
"Arini akan menunggu Kaka membuka hati untuk Rini" batin Arini bertekad untuk menunggu Farell membuka hati nya.
"Apa kau mau makan sesuatu hm..sejak siang tadi kau belum makan dan anak kita perlu nutrisi agar dia bisa segera besar dan bertemu dengan kita" kata Farell menawarkan sesuatu sambil mengusap perut Arini dan menyebut bahwa anak itu adalah anak mereka.
"Ka..apa Kaka benar-benar akan menganggap anak ini adalah anak Kaka juga..apa Kaka sanggup menyayangi nya seperti anak kandung Kaka sendiri,dia bukan benih dari Kaka dan Arini juga tidak tau bagaimana bisa dia berada di perut Arini.. Arini__" belum selesai Arini berujar Farell sudah membungkam nya dengan ciuman singkat di bibir Arini.
Arini terdiam mendapatkan serangan mendadak dari Farell..mata mau berkedip-kedip berusaha mencerna apa yang baru saja Farell lakukan terhadap nya.
"Jangan pernah meragukan ku Arini..dia anakku dan akan selalu menjadi anakku meski memang benar dia bukan benih ku tapi dia tetap akan menjadi anakku..ingat dia anakku dan jangan pernah meragukan ku" kata Farell sambil mengusap bibir Arini yang tampak begitu menggoda di mata nya.
__ADS_1
Sekuat tenaga Farell menahan agar tak menyergap bibir manis istri nya itu..dia tak mau di anggap pria kurang ajar meski dia berhak tapi dia hanya tak mau Arini kecewa dengan sikap nya yang kurang ajar.
Arini hanya mengangguk dan menunduk berusaha menyamarkan rona merah di pipi nya..sungguh dia ingin sekali memeluk dan di manja oleh suami nya namun dia tak mau di anggap berlebihan dan malah membuta Farell semakain ilfil dengan nya karena tingkah nya itu.
"Maaf ka..ehmm Arini mau makan burrito saja dengan ekstra jamon dan mayonaise jangan lupakan saos nya..maaf apa Kaka mau membelikan nya untuk Arini?" tanya Arini setelah menyebutkan makanan apa yang ingin dia makan.
Farell tersenyum sekilas dan mengusap kepala Arini lalu bangkit keluar dari kamar tanpa sepatah kata pun dan membuat Arini menjadi salah sangka karena telah menganggap bahwa Farell terlalu dia repot kan.
Arini milih membaringkan tubuh nya di ranjang namun belum sempat dia merebahkan tubuh nya,perut nya tiba-tiba sedikit melilit dan nyeri..dia meringis saat perut nya terasa nyeri.
__ADS_1
"Arkshhhh..kamu kenapa nak..jangan begini sshhh" kata Arini sambil mengusap perut nya yang terasa melilit.
Arini menekan tombol di sisi ranjang..tak berapa lama kemudian dokter datang dengan seorang perawat.
"Ada apa nona..apa anda merasakan sesuatu?" tanya si dokter menatap Arini dan mulai mengeceknya.
"Perut ku seperti di remas dok sshhh..nyeri sekali" jawab Arini jujur dengan keadaan nya.
"Baik lah sebentar saya periksa dulu" kata si dokter lalu mulai memeriksa perut Arini dengan sangat hati-hati takut menyakiti Arini.
__ADS_1
Si suster membetulkan posisi infus yang sempat salah posisi dan menyebabkan darah keluar dari jarum infus nya.