
"Terimakasih nak Rae, semoga amal ibadahmu akan di balas Allah dengan setimpal."
"Amin, bu. Yang penting ini bisa membantu, nanti kalau butuh lagi untuk perawatan Bimo, aku bisa coba carikan lagi."
"Wah, makasih nak. Semoga saja Bimo tidak apa-apa. Kita doakan saja "
Mereka mengobrol hangat sebelum Rae meminta ijin masuk untuk mengantarkan Vira yang sudah mode lengket tak mau lepas dari gendongan Rae.
"Eh, kakak undur-undur datang!"
"Kak undur-undur datang bawa kue!"
"Asyik, kakak undur-undur bawa mainan..."
“Kak undur-undur, kita main yuuk.” Teriakan anak lainnya terdengar ramai beberapa saat kemudiam saat melihat Rae.
Aluna tercengang melihat begitu akrab dan manjanya anak-anak itu pada Rae. Tadinya Rae hanya ingin mengantar Vira ke dalam ruangan mereka, tapi ke datangannya justru di lihat bahkan di serbu oleh anak-anak lain dia cuma tertawa.
“Maaf ya adik-adik. Kaka Cuma sebentas di sini. Nanti lain kali, kalo kaka datang sendiri kita akan main bersama.” Pinta Rae penuh rasa sesal pada anak-anak kecil di Panti tersebut, wajah tampannya memelas penuh permintaan maaf.
"Ya, kak Undur-undur main bentaran aja, biasanya bisa." Seorang anak laki-laki yang cukup besar dengan badan yang sedikit gendut tampak manyun mendengar penolakan Rae.
"Kakak mau jenguk Bimo saja."
"Yah, Kak undur-undur..."
Rae terus berjalan masuk mengikuti langkah bu Dasih setelah menurunkan si manja Vira. Anak itu mengoceh tak jelas, tapi jelas wajah mungilnya itu tak rela turun dari gendongan Rae.
Memasuki sebuah kamar yang tak begitu besar, tampak ranjang susun tiga di dalamnya. Kamar itu sepi, penghuninya mungkin sedang bermain di luar. Hanya seorang anak laki-laki yang mungkin berumur tujuh tahun sedang berbaring di atas tempat tidur, wajahnya sedikit pucat tetapi segera sumringah melihat kedatangan Rae.
"Kakak Undur-undur..." Panggilnya senang, naluri anak-anaknya membuatnya segera bangun hendak melompat turun dari tempat tidur tetapi Rae melarangnya.
"Bim, kamu tetap di sana. Kamu harus istirahat sampai kamu sembuh."
"Bimo gak apa-apa, kak. Bimo gak sakit."
"Hey, anak pintar. Bimo tidak boleh melawan bu Dasih, kalau bu Dasih bilang Bimo garus istirahat dan jangan main-main dulu, Bimo harus nurut."
__ADS_1
"Tapi..."
"Anak baik harus mendengar orangtua. Bimo mau jadi anak baik, gak?" Rae menepuk-nepuk lembut pipi Bimo yang terlihat kurus itu.
Bimo sesaat menatap Rae ragu, kemidian mengangguk dengan patuh pada Rae.
"Banyak-banyak makan biar kuat, hari ini Bu Dasih akam bawa Bimo ke rumah sakit, ya..."
"Gak mau! Bimo takut di suntik!"
"Anak hebat tidak talut jarum, masa ironman takut jarum?" Kelakar Rae yang membuat mata Bimo kecil mengerjap lucu padanya.
"Bimo gak takut jarum, Bimo ironman!" Sahutnya dengan mimik menggemaskan.
Aluna menyaksikan adegan itu dengan tatapan nyaris tak percaya, Rae yang dikenalnya, dingin dan ngeselin, ternyata adalah orang yang hangat dan lembut. Sebuah sisi lain yang tak pernah diketahui oleh Aluna sebelum dia ikut bersama Rae ke panti asuhan ini.
"Terimakasih nak Rae, susah sekali membujuk Bimo untuk bertemu dokter." Bu Dasih tersenyum sebelum pamit meninggalkan Rae dan Aluna bersama Bimo.
Beberapa saat kemudan Bimo membawa Aluna keluar dan bersiap untuk pamit. Tetapi beberapa anak sudah menyongsong dan menahannya.
"Kak undur-undur, main bentaran, ya. Abib mau tunjukin mobilan Abib." Rengek seorang anak, sementara beberapa anak lain memegang tangannya dan ujung bajunya membuat Rae kewalahan.
