CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 25. Bukan Baby Undur-Undur Lagi


__ADS_3

"Rae, kamu sudah pulang?" Raka yang sedang duduk di teras samping rumah, sambil mengalihkan perhatian dari ponsel yang ada di tangannya, menatap pada rae yang baru saja tiba terkejut melihat daddynya itu.


Rae sudah mengendap-ngendap supaya tidak bertemu dengan mommy atau adik-adiknya jika lewat pintu depan, tapi tak menyangka jika ada ayahnya di teras samping, tampaknya daddynya itu tidak kembali ke kantor setelah datang ke sekolahnya tadi


Raka sendiri Sedang duduk santai bermain ponsel sambil minum teh dan kudapan sore, semacam kue khas Belanda, Janhagel koekjes atau nougat. Kue kering dengan taburan kacang almond yang di iris tipis itu adalah favorit daddynya dari sekian banyak kue khas eropa yang biasa di buat oleh Mommynya itu.


Kadang Rae bingung sendiri dengan selera daddynya itu, kue-kue kebarat-baratan itu tidak terlalu cocok di lidahnya. Rae lebih cuka martabak telur, onde-onde, cilok atau kue semprong. Dari kecil temannya Arka sering membawakan kue-kue semacam itu, yang di buat oleh ibu Arka untuk bahan jualannya di komplek rumah mereka. Dan tentu saja Rae akan dapat gratis di bawakan oleh Arka.


"Eh, daddy sudah pulang juga?" Rae nyengir sendiri sambil menyeringai lalu menyalami sang daddy, menyembunyikan keterkejutannya.


"Kamu dari rumah sakit, kan?" Tanya Raka kemudian, alisnya bertaut dengan curiga kalau-kalau Rae tidak memenuhi janjinya untuk mendatangi anak perempuan yang jadi korban bogen nyasar efek perkelahian anaknya itu di dalam kelas tadi pagi.


"Rae barusan dari sana." Jawab Rae sambil masih berdiri di depan daddynya itu.


"Oh, ya?"


Raka mengernyit dahinya sambil memberi kode Rae duduk di kursi sebelahnya. Dengan sikap enggan Rae beringsut duduk di sebelah daddynya itu, sebenarnya dia berharap langsung masuk ke dalam kamarnya dan tidak bertemu siapapun hari ini, terlebih sang daddy yang telah menceramahinya sepanjang siang tadi dari sekolah.


Dia merasa sudah cukup mendengar segala nasehat, pidato dan segala macam ceramah sang daddy karena kelakuannya hari ini.Dia tidak berharap di tambahi lagi. Bukan karena dia tidak mau mendengarkan laki-laki yang sangat di kaguminya itu tetapi lebih kepada rasa malu dan penyesalannya telah mengecewakan daddynya itu.


Sebagai orangtua tentunya tak ada yang ingin anaknya selalu membuat masalah, apalagi jika itu ternyata berpotensi mempermalukan orangtuanya.


"Kamu sudah bertemu keluarganya?" Tanya Raka, di sambut anggukan kepala Rae.


"Kamu sudah minta maaf?"


"Sudah."

__ADS_1


"Mereka marah padamu?"


Rae menggeleng dengan yakin saat Raka bertanya dengan mimik seperti seorang penyelidik yang sedang bertanya.


"Kamu tidak berusaha bersikap seolah kamu yang paling benar di depan orang-orang, kan?"


Rae tidak menjawab, sekelebat ingatannya pada pembicaraannya dengan Aluna membuat wajahnya memerah lagi. Dia merasa malu sendiri.


"Daddy kan sudah bilang, apapun yang terjadi posisikan dirimu seolah jika hal seperti ini terjadi pada keluargamu, pada adikmu misalnya? Jadi, kalaupun ada reaksi yang di luar harapanmu, itu wajar, kamu tidak harus memebela diri berlebihan. Cukup minta maaf dan jelaskan seperlunya."


"Rae sudah melakukannya, Dad." Jawab Rae kemudian, dia hanya berusaha menghentikan ceramah yang sama, yang akan di ulang oleh daddynya itu.


"Rae, bukankah kamu sudah berjanji pada Daddy, akan mengontrol emosimu dan bersikap lebih tenang?" Raka menghela nafasnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.


Rae menundukkan kepalanya, dia tak ingin menyela sang daddy, dia sangat tahu dia bersalah dalam hal ini.


Rae mengangkat wajahnya sedikit, dia mendengarkan kata undur-undur, panggilan kesayangan sang daddy dengan pias meringis, panggilan itu sampai sekarangpun kadang masih di sematkan oleh sang daddy jika mereka sedang berbicara. Rae agak risih mendengarnya, tetapi daddynyaitu entah mengapa sangat menyukai panggilan itu padanya.


"Jangan jadikan daddy merasa bersalah karena menganggap daddy terlalu berlebihan dalam memanjakanmu, keras kepala wajar bagi anak muda terlebih bagi seorang pria, tetapi mendengarkan orang lain juga adalah hal yang penting. Orang yang keras kepala, terkadang disebut juga dengan sebutan kepala batu. kamu tahu kenapa? karena orang seperti itu tidak dapat menerima masukan dari yang lain. Daddy harap kamu bukan dari golongan yang itu." Raka menatap tajam pada Rae.


"Ingat satu hal, yang paling sulit dalam kehidupan ini bukan untuk melampaui orang lain, tapi melampaui ego dan diri sendiri." Raka menepuk bahu anaknya itu.


"Daddy harap kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena hanya orang yang tak berakal yang suka menjerumuskan dirinya sendiri, melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang."


Rae diam  dan mendengarkan, Raka meskipun lunak tetapi sangat tidak suka jika dia sedang berbicara dan lawannya menyela, apalagi jika itu adalah anaknya.


"By the way, mommymu bilang, anak gadis yang jadi korban salah sasaran kalian itu, dia mengenalnya. Itu keponakan dari tIbu Melisa, rekan mommymu. Benarkah?" Tanya Raka kemudian sekan sedang mengalihkan topik mereka berdua supaya lebih santai. Tidak ada gunanya memarahi anak berulang-ulang, itu tak akan masuk di kepalanya. Menurut Raka yang benar adalah menegurnya meskipun sedikit keras, kemudian menasehatinya serta mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Segala hal biasanya ada alasannya jika terjadi dan tidak selamanya itu salah jika di lihat dari sudut pandang yang berbeda.

__ADS_1


"Iya, mommy juga telah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu." Raka mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban Rae.


"Apakah itu gadis yang sama yang bermasalah denganmu belakangan ini?"


"Maksud daddy?" Rae mengangkat wajahnya dengan berani sekarang, melihat ke arah daddynya itu.


 "Dia yang melaporkanmu ke kepala sekolah itu? soal kacamata temanmu yang  tersenggol olehmu?"


Rae menganggukkan kepalanya dengan sikap bingung, tak mengerti arah pembicaraan daddynya itu.


"Apakah dia gadis yang membuat wajah anak daddy ini sedikit aneh berapa hari belakangan ini, kadang uring-uringan, kadang kesal tak jelas."


Rae melotot menatap sang daddy dengan sikap salah tingkah, dia tak percaya daddynya itu diam-diam memperhatikan dirinya,


"Sayang, kemarilah...dengarkan daddy" Raka menggerakkan jarinya memberi isyarat pada anaknya itu mendekatkan wajahnya.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap


semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2