
Malu menyergapi hati Aluna. Mengapa jantungnya terasa lebih kencang berdegup saat tante Melisa menebak asal akan perasaan sukanya pada bocah tengil seperti Rae.
Andai ia bisa berteman akrab dengan Doraemon. Ia akan meminjam alat pintu ajaib saja, supaya bisa segera menghilang dari hadapan tantenya ini.
“Iih tante, ada ada saja.” Hanya itu yang mampu Aluna ucapkan untuk mewakili ketersipuannya dengan ucapan wanita kedua setelah mommynya itu.
“Kalo suka, ya bilang aja suka kali. Jangan di pendem, ntar sesak nafas, lho. Ga dosa kok. Suka-sukaan boleh aja, asal jangan kebablasan dan tahu batasnya." Tante Melisa mengedipkan sebelah matanya, mode menggoda sang keponakan.
"Lagian Tante juga suka kok sama Rae. Anaknya sopan, dia merasa salah tapi berani meminta maaf. Kamu tau Lun, hanya laki-laki yang berjiwa besar yang berani mengakui kesalahannya, lalu meminta maaf. Di tambah lagi keterangan ibu Panti tentang uang jajan yang selalu ia sisihkan untuk berbagi dengan anak-anak kurang beruntung di sana. Ya ampyuuun…itu anak kok sweet banget, bikin hati tante meleyot. Anak-anak tante aja mana ada yang mikirin sampe sana, ngebagi uang jajannya untuk sedekah." Mata tante Melisa membulat dengan penuh semangat. Membuat Aluna semakin salah tingkah.
"Orang tuanya sangat baik mendidiknya. Pokoknya, tante suka dia.” Dengan gamblangnya Meisa ikut memuji Rae di hadapan wajah merah yang msih menyimpan rasa malu semalu - malunya itu.
“Tante...tante ga marah kalau Aluna suka sama dia? Eh, maksudnya...em...misalnya kami saling suka?”
Jackpot, hanya dengan pancingan kata seperti tadi, Melisa sudah mendapat akses pengakuan dari keponakan lugunya ini.
Si ponakan cantik ini terlihat gugup dan tergeragap saat bertanya.
“Eh, ngapain marah? it's normal! no problem. Tante juga pernah muda, sayang. Masa remaja kalian tidak akan terulang dua kali. Maka isi dan warnailah seindah mungkin selama itu dalam batas yang wajar.” Elusnya dengan penuh sayang pada puncak kepala Aluna.
"Ta...tapi, kak Jordy gak suka sama Rae..."
"Laaaah, kalau Jordy suka sama Rae itu bahaya, masa suka sesama jenis." Tante Melisa tergelak.
"Aaaa...tante, maksud Luna, kak Jordy musuhan terus sama Rae. Ntar Luna di marahin lagi deket sama Rae." Sahut Aluna, sekarang dia terlihat tak sungkan lagi bercerita pada tantenya yang bersikap seperti bestinya itu.
"Sebagai kakak, Jordy juga gak bisa di salahin juga sih. Kakak memang tugasnya menjaga adiknya, biar gak kenapa-kenapa. Dia juga kan' mengemban tugas dari daddymu, menjagamu selama tinggal di sini. it's ok, kamu juga wajib dengerin kakakmu supaya gak keluar dari batasnya." Panjang dan lebar si tante yang baik hati ini memberi wejangan, memilih kata-kata supaya si keponakan ini tidak salah paham dengan sikap kakak sepupunya.
__ADS_1
"Terus...Aluna harus bagaimana?"
Melisa mengerutkan dahinya, menarik nafas sesaat lalu matanya terpicing kepada Aluna yang tak berkedip menatapnya.
“Kalian pacaran …?” pertanyaan itu lebih menjurus, pintar Melisa membuat kerangka pertanyaan itu. Agar Aluna tidak merasa sedang di tuduh dan di paksa untuk mengakui perasaannya.
"Eh, maksud tante apa?"
"Kamu sama Rae sedang pacaran?"
“Gak...eh gak kok tante. Kami hanya berteman.” Jawab Aluna dengan paras semerah kepiting rebus.
“Dekat?”
