
Rae baru saja masuk kelas ketika Emma sudah menyerbunya,
“Bebeb…kenapa kamu bolos jumat kemarin?” Celoteh Emma.
Seperti biasa Rae seketika tuli jika berhadapan dengan Emma. Dia sama sekali tak pernah meladeni gadis cantik tinggi semampai ini.
Suasana kelas masih sepi saat Rae tiba, hanya beberapa siswa saja yang tampak asyik ngobrol sambil menunggu bell pelajaran di mulai sekitar setengah jam lagi. Hari ini Rae berangkat lebih awal karena daddynya memakasa untuk mengantarnya dan dua adiknya ke sekolah, SMP dan SMA tempat Ry, Rei dan Rae masih satu lingkungan karena di bawah naungan Yayasan yang sama hanya di batasi oleh pagar saja.
“Daddy ingin bertemu sebentar dengan kepala sekolahmu.” Itu adalah alasan Raka saat memaksa anaknya itu satu mobil dengannya.
Rae adalah anak yang paling enggan jika harus di antar jemput atau menggunakan mobil, dia merasa lebih nyaman jika menggunakan motornya saja. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari perusahaan besar Rudiat-Wijaya Group, memang sedikit terlalu sederhana tetapi begitulah Rae, sejak dia masuk SMA tidak mau berangkat sekolah dengan mobil lagi.
Daddynya sudah memintanya memilih salah satu mobil mewah keluaran terbaru untuk hadiah ulang tahunnya ke 16 tahun, bertepatan dengan dia duduk di akhir semester pertama beberapa bulan yang lalu, dan sementara belum memiliki SIM maka dia di antar oleh sopir pribadi mereka. Tetapi, Rae menolaknya. DIa lebih tertarik dengan motor. Jadilah sekarang, Rae ke sekolah selalu mengendarai motornya itu semntara adik-adiknya selalu di antar jemput oleh sopir.
Hari ini pengecualian, sejak Raka di telpon oleh kepala sekolah yang juga adalah teman ayahnya itu, hari ini Rae terpaksa menerima untuk di antar. Dia tak ingin berdebat dengan sang ayah karena dia tahu telah membuat kesalahan di hari sebelumnya. Daddynya itu memang tak pernah menegur terlalu keras padanya tetapi jika daddynya itu marah maka rae tak akan berani mengangkat kepalanya, bukan karena dia takut tetapi lebih karena
dia merasa segan.
“Arka belum datang?” tanya Rae seolah pada dirinya sendiri ketika duduk di kusinya.
“Arka belum datang, boleh aku duduk di sini?” tanya Emma dengan centil, duduk di kursi yang biasanya diduduki oleh Arka.
Rae tak menanggapi dia sibuk mengeluarkan handphonenya, bermaksud untuk menanyakan posisi Arka.
“Beib, Kamu benar-benar nggak suka sama Luna?” Tanya Emma tiba-tiba.
Rae melirik kepada Emma sesaat, nama itu tiba-tiba membuat telinganya terasa memerah.
“Apa urusanku dengannya?”Rae menyahut tanpa ekspresi.
“Dia bilang, kamu adalah orang pertama yang gak dia sukai saat pertama kali menjejakkan kaki di sekolah ini.” Emma berucap dengan suara yang sedikit di buat manja.
“Memangnya dia kira, aku menyukainya?” Tiba-tiba Rae menanggapi
dengan kesal.
“Dia cantik lho, hari pertama aja sudah ada tiga laki-laki berburu nomor ponselnya dariku, kakak kelas lagi.” Celoteh Emma.
“Bukan urusanku!”
“Akh, akhirnya aku bisa bernafas lega, ternyata kamu nggak tertarik sama dia, seenggaknya aku gak perlu saingan sama Aluna untuk jadi pacarmu.” Emma terkikik sendiri.
__ADS_1
“Eh, tapi…aku heran deh, kenapa kalian berdua musuhan begitu. Ada apa sih dengan kalian berdua, dia ada nembak kamu, terus kamu tolak begitu?” tanya Emma dengan matanya yang membualat lucu.
“Halumu itu ketinggian, Ma…please otakmu itu di reset dikit.” Rae menyahut sambil geleng-geleng kepala.
“Padahal Emma itu selain pinter, baik juga, lho.” Celoteh Emma.
“Baiknya di mana? Tukang lapor, tukang julid iya.” Rae menggerutu, dia ingat benar, harus menerima ceramah sang daddy gara-gara laporan tak jelas dari Luna pada kepsek. Di hari pertama dia masuk sekolah saja, sudah membuat masalah dengan Rae.
“Dia sudah gantikan kacamata Amar yang pecah, pas pulang sekolah.”
Rae berbalik, menatap Emma dengan tatapan dingin.
“Dia menggantikan kacamata Amar?”
