
Farell melihat Arini tengah duduk namun dengan kepala menunduk menatap rumput di bawah nya..Farell mendekati Arini yang tampak sekali tengah bersedih dengan keadaan nya.
"Hey gadis nakal jangan cengeng dong" ujar Farell membuat atensi Arini terpecah dan mendongak menatap Farell yang tepat berada di depan nya.
"Kaka ngapain ke sini?" tanya Arini masih dengan sisa air mata nya yang mengalir.
"Tidak ada larangan kan buat Kaka mau kemanapun..jadi suka-suka Kaka lah mau kemana" jawab Farell dengan santai nya duduk di samping Arini.
"Ya udah Arini masuk dulu.. permisi ka" pamit Arini namun langsung di cekal oleh Farell.
"Lepas ka..aku mau ke kamar" Arini memberontak namun tenaga nya kalah dengan Farell jadi dia hanya bisa pasrah menurut.
__ADS_1
"Diam atau Kaka bawa ke kantor catatan sipil" ancam Farell yang langsung mendapatkan pelototan dari Arini.
Farell terkekeh melihat ekspresi Arini yang sedang kesal karena dia berhasil memaksa nya agar tetap duduk di samping nya.
"Arini..Kaka mau kita menikah..jangan pikirkan tentang dirimu tapi pikirkan tentang janin yang sedang tumbuh di rahim mu..Kaka nggak ada niat jahat sedikitpun,kau tau mommy Davina juga pernah mengalami hal seperti mu karena Daddy ku dan aunty Weny dengan tangan terbuka menerima nya bahkan menganggap aku yang saat itu masih dalam kandungan mommy Davina sebagai keponakan nya,bahkan aunty Weny sangat menjaga mommy Davina dengan segenap hati..ijinkan Kaka melakukan hal yang sama dengan aunty Weny,jangan anggap niat kaka hanya sebagai bentuk rasa kasihan anggap lah kaka sebagai pria yang ingin menikahi kekasih nya..kakak janji akan menyayangi anak itu sebagai anak kandung Kaka sendiri..pikirkan lah nasib nya jika harus lahir tanpa ayah,dengan kita menikah maka status nya akan jelas di mata hukum dan jika ayah nya kelak muncul maka dia tidak lagi memiliki hak untuk mendapatkan hak asuh atas nya..jadi maukah kamu menikah dengan Kaka dan mengijinkan kakak menjadi ayah dari dia?" jelas Farell sedikit memberikan pengertian pada Arini agar Arini memikirkan lagi semua nya.
Arini tak bergeming..dia hanya diam namun air mata nya menetes dari pelupuk nya..sekarang dia benar-benar malu berhadapan dengan Farell yang dengan suka rela ingin menjadi ayah dari anak yang jelas-jelas belum tau asal nya dari mana.
Farell menghembuskan nafas nya panjang..dia tau sifat gadis di samping nya sangat keras kepala.
"Rini..Kaka kasih kesempatan sekali lagi biar kamu nggak egois terhadap anak mu..niat Kaka cuma agar anak mu punya status yang jelas dan tidak di cemooh oleh orang lain..apa kamu nggak mikirin perasaan nya saat udah dewasa karena lahir tanpa seorang ayah bahwa asal usul nya pun dia tidak tau..kalau masalah cinta itu bisa tumbuh dengan berjalan nya waktu..pikirkan lah baik-baik Rini" jelas Farell memberikan sedikit pengertian lagi pada Arini yang masih kekeh dengan pendirian nya.
__ADS_1
Arini terdiam sejenak untuk memikirkan perkataan Farell..benar,jika dia egois pasti anak nya yang akan menderita jika sudah besar karena bertanya tentang ayah nya yang sama sekali tidak dia tau.
"Baik lah..aku mau kau.. terimakasih udah peduli sama Arini hiks" kata Arini akhir nya setuju untuk menikah dengan Farell.
Farell tersenyum dan memeluk Arini namun beberapa detik kemudian perut nya merasa sendiri di obok- dari dalam hingga dia tak kuat dan memuntahkan isi perutnya di samping kursi taman yang dia duduki.
"Hoekkkk... hoekkkk"
"Ka,Kaka kenapa..astaga apa Kaka sakit?" tanya Arini panik melihat Farell yang muntah-muntah.
"Nggak papa hoekkkk..Kaka cuma mual hoekkkk" jawab Farell dengan wajah yang memucat masih berusaha mengeluarkan isi perut nya.
__ADS_1