibu” papa Iyo mewakili ayah Ais yang juga keppo ada tragedi apa pagi ini.
“Sini deh pap” jawab mama Udi.
Tanpa banyak tanya bapak-bapak itu nurut dengan instruksi ibu-ibu.
“Oalah gituan bikin mewek pagi-pagi” gantian ayah Ais yang berkomentar sambil melihat anak-anak tidur.
“Orang anak tidur aja kok heboh sih mam” tambah papa Iyo dengan enteng tanpa ekspresi.
“Gini ini nihhhh bun bedanya emak sama bapak” sewot mama Udi.
__ADS_1
“Bener mam, bisa gitu ya” tambah bunda Ara sewot.
Tanpa keterangan lebih lanjut ibu-ibu berlalu begiti saja menuju dapur buat nyiapin sarapan pastinya.
Saling tatap para bapak-bapak dan mengangkat bahu mereka dan berlalu begitu saja ke ruang TB alias ruang santai, ditemani kopi yang disediakan para ibu-ibu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar matahari yang perlahan terik menusuk mata, perlahan dua anak manusia yang kasmaran dan sudah dua malam ini tidur didepan kolam membuka mata. Tangan yang masih bertaut dan belum ada niatan untuk melepas satu sama lain.
“Selamat pagi Ji, bobok di tepi kolam lagi kita” sapa Danendra dengan suara khas orang bangun tidur.
“Selamat pagi Bi, hmmm kasihan ya kasur empuk itu dicuekin mulu dari kemarin” jawab Bilandra sambil mengusap lembut pipi Danendra.
“Berenang yuuk, langsung byurrr aja”ajak Danendra sekaligus menarik Bilandra masuk ke kolam renang.
Byuuurrrrrrr
“Apaan itu bun” sontak mama Udi kaget tiba -tibaa terdengan suara orang loncat ke kolam renang.
“Oalah bocah bocah kok ya ada aja sih tingkahnya” omel mama Udi sembari berjalan ke arah kolam.
“Ya ampun udah sampai ujung aja, bangun tidur cuci muka dulu kek, sikat gigi dulu malah langsung njebur aja” omel mama Udi yang sudah berdiri tegak ditepi kolam.
“Ini nihh mam, Mas Danendra main tarik aja” teriak Bilandra membela diri.
“Biar sekalian mam, sekalian basah maksudnya” sahut Danendra sebelum disalahkan lebih lanjut.
“Sarapan dulu sih mas, mbak baru berenang biar ngga sakit” timpal bunda Ara yang sudah berdiri tegak juga disamping mama Udi.
“Iya bun, mam” jawab kompak Danendra dan Bilandra.
Sarapan pagi bersama semakin seru dengan personil lengkap. Walau rempong tapi kalau sudah di meja makan mereka tenang tanpa riuh gegap gempita.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu di meja makan, Danendra, Bilandra, Raka Abhinaya lanjut berenang. Kali ini mereka dapat mandat menjaga adik-adik berenang.
Selesai sarapan dan siap-siap para orang tua sudah siap dengan kostum rapinya siap untuk jalan-jalan.
“Abhinaya, Raka jadi ngga ke Bali Zoo nya, kalau jadi buruan ayo siap-siap” ajak mama Udi.
“Yeeee jadi mam, ayo mas Raka buruan kita siap-siap nanti ditinggal” ajak Abhinaya yang sudah akrab dengan Raka tanpa drama.
“Mam, kita ngga diajak apa, jahatnya” celetuk Danendra.
“Beneran mau ikut, kalau mau ya ayo, tapi yakin ngga mau quality time berdua aja nih, tinggal semalam lho besok udah LDR dech” goda mama Udi dengan senyum devil nya.
“Hmmm ngga jadi ikut mam, buruan aja gih pada pergi” sontak Danendra cepet dengam mimik muka serius.
“Lhah apa maksudnya ini” Bilandra dengan lugunya berkomentar sambil lihat ke mama dan Danendra bergantian.
“Iya kan kita mau jalan berdua sayang, kita explore berdua biar banyak kenangan indah” jawab Danendra dengan mimik muka berseri-seri.
“ Ya udah kalau gitu, mas bawa motor ya, mobil ayah yang bawa terus nanti kita makan malam di Jimbaran ya” sahut Ayah Ais dan disamping sudah lengkap personil siap buat jalan.
“Oke yah, take care ya, nanti mas wa ayah” jawab Danendra sambil keluar dari kolam renang diikuti Bilandra.
“Bye” kompak mereka meninggalkan dua sejoli di resort.
Sepeninggalan rombongan, Danendra dan Bilandra melanjutkan berenangnya. Tepat pukul sembilan waktu Bali mereka selesai acara berenangnya.
“Ji siap-siap gih kita jalan” ajak Danendra sambil menarik tangan Bilandra dari dalam kolam.
“Oke Bi, kita mau kemana Bi” jawab Bilandra sambil berjalan menuju kamar.
“Udah jalan aja tar tahu sampai mana” jawab Danendra sambil ngeloyor ke kamarnya buat mandi dan siap-siap.
“Hmm dasar cueknya minta ampun, untung aku sayang” gumam Bilandra.
__ADS_1
Cukup lima belas menit Danendra dan Bilandra sudah siap untuk menciptakan kenangan indah, kenangan mereka berdua yang tidak akan terlupakan.