CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 29 Endorse Cinta


__ADS_3

"Yang mana?"


"Soal kak Dandy nembak aku tadi."


"Ya, iyalah Prank. Masa aku nembak cewek siang bolong begini, gak ada romantis-romantisnya, bisa rusak reputasi pangeran cassanovaku kalau di dengar penghuni sekolah ini."


"Okey, Aku terima prankmu, kak Dandy. Meski hampir bikin aku jantungan tadi, tapi aku pastikan, suatu saat kak Dandy akan mengulang kembali pernyataan itu padaku. Dan aku pastikan juga kak Dandy harus berjuang untuk mendapatkan kata iya dariku. " Ucap Emma sambil mengedipkan matanya, roh Emma yang sesungguhnya telah kembali ke raganya setelah di buat terkejut tadi oleh Dandy.


"Wakakaka...Selera humormu ternyata asyik juga." Dandy tergelak lepas, mendengar kalimat setengah bercanda yang di ucapkan Emma padanya.


"Oh, ya...kak Dandy tadi bilang apa? Mau dengar masukan dariku tentang Aluna, tepatnya mungkin bagaimana memuluskan niat kak Dandy untuk nembak dia. Untuk yang itu sebagai temannya aku no coment. Perasaan soal hati, bukan soal pelet memelet. Silahkan di coba aja, kak. Cewek suka di perjuangin, jadi why not if you want to try. Setahuku Aluna masih single, she is free..." Emma menggedikkan bahunya, wajahnya yang biasa tengil itu terlihat santai.


"I know she's free...tapi aku perlu bantuanmu." Dandy mengedipkan matanya pada Emma, membuat gadis ini sedikit gugup melihatnya. Dandy sangat pintar memang dalam memikat perempuan, dari gestur tubuhnya saja sangat kelihatan dia pro dalam urusan menahlukkan lawan jenisnya


"Bantuan? Apa?"


"Kamu promoin aku ke dia."


"Promo? maksudmu aku ngendorse kamu?" Emma melotot, biarpun dia naksir Dandy tapi dia tetap saja merasa kesal mendengar permintaan Dandy.


"Ho'oh" Dandy mengangguk, benar-benar tanpa perasaan, tak tahu hati Emma seperti di silet-silet jadinya.


"Astaga, kak Dandy, katanya kak Dandy ini sudah berpengalaman malang melintang dalam dunia buaya-buayaan. Lah, masa untuk nyatain cinta ke satu cewek saja perlu di iklanin?"


"Bukan begitu, Em...kamu kan tahu, Aluna agak beda dari yang lain, gak nunjukin perhatian sedikitpun ke aku. Mau deket aja susah."


Emma menelengkan kepalanya sedikit, memicingkan matanya kepada Dandy.


"Kak Dandy sudah macarin berapa cewek?"


"Eh, kenapa tanya itu."


"Mau tau aja, kalau barang mau di endorse harus tau kualitas dan seluk beluknya, kan?"


"Aduh, jadi gak enak ngomongnya, itu soal prestasi..."


"Kak Dandy masih pacaran, kan sama Bianca?"


"Sudah putus, aku jomblo sudah 6 hari 8 jam."


"Katanya lagi dekat sama Hilda?"

__ADS_1


"Kok, kamu tahu?"


"Orang Populer, beritanya cepat nyebar, kak." Sahut Emma acuh tak acuh.


"Iya juga sih, tapi...itu cuma gosip." Dandy menggigit bibir bawahnya, dengan sikap menggoda.


"Kak Dandy berencana membuat dia menjadi koleksi ke berapa?" Tanya Emma tajam. Dandy cengengesan sambil menggaruk kepalanya.


"Yang ini serius...gak jadi koleksi-koleksian. Aku bakal serius pacarin dia." Sahut Dandy.


"Aku lebih percaya langit punya AC dan remotnya di pegang Pokemon dari pada percaya omongan kak Dandy soal serius pacaran." Emma tergelak.


"Lagian, kak Dandy kan temen deket kak Jordy, kenapa gak lewat jalur dalem tuh. Kak Jordy kan serumah tuh sama Aluna, kakak sepupunya pula, sudah pasti jafi sukarelawan kak Dandy paling depan."


