CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 63. CHAT GROUP


__ADS_3

Obrolan mereka terputus saat Emma berusaha menghubungi mereka lewat Chat beruntun. Emma membuat grup baru untuk mereka bertiga. "Grup Bersama Pinter Keren (BPK),"


EMMA


[Permisi....]


[Punten....]


[Sebagai pembukaan atas terbentuknya grup LKIR ini]


[Boleh pantun dikit?]


[Mumpung semua online dan aku di cuekin dari tadi]


RAE


[Apa'an si, ma? ]


ALUNA


[🙄]


[Silahkan]


EMMA


[Ikan Hiu makan kubis]


RAE


[Cakep]


EMMA


[Soal cakep itu sih udah dari genetik, beb🤭]


RAE


[Yang cakep pantunnya maksudku 😔]


ALUNA


[Lanjutin pantunmu, katanya mau pantun🤔]


EMMA


[Eh, emang hiu makan kubis?]


[Ganti...ganti...]


RAE


[suka-suka kamu lah...😒]


ALUNA


[😅]


EMMA


[Ikan hiu nyemil Mentimun]


[Apa kabar kalian yang menghilang siang tadi?]


ALUNA


[Itu pantun???]


RAE


[Gak nyambung, Em. Nangis bu Guru bahasa Indonesia liat pantunmu😔]


EMMA


[Itu bukan pantun tapi aku nanya☺️]


Rae


[Dasar prik😒]


EMMA


[Eh, kalian kemana tadi? semua pada heboh cariin kalian, lho. Si Ganteng Dandy tu sampe bela-belain call aku. Kalian kawin lari, ya? Aku gak di ajaaak😥]

__ADS_1


ALUNA


[Ih, salah paham😅 Rae cuman lagi nganterin aku pulang, mereka aja gabut]


EMMA


[What??? Kamu naek belalang tempurnya? oh, astaga mbeb Rae, klarifikasi dong, kamu gak nobatkan Aluna yang pertama kan' naik motormu😭 Awas lho, aku anaknya cemburuan🥺🥺🥺]


RAE


[Tukang kompor...]


ALUNA


[🤔]


EMMA


[Please, kasih tahu...Aluna ke berapa yang naek di boncenganmu???🥲]


ALUNA


[Emangnya banyak yang sudah di boncengin Rae?😒]


EMMA


[Aku perlu jawaban juga😔]


RAE


[Astaga, kalian ngomong apa, sih. Ini grub belajar apa grub ghibah?]


EMMA


[Jawaaab🤧]


ALUNA


[🙄]


RAE


[Baru pertama kali boncengin cewek, itu Aluna😮‍💨]


EMMA


RAE


[Provokator😒]


Rae menambahkan Arka ke grub.


Arka


[Hai...Hallo?]


[Grub apa ini? Grub mabar baru?]


[Namanya Aneh, BPK? Aku mau diperiksa tim BPK? Sumpah aku gak pernah korupsi. Jajanku aja nunggu Rae yang traktirin]


RAE


[Sini, gabung]


[Bantuin aku, gak sanggup di keroyok dua cewek😌]


EMMA


[Lah, ngapain Arka di mari? LKIR bukannya cuma tiga orang doang satu team?]


Arka


[Mana ke tehe🤗]


[Yang masukin siapah? Aku mah nurut]


RAE


[Satu cowok dua cewek gak imbang. Arka masuk jadi penasehat team🤨]


ALUNA


[sepakat. Kita perlu temen yang bisa kasih masukan untuk team. Wellcome Arka]

__ADS_1


ARKA


[Waaaaah, kita grub double date, ya? Aku pasangan sama siapa? Aluna?🥰]


RAE


[😠]


EMMA


[Ngawur😏 Ama aku, mau? ☺️]


ARKA


[Ogah😏]


ALUNA


[Okey back to topic. Kita diskusikan Judul karya ilmiahnya. Silahkan kasih pendapat, kira-kira yang sesuai tema yang di berikan panitia. Dan tentunya relevan dengan isu yang sedang berkembang]


Aluna segera menengahi obrolan chat yang makin ngalor ngidul gak karuan. Rae akhirnya selamat dari saltingnya sendiri. Emma memang paling jago bikin orang salah tingkah.


...***...


Sementara di kamar Jordy, Melisa sudah tidak memberi kelonggaran untuk Jordy menghindarinya lagi.


