
"Oke deh … sampai jumpa di rumah. Hati-hati ya …” Tangan Aluna sudah melambai-lambai di depan Rae. Walau terasa tak terima, tapi perpisahan singkat itu harus tetap terjadi bukan.
Rae bingung sendiri, hanya karena perlakuan itu, hatinya terasa adem dan di taburi seribu macam kembang alias berbunga-bunga tak karuan.
Rae sudah tampak bersiap dengan ransel berisi buku pelajarannya. Biasanya ransel itu tak banyak isinya tetapi kali ini mendadak menjadi sarat muatan bahkan botol minuman isi air mineral juga sudah ia siapkan, entahlah, mereka mau kerja kelompok atau mau camping sebenarnya, sampai-sampai Rae membawa botol sebesar itu.
Rae sendiri bingung dengan kelakuannya, merasa gugup dalam kunjungan pertama ke rumah calon ayang.
Kalimat dari Emma menggema di kepalanya, "Paling gak, resmikan hubungan kalian, tembak dia biar halal gandengan tangan."
Aduh, apa benar aku harus nembak Luna? Kira-kira di suka juga gak sama aku? Kalau di tolak bagaimana?
kebimbangan bermain di kepalanya, dia bingung harus bagaimana. Soal menyatakan perasaan ini tidak sesederhana cangkem Emma yang mengobral kata sayang ke semua mahluk itu.
“Sayang, mau kemana?” tanya Sarah melihat Rae yang keluar kamarnya dalam tampilan rapih, dua sudah akan keluar rumah.
“Rae mau kerja kelompok di rumah teman. Ijin ya, mom.”
"Rumah siapa? Arka? Kenapa gak suruh dia aja ke sini? mommy tadi ada praktekin resep dari Yutub, cilok isi daging." Tawar sang mommy. Beberapa hari belakangan, mommynya ini memang rada gabut, rajin sekali berkubang di dapur, mengeksekusi resep-resep tradisional untuk di cobakan ke sang daddy yang lidahnya selera eropa itu.
"Bukan di rumah Arka, mom." Rae menukas.
"Lalu rumah siapa? memangnya temen dekatmu banyak?"
Si mommy cantik ini lagi mode emak-emak kepo.
"Pokoknya rumah teman aja, mom. Dan Rae gak bohong, Rae mau belajar bersama." Sahut Rae mulai kewalahan dengan pertanyaan mommynya.
“Hmmmm, baiklah sayang, hati-hati, ya.” Sarah memang sedikit kepo tetapi tidak sekepo Raka yang selain perhatian juga usil pada anaknya itu. Tanpa bertanya banyak-banyak lagi, ijinnya sudah keluar begitu saja.
Rae keluar ke arah garasi, menatap motor kesayangannya yang sudah kinclong, tadi mamang Diding sudah di mintanya menmusnahkan debu-debu yang nempel di sana. Penampilannya benar-benar harus perpect hari ini.
Kepalanya mendonggak memandang langit yang tiba-tiba mendung. Mungkin akan turun hujan. Pilihannya adalah, ia harus ngebut sebelum hujan menyerangnya di perjalanan atau meminjam mobil sang mama untuk ia bawa ke rumah Aluna.
__ADS_1
Mobil di garasi itu ada tiga biasanya, punya daddy, mommy dan yang biasa di pakai Rae sebagai cadangan jika motornya tiba-tiba bermasalah.
Tapi mobil yang sering di pakai sopir ngantar adik-adiknya itu sedang di service berkala. Tersisa hanya mobil sang mama.
Mungkin pilihan kedua adalah jalan paling aman, agar nanti dia bisa tiba dan pulang dalam keadaan aman. Kan' lucu kalau sudah rapih dan wangi entar malah basah kuyup.
“Kenapa kembali, Rae?” tanya Sarah melihat anaknya masuk kedalam rumah kembali.
“Boleh pinjam mobil, mom?” tanyanya dengan mimik ragu.
“Wah, mommy mau pake sih. Mama antar aja gimana? mommy mau jemput adik-adikmu les, satu jam lagi mereka pulang. Pak Amin lagi service mobil yang satunya. Daddymu kayaknya ntar malam baru pulang. Ada meeting katanya tadi.” Jawab sang mommy lembut.