"Itu masalahnya, Em. Jordy gak setuju aku deketin Aluna."


"Kak Jordy aja gak setuju...harusnya paham, kan?" Emma nelipat tangannya di depan dada menutupi rasa gugupnya sendiri. Berbicara dan memandang Dandy dari dekat adalah salah satu impiannya, tetapi terasa menjadi menyakitkan ketika orang yang kita sukai itu ternyata begitu bersemangat membicarakan perempuan lain dan itu temanmu.


"Paham apa?" Aluna muncul mendadak dan berdiri belakang Dandy, alisnya berkerut. Ketika Dandy reflek menoleh, dahinya semakin mengerut di tambah lagi pias judes.


"Hai, Dear..." Dandy segera berdiri, senyumnya selebar sungai gangga.


"Astagah, belum kapok juga nih orang." Aluna menatap Dandy dengan kesal.


"Kebetulan sekali, aku mau minta maaf yang kemarin..."


"Minta maaf apa? Gara-gara kamu aku nginep di rumah sakit!"


"Iya, aku minta maaf Dear, itu gak sengaja. Sumpah."


"Oh, ya? Terus, setelah ninju mukaku kamu hilang di telan bumi. Itu sikap cowok gentle?"


"Kemarin aku mau jenguk ke rumah sakit tapi nasih takut sama Jordy, dia dari kemarin marah-marah terus soal kejadian itu. Di kelas aja dia gak mau ngomong sama aku, kalau aku deketin dia ngancem mau mukul mukaku. Hubungan pertemanan kami sedang tidak baik-baik saja " Dandy berusaha menjelaskan, dengan separuhnya adalah curhat.


"Syukurlah kalau kak Jordy mengerti temennya suka cari masalah. Aku gak nyangka Rae lebih gentleman dari pada kamu." Aluna memanyunkan bibirnya, dia masih kesal, mengingat Kejadian beberapa hari yang lalu.


"Bukan begitu, Dear..."


"Dior diar dior diar, stop memanggilku begitu. Risih tau, perasaan jadi mules."


"Iya, cantik."

__ADS_1


"Fiuh, gombalmu gak manjur ke aku, jadi tolong bersikap normal saja. Noh, kamu di cari'in tante Meli, katanya dia pengen copdar sama kamu, gak usah pake WA-WAan jelasinnya."


"Aku bener-bener gak enak sama tante Meli..."


"Kamu sekarang buronan tante Melisa, Kalau takut sebaiknya gak usah datang ke rumah lagi. Gak ada garansi kepalamu gak benjot. Tau sendiri kan kalau tante meli marah?" Ancam Aluna, dia mengalihkan matanya pada Emma, yang hanya menonton interaksi dua orang itu tanpa berniat ikut campur.


"Yuk, Em...kita pergi." Aluna menarik tangan Emma.


"Tunggu dulu, baksoku belum di bayar nih." Emma berdiri, hendak membuka tasnya.


"Biar buaya buntung ini yang bayar, yuk kita buru-buru." Aluna menyeret Emma setengah tergesa, berhenti tepat di depan Dandy.


"Pak Buaya...bayarin bakso Emma!" Ucapnya serupa perintah.


"Bibi, baksonya di bayarin buaya ini, ya. Kalau dia gak bayar, besok kasih tau aku. Biar ku umumin lewat radio sekolah, buayanya pelit."


Bibi, pelayan kantin hanya melongo melihat dua gadis itu yang terburu-buru pergi, menyisakan Dandy berdiri dengan bingung. Belum sempat dia mengatakan apapun, Aluna dan Emma sudah hilang dari pandangannya.



...***...


"Om Fan, kita anterin Emma pulang dulu, ya." Aluna berdiri di depan Om Fan, sopir merangkap bodyguardnya yang di kontrak khusus oleh Darel selama Aluna bersekolah di Surabaya bersama Melisa kakaknya.


"Iya, non." Om Fan, laki-laki tinggi besar dengan tubuh berotot sempurna itu, berusia mungkin di pertengahan tiga puluhan menjelang empat puluh. Rahangnya yang kokoh dengan badan tegap membuatnya terlihat begitu matang.


"Tapi om Fan antarkan kami ke suatu tempat dulu."


"Mengantarkan kemana, nona?"



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap


semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2