"Jord ... Bisa cerita sama mama ga? Apa sih alasan sebenarnya kamu musuhan sama si Rae itu?" Melisa kehilangan kata pengantar, apalagi basa basi. Ia sudah langsung masuk pada inti permasalahn. Jika itu sebuah malalah. Melisa langsung ngebut ke BAB 3 dan mengabaikan BAB 1 karena sudah tak sabar kasus itu terpecahkan.


"Kami gak musuhan, Ma. Cuman aku gak suka aja sama dia. Sok."


"Sok gimana? kalau gak musuhan, kenapa setiap kali bertemu selalu berakhir ada yang lebam dan memar?" Cecar Mamanya dengan tak sabar.


"Kebetulan aja ..."


"Kebetulan itu masih sepupuan sama khilaf. Mana ada kasusnya bisa berulang kayak gitu." Protes Melisa memasang wajah juteknya.


"Dia itu sengak, so kecakepan. Belagu, so baik juga." Umpat Jordy sambil mengompres pipinya yang memang meninggalkan memar akibat tinju balasan dari Rae.


"Dia tuh ga so cakep Jord. Tapi memang tampan." Puji Melisa.


"Idih, Mama ...!"


"Dia juga ga so baik. Tapi beneran baik hati." Tambah Melisa kembali.


"Anak mama sebenarnya siapa, sih? Kok malah muji muji dia? Mama ga asyik." Rajuk Jordy jengkel dengan pujian mamanya pada anak orang lain dan itu adalah musuhnya.


"Ini bukan soal siapa anak siapa? Mama sangat malu dengan sikapmu yang suka main hakim sendiri. Bahkan sampai main adu otot gitu. Itu mencerminkan jika otakmu tidak kamu gunakan dengan benar. Mama sama papa saja tidak pernah begitu ngajarin kalian. Kenapa kamu jadi sok jagoan gitu, berasa sudah atlet smackdown? sesalah apa sih dia sama kamu?"


"Dia dulu pernah berantem sama Jordy, masalah belain anak kelas sebelas. Terus habis itu, dia juga musuhan sama temenku dari sekolah sebelah. Memang salah sih si Udin itu, nge-bully adik kelas Jordy yang kebetulan sekelas sama Rae, tapi namanya setia kawan, wajar dong aku belain temanku." Panjang lebar Jordy menjelaskan dengan raut kesal.


"Setia kawan apanya? mana ada setia kawan soal ngebully sama berantem?" Sang mama melotot besar.


"Tapi temen kan wajib di bela? salah atau bener. Itu namanya temen." Jordy pasang wajah keras.


"Astagfirullah, sayang. Mana ada ngebelain salah itu kewajiban. Hukum dari mana itu? Kalau kamu bener-bener temen, ya kamu tegur dong temen kamu yang nge bully itu bukan malah ngebela. Yang namanya salah tetap salah, gak ada bisa di halalkan hanya karena atas nama sahabatan. Dosa, lho." Melisa terlihat berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jordy terlihat kesal wajahnya masam.


"Pokoknya, mama mau kalian baikan. Sudahi permusuhan kalian itu!"


"Akh, mama...dia yang harusnya minta maaf ke Jordy."


"Salah gak salah, bener gak bener, harus ada yang berinisiatif minta maaf duluan. Dan mama mau itu dari kamu yang duluan."


"Ogah! Gak mau! Males! Lagian ma, dia ga cuma salah sama Jordy, ma. Tapi ga adil juga." Jordy terlihat mencari-cari cara membela diri


"Apanya yang tidak adil?" Kejar Melisa keheranan.


"Masa dia boleh dekat dekat dengan Luna, tapi aku ga boleh juga deketin adiknya?" Jordy berbicara begitu dengan segenap rasa malu menyerang hatinya.


Bersyukur lampu kamarnya hanya temaram, sehingga pias rona merah di pipinya tak begitu nampak terlihat.


Mengertilah kini Melisa. Jika kemarahan Jordy bukan karena rasa sayang yang berlebihan pada sepupunya. Melainkan ia pun ingin bebas mengekspresikan rasa sukanya pada adiknya Rae.


"Rae punya adik cewek? Kamu suka sama adik Rae? Begitu?"


Jordy tidak menjawab, dia hanya menunduk.


"Astaga, anak-anak ini..." Melisa sejali lagi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Persoalan anak-anak ini ternyata serumit kisah cinta di drakor saja.


...***...


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2