
Sesaat Rae terpana, menatap lembut ke wajah gadis ini yang terlihat menunggu jawabannya.
“Oh, tentu saja boleh." Sahut Rae kemudian dengan senyum termanisnya.
"Di samping ada musholla, Ibu Panti juga muslim kok Lun. Pinjam saja peralatan sholat pada beliau.” Lanjut Rae. Aluna menganggukkan kepalanya dengan tersipu, entah keberapa kali sudah wajahnya itu memerah terus jika berdekatan dengan Rae.
Rae memang bukan muslim, tetapi
Nilai PKn Rae 9 ya guys. Mana mungkin ia tidak mengerti dengan kata ‘toleransi’ ini saatnya untuk mengaplikasi ilmu yang selama ini selalu di ajarkan di sekolah dan di dengungkan pada indra dengarnya. Ini kesempatan untuk sungguh menjadi pelaku toleransi tersebut.
“Bu Dasih, bisa pinjamkan peralatan sholat. Temanku ingin beribadah.” Pinta Rae pada bu Dasih.
"Oh, tentu saja, nak." Sahut Bu Dasih dengan senyum lebar.
“Ikuti ibu ya, nak Luna aku akan menunjukkan mushollanya. Nak Rae mau makan sekarang, sekalian biar ibu siapkan.” Ujar ibu Dasih pada Rae.
“Akh, nanti saja bu, tunggu Luna selesai sholat biar bareng makannya.” Jawab Rae sembari mencuri pandang pada Aluna.
“Yakin mau menunggu …? Kalo lapar banget makan saja duluan.” Aluna merasa tak enak jika Rae tertunda makannya demi menungguinya sholat.
“Ga papa, santai saja.” Jawab Rae yang selanjutnya sibuk dengan ponselnya, lupa memberi kabar pada mamanya jika ia tidak langsung pulang kerumah, melainkan mampir dulu di panti.
Rae memang begitu, hanya terlihat dingin. Tapi tidak dengan tingkahnya. Jiwa sosialnya tinggi, kepeduliannya terhadap sesama patut di acungi jempol. Raka dan sarah mengetahui kebiasaan baik anak mereka tersebut. Bahkan mendukungnya. Mereka tak pernah berpikir dua kali untuk memperbanyak uang jajan Rae. Sebab mereka tahu, Rae bukan menggunakannya hanya untuk ia berbelanja atau semena-mena menggunakan uang jajannya. Tapi, lebih banyak untuk kegiatan amal. Entah jadi apakah Rae di masa akan datang.
Setelah itu dia larut lagi berada di antara anak-anak panti asuhan yang begitu bersemangat dengan kehadirannya itu.
Aluna sudah menyelesaikan sholatnya. Lembab wajah setelah berwudhu dan sholat tadi, tak membuat luntur kecantikkannya. Ia justru semakin bersinar, segar dan berseri-seri. Menambah poin kecantikan semakin meroket di mata seorang Rae.
"Tuhan, maafkan aku jika aku mencintai umatmu yang satu ini. Ijinkan aku mendekatinya dengan niat yang baik..." Rae nyengir dalam hati.
“Udah …?” tanya Rae dengan senyum melebar tanda tak sama sekali merasa bosan menunggu gadis itu sholat.
“Sudah …” Jawab Aluna memasukan mukena pada tas yang senada dengan wanra mukena yang iua pakai tadi.
“Kita makan?” tawar Rae dengan tetap tak mengalihkan pandangannya dari Aluna.
“Boleh tidak?” tanya Aluna pada Rae dengan ragu-ragu.
__ADS_1
“Tenang, ibu panti muslim kok Lun. Makannya pasti halal, kamu tidak akan berdosa menikmati makan di sini.” Kelakar Rae.
"Eh, bukan itu maksudku." Aluna menyeringai.
"Lalu apa?"
"Gak sopan minta makan di tempat orang." Ujar Aluna kemudian sambil melirik ke arah bu Dasih yang tiba-tiba muncul dengan sekeranjang baju yang baru di angkatnya bersama seorang lain yang membantunya.
"Hush, jangan kuatir. Di sini sudah kayak rumahku. Bu Dasih orangnya baik, gak pelit ngasih makan orang. Dan lagi sambal goreng tempenya topcer, lho. Sambel tomatnya bisa bikin kamu nagih." Rae menarik tangan Aluna mendekati meja makan yang sudah siap dengan hidangan yang ibu Dasih siapkan.
