
Rae memarkir mobil di halaman bangunan butik mommynya yang masih sepi. Mereka tiba setengah jam sebelum janji temu sang mommy dengan teman bisnisnya itu yang kata sang mommy adalah salah satu kenalannya dalam sebuah even beberapa bulan yang lalu.
“Mom, Rae ke rumah Arka aja dulu, yah. Ntar Rae balik kalau mommy sudah selesai urusannya.” Rae menoleh pada Sarah yang bersiap akan turun.
“Eh, maksudmu, kamu mau ninggalin mommy?” Sang mommy mendelik.
“Lah, Mommy…ngapain Rae ikut mommy, itu ibu-ibu ketemuan masa Rae harus ngintilin?” Rae protes.
“Mommy sebentar saja, kok. Jadi kamu harus nunggu.” Sarah bersikeras.
“Tapi…”
“Pokoknya, mommy mau kamu nungguin sampai urusan mommy selesai. Ayok, turun.” Rae akhirnya tak membantah lagi, dia harus menyerah dibawah pelototan sang mommy. Dia tahu ucapan itu dalah perintah dan dia tak bisa melawannya.
Sarah lebih keras dari Raka dalam mendidik anak-anaknya, mungkin karena masalalunya, dia tidak ingin anak-anaknya nanti menjadi cengeng dan manja karena dia sangat tahu kerasnya hidup tanpa kasih sayang orangtua. Meskipun begitu, Sarah tetaplahseorang ibu yang sangat mudah cemas kepada anak-anaknya.
Raka lebih lunak dan caranya berkomunikasi dengan anak-anaknya lebih seperti menghadapai seorang teman. Raka dan Sarah saling melengkapi dalam mendidik anak-anak mereka itu.
Rae mengikuti langkah Sarah dari belakang punggung dengan wajah masam, dia tak acuh dengan beberapa orang pegawai mamanya itu yang menyapa mereka berdua.
Sarah tampak bangga saat berjalan bersama jagoannya yang tampan itu, setiap orang seolah begitu terkesan dengan penampilan Rae. Yah, Rae memang punya pesona tersendiri meskipun masih dalam usia yang belia. Pesona Raka seolah diturunkannya sempurna dalam wujud seorang Rae.
“Hai, my prince…” Jen muncul menyongsong Sarah dan Rae. Teman Sarah sekaligus pengelola butiknya itu mengedipkan mata pada Rae, dia memang suka menggoda keponakan kesayangannya ini. Rae sering di asuh oleh Jen saat dui bawa oleh Sarah ke butik pada masa bayi dan kanak-kanaknya.
“Apa kabar sayang, lama gak kemari, gak kangen sama Onty?” Dia sama sekali tak memperdulikan kehadiran Sarah.
“Rae sibuk belajar biar jadi pintar, onty Jen. Jadi gak bisa menjenguk onty.” Sahut Rae, dia sangat sayang dengan Jen yang selalu menjadi pembelanya jika melakukan kesalahan. Bahkan pada saat kecil\ Rae sukses mencoret-coret desain mommynya yang harus di serahkan keesokan harinya pada klien. Tapi Onty Jennya ini pasang badan membelanya.
“Jen, kolega yang bikin janji pagi ini kemari sudah datang, ya?”Tanya Sarah menyela dua orang yang tengah temu kangen itu.
__ADS_1
“Belum, mam.”
“Oh, kalau sudah datang, langsung suruh naik ke ruanganku di atas, ya.” Sarah berjalan menuju lift, dia akan naik ke lantai 4, dimana ruangannya berada.
“Ashiappp…”
“My prince, nanti onty bawa sekalian susu pisang favoritmu, ya…”Tawar Jen sambil menepuk pipi Rae.
“Makasih, Onty. Gak usah repot-repot, Rae cuma anterin mommy sebentar aja.” Rae mengikuti masuk ke dalam lift sebelum pintu lift itu tertutup.
Sarah duduk di meja kerjanya memeriksa beberapa laporan yang ada di sana, sementara Rae sibuk sendiri membuka ponselnya sambil duduk berselonjor di atas sofa.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan di pintu terdengar memecah kesunyian,
“Masuk saja.”
