CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 66. Senyum selembut Softcake


__ADS_3

Dada Rae bergemuruh saat di turunkan Sarah di depan pagar rumah yang kini menjadi tempat tinggal Aluna. Hah, cinta sebegitu dahsyat ya? Sampe liat pagarnya doang sudah bikin jantung nyut-nyutan tak karuan, apalagi pas ketemu si dia mungkin bisa menginpact organ saluran nafas Rae. Bisa- bisa dia butuh bawa tabung oksigen untuk membantunya bernafas agar tetap hidup layak dan panjang umur.


Sejenak, Rae berdiri, mengatur detak jantungnya, menoleh sesaat ke arah jalan di mana mobil maminya itu telah menghilang dalam misi menjemput si kembar comel.


Beruntung si centil Emma pun tiba tepat di saat ia berada di teras rumah yang membuat irama jantungnya makin tak menentu itu.


"Hufs", senyum Aluna sungguh dapat membuat persendiannya gemetar tak lagi kokoh. Apa sebaiknya setelah ini Rae minta di ajak ke dokter spesialis penyakit dalam saja, ya? Kenapa ia merasa kondisinya sudah mengalahkan manula.


Bukankah masa akil baliqnya baru beberapa tahun lalu ya, tapi mengapa perasaannya sudah kayak orang uzur yang besok lusa mungkin ji'un.


"Gilak, ini tuh gak bener, deh. Masa liat senyum Aluna aja aku sudah gemetaran..." Rae menegur dirinya sendiri yang salah tingkah tak jelas.


“Yuk masuk, aku udah siapkan cemilan buat kita kerja kelompok.” Ajak Aluna manis. Manis banget, kebangetan malah. Melebihi rasa gulali rambut nenek.


“Waaah… kalo gini suguhannya, kita bukan belajar kelompok. Tapi bisa buka bazar kegiatan amal. Cemilan loe, udah ngalahin warung Fitri sebelah rumah Arka itu, Lun.” Siapa lagi yang selalu berceloteh sesukanya, kalo bukan si mak nyamuk yang super ceriwis itu.


“Udah diem, Em. Nih, bagian kamu. Kamu membuat pendahuluannya. Kita sudah sepakati saja penelitiannya tentang akar alang-alang atau Imperata cylindrica merupakan sebagai tanaman herbal. Karena tanaman ini banyak terdapat di daerah kita mungkin kita bisa menggali manfaatnya dari ilmiahnya. Kita fokus saja pada kandungan dan manfaatnya untuk pengobatan penyakit jantung, hipertensi dan kolesterol." Rae memberikan beberapa buku literatur pada Emma dengan sikap tegas.


“Bebeph Rae, gue nafas dulu bisa ga sih. Apalagi itu ada pudding caramel. Itu tuh kesukaan aku banget. Boleh icip dulu ga, sih…?” Emma protes dengan tugas yang langsung di jatahi Rae, dia begitu memelas minta di kasihani oleh Rae yang sudah fokus dengan bukunya sendiri, yang rencananya harus ia lahap 30 menit ke depan.


“Iya, Rae jangan sadis kebangetan, kasih waktu dulu Luna nyemil." Aluna melirik Rae sedikit cemberut tetapi malah bikin paras gadis ini tambah menggemaskan.

__ADS_1


"Udah, nih makan aja dulu, Em.” ALuna menyodorkan piring berisi potongan pudding caramel pada Emma.


“Elu itu emang titisan malaikat ya Lun, udah cantik, baik penuh pengertian. Lop yu.” Puji Emma dengan cueknya mengambil piring itu lalu menikmati suguhan dari Aluna dengan riang tanpa memperdulikan tatapan Rae padanya di bawah kernyitan alis hitamnya yang manis.


“Shhh...berisik.” Komen Rae sekenanya, padahal sesungguhnya ia sangat setuju dengan pujian yang Emma sematkan tadi tentang gadis pujaannya. Cantik, baik dan pengertian.


“Maaf kalau boleh tanya, Rae. Ini bagian aku yang mana, ya?” tanya Aluna lembut pada Rae.


“Ya Tuhan. Lakban mana lakban. Tolong dong rekatkan hatiku agar tetap di tempatnya. Masa iya denger suara lembut Luna ini, bikin hatiku berloncatan.” Suara hati Rae meronta, dia gemas bukan main mendengar suara Aluna yang lebih lenbut softcake itu.


