CIUMAN TERAKHIR

CIUMAN TERAKHIR
BAB 28. PRANK


__ADS_3

Emma sedang duduk di kursi kantin sekolah, dia sedang menunggu  Aluna yang sedang di panggil oleh pak Wahyu, soal mengikutsertakan Aluna dalam olimpiade sains.


Kelas mereka memang pulang lebih awal dari kelas lain, karena di jam terakhir yang keramat itu tiba-tiba guru bahasa Inggris mereka memberikan ulangan mendadak, untung saja yang di ulangankan itu adalah materi narrative text, Emma sangat mahir dalam pelajaran bahasa Inggris, jadi jika hanya untuk membuat Narrative text atau cerita fiksi berupa cdongeng, cerita rakyat, maupun cerita fiksional lainnya, Emma jagonya.


Papa Emma adalah keturunan berdarah turky sementara mamanya mantan model yang sedari kecil telah membiasakan dirinya berkomunikasi dalam bahasa Inggris karena di dalam rumah kadang mereka berinteraksi dalam bahasa internasional itu. Jika sekedar mengarang sebuah cerita dalam bahasa Inggris, Emma bisa melakukannya sambil merem.


Untuk pelajaran ini, Emma boleh berbangga hati, bahkan di banding Rae dan Aluna yang juga cukup menguasai bahasa itu, Emma jauh lebih fasih. Alhasil dia yang pertama menyeleasaikan soal itu dan melenggang keluar dengan bebas di ikuti oleh Rae sang runner UP dan tentu saja si gadis serba bisa, bestinya itu, Aluna.


Emma menagih janji Aluna untuk membawanya pada suatu tempat yang membuat temannya itu tiba-tiba sangat jinak terhadap Rae. Dia penasaran luar biasa, apa yang telah dilihat oleh Emma sehingga membuat si mulut judes itu tiba-tiba terlihat manis di depan Rae.


Sayangnya, pak Wahyu memanggil Aluna ke ruangan kantor untuk membicarakan keikut sertaan Aluna dalam olimpiade sains sebagai peserta, sehingga menunda rencana dua gadis itu.


Akhirnya Emma memutuskan untuk menunggu Aluna di kantin saja sambil menikmati bakso. Dia tadi hendak menahan Rae untuk menemaninya ke kantin, tetapi belum sempat dia mencolek Rae, kekasih halunya itu sudah ngacir entah kemana.


"Cantik, aku suka sama kamu." tiba-tiba Dandy muncul di depan mejanya, sambil meletakkan kedua tangannya di atas sana, bertumpu di sana dengan sikap begitu keren di mata Emma. Bak seorang cassanova yang sedang menebar segenap pesona Don Juannya.


"Maukah kamu menjadi pacarku?"Tembak Dandy sambil mengedipkan sebelah matanya. Bakso yang belum selesai di kunyah dengan sempurna oleh Emma hampir saja tersembur dari mulutnya, dia melotot dengan wajah dilanda shock.


 "A...a...pa...pa..car?" Emma tergagap, dengan setengah tersedak dia menelan bakso dimulutnya, untuk segera masuk kedalam kerongkongannya supaya dia bisa mengeluarkan suara. Di detik beikutnya Emma terbatuk, seperti orang keselek.Segenap permukaan wajahnya memerah. Dia tak pernah bermimpi akan di tembak Dandy tepat di depan mangkok baksonya yang baru satu suap masuk ke dalam mulutnya.


"Kamu pasti merasa surprise, kan?" Dandy tergelak, sambil menepuk bahu Emma, kemudian menarik kursi di depan Emma dan duduk dengan wajah tampannya yang tanpa dosa itu.


"Bagaimana? jantungmu aman, gak?" tanya Dandy sambil melipat kedua tangannya di depan dada, tak ada lagi jejak lebam di wajahnya seperti terakhir kali Emma melihatnya usai perseteruannya dengan Rae beberapa hari yang lalu.


