
"Bagaimana dok,apa mereka baik-baik saja,tidak ada yang serius kan dok?" tanya Farell saat dokter telah keluar dari ruangan Arini yang baru setelah memeriksa keadaannya.
"Sejauh ini nona dan janinnya masih aman tuan,hanya saja jangan sampai ada kejadian seperti tadi lagi kalau tidak kalian benar-benar akan kehilangan janinnya..sekarang nona benar-benar harus istirahat total,kalau bisa saya sarankan agar di rawat di rumah saja untuk menghindari stres atau trauma efek kejadian tadi..kami selaku pihak rumah sakit juga meminta maaf karena telah lalai menjaga pasien" jelas si dokter dengan jujur dan meminta maaf atas kejadian tadi.
"Baiklah,saya minta tolong anda segera urus untuk pemindahan nya.. terimakasih dok" jawab Farell singkat lalu menuju kedalam ruangan Arini dan melihat Arini tengah berbaring dengan menutup mata nya mungkin efek obat penenang yang dokter berikan tadi.
"Maafin Kaka ya Rini,lagi lagi kakak gagal menjagamu,apa kakak pantas menjadi pendamping mu Arini..Kaka tidak yakin bahwa apa yang saat ini tengah terjadi pada kita..Kaka hanya merasa tidak berguna karena telah lalai menjagamu..maafin Kaka ya" kata Farell mengusap kepala Arini dengan sayang.
Farell memilih duduk di sofa sambil merenung, bagaimana kalau tadi dia terlambat menyelamatkan Arini mungkin Arini sudah di lecehkan oleh Rovan bajingan itu,dia tak bisa membayangkan bagaimana hancur nya Arini jika dia tadi terlambat.
Bahkan mungkin anak itu tidak akan selamat jika sampai hal mengerikan itu terjadi..ya tuhan Farell benar-benar merasa sangat tidak berguna di saat Arini membutuhkan nya.
__ADS_1
Saat ini Rovan sedang berada di tempat pengeksekusian milik Daddy nya Ken,dia tak lagi mampu membendung amarah nya karena Rovan benar-benar sudah melampaui batas.
"Hallo Miko,aku dan tugas untuk mu" kata Farell memberi perintah pada Miko asisten pribadi nya lewat saluran telepon.
"Saya siap bos" balas Miko selalu siap dengan perintah dari Farell.
"Ke tempat eksekusi dan habiskan tanpa sisa,ingat tanpa sisa" kata Farell dengan aura wajah nya yang sangat mirip dengan Ken saat tengah emosi.
Farell memutuskan sambungan telepon sepihak,dia kembali menatap Arini yang masih terlelap karena efek obat penenang yang dokter suntikan tadi.
Kemarahan masih tampak di wajah Farell namun sebisa mungkin dia kendalikan agar tidak kelepasan..dia ingin sekali menghabisi Rovan dengan tangan nya sendiri tapi dia tak akan mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Dia tak mau meninggalkan Arini lagi sendirian hanya untuk mengurus masalah sepele..cukup Arini terluka sampai di sini dan tidak akan dia biarkan Arini terkuak kembali.
#
#
"Apa semua sudah selesai by?" tanya Davina yang kini sudah selesai dengan semua persiapan untuk Arini agar di rawat di rumah utama.
"Sudah semua dan pihak medis juga sudah mengirimkan peralatan yang di butuhkan..ayo kita jemput mereka" ajak Ken pada istri tercinta nya setelah menjawab pertanyaan sang istri.
"Baiklah ayo by"
__ADS_1
Mereka menuju rumah sakit untuk menjemput anak dan menantunya..Davina sangat antusias untuk segera menjemput anak-anak nya..dia sudah tidak sabar untuk tinggal dengan mereka dalam satu umah agar dia juga bisa mengawasi Farell yang memang belum mencintai Arini.