“Mam, tamumu sudah datang.” Jen masuk dan memberi isyarat agar Rae duduk dengan benar karena di belakangnya seorang perempuan lebih tua beberapa tahun dari sarah itu, tetap terlihat elegan dan cantik dengan mengenakan dress hitam selutut yang modis dipadu dengan blazer warna putih yang serasi.
“Selamat pagi, bu Sarah.” Sapa perempuan itu.
“Hey, Bu Melisa, selamat pagi juga.” Sarah menyambut koleganya itu yang ternyata adalah Melisa.
Rae hampir terlonjak dari tempat dududknya saat melihat siapa yang berada di belakang tamu sang mommy. Gadis yang sangat di kenalnya.
“Lebah…” Panggilan itu hampir terlontar dari mulutnya melihat Aluna yang melotot tak kalah terkejutnya saat melihat Rae yang sedang duduk di sofa tamu.
Aluna yang mengenakan T-shirt putih dan celana panjang bahan denim di balut dengan cardigan warna biru malam. Rambutnya yang panjang itu di gelungnya ke puncak kepalanya dengan seadanya sehingga sebagian anak rambutnya terlihat lepas menghias wajah ovalnya yang tanpa make up itu kecuali bibirnya yang di poles lip balm warna senada dengan bibirnya. Di telinganya bergantung sebuah ear phone membuatnya terlihat semakin menarik.
__ADS_1
Penampilan Aluna tampak lebih dewasa dari yang di lihat Rae saat mengenakan seragam sekolah.
Sarah segera berdiri dan menyambut tamunya itu, sementara Rae masih mematung di tempatnya duduk dengan dada yang tiba-tiba berdegup tak karuan.
Melisa dan Sarah berjabat tangan dan saling menempelkan pipi mereka, selayaknya dua orang teman yang meskipun hanya bertemu dua kali tetapi mereka sudah cukup akrab.
“Hey, siapa si cantik bersamamu ini, putrimu?” Tanya Sarah sambil mengulurkan tangannya dan Aluna menyambut tangan Sarah, mencium punggung tangan Sarah dengan sikap hormat.
“Ini, Aluna. Keponakanku, kebetulan dia hari ini dia sedang libur jadi ku ajak untuk menemaniku.” Jawab Melisa sumringah.
“Oh, sama dengan Rae.” Sarah melambaikan tangannya pada Rae untuk bangun dan mendekat pada mereka tampaknya dia ingin memperkenalkan putranya itu pada tamu-tamunya itu.
Rae beranjak dengan enggan dan menghampiri sementara Jen mengerutkan kening pada Rae melihat tingkah putra Sarah itu sambil mengikuti langkah Rae dari belakang.
“Perkenalkan ini Rae, putra sulung saya.” Ucap Sarah dengan bangga. Melisa segera menepuk bahu Rae lembut saat Rae menyalaminya.
“Ini Aluna…” Melisa menunjuk pada gadis yang pias wajahnya memerah dan tegang di sampingnya tampak kebingungan harus melakukan apa ketika mereka di tuntut berkenalan.
“Aaa…maaf tante, Luna sudah mengenalnya.” Jemari Aluna terkepal di samping kiri kanan tangannta dengan telapak tangan terasa dingin, betapa beratnya dia mengulurkan tangan pada Rae, apalagi dia melihat Rae sama sekali tidak ada tanda-tanda akan mengangkat tangannya untuk bersalaman dengannya.
“Waaaah, kalian sudah saling kenal?”Sarah dan melisa begitu surprise mendengar pernyataan Aluna yang dengan wajah seperti jambu matang menyisikan rambutnya kebelakang telinga. Terlihat sekali dia salah tingkah.
“Eh, Rae kamu sudah kenal Aluna?” Tanya Sarah sambil berbalik menatap Rae, memastikan apa yang di dengarnya.
“Kami satu kelas.” Jawab Rae sambil mengangguk, sedapat mungkin dia tak menatap pada Aluna, entah mengapa lututnya tiba-tiba terasa sedikit gemetar ketika mereka berdua saling mencuri pandang.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
__ADS_1
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...