
Merah kuning hijau dan biru ... Ah, itu warna pelangi. Manis, asam, asin, eh. Itu permen nano nano bukan?
Tapi semua itu sungguh sebagai perwakilan rasa dan rupa yang di rasakan oleh Rae sekarang, akibat godaan Raka, daddynya sendiri.
Memilih kabur ke kamarnya untuk menyendiri di sana, adalah hal teraman saat ini, kalau tidak akan panjang urusannya.
"Apa daddy adalah penulis karangan fiksi atau seorang sutradara, ya? Sebegitu ahlinya membolak balikkan cerita dan keadaan." Sungut Rae di dalam hati.
Mencoba fokus pada buku pelajaran saja, berharap sekelebat bayangan kilas balik kejadian pulang sekolah tadi bisa berhenti berputar putar bagai slide show iklan di pinggiran jalan.
Astaga, kenapa apapun yang ku baca gak masuk-masuk, kenapa semua tulisan rumus ini semua berubah?
Di atas angka dan barisan garis bukunya, ada Aluna yang terlihat selalu tersenyum manis padanya.
Tap!
Rae menutup buku dengan keras.
Ya ampun, bayangan Aluna sudah pindah lagi ke sampul depan bukunya.
"Apa aku sudah gila?" Rae bergumam pada dirinya sendiri.
"Kenapa dia ada di mana-mana?" Rae beralih menatap dinding kamarnya, dan tentu saja bayangan Aluna stay on di sana dengan sebaris gigi putihnya dan senyum malu-malunya seperti terakhir Rae lihat ketika naik ke boncengan motornya.
Bruukh!!
Rae melompat, lalu melempar tubuhnya ke atas kasur. Menutup wajahnya dengan bantal, masih dalam usahanya menghapus bayangan si manis Aluna.
Sialan!
Aluna, Aluna, Aluna masih mendominasi di dalam otaknya.
"Obat paling mujarab untuk rindu adalah bertemu, minimal mendengar suaranya."
Dia pernah membaca artikel itu sekilas di Google, tidak sengaja.
Rae penasaran, memberanikan diri saja untuk menghubungi hama perusak otaknya, mungkin bisa menenangkan pikirannya.
Dengan keberanian penuh di hubunginya kontak Aluna.
"Hallo?" Tidak perlu menunggu lama, suara manis itu terdengar menyambut di seberang.
"Em...Lun?" Malah Rae yang tergagap mendengar suara bening yang tak lagi galak itu.
"Hallo Rae, ada apa, ya?" Aluna memang sedang akan menchat Rae. Tapi masih menimbang dan berusaha menepis rasa malunya yang bercokol di dalam hatinya. Ia terlalu baper, sehingga merasa tabu untuk menghubungi lelaki terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia perlu meregangkan hatinya, agar mengesampingkan rasa malu tadi. Namun, gayungpun bersambut. Tak dinyana, justru kini Rae yang menelponnya.
"Oh, sedang online. Cepat sekali responnya?" gugup Rae tak menyangka Aluna dengan cepat menerima telponnya.
"Iya, tadi aku memang berencana nge-chat kamu." Jawab Aluna pelan namun jelas. Membuat lobang hidung Rae kembang kempis, setelah tau bahwa gadis itu juga sedang memikirkannya.
"Oh ya. Mau nge- chat aku? mau ngomong apa?" Rae menggaruk-garuk kepalanya sendiri yang tak gatal.
"Seharusnya, aku yang tanya kenapa kamu telpon aku sekarang?" Malah Aluna yang balik nanya.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya? sini aku kasih tahu! Aku kangen kamu! aku sepertinya tercandu-candu dengan senyummu!"
Andai kata Rae bernyali, dia akan mengucapkan itu pada Aluna.
"Eh, itu...aku ...?" Rae nyengir sendiri tak tahu mau bilang apa.
"Apa?"
"Kamu duluan bilangin, kamu mau nge chat soal apa?" Rae mengalihkan pembicaraan. Mungkin saja Aluna bilang rindu. Akh, Rae Ge-eR banget ga sih?
"Itu ... soal kerja kelompok kita besok."
Jawaban Aluna membuyarkan harapan Rae. Seketika hatinya ciut. Sungguh tak sesuai ekspektasinya bukan. Ia kira, Aluna sama sepertinya, yang resah dan gelisah terbayang-bayang dari tadi.
"Oh." Rae menyahut pendek, Rae berusaha mengembalikan kesadarannya supaya bersikap profesional.
"Di rumahmu?"
"Maksudku rumah tante Meli."
"Akh..." Rae menyahut sedikit terkejut, dia tak menyangka jika mereka akan merencanakan kerja kelompok di rumah Jordy, barang tentu masalah perseteruan mereka akan semakin sengit. Bertemu dengan Jordy berarti bersiap untuk berkelahi. Anak itu tak pernah menyukainya.