“Iya…kan kasihan juga Amar, dia gak bisa lihat kalau gak pake kacamata.”
“Aku tanya, si lebah itu menggantikan kacamata Amar?”
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Dia benar-benar sok dalam segala hal, dia kira aku tidak bisa menggantikan kacamata Amar?” Rae berdiri dengan wajah menahan jengkel luar biasa, bersamaan dengan itu Aluna baru saja masuk kelas dengan menenteng tasnya, rambutnya tidak di kuncir seperti terakhir Rae melihatnya tetapi di urai begitu rupa, membuat wajahnya yang terlihat imut itu menjadi beraura dewasa.
Amar berada di belakang punggung Luna dengan tertunduk, dia sebenarnya berada di kelas sebelah tetapi tampak menjadi dekat dengan Luna sejak kejadian di kantin itu.
Amar adalah anak dari salah satu ibu pelayan kantin di sekolah mereka. Dia bisa masuk sekolah favorit ini karena
memang berprestasi, dengan latar belakang keluarga yang sangat sederhana, hampir mustahil mampu membayar uang sekolah tetapi karena prestasinya, dia di rekomendasikan oleh pihak sekolah sebelumnya. Amar, satu dari beberapa siswa yang beruntung mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah.
Ketika kacamatanya pecah, Amar hampir menangis karena demi membeli kacamata itu dia harus menabung uang hasilnya membantu ibunya hampir tiga bulan mengantarkan kue pada beberapa pelanggan sang
ibu.
“Amar...!” Rae memanggil dengan suara yang di buat serendah mungkin. Amar mengangkat wajahnya.
Rae berdiri dan mencoba memanggil Amar mendekat padanya dengan canggung, dia sebenarnya berniat mendatangi Amar tetapi karena Amar menempel di dekat Luna dia merasa tidak nyaman menjadi lebih de3kat
lagi, apalagi wajah Luna terlihat masam saat melihat wajahnya.
Saat Amar hendak melewati Aluna, gadis itu menahannya dengan menarik lengan Amar.
“Nggak usah terlalu dekat dengannya, kemarin dia memecahkan kacamatamu. Aku takut dia akan melakukannya lagi.”
__ADS_1
Telinga Rae memerah mendengar kalimat sinis yang di ucapkan Aluna.
Rae menatap tajam pada Luna,
“Amar, aku mau menggantikan kacamatamu hari ini…”Ucap Rae, meski matanya tak beralih dari Luna.
“Ti…tidak usah, Rae…aku sudah punya kacamata yang baru.” Sahut Amar dengan gugup.
“Aku minta maaf untuk kejadian beberapa hari yang lalu, tetapi aku tetap ingin menggantikan kacamatamu.”
“Ah, tidak apa-apa, itu kejadiannya tidak sengaja. Aku yang terlalu ceroboh…” Sahut Amar terbata-bata. Rae melirik pada Aluna memastikan Aluna mendengar pernyataan Amarullah.
"Aku tetap memberimu ganti rugi untuk kacamata itu."
"Tidak...tidak usah..."
Rae mengalihkan pandangannya kepada Amar dengan tajam mendengar kalimat tersendat yang keluar dari mulut Amar, dia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi yang sekarang seperti menyudutkan dirinya karena penolakan Amarullah untuk niat baiknya itu.
“Nggak perlu berusaha terlihat baik…Aku sudah menggantikan kacamatanya, kalau menunggu kamu, tiga hari ini mungkin Amar nggak bisa membuat pe-ernya” Aluna melengos sambil menarik tangan Amar, sekarang dia memilih bertukar tempat duduk, tidak lagi berada di kursi depan Rae tetapi ke depan berdekatan dengan Amar.
“Eh, sudah-sudah! Kenapa sih kalian berdua ini selalu saja bertengkar kalau bertemu? Ada apa, sih? Ada dendam moyang atau bagaimana?” Emma manyun menatap dua orang yang terlihat bersitegang itu.
"Dia yang sok galak dari tadi. Melotot gak jelas."
"Yang gak jelas itu kamu." Sahut Rae, dingin. Dia tak tahu kenapa sikap Aluna selalu memancing emosinya.
“Bebeb, sudah…jangan selalu marah-marah, ntar gantengmu mengalami korosi. Menyusut karena kerutan yang kebanyakan.” Emma berusaha melerai perdebatan itu.
"Ditonton banyak orang itu, kayak mak-mak lagi rebutan minyak goreng saja." Emma menarik tangan Aluna sambil berjalan menuju kursinya, dia kesal di cueki oleh Rae setelah Luna datang. Rae lebih memilih ribut dengan teman barunya itu daripada duduk manis ngobrol dengannya.
Amarah Rae rasanya sampai ubun-ubun dengan perlakuan Aluna, tetapi dia berusaha menahannya apalagi kelas sekarang sudah ramai sekali dan sebentar lagi bel akan berbunyi.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1