“Bukan masalah haram atau halalnya Rae. Tapi, apakah kita tidak mengurangi jatah makan anak-anak di sini. Kasihan mereka harus berkurang jatah demi kita.” Ucap Aluna berkelit.
“Iya juga, ya.” Rae berpikir sebentar. Lalu mencomot sedikit daging ikan Nila yang tersaji di atas meja. Lalu menutup kembali tudung saji di depan mereka.
"Tuh, kan?" Aluna menanggukkan kepalanya setengah berbisik. Rae terlihat berfikir keras, sementara perutnya mulai berdendang.
“Kita makan di luar saja.” Ujarnya lagi menarik tangan Aluna untuk segera pamit pada ibu panti untuk pulang.
"Lho, katanya mau makan dulu?" Bu Dasih bertanya bingung.
"Kelupaan, bu. Ada yang harus harus kami cari untuk tugas sekolah" Alasan Rae.
"Yah, ibu. Lain kali aja, Rae udah comot-comot juga tadi, gak bakalan pamali." Oceh Rae.
"Ya, sudah kalau begitu, makasih ya nak Rae, dah ke sini dan kasih banyak bantuan..."
"Akh, ibu...itu gak seberapa, kok. Gak usah majasih-makasih terus, Rae jadi gak enak." Rae meneluk wajahnya membuat bu Dasih tak tahan untuk tak tertawa.
“Eh, Sebentar.” Aluna menepis tangan Rae yang lengket dipergelangan tangannya.
"Aku ke toilet dulu." Pamitnya dengan wajah memelas. Rae terpaksa melepaskannya padahal dia lagi sengaja mempergunakan kesempatan biar bisa gandengan.
Aluna masuk ke toilet, mengambil beberapa lembar uang merah dan merobek kertas bukunya untuk membungkusnya.
"Eh, cepetnya?" Goda Rae melihat Aluna muncul hanya dalam hitungan tak sampai tiga menit
"Memangnya ke toilet harus sejam?"
__ADS_1
"Ya, kali aja..." Rae terkekeh, membuat Aluna sedikit cemberut.
“Terima kasih pinjaman tempat sholatnya ya bu." Aluna menyalami tangan bu Dasih dan menyelipkan kertas di tangannya.
"Eh, apa ini, nak?"
"Ini, bu ada sedikit untuk membeli sedikit keperluan adik-adik di sini dari uang jajan Luna ” Ucap Aluna pelan
“Masya Allah, jangan repot-repot Nak. Jangan begini. Ini kan' uang jajan Luna.” Tolak ibu panti merasa tak enak.
"Akh, ibu...Rae aja boleh kasih uang jajannya, masa Luna gak boleh?Tolong di terima bu, Luna ikhlas.” Sambut Aluna.
Sesaat, Bu Dasih terdiam, di tatapnya dua anak remaja ini bergantian.
"Alhamdullilah..." Ucapnya dengan suara sedikit bergetar, ibu Dasih menghapus jejak air yang sempat turun membasahi pipinya.
"Insya'Allah setiap kebaikan akan di ikuti kebaikan, setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas akan beroleh ganjaran. Hanya Allah yang bisa membalas semuanya."
Sungguh terharu hatinya, melihat ketulusan hati anak anak berseragam abu-abu yang datang menemuinya di tempat itu. Banyak ia temui orang-orang yang lebih mampu dari Aluna dan Rae. Tapi belum tentu seringan itu membagi berkatnya. Padahal golongan berdasi itu tentu lebih memiliki banyak penghasilan ketimbang mereka yang masih menengadahkan tangan pada orang tuanya.
“Alhamdulliah, semoga Allah mengijabah semua doa kalian ya nak. Terima kasih banyak.” Doa ibu Dasih penuh ketulusan. Bangga pada keduanya.
"Kami pamit dulu ya, bu..." Rae berpamitan.
"Assalamualaikum." Ucap Aluna sambil mengikuti langkah Rae.
"Wallaikumsalam..." Bu Dasih melepas kepergian anak-anak ini dengan senyum bangga.
Tak berapa lama keduanya sudah berada di atas motor sport Rae, dengan senyum yang sama-sama tak mau lepas dari bibir masing-masing. Entah apa yang mereka berdua fikirkan.
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...