
Tidak banyak yang bisa Melisa jadikan wejangan pada putra bungsunya. Dia nyaris kehilangan kata, kalau soal perasaan dia sendiripun tak berkutik. Dia ingat kebucinannya sendiri pada Jordan, papanya anak-anak di waktu muda. Dalam nadi yang menggebu-gebu itu, mengalir darah muda, darahnya para remaja.
Jika di tilik persoalan akar pangkal permusuhan Jordy dan Rae, kasusnya tumpang tindih bertumpuk sudah mirip dengan tumpukan pengaduan di atas meja hakim.
Tugas Melisa mencari biang masalah sudah selesai, tinggal menunggu anaknya berproses memiliki kebesaran hati, meluluhkan ego dalam dirinya sendiri dalam hal berdamai dengan Rae. Dan Melisa yakin, ini hanya soal waktu untuk menyelesaikan kesalah pahaman antara dua remaja labil itu.
Hari baru, semangat baru. Langit biru ceria seindah tangkapan kamera !phon3 13 Pro M@x yang memiliki ke akurasi dan eksposur target yang selalu konsisten (Bukan endorse ya😅), sebagai pengandaian betapa cerianya hati beberapa siswa yang sedang di landa cinta monyet itu. Bangun lebih rajin, mandi lebih lama sebab sambil bersiul dan bersenandung lagu terbaru yang lagi nge hits.
Hadirmu membuat diriku kembali bahagia
Setelah sekian lama kumerasakan hampa
Sekejap duniaku menjadi berwarna
Kau rubah segalanya
Dalam hatiku bertanya
Hu
Sekejap duniaku menjadi berwarna
Kau rubah segalanya
Dalam hatiku bertanya
Mengapa dirimu tak bisa menghilang dari pikiranku
Mengapa hatiku selalu saja mengarah kepadamu
Dan memang hanya kamu lagi-lagi kamu
Terlintas di benakku
Mungkin memang aku sedang
Jatuh cinta
Diriku bertanya pada bintang-bintang (bertanya bintang-bintang)
Apakah dia jawabnya
Dan ini saatnya
Akan kunyatakan (ha)
Segala isi hatiku kepada dirinya (uh)
Mengapa dirimu (mengapa)
Tak bisa menghilang dari pikiranku (menghilang dari pikiranku)
Mengapa hatiku selalu saja mengarah kepadamu
__ADS_1
Dan memang hanya kamu (hanya kamu)
Lagi-lagi kamu (di hatiku)
Terlintas di benakku (ho)
Mungkin memang aku sedang
Jatuh cinta
Mengapa dirimu tak bisa menghilang dari pikiranku (menghilang dari pikiranku)
Mengapa hatiku selalu saja mengarah kepadamu (ho)
Dan memang hanya kamu (hanya kamu)
Lagi-lagi kamu (di hatiku)
Terlintas di benakku
Mungkin memang aku sedang (oh mungkinkah)
Mungkin memang aku sedang (jatuh cinta)
Mungkin memang aku sedang
Jatuh cinta (oh)
Jatuh cinta oh (oh)
Jatuh cinta
"Astaga lagu ini..." Rae geleng-geleng kepala. Dia tak pernah menyangka di hampiri perasaan seaneh ini. Bahkan sekarang dia perlu tambahan waktu ekstra untuk merapikan bentuk sisiran rambut, ke kiri ke kanan, di kibar di rapikan lagi mencari tampilan yang pas untuk terlihat tanpa cela.
"Rae, kamu lambat sekali. Adik-adikmu sudah pada ngamuk nungguin kamu." Sarah geleng-geleng kepala melihat anaknya itu muncul dengan rapi luar biasa.
"Aku kan' naik motor aja, mom."
"Sekarang lagi musim hujan. Jangan pake motor, nanti kalau mendadak hujan, kamu bisa basah kuyup." Tegur sang mommy.
"Pak Amin yang antar kalian, ya."
"Rae naik motor aja mom. Males gabung sama duo rusuh itu. Kalau hujan, Rae kan bisa berteduh?"
Rae nenolak dengan enggan, di ciumnya punggung tangan mommynya segera pamit berangkat.
"Kamu harum sekali, sayang. Kayak habis ketumpahan parfum?"