Oalah, segitunya jatuh cinta ya, apa-apa itu terasa indah saja.


“Oh … ini. Kamu membuat tujuan penelitian, rumusan masalah dan hipotesisnya, tolong ya...” Rae sudah kembali pada mode tegas biar dia tetap fokus pada tujuan awal, belajar bersama bukannya mengagumi wajah manis Aluna.


Sedangkan Aluna adalah gadis yang akan ia patenkan untuk selalu berjalan bergandengan dengannya dalam waktu lama, dia berniat memperlakukannya dengan sempurna seperti pesan daddynya.


“Okey, siap, Rae.” Jawab Aluna lembut sembari melempar senyum maha manis padanya.


Astaga, tolong jangan tersenyum padaku!


Rae menundukkan wajahnya, segera mencoba fokus pada materi yang ada di hadapannya. Lomba karya ilmiah remaja memang sangat bagus untuk menggali potensi mereka, Lomba karya tulis ilmiah merupakan wahana siswa dalam berlatih menuliskan ide-ide kreatif sebagai respon intelektual atas persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Ide tersebut seyogyanya unik, kreatif dan bermanfaat sehingga idealisasi sekolah sebagai pemberi alternatif solusi dapat menjadi kenyataan.

__ADS_1


Sesaat kemudian mereka larut dalam kesibukan masing-masing, membaca, menulis, membolak balikkan lembaran buku tanpa banyak bicara kecuali Emma yang sedikit berisik karena mulutnya tak bisa diam sambil mengunyah cemilan.


Waktu hanyalah perpindahan dari angka ke angka, suasana hangat. Kadang memanas yang mereka ciptakan saat adu argument memberikan pendapat tentang masalah yang mereka angkat membuat ketiganya lupa waktu. Di tambah lagi, suasana tadi memang hujan. Sehingga mendung itu sejak awal memang membuat suasan langit tidak terang. Sulit di bedakan mana benar hari beranjak malam atau hanya melepas sore.


Rae benar-benar betah menikmati wajah Aluna saat berbicara dan menyampaikan pendapatnya, kafang bahkan dia tak yakin mendengar kalimat yang di ucapkan Aluna, pandangannya terlalu terpaku pada setiap gerak bibir dan kerjapan mata Aluna yang baru di sadarinya seperti barbie itu.


Tapi ada apa dengan suara gaduh dari arah pintu rumah tante Aluna itu? Telinga Rae berdiri memastikan. Dan sepertinya Rae terbiasa mendengar pemilik suara suara tersebut, sekita matanya melotot setengah panik.


“Waaah … ada foto kak Jordy.” Suara itu terdengar cempreng melengking. Dan Rae hapal itu suara Ry, salah satu dari adik kembarnya.


“Hah! Mana-mana? Ya, ampun bener, Rey kita sedang berada di rumah kak Jordy?” Sahutan Rey yang heboh itu segera memenuhi ruangan.


"Waaaa, kak Jordy kok bisa seganteng ini, ya? Kok, Bang Rae gak bisa secakep dan semanis kak Jordy, ya?"


Rae tepok jidat saat berhasil berdiri di ambang pintu dan memastikan jika potongan dialog tadi benar suara dari dua adik kembarnya. Ry dan Rey.


“Hey, ngapain kalian berisik di situ?” Dengan nada geregetannya Rae menyeletuk.


Dia benar-benar Geregetan melihat dua makhluk itu sudah mendarat di tempat yang sama dengannya. Yaitu rumah tantenya Aluna yang memang ibu dari Jordy, idola adik kembarnya itu. Di tambah kehebohan mereka yang membuatnya merasa malu sendiri.


“Eh, Bang Rae, Kami nemenin mama jemput kakak, nih.” Jawab keduanya dengan riang, suara mereka riuh nyaris bersamaan.

__ADS_1



(Akhirnya setelah sekian purnama, novel ini lanjut juga 😅😅😅 yuk, mulai besok up rutin ya sampai tamat🤭🤭🤭 jangan lupa komen dan dukungannya, rasanya hampa kalau nulis tak ada yang mampir😅 luv u all)


__ADS_2