“Gak juga … tapi...em mungkin..." Aluna tertunduk malu-malu.
"Akan semakin dekat.” Aku Aluna pelan.
“Artinya …kalian dekat cuman belum jadian? begitu? ” Mata Melisa berkedip satu ke arah Aluna.
“Bukan begitu. Kami sedang ikut dalam Lomba Karya Ilmiah remaja. Jadi secara otomatis mulai besok dan seterusnya kami akan lebih sering belajar bersama.” Jelas Aluna berusaha berkelit dari semua tebakan tantenya itu.
“Kami? kamu sama Rae aja?”
“Aku, Rae dan Emma. Rae jago Matematika dan Fisika, angka dan rumus bagainya seperti kacang goreng saja. Sekali melirik soal, sudah keluar sendiri jawabannya. Dia pinter tante. ” Senyum Aluna mengembang lalu tertawa kecil membayangkan paras Rae di kepalanya, saat lagi-lagi memuji remaja yang sudah berhasil nongkrong di sisi hatinya.
“Iiih, mbak sarah ngidam apa sih waktu hamil Rae? Dah anaknya cute gitu terus pinter lagi. Jangan-jangan masih ada keturunan Albert Einsten. Atau pas hamil bacaannya memang rumus phytagoras semua kali ya. Ga kayak tante, yang kalo hamil langganan ngemil cilok, mangga muda sama jeroan saja.” Obrolan itu makin ringan, sampai lupa pada tujuan awal ingin memberi peringatan pada Aluna.
__ADS_1
“Ha..ha..ha… Tante hamil Jordy ngidam cilok, ya? tante ada-ada saja.”
“Kalo Emma jago apa …?”
“Kalo Emma pinter bahsa Inggris dan bahasa Indonesia tante. Oh iya… tante. Apa benar dulu nama pacar daddy sebelum sama mommy, namanya Felysia?” Aluna baru ingat nama yang selalu Emma banggakan pernah berpacaran dengan Darel Emilio Aswindra, Ayah Aluna.
“Kamu tau nama itu dari mana?” telisik Melisa agak iilfeel dengan nama wanita yang di sebutkan Aluna.
“Emma itu anaknya tante Felysia, tan.” Jawab Aluna dengan cepat.
“Oh …” Mulut tante Melisa membentuk terowongan, merasa surprise.
“Kok Cuma Oh, tante? bener ya …?” tanya Aluna lagi begitu penasaran.
“Em...bener. Daddymu dulu pernah pacaran sama Felysia bahkan sempet tunangan. Tapi daddymu nikah ma Mommymu gak lewat jalur ngelakor, ya! Please, jangan negativ thinking." Tante Melisa mengingatkan dengan mimik serius.
"Kok bisa jadiannya ma mommy?"
"Itulah jodoh! Itulah cinta, semua ada jalan masing-masing. Secinta apapun kita sama seseorang kalo gak jodoh katanya Allah, ya pasti bubar. Biasa lah masa lalu, Lun. Gitulah dunia dan segala isinya. Hari ini kita sukanya sama siapa, ga tau besok akhirnya nikah sama siapa? Itu urusan jodoh, urusan Tuhan. Makanya tante bilang tadi. Masa remaja di isi saja dengan yang indah indah, supaya pas udah siap nikah udah ga nyesel. Repot ngurus anak dan suami.”
“Ih, tante. Kayak Luna besok mau nikah saja. Besok itu Luna Cuma mau belajar kelompok dengan Rae sama Emma aja tante, belum mikir n nikahan.” Canda Aluna pada Melisa dengan manja, sekarang Aluna merasa tak ada jaral antara dirinya dan tante Melisa.
"Super, sayangku! Jangan dulu mikir nikah-nikahan, kawin-kawinan. Jalanmu masih puanjang. Banyak hal yang harus kalian nikmatin dan jalanin dalam perjalanan menjadi dewasa. Itu, kalo dah kawin, semua gak lagi maen-maen. Pernikahan bukan gulali yang selalu manis sampe ujung. Dia kayak cokelat, manisnya pait-pait."
Mata Aluna melotot dengan serius menatap kepada Tante Melisa.
"Manisnya pait-pait?"
__ADS_1