CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 49. Ala Dylan Dan Milea


__ADS_3

“No! Kalau sampai ketahuan daddymu yang cerewet itu kamu naik grab, tante Meli bisa di goroknya. Atau gini aja, bareng temenmu siapa itu namanya? Yang bawel banget itu? Em…Emma  iya sama Emma saja ya, Lun.” Saran Melisa pada keponakannya itu.


“Okey, siap tante.” Aluna tak mau berdebat dan membuat tantenya itu kuatir padanya. Dia juga tidak mau tantenya akan terus cerewet mengurus cara ia pulang kerumah, sehingga memilih setuju pada saran tantenya agar ia pulang dengan Emma langsung dia okekan saja, meskipun Emma sudah pulang duluan.


“Maaf ya, sayang.” Pinta Melisa penuh rasa bersalah, suaranya terdengar begitu menyesal di seberang.


“Iya, tante. Jangan cemasin Aluna, Lagian Luna kan sudah gede juga, ini Luna akan segera pulang.” Aluna meyakinkan Melisa. Dan obrolan itu pun berakhir, menyisakan Aluna yang kebingungan sendiri. Dia belum pernah naik Grab, ini adalah pengalaman pertamanya.


Lalu, dilihatnya pak Amin di pintu gerbang, dia tahu security seklolah yang ramah ini akan membantunya mencarikan taksi. Dia cukup menyebutkan alamat rumah saja. Beres!


Baru saja sampai gerbang, belum sempat dia mencolek pak Amin,


Breem … breeeem.


Suara tarikan gas yang di buat sedramatisir itu sengaja Rae buat di dekat Aluna berdiri. Ia tak langsung pulang saat melihat Aluna masih belum hilang dari depan gerbang sekolah mereka.


“Kenapa belum pulang, Lun?” tanya Rae melepas helmnya, rambutnya yang mulai panjang itu terlihat acak-acakan.


“Oh, supirku, om Fan, mendadak antar Om Jordan ke Bandara.” Jawab Aluna dengan jujur.


“Kamu nunggu siapa? Pulangnya gimana?”Tanya Rae dengan Alis bertaut tinggi.


“Em, aku mau minta Pak Amin carikan taksi saja.” Jawab Aluna dengan penuh keyakinan.


“Taksi? kamu pernah naik taksi?" Rae malah bertanya dengan tatapan ragu.


"Em, belum sih. Tapi kan' itu soal mudah. Masa naik taksi aja gak bisa?" Aluna balik bertanya sambil terkekeh kecil, malu-malu.


"Gini aja, bagaimana kalau bareng aku?” Tawar Rae tiba-tiba.


“Eh, maksudnya? bareng gimana?”


“Aku antar kamu.” tiga kata itu kenapa lagi siih, bikin cenat cenut dalam hati Aluna. Itu kalimat perintah ? ajakan atau paksaan, ya? Aluna resah. Ini hati apa agar agar sih? Klemer-klemer kayak rentan pecah gitu cuma kesentuh kata-kata biasa dari seorang Rae.


“Pake apa?” Tanya Aluna setengah blo’on.


“Lah, ini motorku kamu liat batang kelapa? Ya, jelaslah pake motorku.” Rae melotot gemas.

__ADS_1


“Ooooh…”


“Kok, Oh sih? Mau apa enggak?”


“Kalo aku gak mau?” Tanya Aluna dengan gaya sok jaim.


“Ya, harus mau, lah.” Jawab Rae cepat.


“Ih, kok maksa. Lagian gak ada helm tuh. Ntar kita di tilang polisi, lho.” Aluna cengar cengir melihat wajah Rae yang sedikit masam.


“Jangan nyari alesan. Tinggal pinjam punya anak bulek  kantin.” Solusi Rae cepat.


Aluna akhirnya menggedikkan bahu, matanya melirik kea rah motor besar milik Rae, dia pernah lihat di film-film remaja, anak sekolahan di boncengin naik motor kayaknya seru juga.


“Ga ngerepotin, kan?” Aluna masih sok menimbang-nimbang.


Padahal sejujurnya sekarang dia mau loncat aja duduk di boncengan Rae. Dia penasaran bagaimana rasanya di boncengin ala milea dan Dylan.