Untuk yang lagi kasmaran, Jangan tanya bagaimana rapi dan harumnya pakaian yang dikenakan. Semuanya ingin tampil sesempurna mungkin di hadapan si jantung hati. Tak terkecuali Aluna dan Rae, yang sedang di landa wabah parah namun tidak menular itu.
Rae segera kabur dari depan Sarah, dia tak mau berlama-lama, nanti di interogasi tidak habis-habis jika di ladeni.
Rae bersemangat masuk ke kelas, apalagi di sana sudah duduk dengan manis Aluna, dia terlihat jinak, wajahnya benar-benar manis.
__ADS_1
"Hai, mbeeeeb..." Emma menyongsong dengan riang. Rae cuna nyengir, dia harus tampil cool dan jaim di depan Aluna.
" Eh, Aluna sudah cerita, lho. Asyiknya kalian hang out kemarin, aku gak di ajak. Curang..."
"Sttttt!!!" Wajah Rae segera memerah, telunjuknya naik di bibirnya dengan mata melotot besar. Dia malu jika jadi bahan gunjingan teman-taman sekelas gara-gara kejadian kemarin.
Satu-satu jam pelajaran berlalu terasa memakan waktu satu abad. Karena mereka tak punya kesempatan banyak untuk bertukar cerita. Cuman saling melirik saja, jangan tanya bagaimana suasana hati keduanya. Makin rusuh dan thuru-hara saat hanya demi mendengar suara satu sama lain, si Aluna yang biasanya judes dan galak itu seketika jinak dan mudah tersipu dan Rae yang cool dan acuh tak acuh itu tak bisa menepis sikapnya yang salting tak jelas.
Mereka kadang tak fokus memang pada materi pelajaran, suara guru menjelaskan teori fisika di depan bagai alunan lagu saja. Itulah bahayanya jatuh cinta, kadang bisa bikin orang lupa sekelilingnya.
Tak jarang mereka nge-lag dan tak nyambung ketika di tanya.
Akhirnya bel pulang berbunyi. Itu bagaikan suara gong yang sangat di nanti sejak pagi. Keduanya berhasil menahan diri untuk tidak terlihat ada yang special, berusaha bertingkah seperti biasa. Demi mengelabui tatapan curiga si comel Emma yang jika datang sarafnya bisa saja menggibahi hubungan mereka, pergi ke ruang informasi, untuk mengumumkan hal konyol yang terjadi antara Rae dan Aluna.
“Hari ini, supirmu tidak menjemput lagi Lun?” Rae berharap kejadian kemarin terulang, sangat bahagia bukan, jika itu terulang.
"Om Fan sudah nongkrong di depan, tadi barusan WA." Senyum Aluna merekah malu-malu.
“Oh.” Sahut Rae, terdengar agak kecewa.
"Nanti sore, jadi kan?"
"Apa?"
"Kerja kelompok untuk LKIR di rumahku?" Aluna mengingatkan.
"Oh, kalau itu sih aku okey aja. Aku ijin dulu sama mommy, ntar heboh lagi kayak kemarin." Sahut Rae.
"Eh, tante Meli nelpon mommy kemarin. Jadi berasa kayak di jagain" Lanjut Rae sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Mereka memang suka begitu." Wajah Aluna merona.
"Aku duluan, ya..."Aluna hendak berbalik, dia jengah terlalu lama berhadapan dengan Rae.
"Tunggu..." Rae menahan Aluna, tak sengaja tangannya melingkar di pinggang ramping gadis manis itu.
"Astagaaaaah, pemandangan haram!!!" Si Emma yang tiba-tiba muncul melotot besar.
"Akh." Rae segera menarik tangannya dengan salah tingkah.
"Rae! menyentuh lawan jenis yang belum kamu beri kepastian hubungannya itu hukumnya Haram. Itu seperti beri harapan tapi gak ada pertanggungjawaban."
"Gak sengaja, Em..." Rae malu luar biasa apalagi suara Emma sudah menyaingi suara pengumuman di pasar obat. Paras Aluna tak kalah merahnya. Apalagi anak-anak yang baru menghambur dari berbagai ruangan itu dengan penuh kepo melihat ke arah mereka.
"Paling gak, resmikan hubungan kalian, tembak dia biar halal gandengan tangan." Emma berkacak pinggang seperti emak-emak lagi negur anaknya.
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...