
Punggung Rae sudah hilang di telan pagar depan rumah kediaman Melisa.
Dan itu sudah Melisa pastikan sendiri dengan mata kepalanya sendiri. Sebab ia sungguh ingin memastikan remaja itu telah meninggalkan rumahnya.
Sesampai di ruang tamu, Melisa mendadak bingung. Kamar mana yang harus lebih ia dahulukan untuk di sambangi.
Anak bungsunya, Jordy kah? Atau si sulung Aluna, keponakannya, yang harus ia beri pengertian sekaligus peringatan.
Akhirnya ia malah mengambil ponsel dari atas meja, memilih menghubungi Jordan suaminya saja.
"Papa sudah tiba?"
"Iya Mah, baru on ini. Mama tau saja jadwal pesawat Papa mendarat. Kenapa sayang ? Udah kangen ?" suara renyah suami Melisa di ujung gawainya terdengar menggoda.
"Heem, kalo urusan kengen sih. Ga usah di bahas. Tiap detik, mama selalu kangen papa." Gurih suara Melisa meladeni candaan sang suami.
"Papa pulang niih..." Canda Jordan tak mau kalah menggoda istrinya.
"Ha ... Ha. Papa pulang sekarang, besok kita makan batu lho. Kehabisan modal." Kekeh Melisa dengan suara manjanya.
"Kita makan cinta saja sayang. Ha ... Ha ... Ha." Jordan tak bosan meladeni obrolan dengan sang istri yang selalu bersikap manja padanya meski mereka sudah tak muda lagi.
"Ada apa ...?" tanya Jordan lebih serius. Ia hafal dengan istrinya. Tidak mungkin sekonyong-konyong, atau sekedar iseng menghubunginya jika tidak sedang ada sesuatu yang cukup menganggunya, apalagi dia baru saja sampai bandara.
"Masalah anak-anak Pa."
"Siapa? Jordy berkelahi lagi?" Tebak Jordan sambil berjalan mengeret kopernya, sebab ia memang baru saja turun dari pesawat.
"Kali ini Luna juga."
"Gara-gara Aluna lagi ...?"
"Ga juga sih. Ih ... Gimana ya?" Melisa bingung sendiri.
"Ceritakan dari awal, Sayang. Papa sulit mencerna."
"Fan kan tadi antar papa ke Bandara. Jadi Luna ga ada yang jemput. Akhirnya di antar pulang oleh Rae, anak mbak Sarah."
"Lalu ...?"
"Ya ... Itu masalahnya. Jordy marah sama Rae. Main pukul deh."
"Alasannya?"
"Karena mereka tidak langsung pulang. Rae mengajak Luna ke Panti Asuhan terlebih dahulu baru pulang ke rumah." Jelas Melisa lancar.
"Aluna ada ijin, tidak sama Mama?"
__ADS_1
"Ada Pa. Dia juga kirim foto keberadaanya."
"Kenapa Jordy marah?"
"Mereka terlambat pulang, terlambat makan juga. Jadi, Luna di ajak makan di warung tepi jalan." Ungkap Melisa pelan.
"Hm..." Jordan begitu seksama mendengarkan curhatan sang istri.
"Kalo sudah ijin sama Mama. Berarti Luna ga salah Mam. Memang Jordy sepertinya ada masalah khusus deh, sama si Rae itu."
"Mungkin ...."
"Mama tidak perlu marah sama Aluna, Mama juga jangan marah sama Jordy. Semua yang mereka lakukan itu pasti ada alasan masing-masing, Sayang. Dan parahnya lagi kalau mama recokin malah tambah rusuh, mereka sedang merasa tindakan mereka lah yang paling benar. Papa tau, Mama pasti lagi galau. Mau bela siapa? Sabar ya Bun. Jordy duplikat Jordan. Sudah lupa sama Rocky musuh bebuyutan Papa waktu rebutan Mama waktu kuliah? Itu bukan soal kekuatan saja, sayang. Tapi harga diri sebagai laki-laki." Kekeh Jordan tertawa bangga jika anak bungsu mereka kini mulai menunjukkan kelelakiannya.
"Ya ... Kalo si Jordan yang pede itu sama Rocky dulu rebutan Melisa primadona kampus itu wajar, Pa. Ini kan Aluna. Sepupunya. Masa Jordy cemburu sama Rae. Hubungan mereka itu bersaudara. Kenapa seprotektif itu. Mau Luna pacaran sama Rae juga, wajar kan?" Melisa berdalih.
"Iya wajar jika kita lihat dari versi kita. Mereka sudah mulai menyukai lawan jenis. Tapi Versi Jordy mungkin lain, sayang." Jordan mengingatkan.
"Terus maunya Jordy apa?"