Emma melongo menatap Dandy sambil mengatur nafasnya sendiri. Aman? jantung aman? Emma mengerjab matanya, bagaimana bisa pria tampan yang selalu membuatnya berfikir suatu saat di masa depan, laki-laki ini akan menjadi jodohnya, papa dari beberapa anaknya itu nenayakan kemananan jantungnya?

__ADS_1


Laki-laki impiannya ini, datang begitu saja ke depannya, lalu tanpa ba bi bu menembaknya. Bukankah itu bisa membuat jantung orang lain melompat mendadak dari rongganya?


"Hey, namamu Emma, kan?" Tanya Dandy sambil menyorongkan wajahnya.


"I..iya..." Emma menjawab terbata-bata, dia segera mengambil gelas lemon tea yang ada di depannya, meminumnya, mendorong sisa kunyahan bakso yang terasa nyangkot di kerongkongannya.


Dia mengira tadi Dandy datang dan mengucapkan kalimat sakral maha sakti itu karena salah alamat, mengira Emma adalah Aluna tapi sekarang matanya melotot hampir tak bisa berkedip, selama ini dia menyangka Dandy tak melihatnya bahkan mungkin tak menganggapnya benda hidup karena tak pernah sekalipun menggubris kehadirannya.


Tapi, saat dia mendengar Dandy menanyakan namanya, rasanya badannya meringan dan punggungnya tumbuh sayap. Dia merasa aksn terbang.


"Maaf Em, itu tadi try out..."


" Heh...!" Emma menelan ludahnya sendiri berusaha mencerna kalimat yang di ucapkan Dandy dengan otaknya yang separuh ngelag itu.


"Maksudnya?" Emma menatap Dandy yang nampak cengengesan sambil menggaruk kepalanya.


Emma melongo, sayap yang terasa hendak mengembang di punggungnya, siap menerbangkannya ke atas awan tiba-tiba patah seketika.


"Try Out? Memangnya aku semacam ujian Sekolah segala pake try out?!" Wajah Emma memerah, dia sewot dan malu dalam waktu bersamaan.


"Yah, semacam uji reaksi..."


"Uji reaksi-uji reaksi, kamu kira aku larutan kimia?" Emma mengomel dengan raut masam. Dia mendorong mangkok baksonya menjauh dari depannya, selera makannya menguap entah kemana.


"Terimakasih, Honey...aku gak lapar. Tadi jam istirahat makan dua porsi gado-gado."

__ADS_1


"Yang nawarin kamu makan siapa?" Emma bersungut dalam hati.


Dia menghabiskan lemon teanya sampai tandas di gelas. Baru kemudian berusaha fokus pada laki-laki yang selama ini di sukainya itu diam-diam. Dia menyukai Dandy dengan cara yang berbeda dari dia menyukai Rae. Kalau dengan Rae, dia lebih kepada suka dekat pada si cuek itu. Melihatnya ngamuk-ngamuk, kesal dan berucap savage padanya, itu adalah kesenangan tersendiri buat Emma.


Berbeda halnya dengan pada Dandy, dia bingung sendiri bagaimana menjabarkan perasaannya, seolah-olah dia ingin menghabiskan sisa hidupnya di masa datang dengan si ganteng yang berwajah sok mempesona itu.


Semakin Dandy mengeluarkan sikap playboy dan badboynya, semakin jiwa Emma meronta, penasaran untuk menahlukkannya.


Jika orang menyuruhnya memilih, antara Rae dan Dandy, maka dia akan memilih Rae menjadi teman dan pelindungnya tetapi Dandy menjadi pacar dan orang yang menghabiskan waktu bersamanya.


"Semua orang bilang, hanya kamu yang paling dekat dengan Aluna, jadi gak salahkan aku gladinya di kamu. Aku siap menerima masukan bagaimana harus nembak Aluna, jika kamu mau memberiku saran dan waktu untuk berkonsultasi denganmu..."


"Astaga, nembak orang kayak mau sidang skripsian saja, pake segala konsultasi." Emma sekarang audah menguasai perasaannya, dia balas menatap pada Dandy.


"Itu tadi Prank, kan?" Emma memicingkan matanya pada Dandy.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah


kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap


semangat menulis😂🙏🙏🙏

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2