CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 46. JANGAN INGAT-INGAT LAGI


__ADS_3

"Tante Meli yang memasaknya untukku pagi." Aluna menyeringai dengan bangga, tantenya


itu memang suka memasak dan Aluna yang mempunyai kebiasaan serta beberapa alergi dengan makanan membuat sang tante semakin kreatif untuk membuat menu bekal buat keponakan kesayangannya itu.


“Ada dua bungkus, nih. Kalau aku makan dua-duanya kebanyakan” TambahAluna menyodorkan pada Emma yang hanya melihat bungkusannya saja sudah menelan ludahnya sendiri.


“Buat aku saja, tadi pagi aku tak sempat sarapan.” Rae jelas bohong. Setiap pagi, keluarganya tak pernah melewatkan yang namanya sarapan bersama, bahkan itu sudah jadi ritual rutin keluarga mereka. Tapi, kenapa rasanya dia tak rela makanan Aluna itu dicicipi orang lain.


Tangannya begitu cepat merngambil nasi berbungkus daun pisang itu, yang jelas di sodorkan untuk Emma.


Ah, cinta memang kadang  sebodoh itu ya guys, rasanya absurb dan kekanak-kanakan.


“Ih, bebeb Rae maen serobot aja. Ya, udah aku pesan baso aja. Kamu, Ka?” sungut Emma sembari menulis di kertas pesanan. Bau nasi bakar itu menggodanya tetapi sebagai teman yang pro atas hubungan baik Rae dan Aluna yang baru terjalin itu, Emma tak mau ngeyel.


“Aku mau kwetiau goreng deh, Em. Tambahin cilok pedes seporsi, Minumnya teh es aja, dua gelas, ya. Satu gelas nanggung. ” Sambut  Arka yang sejak tadi mengamati daftar menu di kantin sekolah.


"Oalah, pesenanmu banyak amat, Ka? macam porsi kuli bangunan aja." Emma geleng-geleng kepala.


“Biarin …” Sahut Arka dengan cuek.


Emma tanpa protes lagi segera melangkah mengantarkan pesanannya kepada mbak Ning yang sedari tadi mondar mandir mengantar pesanan anak-anak. kantin sekolah itu ada beberapa lapak penjual, di ijinkan sekolah setelah di review strilisasi dan higieneisnya. Maklumlah Sekolah elite, kalau anak-anaknya pulang kena diare habis jajan di kantin, habislah para penjualnya di amuk. Lapak kantin mbak Ning memang favorit Rae dan juga Emma.


“Oh Tuhan aku lupa. Bebeb Rae,  minumnya apa?” Emma mundur sambil menepuk jidat mulusnya, lupa jika kesayangannya itu belum pesan minuman.


“Sam dengan Luna, air mineral saja.” Jawab Rae sambil melirik wajah cantik Aluna. Gadis itu terlihat sibuk membuka nasi bakarnya.

__ADS_1


“Dasar bucin. Biasa juga es jeruk, tuh.  Tumben hari ini air mineral? Biar samaan sama Aluna?" Tuduh Emma sambil memicingkan matanya. yang di tuduh cuek bebek, malah wajah Aluna yang memerah seperti kepiting rebus mendengarnya.


"Jatuh cintrong emang gitu kali ya. Air mineral juga paling berasa es cendol.” Oceh  Emma. Rae dan Aluna berpura-pura sibuk sendiri tak mendengar ocehan Emma.  Mau protes juga percuma kan, tuduhan itu benar, tepat mengenai sasaran hati mereka yang sedang kebas karena cinta.


“Hah, Emma-Emma. Kalo ngomong mana pernah mikir duluan.” Arka berceletuk menghilangkan rasa kaku yang sempat tercipta sambil menggeleng-gel;eng kepalanya melihat tingkah Emma.


“Eh Lun, boleh tanya, gak?"


"Apa?"


"Kamu ga malu bawa bekal ke mana-mana?” tanya Arka eakan mewakili pertanyaan Arka yang menggelitik sedari tadi.


“Ngapain malu? ini makanan gak hasil nyolong juga” Jawab klasik Aluna. Ia dapat berbicara santai tanpa ada rasa yang mencekak dilehernya jika lawan bicaranya bukan Rae. Tapi jika dengan Rae ia mendadak bodoh karena otaknya terkontaminasi rasa nervous yang sedemikian besar, konyol.


“Aku sudah biasa, kok dari kecil selalu di bekalin dari rumah jadi sekarang sudah biasa. Gak ada lagi rasa malau atau canggung gitu. Terserah orang aja deh mau komen apa. Dah biasa aku di bilangin, anak mami, manja lah, anak rumahan, pelit jajan. Kalo sudah jadi kebiasaan itu ga bakalan ada yang namanya rasa malu juga bosan, kebal aku Ka." Aluna terkekeh sendiri. Senyumnya merekah menanggapi pertanyaan Arka.