"Aluna kan adik dia, jelaslah dia kesel adeknya di bawa-bawa sama anak laki lain. Ini urusan harga diri, ma."
"Heeem, Nanti lah mama tanya Jordy anak jagoanmu itu." Ujar Melisa akhirnya pasrah.
"Sayaaaang ...."
"Ingat tanya aja. Jangan maksa ya. Jangan kayak polisi sedang interogasi maling. Jadilah bestie untuk mereka. Sebab mereka masih labil. Mama harus bisa jaga kestabilitas otak ya. Uang belanja bulanan aman kan sayang ...?" Jordan suami idaman. Selalu bisa menenangkan juga menjaga situasi hati istrinya agar tetap waras dan bijaksana.
"Amaaan sih. Tapi udah lama ga liburan Pa." Kekeh Melisa asal.
"Libur semester anak-anak. Kita ke Paris gimana? Pasti Aluna juga kangen orang tuanya." usul Jordan penuh perhitungan.
"Mama agenda kan ya pap, biar ga geser janjinya."
"Silahkan ibu negara." Kekehnya.
"Baiklah. Selamat melanjutkan aktivitas kepala rumah tangga, sukses ya cari bongkahan berliannya. I Lop Yu."
"Lop Yu Tu, sayang." Obrolan di buka dengan manis dan di tutup dengan indah. Begitulah rumah tangga Jordan dan Melisa yang patut jadi teladan.
Menarik nafas dalam, membuang kasar sekarang Melisa tau harus masuk kamar mana terlebih dahulu.
Kamar anak bungsunya. Bagaimanapun, Jordy harus terlebih dahulu ia beri pengertian dengan pelan-pelan.
"Jord ..." Belum selesai nama anak itu ia sebut. Jordy bahkan sudah berdiri tepat di depan wajah ibunya.
"Ups ... Maaf mah. Aku buru-buru. Ada tanding basket di sekolah. Bye mamaaa ... Uuummmch." Melisa bahkan belum sempat menjawab dan berkata sepatah katapun. Tapi anaknya itu sudah main pergi saja, meninggalkan ciuman basah di pipi kirinya.
__ADS_1
"Dasaar bocah gemblung." Umpatnya dengan nada setengah berbisik, melihat tingkah Jordy.
Tok
Tok
Tok.
"Lun... Tante boleh masuk?" tanya Melisa yang akhirnya memilih melakukan pendekatan pada Aluna saja terlebih dahulu.
"Iya tante... Silahkan." Jawab Aluna membuka pintu masih dengan mukena yang ia kenakan, sebab baru saja menyelesaikan sholat Azharnya.
"Sholatnya di Jamak, Lun?" pancing Melisa sekedar ingin tau, apakah keponakannya meninggalkan sholat.
"Tidak tante. Tadi sholat Dzuhurnya di Mushola Panti." Jawabnya sambil melipat mukenanya.
"Oh ..."
"Tante udah?"
"Tante lagi halangan Lun."
"Oh ..." Balas Aluna mengerti.
"Tadi ... Kok bisa mampir ke Panti dulu?" Melisa memulai interogasinya.
"Iya ... Keadaannya darurat. Salah satu anak asuh di sana harus segera di bawa ke Rumah Sakit. Jadi, Rae mengantar uang ke sana."
"Kok, Rae yang harus antar?"
"Kata ibu Panti. Rae memang selalu datang mengantarkan sisihan uang jajannya. Dan ibu panti juga sudah menganggap Rae seperti anaknya sendiri. Tempatnya berbagi beban. Karena itu, beliau tak sungkan meminta pada Rae. Awalnya memang dengan dalih berhutang. Tapi, Rae tidak pernah mau di bayar. Sehingga, bukan hanya ibu Panti yang merasa nyaman dengan Rae. Tapi, anak anak di sana pun selalu rindu dan sangat senang melihat kedatangan Rae." Urai Aluna dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat.
"Kamu yakin, bukan hanya ibu panti dan anak anak di sana yang merasa nyaman dengan Rae, Lun?" usil Melisa menggoda keponakannya, yang di matanya sangat memancarkan gurat kagum pada pribadi remaja yang ia kisahkan pada tantenya.
"Gimana...?" Aluna pura pura blo'on.
"Apa hanya ibu Panti dan anak anak itu yang suka dengan Rae. Kamu tidak?" mungkin tante Melisa masuk dalam kategori sniper. Alias penembak jitu.
Hanya dengan beberapa kata itu saja, mampu membuat wajah putih Aluna merah, masak bagai udang yang baru di cemplung dalam wajan panas.
Malu
Keki
Gengsi
Semua ada di tampilan wajah remaja cantik labil itu, ketika di terka asal oleh saudari ayahnya yang sudah seperti mommy keduanya itu.
__ADS_1
Bersambung ...ππππ