“Kamu bakalan lebih repot kalo pulang gak sama aku.”


“Iya deh aku ikut kamu aja. Maaf merepotkan, ya.” Aluna pun setuju dengan ajakan pulang bersama lelaki pengganggu sarap otaknya ini.


“Sebentar.” Pinta Rae yang kemudian masuk kembali ke area gedung sekolah.


Tentu saja sedang mengusahakan pinjaman helm buat si pencuri hatinya ini. Dia tahu benar tempat pinjam helm gara-gara Arka kadang nebeng dia pulang tapi tidak bawa helm.


Mimpi apa Rae semalam, ha? bukankah ia hanya tidur beberapa jam. Mana sempat mimpi. Eh, tau-taunya sudah kenyataan saja yang ia hadapi sekarang, malah bisa boncengan sama Aluna, si gadis cantik manis nan imut ini.


Rae meletakkan ranselnya tidak di punggung, tetapi di perutnya. Katanya supaya Aluna tidak kesesakan di belakang tubuhnya. Itu


sebenarnya alasan yang di buat-buat, padahal aslinya dia tak mau dong, berjarak se inci pun


dari gadis yang akan duduk di belakangnya. Modus anak bocah, biasalah itu.


“Naiklah.” Ujar Rae yang dituruti Aluna dengan patuh, di pengalaman


pertama ini, naik motor di boncengin apalagi motor sport, Aluna agak kesulitan tetapi dia tak ingin terlihat culun sekali di depan Rae.

__ADS_1


“Pegangan, ya.” Tambah Rae lagi, terdengar acuh padahal jantung Rae tak kalah gugupnya dari Aluna. Motornya ini untuk pertama kali juga boncengin cewek. Bahkan, duo kembar ceriwis, adik-adiknya itu tak pernah di ijinkannya naik motor kesayangannya ini.


“Pegangan?”


“Hooh, ntar kalo kamu jatuh, aku bisa-bisa di hajar Jordy, kakakmu yang sok jago itu.”


Dengan malu-malu Aluna meletakkan tangannya di ujung seragam Rae.


“Eh Lun, bentar . Boleh ga kita ga langsung antar kamu pulang dulu?”tanya Rae sebelum menghidupkan stater motornya.


“Memangnya kita mau kemana?” Tanya Aluna, sedikit bimbang.


“Aku ada janji ngantar titipan. Lumayan mendesak, ga bisa di tunda. Boleh ya?” Ujarnya pada Aluna lagi di akhiri pertanyaan yang menunggu persetujuan.


“Tapi, gak lama, kan? Aku takut tante Meli kuatir.”


“Gak. Bentaran aja. Ntar aku yang jelasin ke tante Meli kalau tante cariin kamu. Kalau perlu mommyku kukabarin juga biar meyakinkan, mereka kan' temenan juga?”


“Akh, gak usah sampai semua orang kamu kabarin, aku kan' cuma masti’in. Lagian, mestinya kamu jangan nawarin nganterin aku kalo lagi ada janji, kan jadi ngerepotin kamu.” Aluna berucap setengah protes, dia bingung apa harus turun saja dari motor Rae mumpung mereka belum jalan.


“Kamu gak merepotkan kok, Lun, hanya ini memang gak bisa ditunda. Aku janji, hanya akan turun mengantar titipan ini saja, lalu aku antar kamu pulang.” Rae reflek menahan tangan Aluna agar tidak turun dari atas motornya.


“Janji tidak lama ya, Rae. Aku gak enak sama tante Meli.” Aluna memastikan jika ia tidak akan terlalu terlambat untuk sampai di rumah.


“Iya, aku janji hanya sebentar di sana.” Rae menghidupkan motornya sambil tersenyum.


“Dad, anakmu boncengin cewek, nih! Daddy pernah gak kayak Rae?” Bathinnya berucap dengan puas, seketika hatinya bertabur bunga penuh kembang warna-warni.


"Pegangan, ya..." Ucap Rae sambil melempar senyum pada pak Amin yang melongo macam kambing ompong, menyaksikan dua remaja yang setahunya bermusuhan itu, berboncengan setengah mesra😅


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2