"Tante Melisa mengusulkan padaku sore tadi, lebih baik kita kerjakan di rumah. Jadi kita tidak perlu terlalu mencemaskan waktu. Yang penting kamu sama Emma sudah ijin dengan orangtua masing-masing. Paling gak, di rumah banyak cemilan." Aluna terdengar terkekeh, suara tawa kecil renyah. Rae terpesona! Andai boleh, dia ingin pindah ke mode VC saja biar puas melihat lesung pipitnya Aluna yang samar itu.
"Kamu yakin?" Rae terdengar ragu.
"Of Course! Tante Melisa sendiri yang kasih ide."
"Bukan soal itu, kalau tentang ijin tante Meli aku sih sudah yakin aja. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Jordy? Bagaimana dengan Jordy?"
"Kamu takut dengan kak Jordy?" Pertanyaan itu membuat darah muda Rae menggelegak, dia tak suka di remehkan.
__ADS_1
"Bukan soal takut, tapi kalau bakalan ribut kan' gak enak juga." Alasa Rae.
"Oh, kalau urusan itu, biar di urus sama tante Meli. Yang penting niat kita baik cuman mau belajar, gak mau berantem. Ya, kan?"
Pernyataan Aluna yang di akhiri nada tanya tanpa perlu jawaban itu membuat Rae terdiam.
"Baiklah ..." Akhirnya Rae berucap.
"Terima kasih infonya ya, Lun." Rae tak tahu harus bilang apa.
"Maaf merepotkanmu ya Lun. Semoga usaha tidak mengkhianati hasil." Ucap Rae bijak. Tumben bijak? Ya, pastilah, cari perhatian tipis-tipis hukumnya halal buat yang lagi jatuh cinta.
"Maaf, lho jadi merepotkanmu. Jadi harus jauh-jauh ke rumahku..."
"Tidak merepotkan sama sekali. Aku justru senang di ajak ikut lomba. Jadi bisa punya pengalaman dan mengasah kemampuan."
"Ya, makasih banget Rae, aku gak nyangka kita jadi team beneran."
"Heem ..." Rae sungguh menikmati setiap lapalan suara lawan bicaranya di ujung ponsel pintarnya.
"Oh, Iya Rae. Bukannya tadi kamu yang nelpon duluan. Mestinya kamu yang punya sesuatu yang ingin di sampaikan, apakah itu, Rae?" Aluna baru teringat jika tadi Rae yang menghubunginya.
"Cuma mau bilang, malam ini aku ga bisa fokus belajar karena mikirin kamu."
Stt ... Itu tidak di dengar oleh Aluna, sebab hanya Rae ucap dalam hatinya.
"Rae, Kamu masih di sana?" tanya Aluna yang merasa tak mendengar suara atau jawaban dari lawannya berbicara.
"Oh ... Eh. Iya Lun, tadi cuma mau tanya, apakah tantemu sungguh tidak marah karena kamu pulang terlambat tadi" Rae mencari seribu satu alasan yang masuk akal. Masih malu rasanya bilang rindu pada gadis yang bahkan belum 24 jam tak ia pandang wajahnya.
"Tidak Rae. Tante justru masih merasa gak enak padamu, karena sikap Jordy. Tolong di maafkan ya Rae ..." Pinta Aluna lembut.
"Akh, santai aja. Itu hal biasa bagi para kaum laki-laki yang ingin melindungi orang yang mereka sayangi." Seolah pria dewasa Rae menjawabnya. Mungkin sebagian bakat rayuan pulau kelapa sang daddy menitis padanya, tanpa di sadarinya.
"Sebenarnya kalian punya masalah apa sih, Rae? Kok tiap ketemu selalu bawaannya gak akur terus?" Ulik Aluna penasaran.
"Setauku , aku ga punya masalah serius kok sama dia." Jawab Rae pendek.
"Lalu kenapa kalian selalu adu jotos kalo ketemu?" Cecar Aluna tak percaya pada pernyataan Rae.
"Mungkin memang mau ukur kemampuan saja, he .. he."
Keduanya seolah lupa dengan tugas masing-masing. Kalau mereka belum menentukan tema LKIR mereka. Tetiba menemukan ide obrolan yang wajib di bahas sekarang tak bisa di tunda. Posisi Aluna dari duduk di meja belajar, hingga merapikan bukunya. Lalu memilih berguling-guling di tempat tidur demi meladeni obrolan absurdnya dengan Rae.
Fix, mereka tidak sedang fokus pada rencana awal. Malah tanpa sadar sedang saling berupaya mengenal pribadi masing-masing.
__ADS_1
Obrolan mereka terputus saat Emma berusaha menghubungi mereka lewat Chat beruntun. Emma membuat grup baru untuk mereka bertiga. "Grup Bersama Pinter Keren (BPK),"