Mereka kaya raya sebenarnya, pemilik tunggal Rudiath-Wijaya Group, jet pribadi saja punya. Tapi soal mobil herannya cuma ada tiga, Raks tak suka mengkoleksi barang mewah seperti halnya Sarah. Untuk membelikan Rae mobil pribadi sepertinya Raka menunggu Rae benar-benar cukup umur. Rae juga lebih menyukai motornya dari pada roda empat.
“Oh, ga jadi kalau gitu. Biar Rae naik motor aja.” Jawab Rae keluar lagi.
“Jangan. mommy antar saja.” Belum sempat Rae menjawab, air hujan itu sungguh turun membasahi bumi.
"Tapi, mom..." Rae kelabakan, mengingat rumah yang di tuju cukup di kenal mommynya.
“Kamu yang nyetir, deh.” Sarah menyerahkan kunci pada Rae dan buru-buru masuk mobil duduk manis di sebelah setiran yang kosong.
Dengan terpaksa Rae pun masuk dalam mobil sang mommy, untuk segera melajukan kendaraan roda empat itu menuju rumah gadis pujaannya dengan tanpa banyak bicara. Berharap sang mommy menurunkannya di depan gerbang saja supaya tidak bertemu tante Melisa. Kalau sampai kejadian kan' barabe? Ini adalah kunjungan resmi pertama Rae ke rumah si calon bebeb.
“Ini bukan arah kerumah Arka?.” Sarah bergumam pelan namun masih bisa di dengar oleh Rae.
“Memangnya temen Rae cuma Arka doang, ma” Sahut Rae singkat tanpa ekspresi. Konsentrasi melihat ke arah jalan
"Lantas rumah siapa?"
"Eh...A...Aluna." Jawabnya kemudiap dengan gugup nyaris tak kedengaran. Dia bukan type yang suka berbohong.
“O.” Bulat mulut Sarah menyadari ternyata kini anaknya sedang menuju rumah gadis yang di perkarakan Raka dan Rae semalam.
__ADS_1
Tapi sedapat mungkin sarah berusaha tenang dan tidak mengeluarkan opini apapun. Takut salah dan menimbulkan ketidak nyamanan dalam hati anaknya tersebut.
"Itu bukannya, ponakan bu Melisa?" Pertanyaan itu di tahannya karena melirik wajah Rae yang kemerahan sendiri.
Mobil yang Rae kemudi sudah berhenti di depan pagar, sementara hujan sudah mereda. Membuat Rae dengan mudahnya meminta ijin pada sang mommy untuk turun di depan pagar saja, lalu menerobos rinai gerimis yang baginya tidak akan membuatnya kuyub sampai di rumah Aluna.
“Kamu yakin, hanya turun di sini?” tanya Sarah agak meragu.
“Iya, mom. Rae tinggal lari ke dalam.” Ucap Rae keluar mobil.
“Terima kasih ya, Mom” Tak lupa Rae mengucapkan terima kasih pada sang mama yang sudah beralih, geser dari kursi penumpang ke kursi pengemudi, tanpa keluar mobil.
Pintu pagar rumah Aluna terbuka saat Rae masuk akan berlari ke dalam menuju teras rumah gadis si jantung hati.
Tet
Tet
Suara klakson mobil terdengar berada di belakang tubuh Rae, membuatnya menoleh ke arah suara.
“Beb, kenapa kamu lari?” suara si nyamuk Emma bahkan sudah mengalahkan suara toa di masjid saat memanggil umat untuk sholat.
Rae hanya melambaikan tangannya, sambil terus berlari dengan tas ransel yang ia letakkan di atas kepalanya, agar tidak kena gerimis.
“Wah, sudah datang. Masih hujan juga, agak sorean nunggu reda gak masalah sih. Eh, Kalian bareng ?” sapa Aluna menyongsong Emma dan Rae sudah sama-sama berdiri di depan teras rumah tante Melisa.
“Gak." Rae menjawab cepat.
"Gak bareng, Lun. Hanya mungkin chemistry dan kontak batin kami aja yang bikin kami berdua seperti barengan, ya kan' cakep?”
Emma selalu kumat centilnya saat berdiri berdampingan dengan Rae, tidak tahu perasaan Aluna yang langsung berdesir tak karuan.
Cemburu? Astaga, masa dia cemburu dengan mak nyamuk sih😅
__ADS_1