Tiba-tiba Aluna menyentuh lengan Rae,
“Jangan menolak mereka Rae, tinggalah sebentar. Kasihan mereka, kelihatannya sangat ingin main sama kamu. Ladeni saja mereka sebentar, kelihatannya mereka masih membutuhkan kamu di sini.” Aluna menepuk punggung Rae dengan senyum lebar.
“Tapi aku sudah janji sama kamu, kita hanya sebentar di sini.” Rae menoleh ke wajah cantik manis itu dengan alis yang naik tinggi.
Aluna menggelengkan kepalanya.
“Aku gak apa-apa, kok di sini. Tenang aja, gak perlu menepati janjimu ke aku kayak orang kebelet hutang begitu. Di sini mereka lebih butuh kamu sepertinya. Aku bisa nunggu kok, Rae.”
“Tapi aku gak mau kalau kamu pulang terlambat gara-gara aku.” Rae sebagai lelaki gentle tetap berkeras akan meninggalkan panti demi cepat mengantar gadis pujaannya.
“Aku akan menghubungi tante Melisa, akan minta ijin akan pulang terlambat hari ini.” Putus Aluna Bahwa ia akan memberi kabar pada tantenya akan pulang agak sore karena berada di sebuah panti asuhan. Dan Aluna yakin, ia tak akan di marahi. Sebab keberadaannya jelas di mana.
"Bener, nih?"
__ADS_1
"Iya."
“Wah, makasih ya, Lun.” Rae menyambut girang, dia sangat bersyukur atas pengertian gadis cantik di sampingnya.
Sesaat Kemudian dia telah berbaur dengan anak kecil itu untuk bermain bersama mereka, mendengar celotehan anak-anak itu sambil memuji setiap barang apapun yang di pertunjukkan anak-anak yatim piatu itu.
Aluna duduk di pinggir ruangan, menatap dengan perasaan aneh yang tak di mengerti olehnya. Sosok Rae membuatnya terpukau sekali lagi.
Aluna mengambil beberapa gambar untuk ia kirimkan ke ponsel Tante Melisa. Sebagi bukti jika kini ia sungguh berada di sebuah panti asuhan. Langsung saja Melisa menyimpulkan, jika keponakannya itu sedang dalam acara bakti sosial yang di selenggarakan sekolah. Dan ijin tentu segera ia layangkan untuk seorang Aluna.
“Permisi bertanya Bu, apakah Rae memang sering ke sini?” tanya Aluna pada bu Dasih yang datang dengan baki berisi dua gelas teh hangat.
“Selalu. Rae yang hingga sekarang selalu menjenguk dan banyak membantu ibu di sini.”
“Panti ini milik siapa?” Aluna berfikir apa mungkin saja ini milik keluarga Rae.
“Ini milik yayasan. Hanya kepemimpinannya sedang mengalami perubahan. Sehingga siklus keuangannya belum stabil. Sejak merayakan ulang tahunnya yang ke 15 hampir dua tahun yang lalu di sini. Sejak itulah tali silahturahmi Rae dengan kami tak pernah putus.” Jelas ibu itu dengan rasa kagum dan bangga pada anak remaja yang sama sekali belum bisa di katakan dewasa itu.
“Bu, Rae lapar. Ada makanan?” tanya Rae tiba-tiba saja sudah menimbrung, sembari memegang perutnya. Pukul satu sudah lewat, menjelang pukul dua malah. Mereka menikmati nasi bakar tadi masih terlalu pagi. Dengan segala aktivitas otak dan fisiknya, tentu sumber energi tadi sudah lenyap. Perutnya keroncongan sekarang.
“Kalian belum makan? Kalau kalian lapar ibu bisa sediakan. Tapi seadanya ya, ibu hanya memasak sayur bening dan goreng ikan Nila, juga sambal goreng tahu tempe” Jawab ibu panti dengan semangat, kelihatannya Rae sudah biasa makan di situ.
“Itu bukan seadanya bu, tapi istimewa. Lun mau makan …?” tanya Rae menawarkan Aluna.
“Rae …” suaranya pelan hampir tak terdengar. Tapi gerakan tangan Aluna jelas meminta agar tubuh itu mendekat padanya.
“Ada apa …?” Rae segera merapat suka suka dia saja memanfaatkan tangan yang melambai padanya tadi ia dekatkan hingga pipinya tersentuh kelingking Aluna.
“Ini sudah hampir lewat jam sholat Zuhur, aku boleh numpang sholat ga?” Rae tercekat mendengar pertanyaan Aluna. Ia baru sadar jika keyakinan mereka tidak satu perahu, dan Aluna perlu beribadah sekarang sesuai dengan kepercayaannya.

Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah
kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...