CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 18. Obrolan Canggung


__ADS_3

 “Jadi tamu aja ngelunjak. Dasar Lebah. Berisik!”


“Heh, yang ngelunjak siapa?” Emosi Aluna tiba-tiba terpancing.


“Dari kemarin kamu selalu ikut campur urusanku, kamu kira aku senang?” Rae seperti menemukan tempat yang tepat untuk mengeluarkan uneg-unegnya. Sekarang, dia harus memberi pelajaran pada mulut bawel ber cap bon cabe milik gadis yang dari kemarin membuatnya panas dingin ini.


“kapan aku ikut campur urusanmu?”


“Aku gak sengaja memecahkan kacamata Amar dan kamu membuatku seolah-olah seperti sudah membully dia dengan melaporkan ke kepsek bahkan aku harus di ceramahin orangtuaku karena itu. Lalu kamu berlagak seperti malaikat dengan mengganti kacamatanya dan mebuat Amar menolak permintaan maafku. Is that not meddling in your opinion?”


“Kamu memang sudah membuat kacamata Amar pecahkan?”


“Aku tahu itu pecah tapi…


“Tapi kamu pergi begitu saja, kan? Terus, apa kamu ingat sudah minta maaf untuk itu? Kamu malah ngeloyor pergi begitu saja. Kamu tahu sepeninggal kamu, Amar hampir gak melihat jalan dengan bener tanpa bantuan kacamatanya? Kamu fikir aku berpura-pura baik dengan mengganti kacamatanya? Aku seenggaknya lebih punya tenggang rasa dari kamu, memikirkan bagaimana Amar bisa belajar dengan mengganti kacamatanya. Enggak semua orang kaya raya kayak kamu di dunia ini, yang mungkin menganggap remeh hal seperti itu. Amar bisa menghabiskan tabungan uang jajannya berbulan-bulan untuk sebuah kacamata.” Aluna berucap dengan berapi-api bahkan hampir tak menarik nafas ketika dia mengucapkan semua kalimat sepanjang rel kereta itu.


Rae tak punya kata, kecuali matanya yang tak berkedip menatap Aluna, seolah tak terfikirkan hal itu sama sekali.

__ADS_1


“Do I look too much to you??” Aluna memajukan wajahnya dengan puas melihat Rae tak bisa berkata-kata.


“Tapi enggak perlu melaporkan hal ini sampai kepala sekolah. Kamu mau terlihat keren?”Tuding Rae tak mau kalah.


“Hari pertama aku ke sekolah ini, hanya gara-gara mulut kompormu itu harus berhadapan dengan kepsek karena terlambat dan memaksa masuk serta di laporkan bapak penjaga sekolah itu melanggar peraturan. Untuk urusan sampai kepsek, bukan kita satu sama?” Aluna menaikkan alisnya yang cantik itu.


Rae ternganga mendengar apa yang di katakan oleh gadis di depannya itu, akibat isengnya dia tidak menyangka urusan mereka sepanjang itu, dalam hal berdebat dia ternyata sungguh pro dan hal yang sungguh membuat Rae tercengang adalah, Aluna ini selain cerdas dengan ingatan yang luar biasa ternyata begitu sensitif dan pendendam.


“Aku tahu, kamu gak suka denganku, bahkan mungkin melempari kepalaku dengan bola basket secara sengaja. Dan, bukankah kamu yang paling bahagia jika terlihat seperti malaikat dengan menggendongku sekaligus mempermalukan aku supaya jadi bahan gossip satu sekolah. Demi apa coba?”


Rae benar-benar kehilangan kata-kata, mereka berdua memang terlibat salah paham dari awal yang membuat mereka saling membenci tak melakukan segala hal yang selalu salah di mata masing-masing.


“Oh, ya? this is just a misunderstanding. Kamu yakin Kalau kamu gak melakukannya dengan sengaja?”


“Hey, aku gak punya alasan sengaja untuk…”


“That's right. Kamu memang tak punya alasan untuk sengaja, bahkan membuat kesulitan orang yang baru kamu kenal, tentu saja itu untuk kepentingan apa? Itu yang aku fikirkan juga. Kecuali…” Aluna menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


“Kecuali, kamu memang sudah biasa menyusahkan orang lain tanpa perasaan bersalah atau…” Aluna berucap setengah mencibir.


“Atau apa?” Rae mengerjap matanya bersiap beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, dia merasa antara dia dan Aluna memang di takdirkan untuk tidak bisa berdamai. Tak ada gunanya berusaha meluruskan. Seperti yang di katakan  daddynya, bukankah tak berguna ingin menjelaskan kamu tidak bersalah pada orang yang membencimu?


“Atau jangan-jangan kamu naksir aku, heh.”


DEG!


Dada Rae seolah di tembak sesuatu tepat di jantungnya, Aluna terlihat mengucapkan itu tanpa dosa seolah kata-kata itu memang di lontarkannya hanya untuk membuat Rae merasa malu di depannya. Dada Rae baru kali ini terasa berdebar kencang benar-benar kencang, lebih kencang dari pertama kali dia melihat Aluna di depan gerbang sekolah.


“Sembarangan.” Rae berdiri dengan salah tingkah.  Aluna hanya nyengir, gadis ini terlihat senang melihat Rae sama sekali tak bisa membalasnya lagi.


"Jangan kegeeran." Rae tak bisa menyembunyikan rona di wajahnya, dia membuang muka dan berjalan melewati kursi Aluna, ruangan itu terasa panas bukan main meskipun AC menyala. Rae perlu udara segar, karena dia merasa jantungnya tidak sedang baik-baik saja.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2