"Kamu gak pernah ngerasa repot gitu, Lun?" Arka melongo menatap Aluna, dia tahu benar gadis ini adalah krturunan orang kaya yang gak habis berapa turunan. Membawa bekal itu terasa laneh saja baginya. Seisi kantin sampai sekolah ini bisa kali dia bungkus pulang.


"Eh, gak ngerasa repot kok. Aku bahkan rela putar balik jika kotak makanan ini tertinggal. Pengalaman yang paling bikin aku kelimpungan gegara bekal ini, yang terjadi di hari pertamaku masuk sekolah dulu. Aku hampir terlambat karena harus kembali mengambil kotak bekalku yang ketinggalan. Gara-gara itu ada seorang siswa yang meneriakiku bahkan bersikap sinis.” Jawab Aluna sambil tertawa kecil,  mengenang masa pertemuan pertamanya denga Rae sambil melirik pada Rae.


“Ehm...bisa gak sih ga usah ungkit soal itu lagi, Lun?” suara tegas Rae jelas terdengar pada rungu mereka yang duduk bersama di pojokan kantin sekolah itu.


"Aku gak suka banget kamu ngungkitin hal gak penting itu, males ngingatnya. Please, jangan ingat-ingat lagi!"


Suasana di pojokan kantin sekolah itu mendadak dingin. Saat Aluna menyindir tentang pertemuan pertamanya dengan Rae. Dan remaja tanggung itu pun terlihat tak suka mengenang masa, di mana ia memperlakukan Aluna dengan tidak semestinya.

__ADS_1


"Itu kan cuman salah paham aja, jangan suka di inget- inget terus. Rasanya aku kayak gimana gitu." Tuding Rae dengan muka masam. Aluna tak tajhan untuk tak menatap lekat pada wajah Rae, sungguh berbeda rasanya sekarang ketika mereka berdua berhadapan, dia tak lagi merasa tersulut dan panas saat berdebat dengan Rae. Dan rae sendiri sama sekali tak menunjukkan jika dia sengaja membuat dirinya selama ini blingsatan di bakar emosi.


"Aku kan gak tau kamu terlambat gegara apa, sasaranku kan si Pak Amin noh yang gak boleh lambat setengah menit doang maen tutup-tutup aja gerbang dan lagi kamu sih nyolot duluan, jadi akhirnya aku panas juga. Sumpah, gak maksud lho aku." Rae masih membela diri.


"Eh, kenapa kamu jadi sewot gitu sih, Rae?" Emma melotot pada Rae melihat ketegangan yang baru saja tercipta hanya karena sebaris kalimat berbau masa lalu itu.


"Iya, kenapa kamu jadi marah gitu, Rae. Aku kan cuman cerita aja.” Ujar Aluna memandang ke arah Rae dengan perasaan bersalah sebab telah merusak mood lelaki di hadapannya tersebut. Baru kali ini dia merasa takut membuat Rae kesal, biasanya dia paling menggebu jika telah membuat cowok itu naik tensi.


“Aku dulu bayi premature, lahir hanya di usia 7 bulan dalam kandungan Momyku. Aku di rawat dalam incubator selama 6 minggu, setelah itu mungkin kalian dapat bayangkan bagaimana kedua orang tuaku memperlakukan aku. Sangat amat protektif. Menitipkan aku dengan tante Mellisa sekarang juga dengan penuh pertimbangan dan perang bathin dari kedua orang tuaku. Makanya Jordy kadang jadi posesif banget sama aku” Cerita Aluna tanpa di minta.


"Makananku juga gak bisa sembarangan, ada bahan-bahan tertentu yang bisa bikin aku alergi berat. Karena itu keluargaku sangat menjaga makananku. Dan aku juga gak pengen merepotkan mereka dengan masalahku jika aku sesuka hati melanggar apa yang sudah di atur oleh mereka dengan sussah payah." Mata gadis itu mengaca, dia menjadi setengah curhat.


Rae entah kesambet setan apa, tiba-tiba saja sudah meraih tangan kanan Aluna, mendapati mata gadis itu sedikit berkaca. Dia mungkin sedikit takut karena nada suara Rae yang tinggi.


“Maaf …” Ujarnya segera tanpa sambungan kata apapun lagi. mata mereka berpandangan agak lama di bawah tatapan terpesona Arka yang tak menyangka reaksi Rae terhadap Aluna yang begitu sweet.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2